Compartilhar

Bab 4

last update Data de publicação: 2026-07-07 10:33:23

Satu sosok tubuh dengan pakaian hitam melesat cepat dengan gerakan yang cukup ringan.

Di pundak sosok berpakain hitam itu, satu tubuh dengan tubuh penuh darah dibawa dengan tanpa beban.

Dia terus melesat, hingga memasuki sebuah hutan rimba yang jarang dimasuki oleh manusia. Hutan jati, itulah nama hutan itu.

Hutan itu, hutan yang penuh dengan siluman jahat, dan semua itu tak ditakuti oleh sosok yang berpakaian hitam itu.

Hingga pada akhirnya, dia sampai di sebuah gua yang berada di sebuah bukit kecil di tengah hutan itu. Bukit yang dikelilingi oleh lembah yang dalam, penuh dengan lumpur.

Jika bukan karena ilmu meringankan tubuh yang tinggi dari sosok berpakaian hitam itu, dia mungkin akan tenggelam di dalam lumpur yang mengelilingi bukit kecil itu.

Brukkkkkk!!

Tanpa rasa kasihan, dia jatuhkan tubuh kecil dan kurus yang ada di atas pundak, dan dengan sinis dia melihat bocah kecil itu.

"Kau beruntung aku tolong, bukan berarti aku inginkan dirimu, hanya saja, kau masih muda, mungkin kau bisa tentukan jalanmu sendiri nantinya!" katanya bicara pada sosok manusia kecil yang dia bawa itu.

Dan, pada saat itulah mata melihat sebuah liontin perak jatuh dari balik baju anak kecil itu.

"Liontin apa ini?" ucapnya.

Matanya membesar saat melihat liontin itu, dia merasa kenal dengan liontin yang jatuh itu.

"Bukankah ini milik pendekar mata iblis, kenapa ada pada bocah ini?" ucapnya heran.

Tukkkkkk!!

Karena penasaran, dia memberikan totokan di tubuh anak kecil itu, dan itu cukup untuk sadarkan bocah mungil itu.

"Aku dimana?" tanya bocah kecil itu.

Tapi, satu tangan kasar malah menarik paksa pakaian bocah itu, satu cara kasar yang kagetkan bocah itu.

"Hei, bocah. Milik siapa ini?" bentak sosok itu pada Panji, sosok dibawa oleh lelaki berpakaian hitam itu.

"Itu milikku!" jawab Panji dengan suara lirih.

"Sialan! Aku menolong orang yang salah!" katanya dan hentakkan tubuh Panji ke belakang.

"Kakek, kenapa kakek bicara seperti itu?" tanya Panji.

"Diam kau bocah, aku tak suka padamu, jangan bicara padaku. Setelah kau sembuh, pergi dari sini!" kata sosok itu.

"Aku akan kemana?" tanya Panji kebingungan.

"Bukan urusanku, pergi saja dari sini! Dan jangan bawa liontin. Saat kau dewasa, dan jika kau masih hidup, baru kau ambil liontin ini!" katanya pada Panji.

"Apa kau kenal pemilik liontin itu?" tanya Panji penasaran.

"Setelah kau dewasa, baru aku katakan. Saat ini kau tak boleh memiliki liontin ini. Apa kau paham?"

"Baik!" kata Panji tak bisa menolak atau melawan.

"Siapa namamu?"

"Panji!"

"Panji!" desis sosok itu.

Dia mengingat sedikit masa lalu, dan setelah itu dia tersenyum dengan senyuman yang penuh misteri.

"Aku akan obati dirimu, setelah itu aku akan antarkan kau keluar dari hutan ini. Jika kau ingin hidup, tunjukan caramu hidup!" katanya.

"Tapi, siapa kau ini?" tanya Panji.

"Aku Ki Ranggas, pendekar mata setan!" jawab lelaki itu.

Panji ingat dengan perkataan tabib Sagara, dia mengatakan kalau ayahnya memiliki julukan pendekar mata iblis.

"Apa kau memiliki hubungan dengan pendekar mata iblis?" tanya Panji.

