Share

Bab 68

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-05-29 22:26:12

“SEMUANYA TENANG!” Bentakan Arman mengguncang seluruh area latihan seperti sambaran petir.

Suara riuh yang sebelumnya memenuhi lapangan langsung menghilang. Seluruh mahasiswa baru otomatis menegakkan tubuh.

Tatapan Arman kemudian berhenti pada satu orang. “Raka Mahendra!”

“Siap, Komandan Unit!” Raka melangkah maju lalu berdiri tegak. Punggung lurus, dagu terangkat, tatapannya stabil.

“Aku ingin bertanya satu hal,” suara Arman terdengar dingin. “Apakah kau sadar bahwa kau telah melakukan kesalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 163

    Sebenarnya, waktu yang ia habiskan bersama pemuda itu tidaklah banyak. Namun entah sejak kapan, rasa penasaran yang semula hanya muncul sesaat perlahan berubah menjadi kekaguman. Kini, perasaan tersebut terus berkembang menjadi sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mampu pahami.Ada benih emosi baru yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya. Semakin ingin ia abaikan, semakin kuat perasaan itu berkembang.Tiara menghembuskan napas pelan. Dia tidak tahu harus menyebutnya sebagai apa. Yang ia tahu, setiap kali melihat Raka, hatinya selalu memberikan jawaban yang tidak mampu dijelaskan oleh pikirannya.Tiara tidak mampu menjelaskan perasaan yang memenuhi hatinya. Setiap kali melihat Raka terluka, dadanya ikut terasa sesak. Saat mendengar orang lain meremehkannya, amarah ikut membuncah. Bahkan kemenangan Raka menghadirkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan jika dirinya sendiri yang berdiri di posisi juara.Entah sejak kapan semua itu bermula, tetapi tanpa disadari seluruh perh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 162

    Semua orang menyaksikan siaran itu dari awal hingga akhir. Mereka melihat bagaimana Komandan Hendra menggunakan kemampuan pelacakan, senjata, pengalaman tempur, dan keunggulan medan untuk menekan Raka tanpa ampun. Mereka juga melihat bagaimana Raka berkali-kali dipaksa berada di ambang kekalahan sebelum akhirnya membalikkan keadaan melalui kecerdikan, keberanian, dan kemampuan tempur yang luar biasa.Tidak ada yang menganggap kemenangan itu kebetulan. Justru karena situasinya begitu mustahil, kemenangan tersebut terasa semakin mengejutkan. Pembicaraan di seluruh tenda kini hanya berpusat pada Raka.Setiap pujian, kekaguman, dan keterkejutan mengarah kepadanya. Sosok yang sebelumnya sudah menjadi pusat perhatian kini berubah menjadi legenda hidup di antara para mahasiswa baru.Sebaliknya, Reyhan dan Damar seperti menghilang dari perhatian semua orang. Perasaan itu membuat dada mereka terasa sesak.Mengapa selalu Raka?Mengapa setiap sorotan selalu jatuh kepadanya?Mengapa semua orang m

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 161

    Komandan Hendra menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Semakin lama ia menatap Raka, semakin sulit baginya menganggap pemuda itu sebagai mahasiswa baru biasa."Kau adalah mahasiswa paling aneh yang pernah kutemui," ujarnya terus terang. Sorot matanya dipenuhi kekaguman yang sama sekali tidak disembunyikan. "Jenius. Benar-benar jenius."Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan napas yang masih berat, sementara pistol latihan tetap berada dalam genggamannya. Meski tubuhnya hampir mencapai batas dan luka-luka di sekujur badan terus mengirimkan rasa nyeri, sorot matanya tetap tenang seperti sebelumnya.Sementara itu, suasana di tenda medis berubah total.Ketika tayangan siaran langsung memperlihatkan Komandan Hendra mengangkat tangan dan mengakui kekalahannya, seluruh ruangan mendadak membeku. Semua orang hanya menatap layar dengan ekspresi kosong seolah otak mereka belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi.Reyhan dan Damar menjadi yang paling terpukul. Ejekan ya

