Partager

Bab 2

last update Date de publication: 2026-07-07 10:32:47

Tabib Sagara segera memeriksa orang yang baru datang itu, dan melihat kalau itu bukan racun yang biasa.

"Buka pakaiannya!" pinta tabib Sagara.

Rekannya segera membuka pakaian, dan terlihatlah sebuah tapak dengan lima jari di bagian dadanya.

"Ini racun tapak hitam!" ucap tabib Sagara.

"Apa kau bisa menyembuhkannya?"

"Aku rasa tidak, maafkan aku!" kata tabib Sagara.

Plakkkkkk!!

Tamparan keras malah hantam wajah tabib Sagara, tamparan yang membuat kepala Tabib itu pusing berputar-putar.

"Apa yang kau lakukan pada kakekku?" teriak Panji.

Panji melompat dan gigit pergelangan tangan orang yang meminta bantuan itu.

"Bocah tak tahu diri!"

Plakkk!

Panji juga harus menerima perlakuan yang buruk, satu tamparan sudah cukup membuat Panji terkapar di lantai.

"Dasar biadap, dia masih kecil!" bentak tabib Sagara.

"Mau bocah, mau dewasa, jika dia tak sopan, akan aku bunuh!"

Bammmmmmm!

Satu hantaman yang keras hantam tubuh tabib Sagara. Hantaman yang berisi tenaga dalam.

Huakkkkkk!!

Tanpa ampun, tabib Sagara langsung muntahkan darah segar. Darah yang menandakan dia terluka karena pukulan tenaga dalam itu.

Brukkkkkk!!

Sama seperti Panji, tabib Sagara juga jatuh tak sadarkan diri. Setelah itu, kedua orang itu pergi tanpa hiraukan kondisi Panji dan tabib sahabat.

***

Ukhhhh!!

Tabib Sagara bangun lebih dahulu, meskipun dia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan tubuhnya mati rasa karena seluruh rasa sakit itu.

Sebagai seorang tabib, dia sangat tahu kondisi tubuhnya. Dan jelas itu bukan luka biasa. Luka itu bukan tak mungkin akan membawa dia pada kematian.

"Mungkin hidupku tak akan lama lagi!" ucapnya dengan senyum yang pucat.

Dengan memaksakan tubuhnya, dia angkat tubuh Panji, dan membaringkan di atas tempat tidur.

"Aku akan gunakan seluruh obat untuk obati Panji, aku harap dia masih bertahan!" katanya.

Tapi, saat dia periksa kondisi Panji, di tubuh Panji juga ada luka yang cukup parah, meksipun tidak membahayakan nyawa bocah malang itu.

"Sungguh malang nian nasibmu, Panji!" ucap tabib Sagara.

Dia segera upayakan pengobatan pada Panji, dan semua itu demi keselamatan anak muda mungil itu.

"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Panji! Mungkin kau harus mencari rumah yang lain!" ucap tabib Sagara.

Darah mengucur dari mulutnya. Dia kembali terluka parah karena pukulan orang yang tak mereka kenali itu.

Tesss!!

Satu tetesan darah mengenai wajah Panji, dan itu menyadarkan bocah kecil itu.

"Kakek!" ucap Panji lirih.

Dia membuka mata secara perlahan, dan langsung terbuka lebar saat melihat darah yang keluar dari mulut tabib Sagara.

Panji segera bangkit, dan tak hiraukan rasa sakit yang menguasai sekujur tubuhnya.

"Kakek, apa yan terjadi pada kakek?" teriak Panji.

Tapi, tabib Sagara tak mampu lagi memberikan respon. Dia sudah di ambang kematian.

"Panji, ambil peti itu!" kata tabib sagara menunjuk ke sebuah peti di bawah tempat tidur.

"Kakek, jangan bicara dulu!"

"Lakukan!"

Meskipun sangat khawatir, tapi Panji tetap melakukan perintah dari tabib Sagara. Dia menarik peti besar itu dengan sekuat tenaga.

"Bukalah!" kata tabib Sagara.

Dengan susah payah, Panji membuka peti itu, dan barulah Panji melihat apa isi dari peti itu.

