LOGINTabib Sagara segera memeriksa orang yang baru datang itu, dan melihat kalau itu bukan racun yang biasa.
"Buka pakaiannya!" pinta tabib Sagara. Rekannya segera membuka pakaian, dan terlihatlah sebuah tapak dengan lima jari di bagian dadanya. "Ini racun tapak hitam!" ucap tabib Sagara. "Apa kau bisa menyembuhkannya?" "Aku rasa tidak, maafkan aku!" kata tabib Sagara. Plakkkkkk!! Tamparan keras malah hantam wajah tabib Sagara, tamparan yang membuat kepala Tabib itu pusing berputar-putar. "Apa yang kau lakukan pada kakekku?" teriak Panji. Panji melompat dan gigit pergelangan tangan orang yang meminta bantuan itu. "Bocah tak tahu diri!" Plakkk! Panji juga harus menerima perlakuan yang buruk, satu tamparan sudah cukup membuat Panji terkapar di lantai. "Dasar biadap, dia masih kecil!" bentak tabib Sagara. "Mau bocah, mau dewasa, jika dia tak sopan, akan aku bunuh!" Bammmmmmm! Satu hantaman yang keras hantam tubuh tabib Sagara. Hantaman yang berisi tenaga dalam. Huakkkkkk!! Tanpa ampun, tabib Sagara langsung muntahkan darah segar. Darah yang menandakan dia terluka karena pukulan tenaga dalam itu. Brukkkkkk!! Sama seperti Panji, tabib Sagara juga jatuh tak sadarkan diri. Setelah itu, kedua orang itu pergi tanpa hiraukan kondisi Panji dan tabib sahabat. *** Ukhhhh!! Tabib Sagara bangun lebih dahulu, meskipun dia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan tubuhnya mati rasa karena seluruh rasa sakit itu. Sebagai seorang tabib, dia sangat tahu kondisi tubuhnya. Dan jelas itu bukan luka biasa. Luka itu bukan tak mungkin akan membawa dia pada kematian. "Mungkin hidupku tak akan lama lagi!" ucapnya dengan senyum yang pucat. Dengan memaksakan tubuhnya, dia angkat tubuh Panji, dan membaringkan di atas tempat tidur. "Aku akan gunakan seluruh obat untuk obati Panji, aku harap dia masih bertahan!" katanya. Tapi, saat dia periksa kondisi Panji, di tubuh Panji juga ada luka yang cukup parah, meksipun tidak membahayakan nyawa bocah malang itu. "Sungguh malang nian nasibmu, Panji!" ucap tabib Sagara. Dia segera upayakan pengobatan pada Panji, dan semua itu demi keselamatan anak muda mungil itu. "Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Panji! Mungkin kau harus mencari rumah yang lain!" ucap tabib Sagara. Darah mengucur dari mulutnya. Dia kembali terluka parah karena pukulan orang yang tak mereka kenali itu. Tesss!! Satu tetesan darah mengenai wajah Panji, dan itu menyadarkan bocah kecil itu. "Kakek!" ucap Panji lirih. Dia membuka mata secara perlahan, dan langsung terbuka lebar saat melihat darah yang keluar dari mulut tabib Sagara. Panji segera bangkit, dan tak hiraukan rasa sakit yang menguasai sekujur tubuhnya. "Kakek, apa yan terjadi pada kakek?" teriak Panji. Tapi, tabib Sagara tak mampu lagi memberikan respon. Dia sudah di ambang kematian. "Panji, ambil peti itu!" kata tabib sagara menunjuk ke sebuah peti di bawah tempat tidur. "Kakek, jangan bicara dulu!" "Lakukan!" Meskipun sangat khawatir, tapi Panji tetap melakukan perintah dari tabib Sagara. Dia menarik peti besar itu dengan sekuat tenaga. "Bukalah!" kata tabib Sagara. Dengan susah payah, Panji membuka peti itu, dan barulah Panji melihat apa isi dari peti itu. "Ambil semuanya, Panji!" kata tabib Sagara. Kembali