LOGINPanji pegang erat kitab ilmu pengobatan yang tergelatak di atas lantai, dan melihat dengan jelas sampul kitab itu.
"Aku akan meninggalkan kota ini, dan aku pastikan akan kembali dengan kemampuan yang baru!" kata Panji dengan ucapan penuh keyakinan. Anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, kini dipenuhi dengan harapan baru. Harapan kecil lewat kitab usang yang ada di genggaman tangannya. Panji selipkan kitab itu di balik pakaiannya, dan keluar dari dalam gubuk kecil itu. Sebelum pergi, dia menatap ke arah gubuk kecil tempat dia dibesarkan. "Aku akan datang lagi, tunggu saja!" ucap Panji. Dengan langkah gontai, pakaian penuh lumpur, Panji berjalan menuju keluar kota. Langkah kecil dari pemuda yang baru tumbuh itu. "Hei bukankah itu Panji si yatim-piatu?" ejek satu suara saat melihat Panji yang berjalan. "Iya, hahaha! Sepertinya kita mendapatkan dia lagi!" kata mereka. Tiga anak yang seusia Panji, anak-anak yang selama ini selalu memberikan penderitaan pada Panji. Mata Panji melotot tajam, kini dia tak lagi memikirkan apapun, dia sudah membuang rasa takut yang ada di pikirannya. Rasa takut yang selama ini selalu jadi teman Panji. Plakkkkkk!! Satu tamparan keras hantam wajah Panji. kalau selama ini, Panji pasti akan goyah karena tamparan itu, tapi kali ini berbeda. Panji tetap berdiri dengan tangan yang dikepal. "Hei, kau sudah memiliki keberanian?" kata satu anak kecil itu. Bammmmmmm!! Dan, dengan sekuat tenaga, tiba-tiba saja, Panji ayunkan tangan ke wajah satu dari anak kecil itu. Brukkkkkk!! Anak kecil itu langsung tersungkur jatuh karena pukulan Panji. Dan dia jelas jatuh tak sadarkan diri. "Hei, apa kalian lihat, Panji memukul tuan muda Bara? Dia pasti akan mati!" kata orang yang melihat apa yang Panji perbuat. "Jangan macam-macam denganku!" teriak Panji pada dua anak kecil yang masih mencoba mengganggunya. "Dasar yatim tak tahu diri!" Dua orang itu, Sambras dan Jatmiko, mereka tak terima rekan mereka dihajar oleh Panji. Mereka merupakan murid perguruan, meksipun masih pemula, tapi mereka jela berbeda dari Panji. Bammmmmmm!! Jatmiko memukul Panji, satu pukulan tangan kanan yang kuat. Brukkkkkk!! Panji terjatuh, dan terhuyung hingga mendekat ke sebuah kayu sebesar kepalan tangan panji. "Jangan kalian pikir aku akan diam saja!" teriak Panji. Tangan Panji ambil kayu itu, dan berdiri dengan sikap yang menakutkan. Plakkkkkk!! Tanpa ampun, kayu di tangan Panji hantam kepala Jatmiko, dan itu cukup untuk memecahkan kepala Jatmiko. Bammmmmmm!! Dan tidak hanya Jatmiko, tapi Panji juga hantam kayu besar itu ke kepala Sambras yang membuat kepala Sambras juga pecah. "Mati kau!" teriak Panji. Semua amarah, dendam, kebencian yang Panji miliki dia keluarkan pada saat itu juga. Whusssssssss!! Kayu di tangan Panji bergerak cepat, dan dipastikan Jatmiko akan terluka parah karena pukulan Panji itu. Tappppp!! Tapi saat pukulan itu hanya bebeapa helai rambut ke kepala Jatmiko, satu tangan besar menangkap kayu di tangan Panji. "Apa kau ingin membunuh orang Panji?" ucap suara itu. Suara yang amat bengis di telinga Panji. "Itu tuan besar Kadapa, dia ayah tuan muda Bara!" teriak seseorang. Dan bersama dengan itu, beberapa pengawal sudah ikut dengan tuan besar Kadapa. Itu setelah kabar