Mag-log inDua hari telah berlalu, dan Panji kini sudah resmi jadi murid perguruan Anggek putih, apalagi kini dia sudah memiliki pakaian dari perguruan itu, sebuah tanda kalau perguruan itu sudah terima dirinya.
"Ikuti guru, Panji!" kata Sanjaya pada Panji. "Kemana guru?" "Tidak usah banyak tanya, segera ikuti guru!" kata Sanjaya. Tidak menolak, Panji ikuti langkah Sanjaya, dan mereka masuk ke dalam hutan yang ada di belakang pondok tempat tinggal mereka. "Apa yang akan kita lakukan di hutan ini, guru?" tanya Panji. "Mulai hari ini kau harus berlatih kanurangan, tapi yang pertama harus kau lakukan adalah berlatih dasar-dasar ilmu kanuragan!" kata Sanjaya. Wajah Panji tak terlalu antusias, tapi melihat wajah gurunya yang semangat, Panji memilih untuk ikuti permintaan gurunya itu. "Guru Sanjaya sudah sangat baik padaku. Aku tak akan mengecewakan dia. Aku akan latihan sekeras mungkin," gumam Panji dalam hatinya. "Aku akan berlatih dengan keras, guru!" kata Panji. "Baik, yang pertama adalah angkat batu itu kemari!" kata Panji sambi menunjuk ke arah sebuah batu dengan ukuran yang besar. "Baik, guru!" kata Panji. Panji dekati batu yang beratnya lebih dari dua puluh kilo, dan mencoba angkat batu itu. "Ini sangat berat, guru!" "Aku tidak katakan itu ringan Panji, bawa kemari! Jika tidak maka kau tidak akan lulus pada latihan pertama ini!" kata Sanjaya. "Baik, guru!" kata Panji. Panji mencoba dorong batu itu. "Apakah guru katakan kau harus mendorong batu itu, Panji? Guru minta angkat!" kata Sanjaya. Panji menarik napas, dan mau tak mau dia harus merangkul batu besar itu. Dan setelah itu coba angkat batu besar itu. Sekuat tenaga Panji coba angkat batu berat itu, tapi sia-sia saja, dia tak mampu angkat batu itu. "Berat!" kata Panji. "Ada apa Panji? Apa batu itu terlalu besar?" kata Sanjaya dan dekati Panji. "Iya, guru! Ini sangat berat!" Bammmmmmm!! Sanjaya memukuk batu hingga hancur, dan semua itu dilihat oleh mata terbuka Panji. Dia sampai menatap ke tangan gurunya. "Bagaimana bisa seperti itu?" kata Panji. "Apakah kau ingin seperti guru? Mampu memecahkan batu?" tanya Sanjaya. "Iya, guru! Ajari Panji memukul batu hingga hancur!" kata Panji antusias. "Hahaha, tidak akan semudah itu. Yang pertama sudah jelas kau harus latihan dasar, dan latihan dasar pertama adalah perkuat ototmu dengan angkat batu itu!" kata Sanjaya. "Akan aku lakukan!" kata Panji dan mulai bersemangat. Apa yang baru saja dilakukan oleh Sanjaya memberikan semangat pada Panji, dan dia sungguh ingin merasakan bagaimana memukul batu hingga hancur. "Angkat batu Panji!" kata Sanjaya. "Baik, guru!" Kali ini Panji tidak mau main-main lagi, dia memeluk lagi sebuah batu besar, dan kerahkan seluruh kekuatan untuk angkat batu itu. Sanjaya awalnya hanya mencoba kekuatan Panji, dan tak yakin kalau Panji akan mampu angkat batu itu, jadi dia hanya duduk sambil bersandar di sebatang batu. Tapi, saat melihat Panji mulai angkat batu, dan batu itu sedikit terangkat, Sanjaya kaget dan heran sekalian tak percaya. "Bocah ini memiliki semangat api yang cukup besar. Apakah aku tak sia-sia angkat dia jadi muridku?" gumam Sanjaya. Mata Sanjaya terus melihat ke arah Panji, dan dia