Panji lakukan apa yang diinginkan tabib Sagara, dan keluarkan semuanya. sebuah kitab dan satu liontin, Panji keluarkan dari dalam peti itu. "Panji, selama ini kau ingin tahu siapa dirimu, bukan?" "Itu sudah tak penting. Aku ingin kakek hidup!" Tapi, tabib Sagara tahu kalau hidupnya tak lama lagi. Dia mengambik liontin itu, dan letakkan digenggaman tangan Panji. "Liontin itu milikmu, itu diberikan oleh ayahmu, dia bernama Harsah, dia pendekar dengan julukan, pendekar mata iblis. Dia mati di tangan perguruan kalajengking hitam!" kata tabib Sagara dengan suara yang tersengal-sengal menahan rasa sakit. "Kakek, aku tidak peduli!" "Dan ibumu, bernama Minati!" ucap tabib Sagara dan jatuh di depan Panji. Mata Panji terbelalak, dia tak percaya kalau kakeknya diam tak bergerak. "Hoi, kakek, hoi!" kata Panji dan mencoba bangunan kakeknya. Tapi, semuanya sudah terlambat, tabib Sagara sudah meninggal dunia. "Kakek! Kakek!" teriak Panji. Tapi, setiap teriakannya, itu sudah tak ada gunanya. Ruh tabib Sagara sudah meninggalkan jasadnya, dia tewas karena luka parah yang dia alami. "Tidak, kakek, jangan tinggalkan Panji!" teriak pemuda berusia sepuluh tahun itu. "Mungkin kakek masih bisa ditolong!" kata Panji. Anak kecil segera berlari ke sebuah rumah di hadapan rumah kakeknya. "Tolong bantu kakekku, dia terluka, dia sakit!" pinta Panji. "Sana kau, dasar bocah tanpa ayah. Kakekmu, kan seorang tabib, suruh dia obati dirinya sendiri!" kata pemilik rumah dan mendorong tubuh Panji hingga terjerembab. Panji pindah ke rumah yang lain. Dia terus memohon dan menghiba. Tapi tak satupun orang dari kota Melati itu yang memberikan belas kasihan pada Panji. Hingga sampai malam datang, Panji masih meminta bantuan, tapi tak satupun yang bersedia berikan bantuan. Tak ada satupun manusia yang memiliki hati di kota itu. "Maafkan aku kakek!" ucap Panji. Dengan langkah gontai, Panji kembali ke gubuk dimana mereka tinggal, dan melihat tubuh tabib Sagara sudah kaku, dan memutih seputih mayat. "Ini tidak adil!" ucap Panji. Haaaaaaaaaaa!! Di kegelapan malam dan kegelapan gubuk itu, Panji menjerit sekeras mungkin. Jeritan yang jelas di dengarkan oleh orang-orang di kota itu. "Maafkan Panji, kakek. Panji tak berbakti!" ucapnya lagi. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Panji menyeret mayat tabib Sagara keluar dari dalam rumah itu. Tubuh kecilnya berusaha keras untuk sampai di sebuah tanah lapang yang jadi tempat pemakaman bagi orang-orang di kota itu. Beberapa orang melihat apa yang Panji lakukan, tapi mereka seolah tak peduli. Hari nurani mereka sudah mati, dan malah lanjutkan apa yang mereka lakukan. "Biarkan saja, toh tak ada untungnya membantu bocah itu. Dia hanya bocah miskin!" ucap mereka. Ucapan itu terdengar oleh telinga Panji, dan itu jelas memberikan efek di mental anak kecil itu. Begitu sampai di tanah lapang itu, Panji gunakan sebatang kayu untuk menggali lubang. Tangan kecil Panji dipaksa untuk bekerja keras, meskipun itu harus melukai telapak tangannya. Hingga saat matahari pagi datang, barulah Panji selesai menggali lubang, dan menguburkan tabib Sagara. Untuk beberapa saat, Panji masih berdiri di pusara kakeknya. Pusara yang jadi tempat istirahat terkahir bagi tabib Sagara. Setelah