Share

Bab 5

last update publish date: 2026-07-07 10:33:47

Auuummm!!!

Suara raungan harimau memenuhi seluruh hutan jati, dan suara raungan itu terdengar jelas oleh telinga Panji.

"Harimau!" seru Panji ketakutan.

Tapi, instingnya mengatakan dia harus hidup dan melarikan diri dari Harimau yang jelas sudah datang dari dalam hutan.

Tapi, tubuh Panji kesulitan untuk bergerak, kakinya gemetaran karena suara raungan yang menakutkan bagi anak sekecil dirinya.

Dan, dari dalam hutan, keluar seekor harimau besar yang menatap buas ke tubuh Panji. Baginya Panji saat ini adalah makanan yang tepat untuk mengisi perutnya.

Aummmmmmm!!

Harimau itu kembali mengaum keras, dan itu semakin membuat Panji gemetaran. Dia ingin melangkah, tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan.

Harimau itu semakin dekat, dan semakin dekat, wajah Panji semakin gemetaran karena rasa takut.

"Aku harus hidup!" ucap Panji.

Satu bayangan melintas di mata Panji. Bayangan tabib Sagara, yang selama ini sudah menjaga dirinya agar tetap hidup.

Dan, barulah Panji mampu langkahkan kakinya untuk melarikan diri. Tapi sepertinya semuanya itu sudah terlambat.

Whusssssssss!!

Begitu Panji berbalik, harimau itu pun bergerak menerkam Panji.

Crasssssss!!

Punggung langsung merasakan tajamnya kuku harimau itu. Punggungnya koyak oleh tajamnya kuku-kuku harimau itu.

Brukkkkkk!!

Tidak hanya merobek punggung Panji, tapi kuatnya kekuatan harimau itu melemparkan tubuh Panji hingga tiga tombak jauhnya.

Bakkkk!!

Belum juga penderitaan itu hilang, kepala Panji juga terbentur oleh keras sebuah batu yang tak jauh dari tempat Panji terlempar.

Pandangan mata anak kecil itu terasa bergoyang, dia merasa dunia berputar, dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.

Rasa sakit di punggungnya, seolah hilang untuk sejenak. Itu karena rasa pusing yang mendera kepala Panji.

Aummmmmmm!!

Harimau besar itu kembali mengaum sangat keras, meskipun di dengar telinga Panji, tapi dia tak mampu lagi untuk melarikan diri.

"Apakah ini akhir hidupku?" ucap Panji.

Dia masih ingin hidup, tapi dia merasa mungkin sampai disinilah akhir dari hidupnya.

"Kakek Sagara, sambut aku!" ucap Panji yang sudah pasrahkan hidupnya dimakan oleh Harimau besar itu.

Roaaarrrr!!

Telinga Panji masih mendengar suara raungan harimau yang kesakitan, tapi semuanya sudah gelap, tubuh Panji jatuh, dan tak tahu apa lagi yang terjadi.

"Ini akhir perjalananku!" ucap Panji sebelum akhirnya tubuh kecil Panji amburuk tak sadarkan diri.

***

Seorang lelaki dengan pakaian kuning berjalan dengan sangat malas. Dia berkali-kali merungut karena mendapatkan perintah untuk melakukan sesuatu yang tak dia suka.

Meskipun tugas itu sudah selesai tapi tetap saja dia tak suka pada tugas yang menurutnya itu sangat ringan.

Dengan malas, lelaki berpakaian kuning, dengan usia tiga puluhan tahun itu berjalan menuju tempat dia berada, yaitu di perguruan Anggrek Putih.

Tapi, saat dia melewati hutan Jati, dia mendengar suara raungan harimau yang sangat keras, seolah harimau itu sedang mengejar mangsa.

Awalnya dia tak perduli akan harimau itu, tapi saat mendengar suara jeritan, dia sadar kalau harimau itu akan memangsa seorang manusia.

"Sejak kapan harimau akan makan manusia? Apa mereka sudah kekurangan makan di dalam hutan?" katanya.