"Ambil semuanya, Panji!" kata tabib Sagara.

Kembali Panji lakukan apa yang diinginkan tabib Sagara, dan keluarkan semuanya. sebuah kitab dan satu liontin, Panji keluarkan dari dalam peti itu.

"Panji, selama ini kau ingin tahu siapa dirimu, bukan?"

"Itu sudah tak penting. Aku ingin kakek hidup!"

Tapi, tabib Sagara tahu kalau hidupnya tak lama lagi. Dia mengambik liontin itu, dan letakkan digenggaman tangan Panji.

"Liontin itu milikmu, itu diberikan oleh ayahmu, dia bernama Harsah, dia pendekar dengan julukan, pendekar mata iblis. Dia mati di tangan perguruan kalajengking hitam!" kata tabib Sagara dengan suara yang tersengal-sengal menahan rasa sakit.

"Kakek, aku tidak peduli!"

"Dan ibumu, bernama Minati!" ucap tabib Sagara dan jatuh di depan Panji.

Mata Panji terbelalak, dia tak percaya kalau kakeknya diam tak bergerak.

"Hoi, kakek, hoi!" kata Panji dan mencoba bangunan kakeknya.

Tapi, semuanya sudah terlambat, tabib Sagara sudah meninggal dunia.

"Kakek! Kakek!" teriak Panji.

Tapi, setiap teriakannya, itu sudah tak ada gunanya. Ruh tabib Sagara sudah meninggalkan jasadnya, dia tewas karena luka parah yang dia alami.

"Tidak, kakek, jangan tinggalkan Panji!" teriak pemuda berusia sepuluh tahun itu.

"Mungkin kakek masih bisa ditolong!" kata Panji.

Anak kecil segera berlari ke sebuah rumah di hadapan rumah kakeknya.

"Tolong bantu kakekku, dia terluka, dia sakit!" pinta Panji.

"Sana kau, dasar bocah tanpa ayah. Kakekmu, kan seorang tabib, suruh dia obati dirinya sendiri!" kata pemilik rumah dan mendorong tubuh Panji hingga terjerembab.

Panji pindah ke rumah yang lain. Dia terus memohon dan menghiba. Tapi tak satupun orang dari kota Melati itu yang memberikan belas kasihan pada Panji.

Hingga sampai malam datang, Panji masih meminta bantuan, tapi tak satupun yang bersedia berikan bantuan. Tak ada satupun manusia yang memiliki hati di kota itu.

"Maafkan aku kakek!" ucap Panji.

Dengan langkah gontai, Panji kembali ke gubuk dimana mereka tinggal, dan melihat tubuh tabib Sagara sudah kaku, dan memutih seputih mayat.

"Ini tidak adil!" ucap Panji.

Haaaaaaaaaaa!!

Di kegelapan malam dan kegelapan gubuk itu, Panji menjerit sekeras mungkin. Jeritan yang jelas di dengarkan oleh orang-orang di kota itu.

"Maafkan Panji, kakek. Panji tak berbakti!" ucapnya lagi.

Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Panji menyeret mayat tabib Sagara keluar dari dalam rumah itu.

Tubuh kecilnya berusaha keras untuk sampai di sebuah tanah lapang yang jadi tempat pemakaman bagi orang-orang di kota itu.

Beberapa orang melihat apa yang Panji lakukan, tapi mereka seolah tak peduli. Hari nurani mereka sudah mati, dan malah lanjutkan apa yang mereka lakukan.

"Biarkan saja, toh tak ada untungnya membantu bocah itu. Dia hanya bocah miskin!" ucap mereka.

Ucapan itu terdengar oleh telinga Panji, dan itu jelas memberikan efek di mental anak kecil itu.

Begitu sampai di tanah lapang itu, Panji gunakan sebatang kayu untuk menggali lubang.

Tangan kecil Panji dipaksa untuk bekerja keras, meskipun itu harus melukai telapak tangannya.

Hingga saat matahari pagi datang, barulah Panji selesai menggali lubang, dan menguburkan tabib Sagara.

