Share

Bab 7

last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 10:34:19

"Sanjaya, apa kau ... .?"

"Ketua, apa ketua tidak melihat disini aank kecil, sebaiknya pelankan suara ketua!" kata Sanjaya potong suara keras ketua Kusuma.

Ki Kusuma melihat ke arah Panji yang kaget karena suara keras ketua perguruan anggrek putih itu. Dia sembunyi di balik tubuh Sanjaya.

Ki Kusuma menarik napas yang dalam, dan mencoba untuk menahan amarahnya karena keberadaan Panji.

Apalagi saat dia melihat wajah Panji yang ketakutan, belum lagi matanya yang dipenuhi dengan derita, itu membuat Ki Kusuma urungkan niat untuk marah pada Sanjaya.

"Kita bicara di dalam ketua!" kata Sanjaya.

Ketua Kusuma, dan wakil Liwa masuk ke dalam pondok Sanjaya. Mereka juga tak ingin bicara di luar pondok itu.

"Duduklah ketua, aku akan jelaskan semuanya!" kata Sanjaya.

Sanjaya menarik Panji ke dekatnya, dan mengelus rambut Panji yang sedikit mulai memanjang.

"Anak kecil ini butuhkan aku, ketua. Aku belum bisa tinggalkan dia, itulah mengapa aku tak langsung laporkan harus misiku!" kata Sanjaya menjadikan Panji sebagai alasan untuk meredam amarah Ki Kusuma.

"Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Ki Kusuma.

"Dia mengalami penderitaan, ketua. Tidak hanya fisik, tapi mentalnya juga sangat terpukul!" kata Sanjaya mencoba mengarang cerita.

Padahal, tanpa dikatakan oleh Sanjaya, Ki Kusuma sudah melihat kalau hidup Panji memang sangat menderita.

"Dimana kedua orangtuanya?" tanya ki Kusuma.

"Dia yatim piatu! Aku mungkin akan angkat dia jadi muridku!" kata Sanjaya.

Wajah wakil Liwa tak bagus saat Sanjaya katakan, akan angkat Panji jadi muridnya. Jadi dia berdiri dan menarik tangan Panji.

Dia memeriksa kondisi tubuh, tulang dan juga tingkat keberhasilan Panji untuk jadi seorang pendekar.

Senyum lebar tergambar di wajah Ki Liwa, dia senang karena Panji tak memiliki bakat yang tinggi untuk jadi seorang pendekar.

"Sanjaya, aku rasa kau sudah salah mengangkat seorang murid!" kata Ki Liwa.

"Pada maksudmu, wakil Liwa?" tanya Sanjaya.

"Dia hanya akan sampai di tingkat menengah, tidak akan pernah sampai di tingkat yang paling tinggi. Dia tak akan pernah menjadi pendekar yang kuat!" kata Ki Liwa mengejek Panji.

"Ki Liwa, aku masih hargai dirimu dengan wakil ketua di perguruan ini. Aku harap kau jangan mendikte seseorang hanya dengan satu kali memeiksa kondisinya!" bentak Sanjaya tak suka pada Ki Liwa.

Ki Kusuma juga berdiri, dan memeriksa tulang dan kondisi tubuh Panji.

"Dia sangat lemah, Sanjaya. Apa kau yakin dia akan kau angkat jadi muridmu?" tanya Ki Kusuma.

"Iya, apapun yang terjadi, dia akan kau didik, dan akan aku jadikan pendekar yang kuat!" tegas Sanjaya.

"Dia hanya akan habiskan sumber daya, tidak ada gunanya!" kata Ki Liwa.

Meskipun dia bicara sinis, tapi sesungguhnya  di dalam hatinya dia sangat senang karena murid Sanjaya tak memiliki bakat untuk jadi seorang pendekar hebat di masa depan.

"Ketua, berikan aku restu, aku akan angkat Panji jadi muridku!" kata Sanjaya.

"Aku tidak akan larang kau angkat siapapun jadi muridmu Sanjaya, semua itu hak mu!" kata Ki Kusuma.

"Terima kasih ketua!"

"Tapi ingat, jika dia tak berkembang dalam dua tahun ini, maka kau tahu apa yang akan kau lakukan, bukan?" kata Ki Kusuma.

