Share

Bab 9

last update publish date: 2026-07-08 09:46:05

Tiga hari telah berlalu dengan sangat cepat, dan latihan pertama juga dilalui panji dengan tekun, meskipun itu tak menutupi rasa lelah saat menguasai seluruh tubuhnya.

"Mari kita pulang!" kata Sanjaya.

"Pulang guru?" kata Panji dengan wajah yang riang.

"Iya, sudah tiga hari kau latihan tanpa henti, aku rasa sudah saatnya untuk tubuhmu istirahat satu hari!" kata Sanjaya.

"Baik, aku setuju guru!" kata Panji.

Panji dan Sanjaya berjalan, tapi wajah Panji sedikit berkerut karena Sanjaya ambil jalan memutar, padahal Panji bisa melihat kalau perguruan Anggek putih di atas kepala mereka.

"Kenapa kita memutar guru?" tanya Panji.

"Jangan hanya bertanya, lihat setiap tanda yang aku buat!" kata Sanjaya.

"Tanda?" tanya Panji.

Panji melihat kalau Sanjaya memegang sebuah pedang, dan setiap seratus meter dia akan menebas batas pohon besar, seolah itu tanda yang dia berikan.

"Untuk apa tanda itu, guru?" tanya Panji.

"Lusa kau akan segera tahu!" kata Sanjaya.

"Lusa?"

Panji, dipikirannya penuh dengan pertanyaan. Tapi saat dia bertanya, jawab Sanjaya selalu itu, tunggu hingga lusa.

Hingga pada akhirnya mereka kembali ke awal mereka berputar, dan itu membuat Panji semakin bingung.

"Kita kembali lagi guru!" kata Panji.

"Iya, karena aku sudah selesai memberikan tanda!" kata Sanjaya.

"Baiklah, lusa aku akan tanyakan!" kata Panji.

"Hahaha, murid yang pintar!" ucap Sanjaya dan mengelus rambut Panji yang mulai memanjang.

Berjalan mendaki, pada akhirnya Sanjaya dan Panji sampai di pondok, dan mereka berdua langsung istirahat, rebah di ruangan tengah pondok itu.

Panji yang merasakan seluruh tubuhnya penat, tak bisa tidur. Beda dengan sanjaya yang bahkan sudah ngorok di samping Panji.

"Sepertinya guru sangat lelah! Aku akan buatkan dia makanan!" kata Panji.

Anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun itu keluar, dia menimba air dan membawa air satu timba penuh dengan dengan ringan.

"Eh, kenapa aku mudah menimba dan angkat air ini?" tanya Panji.

Anak kecil itu, untuk pertama kalinya merasakan hasil dari tiga hari latihannya, dia merasakan apa yang dia latih berhasil.

Panji melihat ke kedua tangannya, dan otot-otot tubuhnya mulai terlihat. Hal itu menjelaskan semua hasil latihan Panji.

"Ternyata latihanku tak sia-sia!" gumam Panji.

Dengan riang Panji masuk ke dalam.

"Aku akan buatkan masakan yang enak untuk guru. Aku yakin dia akan suka!" kata Panji.

Cukup lama, Panji berada di dalam dapur, hingga bau masakan yang begiru harum membangunkan Sanjaya. Hidungnya kembang kempis karena mencium bau makanan yang menggugah perutnya.

"Siapa yang masak untukku?" tanya Sanjaya dan bergerak menuju ke dapur.

"Kau memasak untukku, Panji?"

"Iya, guru! Aku lihat guru lelah, jadi aku masak untuk guru!" kata Panji.

"Anak baik! Mari kita makan!" ajak Sanjaya.

Perut pemuda itu sudah keroncongan, dan sudah memaksa untuk diisi, jadi dia bantu Panji untuk menyiapkan makan.

"Mari makan!" kata Sanjaya dan mencoba masakan Panji.

Sanjaya tertegun dengan rasa masakan Panji. Dia tak percaya kalau Panji mampu membuat masakan selezat itu.

"Bagaimana bisa?" kata Sanjaya.

"Saat kakek masih hidup, aku sudah biasa masak untuk kakek!" jawab Panji.

"Tapi, bagaimana pun juga ini masakan yang sangat enak?!" kata Sanjaya.