Panji memukul pingsan tuan muda Bara tersebar dengan cepat. "Bawa Bara ke rumah, aku akan puaskan memberikan bocah tak tahu diri ini pelajaran!" teriak tuan besar Kadapa pada dua pengawalnya. "Baik, tuan besar!" "Berikan kayu ini!" bentak tuan besar Kadapa dan tarik paksa kayu di tangan Panji. Kekuatan kecil yang dimiliki Panji jelas kalah, dan dengan paksa, tuan besar kadapa menarik paksa kayu di tangan Panji. "Kau ingin tahu bagaimana rasanya pukulan kayu ini, Panji?" kata tuan besar Kadapa. Panji hanya melotot tajam, seolah menyimpan wajah tuan besar Kadapa di kepalanya. Bammmmmmm!! Kayu di tangan taun besar Kadapa terayun, dan arahnya adalah kepala Panji yang masih kecil. Crasssssss!! Darah langsung mengucur dari bekas pukulan itu, luka yang besar menganga di kepala Panji. Tapi sedikitpun Panji tidak mengeluh, meskipun rasa sakit akibat pukulan itu sangat perih, tapi Panji tak keluarkan sedikitpun jeritan. Bammmmmmm!! Bammmmmmm!! Berkali-kali tuan besar Kadapa hantam tubuh Panji, dan sasaran tuan besar Kadapa adalah punggung Panji. Panji menggigit giginya sendiri untuk menahan tidak menjerit, meksipun dia merasakan rasa sakit itu teramat sakit. Kini, tubuh Panji sudah terbaring tak berdaya di tanah, tapi tuan besar Kadapa masih terus memukuli punggung Panji. "Tuan besar, cukup! Apa kau ingin membunuh anak kecil itu?" teriak seseorang. "Oh, kau ingin gantikan dia?" kata tuan besar Kadapa dengan mata yang penuh amarah. Orang itu memilih diam, dia memang tak ingin terlibat, karena dia sadar pengaruh tuan besar Kadapa di kota Melati sangatlah luas. "Paksa dia berdiri, dan pegangi, aku belum puas sebelum dia mati!" teriak tuan besar Kadapa pada anak buahnya. "Tapi tuan besar, dia pasti akan mati meskipun tak tuan besar bunuh!" "Diam! Apa kau masih ingin bekerja denganku?" bentak tuan besar Kadapa. Anak buahnya tak berani melawan, dan meksipun merasa berat, mereka angkat tubuh Panji, dan paksa untuk berdiri. "Ikat kedua tangannya, dan gantung disana! Aku akan kuliti dia hingga mati!" kata tuan besar Kadapa. Kembali anak buahnya tak berani melawan, dan lakukan apa yang diinginkan tuan besar Kadapa. Tubuh Panji diikat dan digantung di sebuah tiang di sisi kiri kota itu, kayu yang seharusnya jadi tempat untuk lampu malam, kini jadi tempat untuk menggantung tubuh Panji. "Ini akibatnya jika main-main dengan keluarga Kadapa?" ucap tuan besar Kadapa. Bammmmmmm!! Tuan besar Kadapa ayunakn lagi kayu di tangannya, dan sasarannya adalah perut Panji. Arrggghhh!! Dan pada akhirnya, Panji meraung sangat keras, dia tak mampu menahan lagi rasa sakit yang menerpa seluruh tubuhnya. "Akhirnya kau keluarkan jeritan, akan ada jeritan yang lain!" kata tuan besar Kadapa. Plakkkkkk!! Tangan besar tuan besar Kadapa memberikan pukulan ke kepala Panji, yang membuat luka di kepala panji semakin parah. Hal itu membuat Panji jatuh tak sadarkan diri. "Bangun keparat, aku belum selesai!" bentak tuan besar Kadapa. Plakkkk!!! Dan tangan besarnya menampar wajah Panji berkali-kali, hingga memaksa Panji untuk setengah sadar. "Keparat! Kau akan rasakan kematian dengan kesadaran penuh!" kata tuan besar Kadapa dengan tangan memegang dagu Panji. "Sungguh biadab, apa ada perbuatan manusia seperti itu?" ucap satu suara dari belakang