LOGIN"Sanjaya, apa kau ... .?"
"Ketua, apa ketua tidak melihat disini aank kecil, sebaiknya pelankan suara ketua!" kata Sanjaya potong suara keras ketua Kusuma. Ki Kusuma melihat ke arah Panji yang kaget karena suara keras ketua perguruan anggrek putih itu. Dia sembunyi di balik tubuh Sanjaya. Ki Kusuma menarik napas yang dalam, dan mencoba untuk menahan amarahnya karena keberadaan Panji. Apalagi saat dia melihat wajah Panji yang ketakutan, belum lagi matanya yang dipenuhi dengan derita, itu membuat Ki Kusuma urungkan niat untuk marah pada Sanjaya. "Kita bicara di dalam ketua!" kata Sanjaya. Ketua Kusuma, dan wakil Liwa masuk ke dalam pondok Sanjaya. Mereka juga tak ingin bicara di luar pondok itu. "Duduklah ketua, aku akan jelaskan semuanya!" kata Sanjaya. Sanjaya menarik Panji ke dekatnya, dan mengelus rambut Panji yang sedikit mulai memanjang. "Anak kecil ini butuhkan aku, ketua. Aku belum bisa tinggalkan dia, itulah mengapa aku tak langsung laporkan harus misiku!" kata Sanjaya menjadikan Panji sebagai alasan untuk meredam amarah Ki Kusuma. "Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Ki Kusuma. "Dia mengalami penderitaan, ketua. Tidak hanya fisik, tapi mentalnya juga sangat terpukul!" kata Sanjaya mencoba mengarang cerita. Padahal, tanpa dikatakan oleh Sanjaya, Ki Kusuma sudah melihat kalau hidup Panji memang sangat menderita. "Dimana kedua orangtuanya?" tanya ki Kusuma. "Dia yatim piatu! Aku mungkin akan angkat dia jadi muridku!" kata Sanjaya. Wajah wakil Liwa tak bagus saat Sanjaya katakan, akan angkat Panji jadi muridnya. Jadi dia berdiri dan menarik tangan Panji. Dia memeriksa kondisi tubuh, tulang dan juga tingkat keberhasilan Panji untuk jadi seorang pendekar. Senyum lebar tergambar di wajah Ki Liwa, dia senang karena Panji tak memiliki bakat yang tinggi untuk jadi seorang pendekar. "Sanjaya, aku rasa kau sudah salah mengangkat seorang murid!" kata Ki Liwa. "Pada maksudmu, wakil Liwa?" tanya Sanjaya. "Dia hanya akan sampai di tingkat menengah, tidak akan pernah sampai di tingkat yang paling tinggi. Dia tak akan pernah menjadi pendekar yang kuat!" kata Ki Liwa mengejek Panji. "Ki Liwa, aku masih hargai dirimu dengan wakil ketua di perguruan ini. Aku harap kau jangan mendikte seseorang hanya dengan satu kali memeiksa kondisinya!" bentak Sanjaya tak suka pada Ki Liwa. Ki Kusuma juga berdiri, dan memeriksa tulang dan kondisi tubuh Panji. "Dia sangat lemah, Sanjaya. Apa kau yakin dia akan kau angkat jadi muridmu?" tanya Ki Kusuma. "Iya, apapun yang terjadi, dia akan kau didik, dan akan aku jadikan pendekar yang kuat!" tegas Sanjaya. "Dia hanya akan habiskan sumber daya, tidak ada gunanya!" kata Ki Liwa. Meskipun dia bicara sinis, tapi sesungguhnya di dalam hatinya dia sangat senang karena murid Sanjaya tak memiliki bakat untuk jadi seorang pendekar hebat di masa depan. "Ketua, berikan aku restu, aku akan angkat Panji jadi muridku!" kata Sanjaya. "Aku tidak akan larang kau angkat siapapun jadi muridmu Sanjaya, semua itu hak mu!" kata Ki Kusuma. "Terima kasih ketua!" "Tapi ingat, jika dia tak berkembang dalam dua tahun ini, maka kau tahu apa yang akan kau lakukan, bukan?" kata Ki Kusuma. "Iya, ketua! Dalam dua tahun ini, kau akan