MasukSanjaya, pemuda yang menolong Panji, hanya bisa menahan napas saat Panji katakan tidak tahu harus kemana, tak punya rumah, dan hidup sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan pada bocah ini?" kata Sanjaya bicara sendirian. Melihat Sanjaya diam, Panji berdiri. "Terima kasih sudah menolong diriku, aku akan pergi dan mencari yang mau menerima diriku!" kata Panji dan langkahkan kaki mungilnya. "Hei bocoh, berhenti!" bentak Sanjaya. Tubuh Panji gemetar karena bentakan Sanjaya, dan Panji berbalik melihat ke arah Sanjaya. "Apa lagi paman?" tanya Panji. "Bagaimana kalau ikut denganku?" tanya Sanjaya. "Kemana?" tanya Panji. "Ikut saja, aku yakin kau akan suka!" kata Sanjaya dan putuskan untuk membawa Panji ke perguruan tempat dia bernaung. Di perguruan Anggrek Putih. "Baiklah, aku akan ikut!" kata Panji yang tak tahu harus melangkah kemana lagi. *** Cukup jauh perjalanan mereka bagi Panji. Dan berkali-kali sudah Panji bertanya kemana mereka sesunguhnya. "Tunggu saja, kita akan segera sampai!" kata Sanjaya. Mereka berdua masuk ke dalam sebuah kota, kota Muara namanya. Mereka berdua tak singgah di kota itu, tapi malah meninggalkan kota itu hingga menuju ke pinggiran kota itu. "Apakah kau lihat bangunan besar itu, Panji?" tanya Sanjaya dan tunjuk sebuah bangunan yang ada di lembah di pinggiran kota Muara. Panji melihat bangunan yang ada di dalam lembah itu, dan yakin kalau itu bangunan sebuah perguruan. "Apakah itu sebuah perguruan?" tanya Panji. "Iya, dan kau akan tinggal bersama diriku di dalam perguruan itu!" "Aku, masuk ke perguruan itu?" kata Panji. "Iya, apa kau suka pada ilmu kanuragan?" tanya Sanjaya. "Aku tidak tahu, tapi aku lebih suka pada pengobatan!" kata Panji. "Aih, sepertinya aku sudah salah membawa masuk seseorang ke dalam perguruan ini!" kata Sanjaya yang merasa gatal seluruh kepalanya. "Sudahkah, mari kita datangi perguruan itu, mungkin nanti kau akan berubah pikiran dan suka pada ilmu kanuragan!" kata Sanjaya. "Baik!" jawab Panji. Ia juga tak memiliki pilihan yang lain, harus bersedia ikut dengan Sanjaya, dan masuk ke dan perguruan Anggrek putih. Saat mereka datang, belasan murid bertemu dengan mereka, dan semua murid itu memberikan hormat pada Sanjaya, yang artinya Sanjaya memiliki nama dan kehormatan di perguruan itu. "Guru Sanjaya!" kata tiap orang yang jumpa dengan mereka. Tapi, perhatian bukan hanya pada Sanjaya, tapi juga Panji yang dibawa oleh Sanjaya. "Siapa yang dibawa oleh guru Sanjaya? Apa dia akan jadi murid pertama guru Sanjaya?" kata mereka menggosipkan guru Sanjaya yang membawa Panji. "Jangan hiraukan ucapan mereka, kau cukup istirahat dulu, jika kau tak suka disini, kau bebas untuk pergi!" kata Sanjaya dan bawa Panji masuk ke dalam pondok besar yang jadi tempat dia tinggal. Pondok itu memiliki tiga kamar, dan Sanjaya memakai kamar yang ada di lantai bawah. "Masih ada dua kamar di lantai atas, kau bebas memakai yang mana!" kata Sanjaya dan masuk ke dalam kamarnya. Dia memilih untuk istirahat sebelum melaporkan hasil pekerjaannya pada ketua perguruan Anggek putih itu. "Nanti aku akan temui ketua Kusuma, setelah aku istirahat. Sekalian aku akan perkenalkan Panji!" kata Sanjaya dan rebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sementara