taun besar Kadapa. "Bukan urusanmu, aku mau bunuh dia, jangan campuri!" bentak tuan besar Kadapa. "Hahaha, sombong!" Plakkkk!! Orang itu bergerak, dan berikan satu jurus tapak ke tubuh tuan besar Kadapa. Setelah itu dia bergerak cepat, melesat dan hilang dari pandangan semua orang. "Eh, Panji kemana?" ucap orang-orang. Entah mengapa mereka merasa lega karena itu artinya Panji selamat dari semua siksaan tuan besar Kadapa. "Cari dia sampai dapat! Aku ingin kepalanya!" teriak tuan besar Kadapa, yang jatuh tersungkur ke tanah.Saat pagi datang, Panji Sanjaya, dan Saudagar Sui Yan dan putranya, Dai Yan segera tinggalkan hutan tempat mereka istirahat. Dari pembicaraan tadi malam, Panji akhirnya tahu kalau mereka berdua, sedang berburu di hutan, dan itu adalah kebiasaan yang mereka lakukan berulang kali. Dan ternyata di pinggiran hutan, ada kereta kuda yang sudah menunggu mereka, meskipun tanpa ada kusirnya."Jadi kalian sungguh berdua masuk ke dalam hutan?" tanya Panji Sanjaya."Iya, aku dan putraku sudah biasa masuk ke dalam hutan, tuan Panji!" kata saudagar Sui Yan. "Kalian sungguh berani!" ucap Panji."Tidak ada yang perlu ditakuti di hutan ini, tuan Panji! Sedikitpun tidak ada!" kata saudagar Sui Yan.Panji tak terlalu percaya apa yang dikatakan oleh saudagar Sui Yan, karena yang ia tahu tidak ada kata damai di dunia persilatan."Tuan Panji, mungkin ini tak akan kau sukai, namun aku harap saat dekat dengan kota Sechian, tuan Panji duduk di kursi kusir!" kata saudagar Sui Yan. "Kenapa?" tanya Panji. "
"Ingat janjimu padaku, kak Panji!" kata Bao Yu dalam pelukan tubuh Panji Sanjaya."Akan aku ingat, aku akan datang ke danau mawar biru! Aku pasti akan datang!" kata Panji Sanjaya.Dua insan yang mencinta itu saling berpegangan tangan, dan pinggiran hutan jadi saksi perpisahan mereka berdua. Sesuai dengan permintaan Panji, mereka harus berpisah, dan semua itu diterima oleh Bao Yu.Jika mereka terus bersama, maka kemungkinan besar bahaya juga akan lebih besar datang pada Panji Sanjaya. Jadi hanya itu jalan terbaik yang bisa mereka ambil."Baiklah, aku akan pergi kak Panji!" kata Bao Yu."Iya, adik Bao! Hati-hati!" kata Panji Sanjaya. Tangan Bao Yu sangat berat untuk berpisah dengan Panji. Ia masih pegang tangan Panji hingga secara perlahan-lahan, pegangan keduanya lepas. "Selamat jalan kak Panji, kakak harus tetap hidup!" kata gadis itu. Setelah itu, Bao Yu pergi dengan langkah yang sangat gontai. Ia merasa sangat berat berpisah dengan Panji Sanjaya. Namun pilihan itu adalah piliha
Panji berniat untuk kembali ke kamar penginapan yang disewa oleh nona Bao Yu, namun ia tak lakukan itu karena ia melihat nona Bao bertemu dengan anggota sekte Matahari.Panji mendengar sedikit keributan antara nona Bao Yu dengan anggota sekte matahari itu, dan Panji kaget karena gadis itu ternyata memiliki niat untuk menjebak dirinya. "Mungkinkah kau akan lakukan itu nona Bao Yu?" gumam Panji Sanjaya.Huppppp!!Panji melompat dan masuk ke dalam kamar dimana nona Bao Yu membawa dia masuk ke dalam kamar itu. "Aku akan lihat apa kau sungguh akan menjebak diriku?" gumam Panji Sanjaya.Tak berapa lama, nona Bao Yu masuk, dan wajahnya sangat tegang karena pembicaran yang baru saja ia lalukan dengan anggota sekte matahari. "Kau dari mana, tuan Panji?" tanya nona Bao Yu."Aku baru saja berjalan-jalan dari kota, dan melihat sesuatu yang tak aku duga!" jawab Panji Sanjaya."Sesuatu yang tak kau duga, apa itu tuan Panji?" tanya nona Bao Yu."Mataku melihat dan telingaku mendengar kalau kau in