itu, dengan langkah gontai, dan pakaian penuh dengan lumpur, Panji kembali ke gubuk tua tempat tinggal dengan tabib Sagara. Panji terduduk, dan merenungkan apa yang akan dia lakukan. Kini dia hidup sendiri, dan tanpa ada yang menjaganya. Pada saat itulah mata Panji melihat ke arah kitab yang tergeletak di lantai rumah. Kitab yang merupakan kitab pengobatan milik tabib Sagara. "Mungkinkah ini jalan untukmu?" gumam Panji.Intan Agni masih merenung akan nasibnya. Gadis itu sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nasib yang buruk jika kakeknya tidak menemukan pusaka pulau api."Kembalikan Intan Agni, padaku!" teriak satu suara. Teriakan itu sangat keras, dan sampai ke telinga gadis muda itu. "Aku disini, selamatkan aku!" teriak Intan Agni.Panji, yang baru tiba di gua itu jelas mendengar suara teriakan itu, dan tanpa menunggu lebih lama, Panji melesat ke arah suara itu. "Hehehe, apa kalian pikir bisa lepas dari gua ini?" ucap Ki Taraku yang tak perduli meskipun Panji akan selamatkan Intan Agni.Keberadaan kalajengking di sekitar gua itu, jadi keyakinan besar yang ada pada Ki Taraku, karena hal itulah ia membiarkan Panji melesat ke arah Intan Agni. Panji sampai di gua tempat Intan Agni disekap, dan sejenak Panji termangu karena walau cantik yang dimiliki oleh gadis itu. Namun, bukan hanya Panji yang termangu, tapi gadis muda itu juga termangu saat melihat wajah Panji. "Panji Sanjaya!" desis Intan Ag
"Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" tanya Panji pada dirinya sendiri. Saat Panji gunakan pedang energi, ular-ular itu mampu Panji bunuh, namun saat gunakan tenaga dalam, satu pun ular itu tak ada yang terbunuh."Apa mereka kebal pada tenaga dalam, namun tidak pada serangan langsung?" tanya Panji bertanya lagi pada dirinya sendiri. Whusssssssss!!Merasa buang-buang tenaga dengan para ular itu, Panji melesat tinggalkan ratusan ular itu, dan mendarat di area yang jauh dari ular-ular itu.Sssttttt!!Namun, baru saja Panji mendarat di tanah, suara desisan ular terdengar tak jauh dari posisi Panji berdiri. "Tidak mungkin!" ucap Panji. Ratusan ular yang sudah Panji tinggalkan tahu-tahu sudah ada lagi di sekitar Panji, seolah mereka mampu mengejar gerakan Panji yang sangat cepat. "Sungguh tak terduga!" ucap Panji. Whusssssssss!!Bahkan, ratusan ular itu sama-sama melompat ke arah Panji, dan menyerang tubuh Panji. "Pedang energi!" teriak Panji.Dan begitu pedang energi berada di t
Intan Agni, gadis yang dahulu adalah salah satu satu peserta yang masuk ke babak empat besar turnamen pendekar muda.Setelah pertarungan karena penyerangan Golongan Hitam, Intan Agni diobati oleh guru sekaligus kakeknya, Ki Sutopo.Kini, dia telah menjelma jadi seorang gadis muda yang memiliki tingkat kecantikan yang bisa disandingkan dengan seorang bidadari, dia cantik, menarik, dan tak mungkin bagi seorang pria berpaling darinya. Sungguh satu kecantikan yang sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia mengasah kemampuan di pulau api, dan hingga akhirnya dia mencapai kemampuan pendekar raja langit tahap akhir, hanya butuh sedikit dorongan lagi, maka ia akan mencapai pendekar dewa. Namun, semua harapan itu sirna, lagi dan lagi karena serangan tiba-tiba Golongan Hitam ke pulau api, pulau dimana ia tinggal bersama kakeknya.Dia harus melihat kakeknya kalah lagi, seperti yang terjadi saat di perguruan singa timur. Kalah oleh golongan hitam, kalah oleh organisasi kalajengking.Seperti saat ini,