"Itu semua resep dari kakek!"

Brakkkkkkk!!

Saat sanjaya akan bertanya lagi, pintu pondok di dorong kuat, dan dibuka dengan paksa.

"Kakek tua ini lagi. Apa yang dia inginkan?" gumam Sanjaya yang kesal karena makan malamnya terganggu.

"Hohoho! Sepertinya aku datang tepat waktu. Saatnya untuk makan!" kata orang yang baru datang itu.

"Tunggu ketua, aku akan ambilkan piring untuk ketua!" kata Panji.

"Anak baik!" kata lelaki yang tak lain ketua Kusuma, dia duduk dan wajahnya berseri saat mencium bau makanan masakan Panji.

"Kenapa datang kemari?" tanya Sanjaya.

"Jangan bicara saat makan," kata ketua Kusuma dan mulai menikmati makan.

Wajahnya sama berserinya seperti wajah Sanjaya. Dia sangat menikmati masakan Panji.

"Sanjaya, semakin hari masakanmu semakin enak!" puji ketua Kusuma.

"Dia bilang jangan bicara saat makan, tapi malah dia yang bicara!" kata Sanjaya dalam hatinya.

"Jika seperti ini, aku akan sering makan malam ke pondok ini!" kata ketua Kusuma lagi.

"Ini bukan masakanku, ketua!" kata Sanjaya.

"Eh, bukan masakanmu? Jadi siapa?"

"Panji, ketua!"

Ketua Kusuma melihat ke arah Panji, dan setelah itu tersenyum.

"Mau masakan siapapun, yang penting enak. Aku akan datang lagi!" kata ketua Kusuma.

"Jika ketua ingin datang lagi, ada baiknya ketua bawa bekal!" kata Sanjaya kesal.

"Alah, hanya makan malam saja, apa ruginya?"

"Tiap malam, memangnya semua bahan disini diambil gratis? Satu malam, bagaimana kalau satu tahu?" kata Sanjaya.

"Jangan pelit padaku Sanjaya, aku ketua di perguruan ini!"

"Ketua juga pelit!" kata Sanjaya.

Panji melihat keduanya yang ributkan hal itu. Tapi bagi Sanjaya itu sebuah kedekatan yang terjalin antara ketua Kusuma dengan gurunya, Sanjaya.

"Di perguruan ini, aku seperti menemukan keluarga yang baru!" gumam Panji di dalam hatinya.

Selesai makan, Panji siapkan semua yang ada di ruangan itu, dan kumpulkan di dapur.

"Tiga hari ini aku tak melihat kalian, apa kau sudah mulai melatih Panji, Sanjaya?" tanya ketua Kusuma.

"Iya, ketua! Aku akan latih dia hingga jadi seorang pendekar!"

"Jangan sia-siakan waktumu!"

"Aku rasa tidak, Panji orang yang ulet. Bukan tak mungkin dia akan berhasil!"

"Bagaimana pun usahanya, dia hanya akan mencari tingkat menengah, Sanjaya!"

"Tingkat menengah, itu paling tidak akan menjaga Panji. Dia mampu menjaga dirinya sendiri!" tegas Sanjaya.

Panji mendengarkan semua pembicaraan mereka dari dapur, setelah itu pelan-pelan dia datang ke ruangan tengah.

Sanjaya melihat wajah murung Panji, dan dia melotot pada ketua Kusuma.

"Panji, jangan dengarkan apa kata-kata kakek bau tanah ini. Guru akan lakukan segala upaya untuk menjadikan dirimu pendekar yang kuat!" kata Sanjaya.

"Teriak kasih guru!" kata Panji dan kembali berlutut pada Sanjaya.

"Masuklah ke kamarmu, istirahat dan kembaikan kondisi tubuhmu!" kata Sanjaya.

"Baik, aku permisi ketua, guru!" kata Panji dan berjalan pelan ke lantai atas pondok milik Sanjaya.

Ketua Kusuma melihat Panji yang patuh pada Sanjaya. Dan dia merasa kalau Panji sunguh tak pantas jadi pendekar.

"Dia anak yang baik!" kata ketua Kusuma.