"Iya, ketua! Dalam dua tahun ini, kau akan lihat apa yang dicapai oleh Panji!" kata Sanjaya yakin pada Panji.

"Baiklah, terserah padamu. Aku akan pergi! Jangan lupa untuk datang menemui aku, kau harus buat surat tertulis tentang keberhasilan misimu!" kata Ki Kusuma.

"Baik, ketua! Setelah urusan dengan Panji

selesai, aku akan datang menemui ketua!" kata Sanjaya.

Ki Kusuma pergi lebih dahulu, sementara ki Liwa masih berada di dalam pondok Sanjaya.

"Apa lagi yang kau inginkan ki Liwa?" tanya Sanjaya.

"Tidak, ada!" kata Ki Liwa.

Dia berbalik dan akan pergi, tapi saat di pintu Dia berbalik lagi.

"Kau gagal!" ucapnya pada Sanjaya sambil melirik ke arah Panji.

"Sialan!" maki Sanjaya yang tak senang ada yang merendahkan Panji di hadapannya.

Brakkkkkkk!!

Sanjaya menutup pintu dengan sangat keras, dia kesal karena ucapan Ki Liwa pada dirinya.

"Panji, kemari!" panggil Sanjaya lembut pada Panji.

Dengan langkah yang pelan, Panji mendekat ke arah Sanjaya.

"Ada apa paman?" tanya Panji.

"Mulai hari ini kau akan jadi muridku, kau panggil aku guru Sanjaya!" kata Sanjaya dan menarik tangan Panji.

Dia belum memeriksa kondisi tulang Panji, dan barulah dia sadar kenapa Liwa sangat meremehkan Panji.

"Harapan untuknya sangat kecil!" ucap Sanjaya pelan.

"Harapan apa paman, eh guru?" tanya Panji.

"Tidak ada, lupakan saja. Mulai hari ini kau resmi muridku, dan merupakan bagian dari perguruan Anggek putih! Apa kau bersedia, Panji?"

Panji, dengan segera berlutut pada Sanjaya, dia menunjukkan sifat yang tulus karena ucapan Sanjaya.

"Murid akan berlatih sekuat tenaga, guru. Murid akan bersungguh-sungguh!" kata Panji.

Ucapan Panji yang penuh kesungguhan membuat Sanjaya tak lagi menyesal angkat Panji jadi muridnya.

"Dia mungkin tak memiliki bakat seperti murid-murid disini, tapi jika dididik dengan benar, dan latihan keras, dia pasti akan mencapai tingkatan yang tinggi!" ucap Sanjaya yakin pada dirinya untuk melatih Panji.

"Tunggu disini!" kata Sanjaya.

Sanjaya masuk ke dalam kamarnya, dan saat kembaki di membawa sebuah pakaian putih yang sudah tua.

"Ini untukmu, Panji!" kata Sanjaya dan berikan pakaian putih itu.

"Apa ini guru?"

"Itu pakaian!"

"Iya, Panji tahu! Tapi kenapa guru berikan padaku?" tanya Panji lagi.

"Itu adalah pakaian saat guru pertama kali masuk ke dalam perguruan ini. Dan guru akan berikan padamu!" kata Sanjaya.

"Pakaian pertama guru?" kata Panji sangat antusias.

"Iya, pakailah pakaian itu. Dan kau akan resmi jadi muridku!" kata Sanjaya.

Tanpa ragu, Panji memakai pakaian itu, dan pas di tubuhnya.

"Hahah, kau sangat gagah dengan pakaian itu, Panji. Aku harap kau berlatih keras, dan jadi pendekar tingkat tinggi di masa depan!" kata Sanjaya.

"Murid berjanji, murid tidak akan mengecewakan guru!" tegas Panji.

"Bagus! Tetaplah bersemangat seperti itu!" ucap Sanjaya.

***

Kabar tentang Sanjaya yang membawa seorang anak kecil ke perguruan Anggrek Putih langsung tersebar di perguruan itu.

Perguruan yang memiliki lebih dari seribu murid, dan memiliki lebih dari seratus pondok sedikit terkejut dengan kabar itu.

