LOGINIa hanya seorang lelaki yang memilih jalan hidupnya sendiri, lalu pedang Hening bersinar.
Sang Asal mundur satu langkah.Lalu dari kegelapan terdengar suara lain, lebih dalam, lebih tua dan jauh lebih menakutkan. “Kalau begitu...” gerbang mulai runtuh. “Bawa seluruh kehendak kalian.”Dua mata raksasa terbuka di balik kehancuran. “Karena aku akan menghancurkannya satu per satu.”Jaya menggenggam tangan Ratri dan mereka melangkah bersama, bahkan untuk pertamaIa hanya seorang lelaki yang memilih jalan hidupnya sendiri, lalu pedang Hening bersinar.Sang Asal mundur satu langkah.Lalu dari kegelapan terdengar suara lain, lebih dalam, lebih tua dan jauh lebih menakutkan. “Kalau begitu...” gerbang mulai runtuh. “Bawa seluruh kehendak kalian.”Dua mata raksasa terbuka di balik kehancuran. “Karena aku akan menghancurkannya satu per satu.”Jaya menggenggam tangan Ratri dan mereka melangkah bersama, bahkan untuk pertama kalinya. Mereka tidak memasuki gerbang untuk mencari jawaban.Mereka masuk untuk menghancurkan sesuatu yang telah mengendalikan takdir manusia selama ribuan tahun.Mereka melangkah bersama menuju pusat kehancuran. Setiap pijakan membuat ruang di bawah kaki bergetar, sementara pecahan batu dan cahaya putih beterbangan seperti serpihan dunia yang sedang mati. Jaya menggenggam tangan Ratri, bukan karena takut kehilangan arah, tetapi karena kali ini ia ingin memastikan m
Anak itu menggeleng. “Bukan salahmu.” ia menunjuk ke belakang, di sana berdiri Sang Asal. “Dia yang membuatku percaya bahwa kamu melupakanku.” Jaya menatap kegelapan. Sang Asal tersenyum. “Karena itu mudah.” Jaya mengangkat pedangnya. “Lepaskan dia.” “Dia adalah bagianmu.” kata sang Asal. “Kalau begitu aku akan mengambilnya.” gertak Jaya. “Dan jika kamu mengambilnya, maka seluruh gerbang akan runtuh.” cetus sang Asal. Jaya menatap anak kecil itu. Anak tersebut menangis. “Aku hanya ingin pulang.” Jaya perlahan menurunkan pedangnya. “Kalau begitu pulanglah.” Anak itu menatapnya. “Kamu tidak takut aku akan mengambil tempatmu?” Jaya tersenyum. “Tidak.” “Kenapa?” tanya anak itu. “Karena kamu bukan aku yang lain.” Jaya membuka kedua tangannya. “Kamu adalah bagian diriku yang selama ini kesepian
Jaya menunduk dan rantai hitam melilit kakinya, ua mencoba menariknya. Tidak bergerak, ia mengangkat Pedang Hening. Retakannya semakin lebar.“Jangan.” suara Ardhan terdengar dari belakang.Jaya menoleh.Ayahnya berdiri dengan tubuh penuh luka, tetapi kali ini tidak membawa senjata. “Pedang itu sedang menolakmu.”Jaya mengerutkan kening. “Pedang ini tidak pernah menolakku.”“Karena selama ini kamu tidak pernah memintanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya.” Ardhan menatap bilah yang retak. “Pedang Hening diciptakan untuk memutus ikatan. Bukan untuk memaksa seseorang tetap bersamamu.”Jaya terdiam.Ratri menatapnya. “Jaya...”Sang Asal menarik tubuh Ratri lebih dekat ke kegelapan.“Pilih.” suara itu menjadi lebih jelas. “Gunakan pedangmu. Hancurkan gerbang. Selamatkan perempuan itu.”Bayangan di sekitar Ratri mulai membesar. “Atau turunkan pedangmu dan biarkan aku mengambil k
“Bagus.” suara itu menjadi suara anak kecil yang pernah ia dengar. “Kamu mulai belajar membedakan kenyataan!”Jaya mengangkat Pedang Hening. “Di mana Ratri?”“Di tempat yang sama denganmu.” kata sosok itu. “Bawa dia kepadaku.” gertak Jaya. “Tidak bisa.” jawab sosok itu. “Kenapa?” tanya Jaya. “Karena dia sedang melihat kebenaran.” jelas sosok itu. Bayangan itu menghilang, di hadapan Jaya muncul sebuah pemandangan. Seorang perempuan muda berdiri di depan bayi yang baru lahir.Yaitu Kirana, di sampingnya berdiri Ardhan dan di tangan Kirana terdapat sebuah pisau putih.Jaya membeku. “Tidak...”Pemandangan itu terus bergerak, bayi kecil itu menangis. Lalu Ardhan menggendongnya, Kirana menangis sambil memegang tanda putih yang perlahan muncul di dada bayi.Lalu cahaya keluar dari tubuh bayi tersebut, separuh cahaya masuk ke dalam gerbang. Separuh lainnya tetap berada di tubuh bayi.
Ia melangkah mendekati Ardhan. “Aku tidak akan membiarkan satu orang lagi terluka hanya karena kalian menganggap aku belum siap.”Ardhan menatap anaknya, ada kasih sayang yang begitu dalam di matanya hingga Jaya justru semakin terluka.“Dua puluh tujuh tahun lalu,” Ardhan berkata perlahan, “gerbang hampir terbuka.”Semua orang langsung diam.“Untuk menutupnya, seseorang harus memberikan bagian dari kehendaknya.” kata Ardhan. Jaya menelan ludah. “Siapa?”Ardhan menatap Kirana.Kirana menangis tanpa suara. “Aku,” katanya.Jaya membeku.“Kirana yang memberikan bagian kehendaknya,” lanjut Ardhan. “Tetapi gerbang tidak menerima satu kehendak manusia.”Ia menatap Jaya. “Gerbang membutuhkan kehendak yang belum dibentuk.”Jaya perlahan memahami. “Anak?”Ardhan mengangguk. “Seorang anak yang belum menentukan siapa dirinya.”Ratri menggenggam tangan Jaya semakin kuat. “Tidak...”
Sekar berusaha untuk duduk. “Dia sedang menjalankan tugas.”Jaya membeku. “Tugas?”Sekar menatap Ki Jagat dengan mata berkaca-kaca. “Jagat bukan pengkhianat.”Ki Jagat terdiam.Sekar melanjutkan dengan suara bergetar. “Dia hanya penjaga terakhir.”Jaya menggenggam pedangnya semakin kuat.“Penjaga apa?”Sekar menatap gerbang. “Penjaga agar kebenaran tentang dirimu tidak pernah keluar.”Hening! Bahkan angin seolah berhenti.Ratri memandang Jaya. Ada ketakutan di matanya, tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Jaya.Jaya tidak menarik diri. “Aku tidak peduli siapa aku.” ia menatap gerbang dengan mata tajam.“Aku hanya ingin tahu kenapa semua orang rela mati demi menyembunyikannya.”Ki Jagat menurunkan pedangnya. “Karena ketika kamu mengetahuinya, Jaya... kamu akan mulai memahami mengapa ayahmu rela dikurung selama puluhan tahun.”Jaya menatap Ardhan.Lelaki itu menutup