Huppppp!!

Dengan satu kali lompat yang tinggi, dia sudah melesat di udara, dan perkuat indera pendengaran untuk mendengar dari mana arah Auman Harimau itu.

"Disana!" katanya dan mengarah ke arah kiri.

Dan bersamaan dengan itu, dia melihat ada seorang anak kecil yang siap dimangsa oleh harimau yang dia dengar suara auman nya.

"Jangan harap kau akan makan manusia, Harimau jelek!" katanya.

Dari udara, dia melepaskan satu tendangan yang kuat, meskipun tak gunakan seluruh tenaga dalam yang dia miliki.

Bammmmmmm!!

Tanpa ampun, tendangan lelaki itu hantam punggung harimau, dan itu melemparkan hariamu yang sudah bersiap memangsa anak kecil itu.

Harimau itu bangkit, dan menatap tajam dengan tatapan penuh amarah pada anak muda yang gagalkan niat untuk memakan anak kecil itu.

"Pergilah jika kau tak ingin mati!" kata pemuda itu.

Aummmmmmm!!

Harimau itu seolah paham apa yang dikatakan anak muda itu, dan mengaum memberikan ancaman pada anak muda itu, seolah-olah harimau itu mengatakan dia adalah penguasa hutan itu.

Dengan satu auman yang keras, harimau itu melompat, menerkam anak muda yang gagalkan niat untuk makan.

Bammmmmmm!

Tapi, anak muda itu tak peduli, dia angkat tangan dan tinjunya hantam dagu harimau itu, yang membuat harimau itu terlempar lagi untuk yang kedua kalinya.

Raaaoooorrrr!!

Harimau itu meraung kesakitan, kali ini dia merasakan rasa sakit karena pukulan telak di dagunya.

"Pergilah! Aku tak ingin menyakiti dirimu!" bentak lelaki itu.

Dia berteriak dengan gunakan suara yang dilembari dengan tenaga dalam, dan barulah harimau itu sadar, dia bukan lawan bagi anak muda itu.

Dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, harimau itu pergi dan hilang masuk ke dalam hutan.

"Pergi dan jangan coba-coba lagi untuk menjadikan manusia sebagai mangsamu!" teriak anak muda itu.

Setelah yakin harimau itu tak akan kembali, barulah anak muda itu alihkan perhatian pada tubuh anak kecil yang akan jadi mangsa harimau besar itu.

"Sungguh malang nasib anak kecil ini. Siapa dia? Kenapa dia disini? Dimana ayah dan ibunya?" ucap anak muda itu.

Bocah kecil yang tak lain adalah Panji itu tergeletak begitu saja, dan anak muda itu mengangkat Panji, dan bawa ke tempat yang teduh.

Dia memeriksa kondisi Panji, dan merasa kalau hanya luka luar saja yang dialami oleh Panji.

"Hampir saja kau menjadi makanan harimau itu. Apa yang kau lakukan di hutan ini?" tanya anak muda itu.

Dia seperti orang gila, bertanya pada Panji yang belum sadarkan diri.

"Aku harus sadarkan dia, setelah itu bertanya, siapa dia, dan apa yang dia lakukan di hutan ini?" kata anak muda itu.

Dia segera berikan totokan di punggung Panji, dan itu hentikan pendarahan yang terjadi karena cakaran dari kuku tajam harimau.

Setelah itu dia membalut kepala Panji, dengan pakaian yang berada dalam buntalan pakaiannya, dan itu cukup untuk hentikan darah yang mengalir dari luka di kepala Panji.

"Luka di kepalanya juga tak merusak bagian dalam kepalanya. Anak kecil ini cukup beruntung!" katanya.

Setelah yakin kalau Panji tak alami luka dalam, anak muda itu mengalirkan hawa murni. Hawa murni yang akan membantu Panji sadarkan diri.

"Sadarlah bocah, setelah itu aku akan antarkan kau ke rumah!" kata anak muda itu.

