共有

Bab 35

last update 公開日: 2026-07-17 16:03:12

Ketua Kusuma, sebagai seorang ketua Perguruan, dia memiliki insting dan firasat yang kuat, dan firasatnya bicara pada malam itu.

Karena hal itu, dia mendatangi pondok Sanjaya, dan dia heran karena pondok itu kosong.

"Kemana mereka?" gumam ketua Kusuma.

Dan bertepatan pula, dia melihat dua bayangan di kegelapan, yang ia yakini itu adalah bayangan Sanjaya dan Panji.

"Mau kemana mereka?" ucap ketua Kusuma.

Mereka penasaran, ketua Kusuma ikuti Sanjaya dan Panji dari jarak yang jauh. Itu agar d
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 50

    "Inikah gua latihan kak Hardi?" tanya Panji."Iya, sekuat apapun kau bergerak, dan bersuara disini, aku pastikan tidak akan ada yang mendengar dan tahu keberadaan dirimu disini!" kata Hardi."Baiklah, aku akan latihan disini!" kata Panji."Kau yakin akan berlatih untuk kalahkan Abanda?" tanya Hardi."Tidak, aku berlatih bukan untuk kalahkan dia, tapi untuk diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa kalau akan ada masalah yang akan datang!" jawab Panji.Hardi merasa lega karena jawaban Panji. Yang artinya Panji tak dendam pada Abanda, orang yang kalahkan dan lukai Sahita"Aku akan tinggalkan dirimu, disini! Jika waktu pertandinganmu sudah dekat, aku akan jemput dirimu!" kata Hardi."Baik, kak! Aku paham!" kata Panji.Hardi putuskan untuk pergi tinggalkan Panji. Dia ingin Panji fokus melatih dirinya untuk meningkatkan kemampuan yang ia miliki.Bammmmmmm!!Terdengar suara batu yang berdebam keras, yang artinya pintu gua itu sudah ditutup dengan rapat dari luar."Baiklah, saatnya aku menero

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 49

    Kepalan tangan Panji dan tendangan Abanda beradu di udara, dan itu ciptakan ledakan yang cukup keras. Itu adalah adu kekuatan Panji dan Abanda.Dan, meskipun tanpa kekuatan tenaga dalam, Panji mampu bertahan, dan mundur karena dalam adu kekuatan itu.Tapi hal itu sudah cukup untuk selamatkan nyawa Sahita dan keganasan dan kekejaman Abanda."Ku bunuh kau!" teriak Abanda."Cukup!" kata juri turnamen dan menahan tangan tepat di depan dada Abanda.Mata juri itu melotot pada Panji. Dia tak suka karena Panji naik ke atas arena dan hentikan pertarungan itu."Bocah, kau sok kuat rupanya!" ucapnya dengan sinis pada Panji."Aku hanya tak ingin rekanku mati!""Aku juri, dan aku yang menentukan hasil di atas arena ini!""Oh, jadi tadi sengaja menutup matamu agar dia membunuh rekanku, begitu maksudmu?" ucap Panji."Aku melihat dia masih mampu bertahan!""Iya, karena matamu buta!""Bocah, jangan pancing amarahku!""Aku tak pancing amarahmu, aku hanya tak suka caramu, kau biarkan rekanku dihajar hab

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 48

    "Aku akan tidur!" kata Panji dan permisi masuk ke dalam kamarnya.Tak ada yang larang Panji, karena mereka tahu, tubuh Panji belum sepenuhnya pulih setelah lakukan perjalanan jauh, dan bertarung gunakan seluruh kekuatan fisik di tubuhnya.Begitu masuk ke kamarnya, Panji tak menunggu lama, langsung tertidur, seolah dia sangat kelelahan.Dalam tidurnya, Panji melihat dirinya dipenuhi dengan kekuatan yang sangat dahsyat, kekuatan yang besar dan menakutkan.Di mimpi itu kekuatan Panji sangat luar biasa. Kekuatan petir yang membuat tubuh Panji memiliki lebih dari seratus ribu lingkaran tenaga dalam."Apa ini?" ucap Panji.Itu bukan mimpi biasa, karena roh Panji tertarik ke dalam mimpi itu."Kita bertemu lagi Panji!" ucap satu suara."Roh pedang Shi Ban?" kata Panji kaget."Iya, aku roh pedang Shi Ban, ataupun roh Petir!""Roh petir?"Roh petir mendekat, dan menyentil dahi Panji. Hingga Panji melihat apa yang terjadi saat siang hari, dimana dia memukul keras tuan muda Kandar."Apakah itu ke