"Iya, itu salah satu alasan aku melatihnya, ketua!"

"Tapi, sayang. Dia tak berbakat jadi pendekar!"

"Yah, apa boleh buat! Mungkin ini jalan yang harus aku jalani!" kata Sanjaya yang kali ini tak bohongi kalau Panji memang tak memiliki bakat yang tinggi.

"Keberhasilan untuk dirinya jadi pendekar sangat kecil, kau pikir ulang saja rencanamu itu, Sanjaya!"

"Aku tahu apa yang aku lakukan, ketua! Eh, aku yakin ketua datang bukan untuk bicarakan Panji, bukan?" kata Sanjaya.

"Bukan, ada hal lain yang harus kita bicarakan!"

"Apa itu?" tanya Sanjaya.

"Mereka sudah ada disini, Sanjaya!"

"Sudah disini, siapa yang ketua maksud?" tanya Sanjaya.

"Perguruan singa timur!" jawab ketua Kusuma.

"Sudah waktunya, ya?" ucap Sanjaya dengan kepala mendongak ke arah atas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 125

    Intan Agni masih merenung akan nasibnya. Gadis itu sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nasib yang buruk jika kakeknya tidak menemukan pusaka pulau api."Kembalikan Intan Agni, padaku!" teriak satu suara. Teriakan itu sangat keras, dan sampai ke telinga gadis muda itu. "Aku disini, selamatkan aku!" teriak Intan Agni.Panji, yang baru tiba di gua itu jelas mendengar suara teriakan itu, dan tanpa menunggu lebih lama, Panji melesat ke arah suara itu. "Hehehe, apa kalian pikir bisa lepas dari gua ini?" ucap Ki Taraku yang tak perduli meskipun Panji akan selamatkan Intan Agni.Keberadaan kalajengking di sekitar gua itu, jadi keyakinan besar yang ada pada Ki Taraku, karena hal itulah ia membiarkan Panji melesat ke arah Intan Agni. Panji sampai di gua tempat Intan Agni disekap, dan sejenak Panji termangu karena walau cantik yang dimiliki oleh gadis itu. Namun, bukan hanya Panji yang termangu, tapi gadis muda itu juga termangu saat melihat wajah Panji. "Panji Sanjaya!" desis Intan Ag

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 124

    "Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" tanya Panji pada dirinya sendiri. Saat Panji gunakan pedang energi, ular-ular itu mampu Panji bunuh, namun saat gunakan tenaga dalam, satu pun ular itu tak ada yang terbunuh."Apa mereka kebal pada tenaga dalam, namun tidak pada serangan langsung?" tanya Panji bertanya lagi pada dirinya sendiri. Whusssssssss!!Merasa buang-buang tenaga dengan para ular itu, Panji melesat tinggalkan ratusan ular itu, dan mendarat di area yang jauh dari ular-ular itu.Sssttttt!!Namun, baru saja Panji mendarat di tanah, suara desisan ular terdengar tak jauh dari posisi Panji berdiri. "Tidak mungkin!" ucap Panji. Ratusan ular yang sudah Panji tinggalkan tahu-tahu sudah ada lagi di sekitar Panji, seolah mereka mampu mengejar gerakan Panji yang sangat cepat. "Sungguh tak terduga!" ucap Panji. Whusssssssss!!Bahkan, ratusan ular itu sama-sama melompat ke arah Panji, dan menyerang tubuh Panji. "Pedang energi!" teriak Panji.Dan begitu pedang energi berada di t

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 123

    Intan Agni, gadis yang dahulu adalah salah satu satu peserta yang masuk ke babak empat besar turnamen pendekar muda.Setelah pertarungan karena penyerangan Golongan Hitam, Intan Agni diobati oleh guru sekaligus kakeknya, Ki Sutopo.Kini, dia telah menjelma jadi seorang gadis muda yang memiliki tingkat kecantikan yang bisa disandingkan dengan seorang bidadari, dia cantik, menarik, dan tak mungkin bagi seorang pria berpaling darinya. Sungguh satu kecantikan yang sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia mengasah kemampuan di pulau api, dan hingga akhirnya dia mencapai kemampuan pendekar raja langit tahap akhir, hanya butuh sedikit dorongan lagi, maka ia akan mencapai pendekar dewa. Namun, semua harapan itu sirna, lagi dan lagi karena serangan tiba-tiba Golongan Hitam ke pulau api, pulau dimana ia tinggal bersama kakeknya.Dia harus melihat kakeknya kalah lagi, seperti yang terjadi saat di perguruan singa timur. Kalah oleh golongan hitam, kalah oleh organisasi kalajengking.Seperti saat ini,