Tidak berapa lama, apa yang diharapkan anak muda pun kenyataan, Panji membuka matanya, dan sadarkan diri.

"Apa aku masih hidup?" tanya Panji.

"Hahah, itu sudah pasti, bocah. Apa kau pikir aku malaikat?" kata pemuda itu dengan tawa keras.

Panji hanya tersenyum karena candaan anak muda itu.

"Bocah, siapa kau, kenapa kau disini?"

"Aku Panji!"

"Katakan dimana rumahmu? Aku akan antarkan dirimu!"

"Aku tak punya rumah, tak punya tujuan, dan tak tahu harus kemana?" jawab Panji.

"Apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 125

    Intan Agni masih merenung akan nasibnya. Gadis itu sangat yakin kalau dia akan mendapatkan nasib yang buruk jika kakeknya tidak menemukan pusaka pulau api."Kembalikan Intan Agni, padaku!" teriak satu suara. Teriakan itu sangat keras, dan sampai ke telinga gadis muda itu. "Aku disini, selamatkan aku!" teriak Intan Agni.Panji, yang baru tiba di gua itu jelas mendengar suara teriakan itu, dan tanpa menunggu lebih lama, Panji melesat ke arah suara itu. "Hehehe, apa kalian pikir bisa lepas dari gua ini?" ucap Ki Taraku yang tak perduli meskipun Panji akan selamatkan Intan Agni.Keberadaan kalajengking di sekitar gua itu, jadi keyakinan besar yang ada pada Ki Taraku, karena hal itulah ia membiarkan Panji melesat ke arah Intan Agni. Panji sampai di gua tempat Intan Agni disekap, dan sejenak Panji termangu karena walau cantik yang dimiliki oleh gadis itu. Namun, bukan hanya Panji yang termangu, tapi gadis muda itu juga termangu saat melihat wajah Panji. "Panji Sanjaya!" desis Intan Ag

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 124

    "Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" tanya Panji pada dirinya sendiri. Saat Panji gunakan pedang energi, ular-ular itu mampu Panji bunuh, namun saat gunakan tenaga dalam, satu pun ular itu tak ada yang terbunuh."Apa mereka kebal pada tenaga dalam, namun tidak pada serangan langsung?" tanya Panji bertanya lagi pada dirinya sendiri. Whusssssssss!!Merasa buang-buang tenaga dengan para ular itu, Panji melesat tinggalkan ratusan ular itu, dan mendarat di area yang jauh dari ular-ular itu.Sssttttt!!Namun, baru saja Panji mendarat di tanah, suara desisan ular terdengar tak jauh dari posisi Panji berdiri. "Tidak mungkin!" ucap Panji. Ratusan ular yang sudah Panji tinggalkan tahu-tahu sudah ada lagi di sekitar Panji, seolah mereka mampu mengejar gerakan Panji yang sangat cepat. "Sungguh tak terduga!" ucap Panji. Whusssssssss!!Bahkan, ratusan ular itu sama-sama melompat ke arah Panji, dan menyerang tubuh Panji. "Pedang energi!" teriak Panji.Dan begitu pedang energi berada di t

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 123

    Intan Agni, gadis yang dahulu adalah salah satu satu peserta yang masuk ke babak empat besar turnamen pendekar muda.Setelah pertarungan karena penyerangan Golongan Hitam, Intan Agni diobati oleh guru sekaligus kakeknya, Ki Sutopo.Kini, dia telah menjelma jadi seorang gadis muda yang memiliki tingkat kecantikan yang bisa disandingkan dengan seorang bidadari, dia cantik, menarik, dan tak mungkin bagi seorang pria berpaling darinya. Sungguh satu kecantikan yang sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia mengasah kemampuan di pulau api, dan hingga akhirnya dia mencapai kemampuan pendekar raja langit tahap akhir, hanya butuh sedikit dorongan lagi, maka ia akan mencapai pendekar dewa. Namun, semua harapan itu sirna, lagi dan lagi karena serangan tiba-tiba Golongan Hitam ke pulau api, pulau dimana ia tinggal bersama kakeknya.Dia harus melihat kakeknya kalah lagi, seperti yang terjadi saat di perguruan singa timur. Kalah oleh golongan hitam, kalah oleh organisasi kalajengking.Seperti saat ini,