Ki Ranggas tercengang, dia tak percaya kalau Panji sudah tahu tentang julukan ayahnya, dan seolah Panji merasa memiliki benang merah dengan pendekar mata setan itu.

"Jangan tanya yang bukan-bukan, sebaiknya kau pulihkan kondisimu!" kata Ki Ranggas tanpa menjawab pertanyaan Panji.

Panji masih ingin bertanya, tapi Ki Ranggas sudah pergi dengan batuk yang keras, batuk yang menunjukkan ada yang tak beres di tubuh lelaki tua itu.

***

Beberapa hari telah berlalu, dan kondisi Panji sudah jauh lebih baik. Luka di kepalanya juga sudah berangsur sembuh.

"Panji, apa yang membuatmu dihajar oleh orang tua itu?" tanya Ki Ranggas.

"Aku memang selalu mendapatkan rundugan dari mereka!" jawab Panji.

Dan tanpa diminta, Panji menceritakan semua yang dia alami selama di kota Melati. Hal yang menjelaskan betapa sedihnya hidup Panji.

Ki Ranggas melihat ke arah Panji dengan mata yang kasihan.

"Panji, jangan dendam pada mereka!"

"Tidak! Mereka sudah memberikan aku rasa dendam, mereka tak pernah anggap aku, dan jika ada masanya, mereka akan rasakan apa yang aku rasakan!" kata Panji.

Ki Ranggas tak bicara lagi, dia juga sadar, anak kecil itu sudah terlalu sakit oleh penderitaan dan mungkin hanya waktu yang akan tahu, apa yang akan dilakukan Panji si masa depan.

"Aku juga temukan ini, apa ini milikmu?" tanya Ki Ranggas dan berikan kitab pengobatan milik tabib Sagara.

"Iya, ini milik kakek, aku akan pelajari isi kitab ini. Aku sudah melihat kakek mati, karena luka dalam, dan aku tak ingin alami hal itu!" jawab Panji dan terima kitab itu, setelah itu simpan di balik bajunya.

Ki Ranggas memeriksa urat nadi Panji, dan setelah itu tahu kalau kondisi Panji sudah jauh lebih baik.

"Aku rasa sudah saatnya kau tinggalkan hutan ini, Panji!" kata Ki Ranggas.

"Kau sungguh akan biarkan aku pergi? Aku tak tahu harus kemana?"

"Sudah saatnya kau pergi, seperti yang aku katakan, cari jalanmu sendiri!" kata Ki Ranggas.

"Tapi, aku tak tahu harus kemana?"

Tapi Ki Ranggas tak peduli pada perkataan panji, dia menarik tubuh Panji, dan melesat tinggalkan gua yang ada di bukit kecil itu.

Panji menutup mata karena kecepatan Ki Ranggas yang membawanya keluar dari dalam hutan itu, dan akhirnya mereka sampai di pinggiran hutan.

Sama seperti saat membawa Panji masuk ke dalam gua, kali ini pun Ki Ranggas lemparkan Panji saat sampai di pinggiran hutan itu.

"Pergilah, cari hidupmu!" kata Ki Ranggas.

Panji menunduk, ingin rasanya dia kembali ke hutan, karena di dalam hutan dia merasa sangat damai.

"Ingat yang aku katakan tadi, jika kau sudah besar, datang dan ambil liontin ini!" kata Ranggas.

Panji hanya menundukkan kepala, dia tak menjawab, karena tak tahu harus katakan apa.

"Panji, cari jalan yang lurus!" ucap Ki Ranggas.

Huppppp!!

Setelah itu Ki Ranggas melesat masuk lagi ke dalam hutan, dan setelah mendarat di sebatang dahan pohon, dia menatap Panji yang masih berdiri di pinggiran hutan.

"Panji, aku tak ingin kau mengikuti jalan yang aku dan ayahmu, ambil. Kami hidup dalam jalan yang sesat, dan itu tak pantas untukmu!" kata Ki Ranggas dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah itu, Ki Ranggas masuk ke hutan, dan mengendalikan seekor harimau besar. Dia arahkan untuk datang ke arah Panji.

Aummmmmmm!!!