Untuk beberapa saat, Panji masih berdiri di pusara kakeknya. Pusara yang jadi tempat istirahat terkahir bagi tabib Sagara.

Setelah itu, dengan langkah gontai, dan pakaian penuh dengan lumpur, Panji kembali ke gubuk tua tempat tinggal dengan tabib Sagara.

Panji terduduk, dan merenungkan apa yang akan dia lakukan. Kini dia hidup sendiri, dan tanpa ada yang menjaganya.

Pada saat itulah mata Panji melihat ke arah kitab yang tergeletak di lantai rumah. Kitab yang merupakan kitab pengobatan milik tabib Sagara.

"Mungkinkah ini jalan untukmu?" gumam Panji.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 274

    Orang yang bawa Panji Sanjaya, nona Bao Yu membawa Panji ke dalam sebuah kamar yang ada di dalam sebuah penginapan."Aku yakin kalau kau sudah ada di kota ini!" kata Bao Yu."Seperti yang sudah aku katakan, tujuanku datang ke negeri ini salah satunya untuk menemui tetua Jun!" kata Panji Sanjaya."Apa kau tahu dimana dia berada?""Tidak!" jawab Panji Sanjaya.Entah mengapa Panji merasa kalau gadis itu seolah sedang selidiki dirinya, jadi ia memilih untuk berdusta pada gadis cantik itu. "Jadi jika kau tak tahu kenapa kau masih bertahan di kota ini, Panji?" tanya Bao Yu."Aku pasti akan temukan dia!" kata Panji Sanjaya.Gadis itu hempaskan tubuhnya di tempat duduk, dan pada saat itulah ia menunjukkan wajahnya pada Panji Sanjaya. Dia lepaskan cadar yang menutupi wajahnya yang memang cantik."Kau memang cantik, nona Bao!" kata Panji memuji gadis.Wajah Bao Yu merah karena pujian dari Panji Sanjaya, dan ia menundukkan kepala. Sangat jarang ia menunjukkan wajah pada orang asing, namun enta

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 273

    Hingga saat malam larut, Panji dan nona Sia Yen berbicara panjang lebar, dan Panji pun tahu kalau gadis itu pun sesungguhnya tidak ingin berada disana.Namun, karena ia sudah merasa malu untuk kembali pulang, maka ia memilih untuk bertahan di rumah mewah itu, yang tak ubahnya sudah seperti rumah bordil. "Bukankah kau bisa tinggalkan rumah ini, dan memulai hidup yang baru nona Sia Yen?" tanya Panji."Yang kau katakan itu benar, namun aku tak bisa lakukan itu, karena aku sudah tak lebih dari sampah!" kata gadis itu. "Tidak, kau bukan sampah. Bagiku kalian para gadis sepertimu, hanya memilih jalan yang salah. Kalian masih memiliki jalan lain untuk hidup!" kata Panji Sanjaya."Tapi pandangan orang pada kami sudah buruk. Kami sudah tak layak dianggap manusia!" kata nona Sia Yen."Aku tak pernah memandang kalian rendah!" kata Panji dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa sedikitpun keraguan, Panji berbaring di dekat tubuh nona Sia Yen yang juga sudah merebahkan tubuhnya dari tadi

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 272

    Panji Sanjaya mendengarkan semua yang dikatakan oleh orang tua itu, dan akhirnya tahu kalau rumah besar itu adalah rumah bagi mereka yang inginkan surga dunia yang sesungguhnya."Tapi sebelum kau masuk ke dalam rumah itu, ada baiknya kau gunakan pakaian yang layak pakai. Jangan gunakan pakaian ini!" kata orang tua itu pada Panji."Aku tahu!" kata Panji Sanjaya.Setelah itu Panji memutuskan untuk memasuki sebuah toko pakaian, dan membeli sepasang pakaian untuk ia gunakan agar ia terlihat lebih bersih. "Aku akan memasuki rumah itu, dan akan melihat apa nona Lin ada didalam rumah itu?" gumam Panji Sanjaya."Ada pertarungan di dalam penjara, besok siang akan diadakan!" teriak seorang prajurit kota di tengah kota Lihan. "Siapa yang akan bertarung?" tanya seseorang."Tetua Jun! Jawara yang sudah menang sebanyak lima belas kali di pertarungan!" kata Prajurit itu."Tetua Jun?" kata Panji kaget. "Apa kau tak kenal dia anak muda? Dia adalah jawara dan juga pemenang dalam pertarungan di gelan