Bagaimana tidak, mereka selama ini tahu kalau Sanjaya sangat enggan untuk menerima seorang murid, tapi kini dia malah membawa seseorang dan langsung diangkat jadi muridnya.

Tapi, kabar yang paling membuat mereka tak percaya adalah, kabar tentang Panji yang tak memiliki bakat untuk jadi seorang pendekar.

"Kabar yang aku dengar tulang murid Sanjaya hanya di tingkat tulang kucing putih!"

"Apa tulang kucing putih, bukankah itu tingkatan tulang paling lemah?"

"Iya, itu tingkatan tulang paling lemah!"

"Dasar bodoh, memilih murid tak melihat kondisinya!" ucap mereka merendahkan Sanjaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 7

    "Sanjaya, apa kau ... .?""Ketua, apa ketua tidak melihat disini aank kecil, sebaiknya pelankan suara ketua!" kata Sanjaya potong suara keras ketua Kusuma.Ki Kusuma melihat ke arah Panji yang kaget karena suara keras ketua perguruan anggrek putih itu. Dia sembunyi di balik tubuh Sanjaya.Ki Kusuma menarik napas yang dalam, dan mencoba untuk menahan amarahnya karena keberadaan Panji.Apalagi saat dia melihat wajah Panji yang ketakutan, belum lagi matanya yang dipenuhi dengan derita, itu membuat Ki Kusuma urungkan niat untuk marah pada Sanjaya."Kita bicara di dalam ketua!" kata Sanjaya.Ketua Kusuma, dan wakil Liwa masuk ke dalam pondok Sanjaya. Mereka juga tak ingin bicara di luar pondok itu."Duduklah ketua, aku akan jelaskan semuanya!" kata Sanjaya.Sanjaya menarik Panji ke dekatnya, dan mengelus rambut Panji yang sedikit mulai memanjang."Anak kecil ini butuhkan aku, ketua. Aku belum bisa tinggalkan dia, itulah mengapa aku tak langsung laporkan harus misiku!" kata Sanjaya menjadik

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 6

    Sanjaya, pemuda yang menolong Panji, hanya bisa menahan napas saat Panji katakan tidak tahu harus kemana, tak punya rumah, dan hidup sendirian."Apa yang harus aku lakukan pada bocah ini?" kata Sanjaya bicara sendirian.Melihat Sanjaya diam, Panji berdiri."Terima kasih sudah menolong diriku, aku akan pergi dan mencari yang mau menerima diriku!" kata Panji dan langkahkan kaki mungilnya."Hei bocoh, berhenti!" bentak Sanjaya.Tubuh Panji gemetar karena bentakan Sanjaya, dan Panji berbalik melihat ke arah Sanjaya."Apa lagi paman?" tanya Panji."Bagaimana kalau ikut denganku?" tanya Sanjaya."Kemana?" tanya Panji."Ikut saja, aku yakin kau akan suka!" kata Sanjaya dan putuskan untuk membawa Panji ke perguruan tempat dia bernaung. Di perguruan Anggrek Putih."Baiklah, aku akan ikut!" kata Panji yang tak tahu harus melangkah kemana lagi.***Cukup jauh perjalanan mereka bagi Panji. Dan berkali-kali sudah Panji bertanya kemana mereka sesunguhnya."Tunggu saja, kita akan segera sampai!" ka

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 5

    Auuummm!!!Suara raungan harimau memenuhi seluruh hutan jati, dan suara raungan itu terdengar jelas oleh telinga Panji."Harimau!" seru Panji ketakutan.Tapi, instingnya mengatakan dia harus hidup dan melarikan diri dari Harimau yang jelas sudah datang dari dalam hutan.Tapi, tubuh Panji kesulitan untuk bergerak, kakinya gemetaran karena suara raungan yang menakutkan bagi anak sekecil dirinya.Dan, dari dalam hutan, keluar seekor harimau besar yang menatap buas ke tubuh Panji. Baginya Panji saat ini adalah makanan yang tepat untuk mengisi perutnya.Aummmmmmm!!Harimau itu kembali mengaum keras, dan itu semakin membuat Panji gemetaran. Dia ingin melangkah, tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan.Harimau itu semakin dekat, dan semakin dekat, wajah Panji semakin gemetaran karena rasa takut."Aku harus hidup!" ucap Panji.Satu bayangan melintas di mata Panji. Bayangan tabib Sagara, yang selama ini sudah menjaga dirinya agar tetap hidup.Dan, barulah Panji mampu langkahkan kakinya untuk m