semakin tak percaya saat Panji mulai mampu angkat batu sebesar kambing dewasa itu. Sanjaya berdiri, dan semangatnya malah berkobar saat melihat semangat Panji. "Ayo bawa kemari Panji, pelan-pelan dan jangan sampai batu itu jatuh ke kakimu!" kata Sanjaya. "Baik, guru!" Dengan pelan, dan berjalan satu demi satu, Panji membawa batu besar itu pada Sanjaya. Dan Panji berhasil setelah berjalan cukup lama. Brukkkkkk!! Panji jatuhkan tubuhnya di depan Sanjaya, wajahnya penuh keringat, tapi ada kepuasaan di wajah Panji. "Ini sangat melelahkan!" kata Panji. "Hahahah, itu baru satu batu, dan baru satu hari. Akan banyak latihan yang akan kau jalani Panji!" kata Sanjaya tertawa keras. "Aku akan melakukan semua yang guru minta!" Sanjay berjalan ke arah sebuah batu besar. Bammmmmmm!! Batu besar yang besarnya sebesar kerbau pecah jadi tujuh bagian, dan itu kembali membuat Panji kagum pada gurunya. "Tugas mu sekarang, pindahkan semua batu itu kemari! Apa kau paham, Panji?" tanya Sanjaya. "Akan aku lakukan!" kata Panji. Sanjaya masih mengetes keinginan diri Panji, jadi dia lakukan itu sekalian untuk memperkuat otot kaki dan otot lengan Panji. Batu itu besar dan beratnya sangat berbeda, hingga sudah jelas Panji akan temukan kesulitan. Hanya saja dia sudah memiliki semangat saat melihat kekuatan gurunya, jadi dia lakukan latihan itu tanpa lelah. Hingga saat sore datang, Panji tak mampu pindahkan semua batu, ada dua batu yang besarnya lima pulih kilo yang tak bisa Panji pindahkan. "Aku gagal pada latihan pertama!" kata Panji dan bersandar di batu besar itu. "Tidak, kau tidak gagal, guru di usiamu ini bahkan tak mampu geser batu itu!" kata Sanjaya mencoba menguatkan muridnya itu. "Benarkah itu?" tanya Panji. "Iya, Jadi kau tak gagal. Kau berhasil di latihan pertama mu, kau berhasil dan aku yakin kau memiliki masa depan yang bagus di masa depan dan di dunia persilatan!" kata Sanjaya untuk membuang putus asa di hati Panji. Sanjaya sangat tahu, anak kecil seperti Panji akan mudah putus asa jika latihan sangat berat untuknya. Sanjaya membuatkan api unggun, dan mereka akan bermalam di hutan itu untuk melanjutkan latihan Panji. "Makanlah!" kata Sanjaya dan berikan Panji satu bekal yang dibawa dari pondok. Dengan lahap, apalagi Panji sangat lelah, dia habiskan makanan bagiannya dengan sangat cepat. "Saatnya untuk istirahat!" kata Panji dan rebahkan tubuhnya di atas rerumputan. "Siapa yang katakan kau akan istirahat, Panji?" tanya Sanjaya. "Ini sudah malam guru, bukankah sudah seharusnya istirahat?" kata Panji. "Hahaha, kau akan lanjutakn latihan Panji! Kali ini pindahkan batu itu ke atas itu!" kata Sanjaya dan menunjuk ke arah bukit kecil di samping mereka berdua. "Ke atas?" ucap Panji dan lihat ke atas kepalanya. Panji melihat ke arah batu besar itu, dan setelah itu lihat betapa susahnya untuk bawa batu itu ke atas. "Lakukan Panji!" kata Sanjaya. "Baik, guru!" kata Panji. Mau tak mau Panji harus lakukan itu, mengangkat batu yang beratnya dua puluh kilo dan itu batu yang tak ringan bagi anak sekecil Panji. "Jika semua batu itu tak kau angkat ke puncak bukit itu, jangan harap kau akan istirahat!" kata Sanjaya keras pada Panji. "Akan aku lakukan