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 160

    Kilatan kesal langsung melintas di wajah Hendra. Alih-alih mundur atau memperbaiki pertahanan, ia memilih mengambil risiko. Dengan memanfaatkan jarak yang sangat dekat, tubuhnya melesat maju dan menghantamkan kepala ke arah wajah Raka.Gerakan itu muncul tiba-tiba dan sangat berbahaya. Namun reaksi Raka bahkan lebih cepat. Begitu membaca niat lawannya, ia langsung melepaskan pegangan pada belati, menarik tubuh ke belakang, lalu menghindari benturan tersebut dengan selisih yang sangat tipis.Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya. Tubuh Raka melonjak berdiri, sementara tangan kanannya menyambar sebuah pistol yang tergeletak di lumpur tidak jauh dari mereka.Dalam satu gerakan yang bersih dan tanpa keraguan, laras senjata itu terangkat dan berhenti tepat mengarah ke kepala lawannya.Suasana hutan mendadak sunyi.Hanya napas berat dua orang yang baru saja mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan tersebut.Pada saat yang sama, hujan yang mengguyur sejak tadi akhirnya berhenti. Tetesan

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 159

    Dengan refleks luar biasa, Hendra segera menarik tubuhnya ke belakang. Ujung belati hanya menyentuh jakunnya dan meninggalkan sensasi dingin sebelum melintas beberapa sentimeter dari kulitnya.Keduanya langsung bertukar serangan.Buk! Buk!Tinju menghantam udara, kaki menyapu tanah berlumpur, sementara kilatan belati terus muncul dan menghilang di tengah hujan yang mulai mereda. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap langkah, setiap serangan, dan setiap perubahan posisi dilakukan dengan tujuan yang jelas.Di dalam tenda medis, suasana berubah sunyi.Semua mata terpaku pada layar.Apa yang terjadi di hadapan mereka sudah jauh melampaui batas latihan militer biasa. Pertarungan itu tidak lagi terlihat seperti duel antara instruktur dan mahasiswa baru, melainkan bentrokan dua predator yang sama-sama berusaha mengambil kendali medan tempur.Wajah Reyhan dan Damar berubah pucat. Keduanya hanya bisa menatap layar tanpa berkedip saat menyaksikan bagaimana Raka terus memaksa Hendra bertahan. B

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 158

    Di dalam hutan, situasi mulai berubah secara perlahan.Hendra terpaksa menghentikan pengejaran sejenak untuk membersihkan lumpur yang menempel pada tangannya dan pegangan pistolnya. Waktu yang tampak singkat itu justru menjadi kesempatan emas bagi Raka untuk menghilang lebih jauh ke dalam rimbunnya hutan. Kali ini ia tidak melakukan kesalahan yang sama.Raka sengaja membungkus alas sepatunya menggunakan dedaunan besar agar bekas langkah menjadi samar. Saat bergerak, ia memilih melompati akar pohon, batu besar, dan area yang tidak meninggalkan jejak jelas, sementara hujan yang masih turun membantu menghapus sisa-sisa petunjuk yang mungkin tertinggal.Bahkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, ia beberapa kali berjalan mundur dan mengubah arah secara tiba-tiba. Siapa pun yang mencoba melacaknya hanya akan menemukan jejak palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.Ketika Hendra akhirnya selesai membersihkan tangannya dan kembali melanjutkan pengejaran, ekspresinya perlahan berub

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 14

    Raka meliriknya sekilas, dengan tatapannya yang datar dab dingin. Seolah dirinya sedang melihat seseorang yang sama sekali tidak penting.“Apakah saya perlu menjelaskan kondisi fisik saya kepada Anda?”Kalimat itu langsung membuat wajah Reyhan membeku. “Kau—!”“Cukup!” Suara Arman memotong keributa

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 13

    Selama bertahun-tahun berada di militer, ia sudah melihat banyak jenius, pembuat onar, hingga monster fisik dari berbagai wilayah Republik Nusantara Raya. Namun seseorang seperti Raka belum pernah ia temui, sosok pemuda itu terlalu tenang. Dan yang paling mengerikan, ia jelas belum mengeluarkan sel

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 12

    “Lihat pasukanmu itu, Kapten Arman,” ujar seorang instruktur muda berpangkat letnan dua sambil tertawa kecil. “Baru beberapa kilometer saja sudah seperti terong layu.”Kapten Arman, komandan tempat Raka dan para mahasiswa baru lainnya ditempatkan selama pelatihan. Usianya sekitar tiga puluhan, kuli

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 11

    Keringat sudah membasahi seragam latihan para mahasiswa baru sejak lama. Kain kamuflase itu menempel erat di tubuh mereka, menciptakan rasa lengket yang membuat setiap gerakan terasa semakin berat di bawah panas musim panas Neo Jakarta.“Aku tidak sanggup lagi...”Seorang siswa bertubuh gemuk tiba-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status