LOGINSatu sosok tubuh dengan pakaian hitam melesat cepat dengan gerakan yang cukup ringan.
Di pundak sosok berpakain hitam itu, satu tubuh dengan tubuh penuh darah dibawa dengan tanpa beban. Dia terus melesat, hingga memasuki sebuah hutan rimba yang jarang dimasuki oleh manusia. Hutan jati, itulah nama hutan itu. Hutan itu, hutan yang penuh dengan siluman jahat, dan semua itu tak ditakuti oleh sosok yang berpakaian hitam itu. Hingga pada akhirnya, dia sampai di sebuah gua yang berada di sebuah bukit kecil di tengah hutan itu. Bukit yang dikelilingi oleh lembah yang dalam, penuh dengan lumpur. Jika bukan karena ilmu meringankan tubuh yang tinggi dari sosok berpakaian hitam itu, dia mungkin akan tenggelam di dalam lumpur yang mengelilingi bukit kecil itu. Brukkkkkk!! Tanpa rasa kasihan, dia jatuhkan tubuh kecil dan kurus yang ada di atas pundak, dan dengan sinis dia melihat bocah kecil itu. "Kau beruntung aku tolong, bukan berarti aku inginkan dirimu, hanya saja, kau masih muda, mungkin kau bisa tentukan jalanmu sendiri nantinya!" katanya bicara pada sosok manusia kecil yang dia bawa itu. Dan, pada saat itulah mata melihat sebuah liontin perak jatuh dari balik baju anak kecil itu. "Liontin apa ini?" ucapnya. Matanya membesar saat melihat liontin itu, dia merasa kenal dengan liontin yang jatuh itu. "Bukankah ini milik pendekar mata iblis, kenapa ada pada bocah ini?" ucapnya heran. Tukkkkkk!! Karena penasaran, dia memberikan totokan di tubuh anak kecil itu, dan itu cukup untuk sadarkan bocah mungil itu. "Aku dimana?" tanya bocah kecil itu. Tapi, satu tangan kasar malah menarik paksa pakaian bocah itu, satu cara kasar yang kagetkan bocah itu. "Hei, bocah. Milik siapa ini?" bentak sosok itu pada Panji, sosok dibawa oleh lelaki berpakaian hitam itu. "Itu milikku!" jawab Panji dengan suara lirih. "Sialan! Aku menolong orang yang salah!" katanya dan hentakkan tubuh Panji ke belakang. "Kakek, kenapa kakek bicara seperti itu?" tanya Panji. "Diam kau bocah, aku tak suka padamu, jangan bicara padaku. Setelah kau sembuh, pergi dari sini!" kata sosok itu. "Aku akan kemana?" tanya Panji kebingungan. "Bukan urusanku, pergi saja dari sini! Dan jangan bawa liontin. Saat kau dewasa, dan jika kau masih hidup, baru kau ambil liontin ini!" katanya pada Panji. "Apa kau kenal pemilik liontin itu?" tanya Panji penasaran. "Setelah kau dewasa, baru aku katakan. Saat ini kau tak boleh memiliki liontin ini. Apa kau paham?" "Baik!" kata Panji tak bisa menolak atau melawan. "Siapa namamu?" "Panji!" "Panji!" desis sosok itu. Dia mengingat sedikit masa lalu, dan setelah itu dia tersenyum dengan senyuman yang penuh misteri. "Aku akan obati dirimu, setelah itu aku akan antarkan kau keluar dari hutan ini. Jika kau ingin hidup, tunjukan caramu hidup!" katanya. "Tapi, siapa kau ini?" tanya Panji. "Aku Ki Ranggas, pendekar mata setan!" jawab lelaki itu. Panji ingat dengan perkataan tabib Sagara, dia mengatakan kalau ayahnya memiliki julukan pendekar mata iblis. "Apa kau memiliki hubungan dengan pendekar mata iblis?" tanya Panji. Ki Ranggas tercengang, dia tak percaya kalau Panji sudah tahu tentang julukan ayahnya, dan seolah Panji merasa memiliki benang merah