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 271

    Tiga hari berlalu, dan ketua Lu Ba sendiri yang datang ke sekte matahari, dan mendatangi ketua sekte itu, ketua Su Yu.Ketua Su Yu sungguh pucat karena kedatangan ketua sekte gunung iblis itu, dan rasa takut kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Bukkk!Ketua Su Yu berlutut pada ketua Lu Ba. Dan ia semakin menunjukkan rasa takut yang sangat dalam."Maafkan aku ketua Lu Ba! Aku sudah menangkap orang itu, namun ia melarikan diri!" kata ketua Su Yu."Jadi kau akui kalau anggota sekte ini yang membunuh sahabatku, Son An?" kata ketua Lu Ba dengan tekanan yang sangat kuat.Ketua Su Yu mencoba menahan kuatnya tekanan dari tetua Lu Ba, namun ia tak mampu bertahan, dan hanya bisa menundukkan kepalanya."Bukan anggota sekte ini yang membunuh ia ketua, dia hanya orang lain yang secara tak langsung ikut dengan salah satu anggota sekte ini, ketua!" kata ketua Su Yu."Aku tak perduli siapa yang membunuh Son An, aku hanya ingin tahu dimana dia?" bentak ketua Lu Ba. "Saat ini ia ada sedang menuju ke ko

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 270

    Ketua Su Yu dan Bao Yu meninggalkan Panji Sanjaya yang sudah berada di bawah penjara bawah tanah sekte matahari. Ia akan dijadikan korban untuk selamatkan sekte Matahari, dan Panji jelas tak akan diam saja. Di bawah tanah, di belakang sekte matahari, Panji Sanjaya masih mencoba untuk lepas dari ikatan totokan ketua Su Yu yang memang sangat kuat. "Kekuatan orang-orang di negeri ini memang sangat tinggi. Aku bahkan tak sebanding dengan mereka!" kata Panji Sanjaya.Panji berusaha keras untuk lepas dari totokan itu, dengan cara alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Namun nyatanya, totokan itu sangat kuat hingga Panji tak mampu lepaskan totokan itu. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Panji Sanjaya dalam keadaan bingung. "Apa kau butuh bantuan?" teriak satu suara dari cincin ruang yang ada di tangan kiri Panji."Lisara, kau tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Panji Sanjaya."Jelas aku tahu! Aku tak akan terkurung di dalam cincin ruang seperti ini. Aku bisa bebas sesukaku!" kata L

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 269

    Wajah ketua Su Yu, pucat bukan main karena perkataan putrinya, Bao Yu. Dan ia hanya bisa melihat ke arah Panji yang hanya menundukkan kepalanya."Tapi ia melalukan itu karena membela Bao Yu, ayah!" kata gadis itu."Membela dirimu?" "Iya, ayah!" kata Bao Yu.Setelah itu Bao Yu menceritakan semua yang terjadi selama di perjalanan, bagaimana mereka dihadang selama di perjalanan, hingga mereka bertemu dengan Son An."Jadi dia inginkan dirimu?""Iya ayah! Bahkan ia sempat melukai Bao!" kata Bao Yu."Hhmmm! Masalah ini akan besar, dan mungkin saja akan memberikan kekacauan di sekte ini!" kata ketua Su Yu. "Jadi apa yang harus kita lakukan ayah?" tanya Bao Yu."Untuk saat ini kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya. Kau bawa dia istirahat, Bao Yu! Kalian pasti sudah sangat lelah!" kata ketua Su Yu."Iya, ayah!" kata Bao Yu. Setelah itu, Bao Yu dan Panji masuk ke dalam sebuah rumah yang tak menyatu dengan bangunan sekte matahari."Kau bisa istirahat di dalam kamar itu, Panji! Kau bisa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status