Tanpa ada yang berani hentikan Panji, semua anak buah Ki Jaraga hanya bisa menatap Panji yang keluar dari rumah ketua organisasi kalajengking merah itu. "Dimana rumah Adipati Sampada?" tanya Panji. "I ... Itu!" jawab satu orang dan menunjuk rumah besar lainnya."Bagus! Aku suka kalian bekerja sama denganku!" kata Panji. Setelah itu Panji berjalan ke arah rumah Adipati Sampada, dan prajurit kota yang tak memiliki arti di kota itu mencoba menahan Panji. "Untuk saat ini Adipati tak bisa diganggu!""Tidak bisa diganggu?" tanya Panji."Iya! Adipati ada urusan lain!""Apakah kalian tahu kalau aku baru saja membunuh Ki Jaraga? Jika kalian hadang langkahku, maka kalian akan mengikuti dia ke neraka!" ucap Panji. Mereka mundur saat Panji katakan itu, meskipun tak percaya tapi keberanian Panji mengatakan itu, cukup untuk membuat mereka takut. Jalan terbuka, dan Panji masuk tanpa ada halangan, masuk ke dalam rumah Adipati penguasa kota itu. "Adipati, keluar kau!" teriak Panji. Puluhan pra
Setelah berdiri, Panji Sanjaya duduk, dan posisi itu sangat santai, tak sedikitpun terintimidasi dari kedatangan Ki Raka yang memiliki aura membunuh yang cukup kuat."Bocah, aku peringatkan padamu, ini adalah wilayah organisasi kalajengking, dan kau sudah buat masalah disini?" bentak Ki Raka. "Oh, benarkah?" Sikap Panji yang sedikitpun tak gubris tentang organisasi kalajengking cukup sudah membuat Ki Raka marah. "Jika kau berlutut padaku, dan menjadi anak buahku, maka kau akan aku ampuni!""Hahah, aku hanya ingin tahu satu hal, siapa yang memberikan ijin bongkar rumah sebelum bangunan ini di dirikan?" tanya Panji. "Itu bukan urusanku, yang jelas bangunan ini, dan hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini miliki organisiasi kalajengking!" tegas Ki Raka. "Baik, dimana pemimpin kalian?""Kau tak memiliki hak untuk menjawab itu!"Whusssssssss!!Ki Raka maju dengan sangat cepat, dan pukulan yang kuat sudah mengarah ke wajah Panji. Pukulan yang berisi tenaga dalam. Masih dengan pos
Panji Sanjaya tiba di kota Melati, dan yang pertama harus Panji lakukan menuju ke pemakaman, dan berikan hormat di kuburan kakeknya, Tabib Sagara.Namun ia kaget saat melewati rumah yang dahulu ia tinggali bersama bersama tabib Sagara, rumah itu sudah berubah jadi sebuah bangunan yang tinggi.Brakkkkkkk!!Panji mendorong keras pintu rumah itu, dan berdiri di depan pintu itu."Siapa pemilik rumah ini?" teriak Panji dengan suara keras.Lima orang datang ke arah Panji, wajahnya mereka menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan, dan mereka jelas memiliki pendukung di kota itu."Bocah, siapa kau? Jangan cari masalah, kami adalah anggota dari Ki Raka!" ucap mereka.Plakkkkkk!!Tangan Panji terayun, dan dua orang langsung jatuh dan terkapar di lantai ruangan itu."Aku tak perduli pada Ki Raka, aku hanya peduli pada rumah ini!" tegas Panji Sanjaya.Tiga orang rekan mereka kaget karena dua rekan mereka sudah jatuh di lantai, dan mereka tak lihat gerakan Panji."Pikirkan apa yang kau lakukan ini