Raungan harimau itu sangat keras, terdengar hingga ke pinggiran hutan, suara harimau yang juga di dengar oleh Panji.

Hal itu membuat Panji ketakutan, tapi instingnya mengatakan dia harus lari dan hidup.

Ki Ranggas hanya tersenyum pahit melihat langkah kecil Panji yang melarikan diri dari suara raungan harimau yang menakutkan itu.

"Panji ini terpaksa aku lakukan, hidup dan mati kini ada di tanganmu!" kata Ki Ranggas.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 10

    Sanjaya masih menatap ke arah ketua Kusuma saat mengatakan kalau perguruan singa timur sudah ada di perguruan Anggek putih."Kapan mereka datang, ketua?" tanya Sanjaya."Dua hari yang lalu, mereka sudah tiba dengan beberapa pendekar dengan memiliki kemampuan kuat, aku merasakan itu!" kata ketua Kusuma."Jadi yang akan jadi lawanku?" tanya Sanjaya."Seseorang yang bernama Dirga, dia memiliki kemampuan yang kemungkinan seimbang dengan dirimu!" kata Ki Kusuma."Kemungkinan?" tanya Sanjaya."Yang aku lihat iya, tapi ada kemungkinan dia lebih kuat darimu!" jawab ketua Kusuma.Sanjaya menghela napas yang panjang, dan setelah itu menutup matanya."Apapun yang terjadi, aku harus hadapi dia, bukan?""Iya, kau menang harus hadapi dia. Kau sendiri yang menantang mereka!" kata ketua Kusuma."Baiklah, kapan?""Satu Minggu lagi, mereka ingin kau fit sebelum bertarung!""Baik, ketua. Aku akan siapkan diriku!" kata Sanjaya."Aku harap kau tahu apa yang akan kau lakukan, Sanjaya!" kata ketua Kusuma sa

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 9

    Tiga hari telah berlalu dengan sangat cepat, dan latihan pertama juga dilalui panji dengan tekun, meskipun itu tak menutupi rasa lelah saat menguasai seluruh tubuhnya."Mari kita pulang!" kata Sanjaya."Pulang guru?" kata Panji dengan wajah yang riang."Iya, sudah tiga hari kau latihan tanpa henti, aku rasa sudah saatnya untuk tubuhmu istirahat satu hari!" kata Sanjaya."Baik, aku setuju guru!" kata Panji.Panji dan Sanjaya berjalan, tapi wajah Panji sedikit berkerut karena Sanjaya ambil jalan memutar, padahal Panji bisa melihat kalau perguruan Anggek putih di atas kepala mereka."Kenapa kita memutar guru?" tanya Panji."Jangan hanya bertanya, lihat setiap tanda yang aku buat!" kata Sanjaya."Tanda?" tanya Panji.Panji melihat kalau Sanjaya memegang sebuah pedang, dan setiap seratus meter dia akan menebas batas pohon besar, seolah itu tanda yang dia berikan."Untuk apa tanda itu, guru?" tanya Panji."Lusa kau akan segera tahu!" kata Sanjaya."Lusa?"Panji, dipikirannya penuh dengan pe

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 8

    Dua hari telah berlalu, dan Panji kini sudah resmi jadi murid perguruan Anggek putih, apalagi kini dia sudah memiliki pakaian dari perguruan itu, sebuah tanda kalau perguruan itu sudah terima dirinya."Ikuti guru, Panji!" kata Sanjaya pada Panji."Kemana guru?""Tidak usah banyak tanya, segera ikuti guru!" kata Sanjaya.Tidak menolak, Panji ikuti langkah Sanjaya, dan mereka masuk ke dalam hutan yang ada di belakang pondok tempat tinggal mereka."Apa yang akan kita lakukan di hutan ini, guru?" tanya Panji."Mulai hari ini kau harus berlatih kanurangan, tapi yang pertama harus kau lakukan adalah berlatih dasar-dasar ilmu kanuragan!" kata Sanjaya.Wajah Panji tak terlalu antusias, tapi melihat wajah gurunya yang semangat, Panji memilih untuk ikuti permintaan gurunya itu."Guru Sanjaya sudah sangat baik padaku. Aku tak akan mengecewakan dia. Aku akan latihan sekeras mungkin," gumam Panji dalam hatinya."Aku akan berlatih dengan keras, guru!" kata Panji."Baik, yang pertama adalah angkat b