dengan pendekar mata setan itu. "Jangan tanya yang bukan-bukan, sebaiknya kau pulihkan kondisimu!" kata Ki Ranggas tanpa menjawab pertanyaan Panji. Panji masih ingin bertanya, tapi Ki Ranggas sudah pergi dengan batuk yang keras, batuk yang menunjukkan ada yang tak beres di tubuh lelaki tua itu. *** Beberapa hari telah berlalu, dan kondisi Panji sudah jauh lebih baik. Luka di kepalanya juga sudah berangsur sembuh. "Panji, apa yang membuatmu dihajar oleh orang tua itu?" tanya Ki Ranggas. "Aku memang selalu mendapatkan rundugan dari mereka!" jawab Panji. Dan tanpa diminta, Panji menceritakan semua yang dia alami selama di kota Melati. Hal yang menjelaskan betapa sedihnya hidup Panji. Ki Ranggas melihat ke arah Panji dengan mata yang kasihan. "Panji, jangan dendam pada mereka!" "Tidak! Mereka sudah memberikan aku rasa dendam, mereka tak pernah anggap aku, dan jika ada masanya, mereka akan rasakan apa yang aku rasakan!" kata Panji. Ki Ranggas tak bicara lagi, dia juga sadar, anak kecil itu sudah terlalu sakit oleh penderitaan dan mungkin hanya waktu yang akan tahu, apa yang akan dilakukan Panji si masa depan. "Aku juga temukan ini, apa ini milikmu?" tanya Ki Ranggas dan berikan kitab pengobatan milik tabib Sagara. "Iya, ini milik kakek, aku akan pelajari isi kitab ini. Aku sudah melihat kakek mati, karena luka dalam, dan aku tak ingin alami hal itu!" jawab Panji dan terima kitab itu, setelah itu simpan di balik bajunya. Ki Ranggas memeriksa urat nadi Panji, dan setelah itu tahu kalau kondisi Panji sudah jauh lebih baik. "Aku rasa sudah saatnya kau tinggalkan hutan ini, Panji!" kata Ki Ranggas. "Kau sungguh akan biarkan aku pergi? Aku tak tahu harus kemana?" "Sudah saatnya kau pergi, seperti yang aku katakan, cari jalanmu sendiri!" kata Ki Ranggas. "Tapi, aku tak tahu harus kemana?" Tapi Ki Ranggas tak peduli pada perkataan panji, dia menarik tubuh Panji, dan melesat tinggalkan gua yang ada di bukit kecil itu. Panji menutup mata karena kecepatan Ki Ranggas yang membawanya keluar dari dalam hutan itu, dan akhirnya mereka sampai di pinggiran hutan. Sama seperti saat membawa Panji masuk ke dalam gua, kali ini pun Ki Ranggas lemparkan Panji saat sampai di pinggiran hutan itu. "Pergilah, cari hidupmu!" kata Ki Ranggas. Panji menunduk, ingin rasanya dia kembali ke hutan, karena di dalam hutan dia merasa sangat damai. "Ingat yang aku katakan tadi, jika kau sudah besar, datang dan ambil liontin ini!" kata Ranggas. Panji hanya menundukkan kepala, dia tak menjawab, karena tak tahu harus katakan apa. "Panji, cari jalan yang lurus!" ucap Ki Ranggas. Huppppp!! Setelah itu Ki Ranggas melesat masuk lagi ke dalam hutan, dan setelah mendarat di sebatang dahan pohon, dia menatap Panji yang masih berdiri di pinggiran hutan. "Panji, aku tak ingin kau mengikuti jalan yang aku dan ayahmu, ambil. Kami hidup dalam jalan yang sesat, dan itu tak pantas untukmu!" kata Ki Ranggas dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah itu, Ki Ranggas masuk ke hutan, dan mengendalikan seekor harimau besar. Dia arahkan untuk datang ke arah Panji. Aummmmmmm!!! Raungan harimau itu sangat keras, terdengar hingga ke pinggiran hutan, suara harimau yang