itu, Panji naik ke lantai atas pondok itu, dan memilih satu kamar yang jendelanya mengarah ke halaman luas perguruan Anggrek Putih. "Apakah hidupku akan berakhir di perguruan ini?" gumam Panji. *** Perguruan Anggek putih, merupakan salah satu perguruan yang ada di negeri lima benua. Negeri yang didiami oleh Panji. Negeri itu merupakan negeri yang luas dan kaya, yang mana negeri itu memiliki lima daerah yang dinamakan benua. Benua merah, biru, kuning, hitam dan putih. Benua yang memiliki keunikan dan keindahan masing-masing dari tiap area benua itu. Panji, berada di benua biru, benua yang memiliki keindahan alam yang cukup indah, meskipun tak seindah di benua-benua yang lain. Benua biru juga dikatakan sebagai benua yang paling lemah dari lima benua yang lain, dan benua terkuat adalah benua putih, yang mana benua itu banyak memiliki pendekar golongan putih. Perguruan Anggek putih, hanya satu dari ratusan perguruan silat yang ada di negeri lima benua, dan perguruan itu hanya masuk dalam perguruan kelas menengah. Perguruan paling kuat, dan paling disegani di dunia persilatan adalah perguruan angsa emas perguruan tinju besi, dan perguruan naga putih. Ketiga perguruan itu sejajar dengan kuil matahari yang merupakan sosok netral di dunia persilatan, dan juga sejajar dengan perguruan tangan setan yang merupakan hitam di negeri lima benua. Meskipun hanya perguruan kelas menengah, tapi perguruan Anggrek Putih, tetap memiliki nama besar, apalagi di kota Muara. Perguruan itu masih yang jadi tujuan bagi pemuda yang ingin menimba ilmu kanuragan. Ketua Liwa, ketua perguruan itu, dia merupakan sosok yang memiliki kemampuan yang sudah mencapai tingkat tinggi. Memang dia bukan yang terbaik di dunia persilatan, tapi dia masih masuk dalam dua puluh besar pendekar terbaik golongan putih. Meskipun perguruan itu sering dipandang sebelah mata, apalagi mereka ada di benua biru, benua paling lemah di negeri lima benua. Brakkkkkkk!! "Dasar Sanjaya, dia selalu berbuat sesuka hatinya. Seharusnya dia langsung melapor jika dia sudah kembali!" bentak ketua Kusuma saat kabar kepulangan Sanjaya sampai di telinganya. Dia segera ambil jubahnya, dan pakai sekaian dia keluar dari ruang pribadinya. Dia berjalan cepat, dan diikuti oleh seorang lelaki yang merupakan wakil ketua dari perguruan Anggrek Putih, Ki Liwa namanya. Dia tersenyum lebar saat melihat amarah di mata ketua Kusuma. Dia sangat suka kalau ketua perguruan itu marah pada Sanjaya. Semua orang sudah tahu bagaimana kemampuan Sanjaya, dia merupkan murid yang berkembang cepat, dan di usia dua puluh lima tahun, dia sudah jadi guru pengajar di perguruan Anggek putih. Hal itu menimbulkan kecemburuan pada hati wakil ketua perguruan itu, wakil Liwa. Dia tak suka pada keberhasilan Sanjaya yang menurutnya menutupi bakat-bakat keturunannya. "Dia juga membawa seorang anak kecil bersamanya, ketua!" kata wakil Liwa yang terus mencoba memanasi hati ketua Kusuma. "Dia membawa seorang anak kecil, dan tak katakan padaku?" kata ketua Kusuma kembali kesal pada Sanjaya. "Iya, ketua! Dan mereka saat ini ada di pondok Sanjaya!" kata wakil Liwa. Ketua Kusuma semakin kesal, tapi jelas itu bukan amarah. Dia hanya kesal karena Sanjaya tak langsung