lihat apa yang dicapai oleh Panji!" kata Sanjaya yakin pada Panji. "Baiklah, terserah padamu. Aku akan pergi! Jangan lupa untuk datang menemui aku, kau harus buat surat tertulis tentang keberhasilan misimu!" kata Ki Kusuma. "Baik, ketua! Setelah urusan dengan Panji selesai, aku akan datang menemui ketua!" kata Sanjaya. Ki Kusuma pergi lebih dahulu, sementara ki Liwa masih berada di dalam pondok Sanjaya. "Apa lagi yang kau inginkan ki Liwa?" tanya Sanjaya. "Tidak, ada!" kata Ki Liwa. Dia berbalik dan akan pergi, tapi saat di pintu Dia berbalik lagi. "Kau gagal!" ucapnya pada Sanjaya sambil melirik ke arah Panji. "Sialan!" maki Sanjaya yang tak senang ada yang merendahkan Panji di hadapannya. Brakkkkkkk!! Sanjaya menutup pintu dengan sangat keras, dia kesal karena ucapan Ki Liwa pada dirinya. "Panji, kemari!" panggil Sanjaya lembut pada Panji. Dengan langkah yang pelan, Panji mendekat ke arah Sanjaya. "Ada apa paman?" tanya Panji. "Mulai hari ini kau akan jadi muridku, kau panggil aku guru Sanjaya!" kata Sanjaya dan menarik tangan Panji. Dia belum memeriksa kondisi tulang Panji, dan barulah dia sadar kenapa Liwa sangat meremehkan Panji. "Harapan untuknya sangat kecil!" ucap Sanjaya pelan. "Harapan apa paman, eh guru?" tanya Panji. "Tidak ada, lupakan saja. Mulai hari ini kau resmi muridku, dan merupakan bagian dari perguruan Anggek putih! Apa kau bersedia, Panji?" Panji, dengan segera berlutut pada Sanjaya, dia menunjukkan sifat yang tulus karena ucapan Sanjaya. "Murid akan berlatih sekuat tenaga, guru. Murid akan bersungguh-sungguh!" kata Panji. Ucapan Panji yang penuh kesungguhan membuat Sanjaya tak lagi menyesal angkat Panji jadi muridnya. "Dia mungkin tak memiliki bakat seperti murid-murid disini, tapi jika dididik dengan benar, dan latihan keras, dia pasti akan mencapai tingkatan yang tinggi!" ucap Sanjaya yakin pada dirinya untuk melatih Panji. "Tunggu disini!" kata Sanjaya. Sanjaya masuk ke dalam kamarnya, dan saat kembaki di membawa sebuah pakaian putih yang sudah tua. "Ini untukmu, Panji!" kata Sanjaya dan berikan pakaian putih itu. "Apa ini guru?" "Itu pakaian!" "Iya, Panji tahu! Tapi kenapa guru berikan padaku?" tanya Panji lagi. "Itu adalah pakaian saat guru pertama kali masuk ke dalam perguruan ini. Dan guru akan berikan padamu!" kata Sanjaya. "Pakaian pertama guru?" kata Panji sangat antusias. "Iya, pakailah pakaian itu. Dan kau akan resmi jadi muridku!" kata Sanjaya. Tanpa ragu, Panji memakai pakaian itu, dan pas di tubuhnya. "Hahah, kau sangat gagah dengan pakaian itu, Panji. Aku harap kau berlatih keras, dan jadi pendekar tingkat tinggi di masa depan!" kata Sanjaya. "Murid berjanji, murid tidak akan mengecewakan guru!" tegas Panji. "Bagus! Tetaplah bersemangat seperti itu!" ucap Sanjaya. *** Kabar tentang Sanjaya yang membawa seorang anak kecil ke perguruan Anggrek Putih langsung tersebar di perguruan itu. Perguruan yang memiliki lebih dari seribu murid, dan memiliki lebih dari seratus pondok sedikit terkejut dengan kabar itu. Bagaimana tidak, mereka selama ini tahu kalau Sanjaya sangat enggan untuk menerima seorang murid, tapi kini dia malah membawa seseorang dan langsung diangkat jadi muridnya. Tapi, kabar yang paling membuat