juga di dengar oleh Panji. Hal itu membuat Panji ketakutan, tapi instingnya mengatakan dia harus lari dan hidup. Ki Ranggas hanya tersenyum pahit melihat langkah kecil Panji yang melarikan diri dari suara raungan harimau yang menakutkan itu. "Panji ini terpaksa aku lakukan, hidup dan mati kini ada di tanganmu!" kata Ki Ranggas.Intan Agni masih merenung akan nasibnya. Gadis itu sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nasib yang buruk jika kakeknya tidak menemukan pusaka pulau api."Kembalikan Intan Agni, padaku!" teriak satu suara. Teriakan itu sangat keras, dan sampai ke telinga gadis muda itu. "Aku disini, selamatkan aku!" teriak Intan Agni.Panji, yang baru tiba di gua itu jelas mendengar suara teriakan itu, dan tanpa menunggu lebih lama, Panji melesat ke arah suara itu. "Hehehe, apa kalian pikir bisa lepas dari gua ini?" ucap Ki Taraku yang tak perduli meskipun Panji akan selamatkan Intan Agni.Keberadaan kalajengking di sekitar gua itu, jadi keyakinan besar yang ada pada Ki Taraku, karena hal itulah ia membiarkan Panji melesat ke arah Intan Agni. Panji sampai di gua tempat Intan Agni disekap, dan sejenak Panji termangu karena walau cantik yang dimiliki oleh gadis itu. Namun, bukan hanya Panji yang termangu, tapi gadis muda itu juga termangu saat melihat wajah Panji. "Panji Sanjaya!" desis Intan Ag
"Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" tanya Panji pada dirinya sendiri. Saat Panji gunakan pedang energi, ular-ular itu mampu Panji bunuh, namun saat gunakan tenaga dalam, satu pun ular itu tak ada yang terbunuh."Apa mereka kebal pada tenaga dalam, namun tidak pada serangan langsung?" tanya Panji bertanya lagi pada dirinya sendiri. Whusssssssss!!Merasa buang-buang tenaga dengan para ular itu, Panji melesat tinggalkan ratusan ular itu, dan mendarat di area yang jauh dari ular-ular itu.Sssttttt!!Namun, baru saja Panji mendarat di tanah, suara desisan ular terdengar tak jauh dari posisi Panji berdiri. "Tidak mungkin!" ucap Panji. Ratusan ular yang sudah Panji tinggalkan tahu-tahu sudah ada lagi di sekitar Panji, seolah mereka mampu mengejar gerakan Panji yang sangat cepat. "Sungguh tak terduga!" ucap Panji. Whusssssssss!!Bahkan, ratusan ular itu sama-sama melompat ke arah Panji, dan menyerang tubuh Panji. "Pedang energi!" teriak Panji.Dan begitu pedang energi berada di t
Intan Agni, gadis yang dahulu adalah salah satu satu peserta yang masuk ke babak empat besar turnamen pendekar muda.Setelah pertarungan karena penyerangan Golongan Hitam, Intan Agni diobati oleh guru sekaligus kakeknya, Ki Sutopo.Kini, dia telah menjelma jadi seorang gadis muda yang memiliki tingkat kecantikan yang bisa disandingkan dengan seorang bidadari, dia cantik, menarik, dan tak mungkin bagi seorang pria berpaling darinya. Sungguh satu kecantikan yang sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia mengasah kemampuan di pulau api, dan hingga akhirnya dia mencapai kemampuan pendekar raja langit tahap akhir, hanya butuh sedikit dorongan lagi, maka ia akan mencapai pendekar dewa. Namun, semua harapan itu sirna, lagi dan lagi karena serangan tiba-tiba Golongan Hitam ke pulau api, pulau dimana ia tinggal bersama kakeknya.Dia harus melihat kakeknya kalah lagi, seperti yang terjadi saat di perguruan singa timur. Kalah oleh golongan hitam, kalah oleh organisasi kalajengking.Seperti saat ini,