temui dia. "Sanjaya! Sanjaya! Keluar kau!" teriak ketua Kusuma. Sanjaya dengan malas keluar dari dalam pondok, dan diikuti oleh Panji yang juga kaget karena suara keras itu. "Ketua, apa ketua tak bisa bicara pelan? Nanti mengundang banyak orang!" kata Sanjaya. "Diam kau, apa kau tak hargai diriku?" bentak ketua Kusuma. Sanjaya melirik ke arah wakil Liwa, dia tahu pasti wakil ketua perguruan Anggek putih itu yang melaporkan kedatangannya. "Dia tetap tak suka padaku," gumam Sanjaya dalam hatinya.Sanjaya masih menatap ke arah ketua Kusuma saat mengatakan kalau perguruan singa timur sudah ada di perguruan Anggek putih."Kapan mereka datang, ketua?" tanya Sanjaya."Dua hari yang lalu, mereka sudah tiba dengan beberapa pendekar dengan memiliki kemampuan kuat, aku merasakan itu!" kata ketua Kusuma."Jadi yang akan jadi lawanku?" tanya Sanjaya."Seseorang yang bernama Dirga, dia memiliki kemampuan yang kemungkinan seimbang dengan dirimu!" kata Ki Kusuma."Kemungkinan?" tanya Sanjaya."Yang aku lihat iya, tapi ada kemungkinan dia lebih kuat darimu!" jawab ketua Kusuma.Sanjaya menghela napas yang panjang, dan setelah itu menutup matanya."Apapun yang terjadi, aku harus hadapi dia, bukan?""Iya, kau menang harus hadapi dia. Kau sendiri yang menantang mereka!" kata ketua Kusuma."Baiklah, kapan?""Satu Minggu lagi, mereka ingin kau fit sebelum bertarung!""Baik, ketua. Aku akan siapkan diriku!" kata Sanjaya."Aku harap kau tahu apa yang akan kau lakukan, Sanjaya!" kata ketua Kusuma sa
Tiga hari telah berlalu dengan sangat cepat, dan latihan pertama juga dilalui panji dengan tekun, meskipun itu tak menutupi rasa lelah saat menguasai seluruh tubuhnya."Mari kita pulang!" kata Sanjaya."Pulang guru?" kata Panji dengan wajah yang riang."Iya, sudah tiga hari kau latihan tanpa henti, aku rasa sudah saatnya untuk tubuhmu istirahat satu hari!" kata Sanjaya."Baik, aku setuju guru!" kata Panji.Panji dan Sanjaya berjalan, tapi wajah Panji sedikit berkerut karena Sanjaya ambil jalan memutar, padahal Panji bisa melihat kalau perguruan Anggek putih di atas kepala mereka."Kenapa kita memutar guru?" tanya Panji."Jangan hanya bertanya, lihat setiap tanda yang aku buat!" kata Sanjaya."Tanda?" tanya Panji.Panji melihat kalau Sanjaya memegang sebuah pedang, dan setiap seratus meter dia akan menebas batas pohon besar, seolah itu tanda yang dia berikan."Untuk apa tanda itu, guru?" tanya Panji."Lusa kau akan segera tahu!" kata Sanjaya."Lusa?"Panji, dipikirannya penuh dengan pe
Dua hari telah berlalu, dan Panji kini sudah resmi jadi murid perguruan Anggek putih, apalagi kini dia sudah memiliki pakaian dari perguruan itu, sebuah tanda kalau perguruan itu sudah terima dirinya."Ikuti guru, Panji!" kata Sanjaya pada Panji."Kemana guru?""Tidak usah banyak tanya, segera ikuti guru!" kata Sanjaya.Tidak menolak, Panji ikuti langkah Sanjaya, dan mereka masuk ke dalam hutan yang ada di belakang pondok tempat tinggal mereka."Apa yang akan kita lakukan di hutan ini, guru?" tanya Panji."Mulai hari ini kau harus berlatih kanurangan, tapi yang pertama harus kau lakukan adalah berlatih dasar-dasar ilmu kanuragan!" kata Sanjaya.Wajah Panji tak terlalu antusias, tapi melihat wajah gurunya yang semangat, Panji memilih untuk ikuti permintaan gurunya itu."Guru Sanjaya sudah sangat baik padaku. Aku tak akan mengecewakan dia. Aku akan latihan sekeras mungkin," gumam Panji dalam hatinya."Aku akan berlatih dengan keras, guru!" kata Panji."Baik, yang pertama adalah angkat b