guru, lihatlah aku akan mengangkat semua batu itu ke puncak bukit itu!" kata Panji. "Lakukan!" kata Sanjaya. Panji tidak menunjukkan niat untuk menyerah, bahkan dia jauh lebih bersemangat kali ini. "Aku ingin lihat apa kau sungguh-sungguh Panji. Aku ingin menunjukkan jalan yang kau lalui menjadi seorang pendekar sangatlah panjang!" ucap Sanjaya sambil awasi Panji yang latihan.Saat pagi datang, Panji Sanjaya, dan Saudagar Sui Yan dan putranya, Dai Yan segera tinggalkan hutan tempat mereka istirahat. Dari pembicaraan tadi malam, Panji akhirnya tahu kalau mereka berdua, sedang berburu di hutan, dan itu adalah kebiasaan yang mereka lakukan berulang kali. Dan ternyata di pinggiran hutan, ada kereta kuda yang sudah menunggu mereka, meskipun tanpa ada kusirnya."Jadi kalian sungguh berdua masuk ke dalam hutan?" tanya Panji Sanjaya."Iya, aku dan putraku sudah biasa masuk ke dalam hutan, tuan Panji!" kata saudagar Sui Yan. "Kalian sungguh berani!" ucap Panji."Tidak ada yang perlu ditakuti di hutan ini, tuan Panji! Sedikitpun tidak ada!" kata saudagar Sui Yan.Panji tak terlalu percaya apa yang dikatakan oleh saudagar Sui Yan, karena yang ia tahu tidak ada kata damai di dunia persilatan."Tuan Panji, mungkin ini tak akan kau sukai, namun aku harap saat dekat dengan kota Sechian, tuan Panji duduk di kursi kusir!" kata saudagar Sui Yan. "Kenapa?" tanya Panji. "
"Ingat janjimu padaku, kak Panji!" kata Bao Yu dalam pelukan tubuh Panji Sanjaya."Akan aku ingat, aku akan datang ke danau mawar biru! Aku pasti akan datang!" kata Panji Sanjaya.Dua insan yang mencinta itu saling berpegangan tangan, dan pinggiran hutan jadi saksi perpisahan mereka berdua. Sesuai dengan permintaan Panji, mereka harus berpisah, dan semua itu diterima oleh Bao Yu.Jika mereka terus bersama, maka kemungkinan besar bahaya juga akan lebih besar datang pada Panji Sanjaya. Jadi hanya itu jalan terbaik yang bisa mereka ambil."Baiklah, aku akan pergi kak Panji!" kata Bao Yu."Iya, adik Bao! Hati-hati!" kata Panji Sanjaya. Tangan Bao Yu sangat berat untuk berpisah dengan Panji. Ia masih pegang tangan Panji hingga secara perlahan-lahan, pegangan keduanya lepas. "Selamat jalan kak Panji, kakak harus tetap hidup!" kata gadis itu. Setelah itu, Bao Yu pergi dengan langkah yang sangat gontai. Ia merasa sangat berat berpisah dengan Panji Sanjaya. Namun pilihan itu adalah piliha
Panji berniat untuk kembali ke kamar penginapan yang disewa oleh nona Bao Yu, namun ia tak lakukan itu karena ia melihat nona Bao bertemu dengan anggota sekte Matahari.Panji mendengar sedikit keributan antara nona Bao Yu dengan anggota sekte matahari itu, dan Panji kaget karena gadis itu ternyata memiliki niat untuk menjebak dirinya. "Mungkinkah kau akan lakukan itu nona Bao Yu?" gumam Panji Sanjaya.Huppppp!!Panji melompat dan masuk ke dalam kamar dimana nona Bao Yu membawa dia masuk ke dalam kamar itu. "Aku akan lihat apa kau sungguh akan menjebak diriku?" gumam Panji Sanjaya.Tak berapa lama, nona Bao Yu masuk, dan wajahnya sangat tegang karena pembicaran yang baru saja ia lalukan dengan anggota sekte matahari. "Kau dari mana, tuan Panji?" tanya nona Bao Yu."Aku baru saja berjalan-jalan dari kota, dan melihat sesuatu yang tak aku duga!" jawab Panji Sanjaya."Sesuatu yang tak kau duga, apa itu tuan Panji?" tanya nona Bao Yu."Mataku melihat dan telingaku mendengar kalau kau in