mereka tak percaya adalah, kabar tentang Panji yang tak memiliki bakat untuk jadi seorang pendekar. "Kabar yang aku dengar tulang murid Sanjaya hanya di tingkat tulang kucing putih!" "Apa tulang kucing putih, bukankah itu tingkatan tulang paling lemah?" "Iya, itu tingkatan tulang paling lemah!" "Dasar bodoh, memilih murid tak melihat kondisinya!" ucap mereka merendahkan Sanjaya.Intan Agni masih merenung akan nasibnya. Gadis itu sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nasib yang buruk jika kakeknya tidak menemukan pusaka pulau api."Kembalikan Intan Agni, padaku!" teriak satu suara. Teriakan itu sangat keras, dan sampai ke telinga gadis muda itu. "Aku disini, selamatkan aku!" teriak Intan Agni.Panji, yang baru tiba di gua itu jelas mendengar suara teriakan itu, dan tanpa menunggu lebih lama, Panji melesat ke arah suara itu. "Hehehe, apa kalian pikir bisa lepas dari gua ini?" ucap Ki Taraku yang tak perduli meskipun Panji akan selamatkan Intan Agni.Keberadaan kalajengking di sekitar gua itu, jadi keyakinan besar yang ada pada Ki Taraku, karena hal itulah ia membiarkan Panji melesat ke arah Intan Agni. Panji sampai di gua tempat Intan Agni disekap, dan sejenak Panji termangu karena walau cantik yang dimiliki oleh gadis itu. Namun, bukan hanya Panji yang termangu, tapi gadis muda itu juga termangu saat melihat wajah Panji. "Panji Sanjaya!" desis Intan Ag
"Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" tanya Panji pada dirinya sendiri. Saat Panji gunakan pedang energi, ular-ular itu mampu Panji bunuh, namun saat gunakan tenaga dalam, satu pun ular itu tak ada yang terbunuh."Apa mereka kebal pada tenaga dalam, namun tidak pada serangan langsung?" tanya Panji bertanya lagi pada dirinya sendiri. Whusssssssss!!Merasa buang-buang tenaga dengan para ular itu, Panji melesat tinggalkan ratusan ular itu, dan mendarat di area yang jauh dari ular-ular itu.Sssttttt!!Namun, baru saja Panji mendarat di tanah, suara desisan ular terdengar tak jauh dari posisi Panji berdiri. "Tidak mungkin!" ucap Panji. Ratusan ular yang sudah Panji tinggalkan tahu-tahu sudah ada lagi di sekitar Panji, seolah mereka mampu mengejar gerakan Panji yang sangat cepat. "Sungguh tak terduga!" ucap Panji. Whusssssssss!!Bahkan, ratusan ular itu sama-sama melompat ke arah Panji, dan menyerang tubuh Panji. "Pedang energi!" teriak Panji.Dan begitu pedang energi berada di t
Intan Agni, gadis yang dahulu adalah salah satu satu peserta yang masuk ke babak empat besar turnamen pendekar muda.Setelah pertarungan karena penyerangan Golongan Hitam, Intan Agni diobati oleh guru sekaligus kakeknya, Ki Sutopo.Kini, dia telah menjelma jadi seorang gadis muda yang memiliki tingkat kecantikan yang bisa disandingkan dengan seorang bidadari, dia cantik, menarik, dan tak mungkin bagi seorang pria berpaling darinya. Sungguh satu kecantikan yang sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia mengasah kemampuan di pulau api, dan hingga akhirnya dia mencapai kemampuan pendekar raja langit tahap akhir, hanya butuh sedikit dorongan lagi, maka ia akan mencapai pendekar dewa. Namun, semua harapan itu sirna, lagi dan lagi karena serangan tiba-tiba Golongan Hitam ke pulau api, pulau dimana ia tinggal bersama kakeknya.Dia harus melihat kakeknya kalah lagi, seperti yang terjadi saat di perguruan singa timur. Kalah oleh golongan hitam, kalah oleh organisasi kalajengking.Seperti saat ini,