"Sanjaya, apa kau ... .?""Ketua, apa ketua tidak melihat disini aank kecil, sebaiknya pelankan suara ketua!" kata Sanjaya potong suara keras ketua Kusuma.Ki Kusuma melihat ke arah Panji yang kaget karena suara keras ketua perguruan anggrek putih itu. Dia sembunyi di balik tubuh Sanjaya.Ki Kusuma menarik napas yang dalam, dan mencoba untuk menahan amarahnya karena keberadaan Panji.Apalagi saat dia melihat wajah Panji yang ketakutan, belum lagi matanya yang dipenuhi dengan derita, itu membuat Ki Kusuma urungkan niat untuk marah pada Sanjaya."Kita bicara di dalam ketua!" kata Sanjaya.Ketua Kusuma, dan wakil Liwa masuk ke dalam pondok Sanjaya. Mereka juga tak ingin bicara di luar pondok itu."Duduklah ketua, aku akan jelaskan semuanya!" kata Sanjaya.Sanjaya menarik Panji ke dekatnya, dan mengelus rambut Panji yang sedikit mulai memanjang."Anak kecil ini butuhkan aku, ketua. Aku belum bisa tinggalkan dia, itulah mengapa aku tak langsung laporkan harus misiku!" kata Sanjaya menjadik
Sanjaya, pemuda yang menolong Panji, hanya bisa menahan napas saat Panji katakan tidak tahu harus kemana, tak punya rumah, dan hidup sendirian."Apa yang harus aku lakukan pada bocah ini?" kata Sanjaya bicara sendirian.Melihat Sanjaya diam, Panji berdiri."Terima kasih sudah menolong diriku, aku akan pergi dan mencari yang mau menerima diriku!" kata Panji dan langkahkan kaki mungilnya."Hei bocoh, berhenti!" bentak Sanjaya.Tubuh Panji gemetar karena bentakan Sanjaya, dan Panji berbalik melihat ke arah Sanjaya."Apa lagi paman?" tanya Panji."Bagaimana kalau ikut denganku?" tanya Sanjaya."Kemana?" tanya Panji."Ikut saja, aku yakin kau akan suka!" kata Sanjaya dan putuskan untuk membawa Panji ke perguruan tempat dia bernaung. Di perguruan Anggrek Putih."Baiklah, aku akan ikut!" kata Panji yang tak tahu harus melangkah kemana lagi.***Cukup jauh perjalanan mereka bagi Panji. Dan berkali-kali sudah Panji bertanya kemana mereka sesunguhnya."Tunggu saja, kita akan segera sampai!" ka
Auuummm!!!Suara raungan harimau memenuhi seluruh hutan jati, dan suara raungan itu terdengar jelas oleh telinga Panji."Harimau!" seru Panji ketakutan.Tapi, instingnya mengatakan dia harus hidup dan melarikan diri dari Harimau yang jelas sudah datang dari dalam hutan.Tapi, tubuh Panji kesulitan untuk bergerak, kakinya gemetaran karena suara raungan yang menakutkan bagi anak sekecil dirinya.Dan, dari dalam hutan, keluar seekor harimau besar yang menatap buas ke tubuh Panji. Baginya Panji saat ini adalah makanan yang tepat untuk mengisi perutnya.Aummmmmmm!!Harimau itu kembali mengaum keras, dan itu semakin membuat Panji gemetaran. Dia ingin melangkah, tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan.Harimau itu semakin dekat, dan semakin dekat, wajah Panji semakin gemetaran karena rasa takut."Aku harus hidup!" ucap Panji.Satu bayangan melintas di mata Panji. Bayangan tabib Sagara, yang selama ini sudah menjaga dirinya agar tetap hidup.Dan, barulah Panji mampu langkahkan kakinya untuk m