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 122

    Tanpa ada yang berani hentikan Panji, semua anak buah Ki Jaraga hanya bisa menatap Panji yang keluar dari rumah ketua organisasi kalajengking merah itu. "Dimana rumah Adipati Sampada?" tanya Panji. "I ... Itu!" jawab satu orang dan menunjuk rumah besar lainnya."Bagus! Aku suka kalian bekerja sama denganku!" kata Panji. Setelah itu Panji berjalan ke arah rumah Adipati Sampada, dan prajurit kota yang tak memiliki arti di kota itu mencoba menahan Panji. "Untuk saat ini Adipati tak bisa diganggu!""Tidak bisa diganggu?" tanya Panji."Iya! Adipati ada urusan lain!""Apakah kalian tahu kalau aku baru saja membunuh Ki Jaraga? Jika kalian hadang langkahku, maka kalian akan mengikuti dia ke neraka!" ucap Panji. Mereka mundur saat Panji katakan itu, meskipun tak percaya tapi keberanian Panji mengatakan itu, cukup untuk membuat mereka takut. Jalan terbuka, dan Panji masuk tanpa ada halangan, masuk ke dalam rumah Adipati penguasa kota itu. "Adipati, keluar kau!" teriak Panji. Puluhan pra

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab121

    Setelah berdiri, Panji Sanjaya duduk, dan posisi itu sangat santai, tak sedikitpun terintimidasi dari kedatangan Ki Raka yang memiliki aura membunuh yang cukup kuat."Bocah, aku peringatkan padamu, ini adalah wilayah organisasi kalajengking, dan kau sudah buat masalah disini?" bentak Ki Raka. "Oh, benarkah?" Sikap Panji yang sedikitpun tak gubris tentang organisasi kalajengking cukup sudah membuat Ki Raka marah. "Jika kau berlutut padaku, dan menjadi anak buahku, maka kau akan aku ampuni!""Hahah, aku hanya ingin tahu satu hal, siapa yang memberikan ijin bongkar rumah sebelum bangunan ini di dirikan?" tanya Panji. "Itu bukan urusanku, yang jelas bangunan ini, dan hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini miliki organisiasi kalajengking!" tegas Ki Raka. "Baik, dimana pemimpin kalian?""Kau tak memiliki hak untuk menjawab itu!"Whusssssssss!!Ki Raka maju dengan sangat cepat, dan pukulan yang kuat sudah mengarah ke wajah Panji. Pukulan yang berisi tenaga dalam. Masih dengan pos

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 120

    Panji Sanjaya tiba di kota Melati, dan yang pertama harus Panji lakukan menuju ke pemakaman, dan berikan hormat di kuburan kakeknya, Tabib Sagara.Namun ia kaget saat melewati rumah yang dahulu ia tinggali bersama bersama tabib Sagara, rumah itu sudah berubah jadi sebuah bangunan yang tinggi.Brakkkkkkk!!Panji mendorong keras pintu rumah itu, dan berdiri di depan pintu itu."Siapa pemilik rumah ini?" teriak Panji dengan suara keras.Lima orang datang ke arah Panji, wajahnya mereka menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan, dan mereka jelas memiliki pendukung di kota itu."Bocah, siapa kau? Jangan cari masalah, kami adalah anggota dari Ki Raka!" ucap mereka.Plakkkkkk!!Tangan Panji terayun, dan dua orang langsung jatuh dan terkapar di lantai ruangan itu."Aku tak perduli pada Ki Raka, aku hanya peduli pada rumah ini!" tegas Panji Sanjaya.Tiga orang rekan mereka kaget karena dua rekan mereka sudah jatuh di lantai, dan mereka tak lihat gerakan Panji."Pikirkan apa yang kau lakukan ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status