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 7

    "Sanjaya, apa kau ... .?""Ketua, apa ketua tidak melihat disini aank kecil, sebaiknya pelankan suara ketua!" kata Sanjaya potong suara keras ketua Kusuma.Ki Kusuma melihat ke arah Panji yang kaget karena suara keras ketua perguruan anggrek putih itu. Dia sembunyi di balik tubuh Sanjaya.Ki Kusuma menarik napas yang dalam, dan mencoba untuk menahan amarahnya karena keberadaan Panji.Apalagi saat dia melihat wajah Panji yang ketakutan, belum lagi matanya yang dipenuhi dengan derita, itu membuat Ki Kusuma urungkan niat untuk marah pada Sanjaya."Kita bicara di dalam ketua!" kata Sanjaya.Ketua Kusuma, dan wakil Liwa masuk ke dalam pondok Sanjaya. Mereka juga tak ingin bicara di luar pondok itu."Duduklah ketua, aku akan jelaskan semuanya!" kata Sanjaya.Sanjaya menarik Panji ke dekatnya, dan mengelus rambut Panji yang sedikit mulai memanjang."Anak kecil ini butuhkan aku, ketua. Aku belum bisa tinggalkan dia, itulah mengapa aku tak langsung laporkan harus misiku!" kata Sanjaya menjadik

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 6

    Sanjaya, pemuda yang menolong Panji, hanya bisa menahan napas saat Panji katakan tidak tahu harus kemana, tak punya rumah, dan hidup sendirian."Apa yang harus aku lakukan pada bocah ini?" kata Sanjaya bicara sendirian.Melihat Sanjaya diam, Panji berdiri."Terima kasih sudah menolong diriku, aku akan pergi dan mencari yang mau menerima diriku!" kata Panji dan langkahkan kaki mungilnya."Hei bocoh, berhenti!" bentak Sanjaya.Tubuh Panji gemetar karena bentakan Sanjaya, dan Panji berbalik melihat ke arah Sanjaya."Apa lagi paman?" tanya Panji."Bagaimana kalau ikut denganku?" tanya Sanjaya."Kemana?" tanya Panji."Ikut saja, aku yakin kau akan suka!" kata Sanjaya dan putuskan untuk membawa Panji ke perguruan tempat dia bernaung. Di perguruan Anggrek Putih."Baiklah, aku akan ikut!" kata Panji yang tak tahu harus melangkah kemana lagi.***Cukup jauh perjalanan mereka bagi Panji. Dan berkali-kali sudah Panji bertanya kemana mereka sesunguhnya."Tunggu saja, kita akan segera sampai!" ka

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 5

    Auuummm!!!Suara raungan harimau memenuhi seluruh hutan jati, dan suara raungan itu terdengar jelas oleh telinga Panji."Harimau!" seru Panji ketakutan.Tapi, instingnya mengatakan dia harus hidup dan melarikan diri dari Harimau yang jelas sudah datang dari dalam hutan.Tapi, tubuh Panji kesulitan untuk bergerak, kakinya gemetaran karena suara raungan yang menakutkan bagi anak sekecil dirinya.Dan, dari dalam hutan, keluar seekor harimau besar yang menatap buas ke tubuh Panji. Baginya Panji saat ini adalah makanan yang tepat untuk mengisi perutnya.Aummmmmmm!!Harimau itu kembali mengaum keras, dan itu semakin membuat Panji gemetaran. Dia ingin melangkah, tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan.Harimau itu semakin dekat, dan semakin dekat, wajah Panji semakin gemetaran karena rasa takut."Aku harus hidup!" ucap Panji.Satu bayangan melintas di mata Panji. Bayangan tabib Sagara, yang selama ini sudah menjaga dirinya agar tetap hidup.Dan, barulah Panji mampu langkahkan kakinya untuk m

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status