Tanpa ada yang berani hentikan Panji, semua anak buah Ki Jaraga hanya bisa menatap Panji yang keluar dari rumah ketua organisasi kalajengking merah itu. "Dimana rumah Adipati Sampada?" tanya Panji. "I ... Itu!" jawab satu orang dan menunjuk rumah besar lainnya."Bagus! Aku suka kalian bekerja sama denganku!" kata Panji. Setelah itu Panji berjalan ke arah rumah Adipati Sampada, dan prajurit kota yang tak memiliki arti di kota itu mencoba menahan Panji. "Untuk saat ini Adipati tak bisa diganggu!""Tidak bisa diganggu?" tanya Panji."Iya! Adipati ada urusan lain!""Apakah kalian tahu kalau aku baru saja membunuh Ki Jaraga? Jika kalian hadang langkahku, maka kalian akan mengikuti dia ke neraka!" ucap Panji. Mereka mundur saat Panji katakan itu, meskipun tak percaya tapi keberanian Panji mengatakan itu, cukup untuk membuat mereka takut. Jalan terbuka, dan Panji masuk tanpa ada halangan, masuk ke dalam rumah Adipati penguasa kota itu. "Adipati, keluar kau!" teriak Panji. Puluhan pra
Setelah berdiri, Panji Sanjaya duduk, dan posisi itu sangat santai, tak sedikitpun terintimidasi dari kedatangan Ki Raka yang memiliki aura membunuh yang cukup kuat."Bocah, aku peringatkan padamu, ini adalah wilayah organisasi kalajengking, dan kau sudah buat masalah disini?" bentak Ki Raka. "Oh, benarkah?" Sikap Panji yang sedikitpun tak gubris tentang organisasi kalajengking cukup sudah membuat Ki Raka marah. "Jika kau berlutut padaku, dan menjadi anak buahku, maka kau akan aku ampuni!""Hahah, aku hanya ingin tahu satu hal, siapa yang memberikan ijin bongkar rumah sebelum bangunan ini di dirikan?" tanya Panji. "Itu bukan urusanku, yang jelas bangunan ini, dan hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini miliki organisiasi kalajengking!" tegas Ki Raka. "Baik, dimana pemimpin kalian?""Kau tak memiliki hak untuk menjawab itu!"Whusssssssss!!Ki Raka maju dengan sangat cepat, dan pukulan yang kuat sudah mengarah ke wajah Panji. Pukulan yang berisi tenaga dalam. Masih dengan pos
Panji Sanjaya tiba di kota Melati, dan yang pertama harus Panji lakukan menuju ke pemakaman, dan berikan hormat di kuburan kakeknya, Tabib Sagara.Namun ia kaget saat melewati rumah yang dahulu ia tinggali bersama bersama tabib Sagara, rumah itu sudah berubah jadi sebuah bangunan yang tinggi.Brakkkkkkk!!Panji mendorong keras pintu rumah itu, dan berdiri di depan pintu itu."Siapa pemilik rumah ini?" teriak Panji dengan suara keras.Lima orang datang ke arah Panji, wajahnya mereka menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan, dan mereka jelas memiliki pendukung di kota itu."Bocah, siapa kau? Jangan cari masalah, kami adalah anggota dari Ki Raka!" ucap mereka.Plakkkkkk!!Tangan Panji terayun, dan dua orang langsung jatuh dan terkapar di lantai ruangan itu."Aku tak perduli pada Ki Raka, aku hanya peduli pada rumah ini!" tegas Panji Sanjaya.Tiga orang rekan mereka kaget karena dua rekan mereka sudah jatuh di lantai, dan mereka tak lihat gerakan Panji."Pikirkan apa yang kau lakukan ini