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 47

    Meskipun sangat berat, tapi Mayang tetap bawa tubuh Panji untuk kembali ke perguruan singa timur.Mayang membawa Panji dari jalan yang cukup rahasia, dan hanya beberapa orang tahu itu. Mayang tak ingin ada yang melihat dia menggendong seorang anak muda, itu akan jadi gosip yang tak bisa ditahan oleh telinganya."Kak Hardi!" teriak Mayang.Hardi yang sedang bersemadi kaget karena teriakan keras Mayang dan lebih kaget saat ia melihat adiknya gendong Panji."Ada apa ini, Mayang? Apa yan terjadi dengan Panji?" tanya Hardi."Bantu dulu Panji kak, nanti aku ceritakan!" kata Mayang.Hardi segera angkat tubuh Panji, dan meletakkan Panji di atas tempat tidur, setelah itu ia periksa tubuh Panji.Tukkkkkk!!Hardi menotok bagian dada Panji, tapi dia kaget karena ada kekuatan yang menolak kekuatan dari totokan miliknya."Ada apa kak?" tanya Mayang."Tubuh Panji menolak kekuatan kakak!" kata Hardi."Coba alirkan hawa murni kak!""Baik!" kata Hardi.Mayang membantu untuk dudukkan Panji, dan setelah

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 46

    Whusssssssss!!Pedang dengan warna keperakan itu tertahan tepat di atas kepala Panji, dan pedang itu di pegang oleh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik.Panji bahkan sampai terpana pada kecantikan gadis muda itu, hingga tak sadari kalau ada sebilah pedang yang siap mengoyak kepalanya."Mayang, apa yang kau lakukan?" bentak Hardi."Eh, dia bukan musuh kak?" tanya gadis yang memiliki nama Mayang itu."Selalu saja ceroboh, dan sesukamu mengambil keputusan!" kata Hardi geleng kepala."Siapa dia, kak?" tanya Mayang."Minta maaf pada Panji!"Gadis itu menoleh ke arah Panji, dan berikan senyuman yang sangat menawan."Cantiknya!" desis Panji tanpa sadar.Plakkkkkk!!Tangan gadis itu bergerak dan tampar wajah Panji, dan itu kagetkan Panji."Apa ... Apa yang kau lakukan?" tanya Panji sambil elus wajahnya yang ditampar oleh Mayang."Seenakmu mengatakan itu padaku!""Aku ucapkan apa?" tanya Panji bingung."Dasar bocah gendeng!" bentak Mayang.Panji menggaruk kepalanya yang tak ga

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 45

    Kemenangan Panji diluar dugaan banyak orang, itu karena Panji baru datang, dia kelelahan, ditambah lagi Panji bertarung tanpa gunakan tenaga dalam.Hal itu membuat nama perguruan anggrek putih menjadi nama yang cukup sering dibicarakan. Apalagi sudah ada dua wakil mereka yang melaju ke babak berikutnya, yaitu Mutia dan Panji.Sementara itu, di tempat mereka yang ada di sudut perguruan singa timur, Panji masih terbaring dengan kondisi yang lemas.Dia sudah sadarkan diri, tapi kondisinya memang sangat kelelahan. Berlari sekuat tenaga, dan setelah itu bertarung tanpa gunakan tenaga dalam. Itu hal yang menguras seluruh tenaga fisik yang ia miliki."Panji, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Mutia."Sudah kak Mutia, maaf sudah merepotkan kalian!" kata Panji."Jangan bangkit dulu Panji, biarkan tubuhmu istirahat!" kata guru Sahdan saat melihat Panji akan bangkit untuk duduk."Eh, dimana kak Pradana dan Kak Sahita?" tanya Panji."Mereka berdua sedang berlatih. Besok Pradana akan bertanding,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status