Tanpa ada yang berani hentikan Panji, semua anak buah Ki Jaraga hanya bisa menatap Panji yang keluar dari rumah ketua organisasi kalajengking merah itu. "Dimana rumah Adipati Sampada?" tanya Panji. "I ... Itu!" jawab satu orang dan menunjuk rumah besar lainnya."Bagus! Aku suka kalian bekerja sama denganku!" kata Panji. Setelah itu Panji berjalan ke arah rumah Adipati Sampada, dan prajurit kota yang tak memiliki arti di kota itu mencoba menahan Panji. "Untuk saat ini Adipati tak bisa diganggu!""Tidak bisa diganggu?" tanya Panji."Iya! Adipati ada urusan lain!""Apakah kalian tahu kalau aku baru saja membunuh Ki Jaraga? Jika kalian hadang langkahku, maka kalian akan mengikuti dia ke neraka!" ucap Panji. Mereka mundur saat Panji katakan itu, meskipun tak percaya tapi keberanian Panji mengatakan itu, cukup untuk membuat mereka takut. Jalan terbuka, dan Panji masuk tanpa ada halangan, masuk ke dalam rumah Adipati penguasa kota itu. "Adipati, keluar kau!" teriak Panji. Puluhan pra
Setelah berdiri, Panji Sanjaya duduk, dan posisi itu sangat santai, tak sedikitpun terintimidasi dari kedatangan Ki Raka yang memiliki aura membunuh yang cukup kuat."Bocah, aku peringatkan padamu, ini adalah wilayah organisasi kalajengking, dan kau sudah buat masalah disini?" bentak Ki Raka. "Oh, benarkah?" Sikap Panji yang sedikitpun tak gubris tentang organisasi kalajengking cukup sudah membuat Ki Raka marah. "Jika kau berlutut padaku, dan menjadi anak buahku, maka kau akan aku ampuni!""Hahah, aku hanya ingin tahu satu hal, siapa yang memberikan ijin bongkar rumah sebelum bangunan ini di dirikan?" tanya Panji. "Itu bukan urusanku, yang jelas bangunan ini, dan hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini miliki organisiasi kalajengking!" tegas Ki Raka. "Baik, dimana pemimpin kalian?""Kau tak memiliki hak untuk menjawab itu!"Whusssssssss!!Ki Raka maju dengan sangat cepat, dan pukulan yang kuat sudah mengarah ke wajah Panji. Pukulan yang berisi tenaga dalam. Masih dengan pos
Panji Sanjaya tiba di kota Melati, dan yang pertama harus Panji lakukan menuju ke pemakaman, dan berikan hormat di kuburan kakeknya, Tabib Sagara.Namun ia kaget saat melewati rumah yang dahulu ia tinggali bersama bersama tabib Sagara, rumah itu sudah berubah jadi sebuah bangunan yang tinggi.Brakkkkkkk!!Panji mendorong keras pintu rumah itu, dan berdiri di depan pintu itu."Siapa pemilik rumah ini?" teriak Panji dengan suara keras.Lima orang datang ke arah Panji, wajahnya mereka menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan, dan mereka jelas memiliki pendukung di kota itu."Bocah, siapa kau? Jangan cari masalah, kami adalah anggota dari Ki Raka!" ucap mereka.Plakkkkkk!!Tangan Panji terayun, dan dua orang langsung jatuh dan terkapar di lantai ruangan itu."Aku tak perduli pada Ki Raka, aku hanya peduli pada rumah ini!" tegas Panji Sanjaya.Tiga orang rekan mereka kaget karena dua rekan mereka sudah jatuh di lantai, dan mereka tak lihat gerakan Panji."Pikirkan apa yang kau lakukan ini