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 122

    Tanpa ada yang berani hentikan Panji, semua anak buah Ki Jaraga hanya bisa menatap Panji yang keluar dari rumah ketua organisasi kalajengking merah itu. "Dimana rumah Adipati Sampada?" tanya Panji. "I ... Itu!" jawab satu orang dan menunjuk rumah besar lainnya."Bagus! Aku suka kalian bekerja sama denganku!" kata Panji. Setelah itu Panji berjalan ke arah rumah Adipati Sampada, dan prajurit kota yang tak memiliki arti di kota itu mencoba menahan Panji. "Untuk saat ini Adipati tak bisa diganggu!""Tidak bisa diganggu?" tanya Panji."Iya! Adipati ada urusan lain!""Apakah kalian tahu kalau aku baru saja membunuh Ki Jaraga? Jika kalian hadang langkahku, maka kalian akan mengikuti dia ke neraka!" ucap Panji. Mereka mundur saat Panji katakan itu, meskipun tak percaya tapi keberanian Panji mengatakan itu, cukup untuk membuat mereka takut. Jalan terbuka, dan Panji masuk tanpa ada halangan, masuk ke dalam rumah Adipati penguasa kota itu. "Adipati, keluar kau!" teriak Panji. Puluhan pra

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab121

    Setelah berdiri, Panji Sanjaya duduk, dan posisi itu sangat santai, tak sedikitpun terintimidasi dari kedatangan Ki Raka yang memiliki aura membunuh yang cukup kuat."Bocah, aku peringatkan padamu, ini adalah wilayah organisasi kalajengking, dan kau sudah buat masalah disini?" bentak Ki Raka. "Oh, benarkah?" Sikap Panji yang sedikitpun tak gubris tentang organisasi kalajengking cukup sudah membuat Ki Raka marah. "Jika kau berlutut padaku, dan menjadi anak buahku, maka kau akan aku ampuni!""Hahah, aku hanya ingin tahu satu hal, siapa yang memberikan ijin bongkar rumah sebelum bangunan ini di dirikan?" tanya Panji. "Itu bukan urusanku, yang jelas bangunan ini, dan hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini miliki organisiasi kalajengking!" tegas Ki Raka. "Baik, dimana pemimpin kalian?""Kau tak memiliki hak untuk menjawab itu!"Whusssssssss!!Ki Raka maju dengan sangat cepat, dan pukulan yang kuat sudah mengarah ke wajah Panji. Pukulan yang berisi tenaga dalam. Masih dengan pos

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 120

    Panji Sanjaya tiba di kota Melati, dan yang pertama harus Panji lakukan menuju ke pemakaman, dan berikan hormat di kuburan kakeknya, Tabib Sagara.Namun ia kaget saat melewati rumah yang dahulu ia tinggali bersama bersama tabib Sagara, rumah itu sudah berubah jadi sebuah bangunan yang tinggi.Brakkkkkkk!!Panji mendorong keras pintu rumah itu, dan berdiri di depan pintu itu."Siapa pemilik rumah ini?" teriak Panji dengan suara keras.Lima orang datang ke arah Panji, wajahnya mereka menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan, dan mereka jelas memiliki pendukung di kota itu."Bocah, siapa kau? Jangan cari masalah, kami adalah anggota dari Ki Raka!" ucap mereka.Plakkkkkk!!Tangan Panji terayun, dan dua orang langsung jatuh dan terkapar di lantai ruangan itu."Aku tak perduli pada Ki Raka, aku hanya peduli pada rumah ini!" tegas Panji Sanjaya.Tiga orang rekan mereka kaget karena dua rekan mereka sudah jatuh di lantai, dan mereka tak lihat gerakan Panji."Pikirkan apa yang kau lakukan ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status