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 4

    Satu sosok tubuh dengan pakaian hitam melesat cepat dengan gerakan yang cukup ringan. Di pundak sosok berpakain hitam itu, satu tubuh dengan tubuh penuh darah dibawa dengan tanpa beban. Dia terus melesat, hingga memasuki sebuah hutan rimba yang jarang dimasuki oleh manusia. Hutan jati, itulah nama hutan itu. Hutan itu, hutan yang penuh dengan siluman jahat, dan semua itu tak ditakuti oleh sosok yang berpakaian hitam itu. Hingga pada akhirnya, dia sampai di sebuah gua yang berada di sebuah bukit kecil di tengah hutan itu. Bukit yang dikelilingi oleh lembah yang dalam, penuh dengan lumpur. Jika bukan karena ilmu meringankan tubuh yang tinggi dari sosok berpakaian hitam itu, dia mungkin akan tenggelam di dalam lumpur yang mengelilingi bukit kecil itu. Brukkkkkk!! Tanpa rasa kasihan, dia jatuhkan tubuh kecil dan kurus yang ada di atas pundak, dan dengan sinis dia melihat bocah kecil itu. "Kau beruntung aku tolong, bukan berarti aku inginkan dirimu, hanya saja, kau masih muda, mung

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 3

    Panji pegang erat kitab ilmu pengobatan yang tergelatak di atas lantai, dan melihat dengan jelas sampul kitab itu."Aku akan meninggalkan kota ini, dan aku pastikan akan kembali dengan kemampuan yang baru!" kata Panji dengan ucapan penuh keyakinan.Anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, kini dipenuhi dengan harapan baru. Harapan kecil lewat kitab usang yang ada di genggaman tangannya.Panji selipkan kitab itu di balik pakaiannya, dan keluar dari dalam gubuk kecil itu. Sebelum pergi, dia menatap ke arah gubuk kecil tempat dia dibesarkan."Aku akan datang lagi, tunggu saja!" ucap Panji.Dengan langkah gontai, pakaian penuh lumpur, Panji berjalan menuju keluar kota. Langkah kecil dari pemuda yang baru tumbuh itu."Hei bukankah itu Panji si yatim-piatu?" ejek satu suara saat melihat Panji yang berjalan."Iya, hahaha! Sepertinya kita mendapatkan dia lagi!" kata mereka.Tiga anak yang seusia Panji, anak-anak yang selama ini selalu memberikan penderitaan pada Panji.Mata Panji melot

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 2

    Tabib Sagara segera memeriksa orang yang baru datang itu, dan melihat kalau itu bukan racun yang biasa."Buka pakaiannya!" pinta tabib Sagara.Rekannya segera membuka pakaian, dan terlihatlah sebuah tapak dengan lima jari di bagian dadanya."Ini racun tapak hitam!" ucap tabib Sagara."Apa kau bisa menyembuhkannya?""Aku rasa tidak, maafkan aku!" kata tabib Sagara.Plakkkkkk!!Tamparan keras malah hantam wajah tabib Sagara, tamparan yang membuat kepala Tabib itu pusing berputar-putar."Apa yang kau lakukan pada kakekku?" teriak Panji.Panji melompat dan gigit pergelangan tangan orang yang meminta bantuan itu."Bocah tak tahu diri!"Plakkk!Panji juga harus menerima perlakuan yang buruk, satu tamparan sudah cukup membuat Panji terkapar di lantai."Dasar biadap, dia masih kecil!" bentak tabib Sagara."Mau bocah, mau dewasa, jika dia tak sopan, akan aku bunuh!"Bammmmmmm!Satu hantaman yang keras hantam tubuh tabib Sagara. Hantaman yang berisi tenaga dalam.Huakkkkkk!!Tanpa ampun, tabib

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status