Orang yang bawa Panji Sanjaya, nona Bao Yu membawa Panji ke dalam sebuah kamar yang ada di dalam sebuah penginapan."Aku yakin kalau kau sudah ada di kota ini!" kata Bao Yu."Seperti yang sudah aku katakan, tujuanku datang ke negeri ini salah satunya untuk menemui tetua Jun!" kata Panji Sanjaya."Apa kau tahu dimana dia berada?""Tidak!" jawab Panji Sanjaya.Entah mengapa Panji merasa kalau gadis itu seolah sedang selidiki dirinya, jadi ia memilih untuk berdusta pada gadis cantik itu. "Jadi jika kau tak tahu kenapa kau masih bertahan di kota ini, Panji?" tanya Bao Yu."Aku pasti akan temukan dia!" kata Panji Sanjaya.Gadis itu hempaskan tubuhnya di tempat duduk, dan pada saat itulah ia menunjukkan wajahnya pada Panji Sanjaya. Dia lepaskan cadar yang menutupi wajahnya yang memang cantik."Kau memang cantik, nona Bao!" kata Panji memuji gadis.Wajah Bao Yu merah karena pujian dari Panji Sanjaya, dan ia menundukkan kepala. Sangat jarang ia menunjukkan wajah pada orang asing, namun enta
Hingga saat malam larut, Panji dan nona Sia Yen berbicara panjang lebar, dan Panji pun tahu kalau gadis itu pun sesungguhnya tidak ingin berada disana.Namun, karena ia sudah merasa malu untuk kembali pulang, maka ia memilih untuk bertahan di rumah mewah itu, yang tak ubahnya sudah seperti rumah bordil. "Bukankah kau bisa tinggalkan rumah ini, dan memulai hidup yang baru nona Sia Yen?" tanya Panji."Yang kau katakan itu benar, namun aku tak bisa lakukan itu, karena aku sudah tak lebih dari sampah!" kata gadis itu. "Tidak, kau bukan sampah. Bagiku kalian para gadis sepertimu, hanya memilih jalan yang salah. Kalian masih memiliki jalan lain untuk hidup!" kata Panji Sanjaya."Tapi pandangan orang pada kami sudah buruk. Kami sudah tak layak dianggap manusia!" kata nona Sia Yen."Aku tak pernah memandang kalian rendah!" kata Panji dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa sedikitpun keraguan, Panji berbaring di dekat tubuh nona Sia Yen yang juga sudah merebahkan tubuhnya dari tadi
Panji Sanjaya mendengarkan semua yang dikatakan oleh orang tua itu, dan akhirnya tahu kalau rumah besar itu adalah rumah bagi mereka yang inginkan surga dunia yang sesungguhnya."Tapi sebelum kau masuk ke dalam rumah itu, ada baiknya kau gunakan pakaian yang layak pakai. Jangan gunakan pakaian ini!" kata orang tua itu pada Panji."Aku tahu!" kata Panji Sanjaya.Setelah itu Panji memutuskan untuk memasuki sebuah toko pakaian, dan membeli sepasang pakaian untuk ia gunakan agar ia terlihat lebih bersih. "Aku akan memasuki rumah itu, dan akan melihat apa nona Lin ada didalam rumah itu?" gumam Panji Sanjaya."Ada pertarungan di dalam penjara, besok siang akan diadakan!" teriak seorang prajurit kota di tengah kota Lihan. "Siapa yang akan bertarung?" tanya seseorang."Tetua Jun! Jawara yang sudah menang sebanyak lima belas kali di pertarungan!" kata Prajurit itu."Tetua Jun?" kata Panji kaget. "Apa kau tak kenal dia anak muda? Dia adalah jawara dan juga pemenang dalam pertarungan di gelan