Orang yang bawa Panji Sanjaya, nona Bao Yu membawa Panji ke dalam sebuah kamar yang ada di dalam sebuah penginapan."Aku yakin kalau kau sudah ada di kota ini!" kata Bao Yu."Seperti yang sudah aku katakan, tujuanku datang ke negeri ini salah satunya untuk menemui tetua Jun!" kata Panji Sanjaya."Apa kau tahu dimana dia berada?""Tidak!" jawab Panji Sanjaya.Entah mengapa Panji merasa kalau gadis itu seolah sedang selidiki dirinya, jadi ia memilih untuk berdusta pada gadis cantik itu. "Jadi jika kau tak tahu kenapa kau masih bertahan di kota ini, Panji?" tanya Bao Yu."Aku pasti akan temukan dia!" kata Panji Sanjaya.Gadis itu hempaskan tubuhnya di tempat duduk, dan pada saat itulah ia menunjukkan wajahnya pada Panji Sanjaya. Dia lepaskan cadar yang menutupi wajahnya yang memang cantik."Kau memang cantik, nona Bao!" kata Panji memuji gadis.Wajah Bao Yu merah karena pujian dari Panji Sanjaya, dan ia menundukkan kepala. Sangat jarang ia menunjukkan wajah pada orang asing, namun enta
Hingga saat malam larut, Panji dan nona Sia Yen berbicara panjang lebar, dan Panji pun tahu kalau gadis itu pun sesungguhnya tidak ingin berada disana.Namun, karena ia sudah merasa malu untuk kembali pulang, maka ia memilih untuk bertahan di rumah mewah itu, yang tak ubahnya sudah seperti rumah bordil. "Bukankah kau bisa tinggalkan rumah ini, dan memulai hidup yang baru nona Sia Yen?" tanya Panji."Yang kau katakan itu benar, namun aku tak bisa lakukan itu, karena aku sudah tak lebih dari sampah!" kata gadis itu. "Tidak, kau bukan sampah. Bagiku kalian para gadis sepertimu, hanya memilih jalan yang salah. Kalian masih memiliki jalan lain untuk hidup!" kata Panji Sanjaya."Tapi pandangan orang pada kami sudah buruk. Kami sudah tak layak dianggap manusia!" kata nona Sia Yen."Aku tak pernah memandang kalian rendah!" kata Panji dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa sedikitpun keraguan, Panji berbaring di dekat tubuh nona Sia Yen yang juga sudah merebahkan tubuhnya dari tadi
Panji Sanjaya mendengarkan semua yang dikatakan oleh orang tua itu, dan akhirnya tahu kalau rumah besar itu adalah rumah bagi mereka yang inginkan surga dunia yang sesungguhnya."Tapi sebelum kau masuk ke dalam rumah itu, ada baiknya kau gunakan pakaian yang layak pakai. Jangan gunakan pakaian ini!" kata orang tua itu pada Panji."Aku tahu!" kata Panji Sanjaya.Setelah itu Panji memutuskan untuk memasuki sebuah toko pakaian, dan membeli sepasang pakaian untuk ia gunakan agar ia terlihat lebih bersih. "Aku akan memasuki rumah itu, dan akan melihat apa nona Lin ada didalam rumah itu?" gumam Panji Sanjaya."Ada pertarungan di dalam penjara, besok siang akan diadakan!" teriak seorang prajurit kota di tengah kota Lihan. "Siapa yang akan bertarung?" tanya seseorang."Tetua Jun! Jawara yang sudah menang sebanyak lima belas kali di pertarungan!" kata Prajurit itu."Tetua Jun?" kata Panji kaget. "Apa kau tak kenal dia anak muda? Dia adalah jawara dan juga pemenang dalam pertarungan di gelan







