Share

Bab 143 Menteri Han

Author: _PenaKaisar
last update publish date: 2026-07-22 09:34:16

‎Di kotak yang sama, Xiao Fan menemukan catatan pembayaran yang terdiri dari ribuan batu roh yang dikirim dari Kekaisaran Xiyuan sebagai imbalan atas informasi tersebut. Setiap pembayaran dicatat dengan rapi: tanggal, jumlah, dan untuk apa uang itu digunakan.

‎

‎Tapi di balik catatan-catatan itu, terselip satu kotak kecil dari logam hitam, bentuk logam itu sama seperti yang ia lihat di ruang kerja Xiao Ba dulu. Xiao Fan membukanya dengan hati-hati ketika di dalamnya, ia melihat tumpukan surat d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 202

    Keesokan harinya, mereka bersiap untuk penyelaman kedua. Xiao Fan memeriksa tali. Wei Lian menajamkan pedangnya. Mo Cheng menyiapkan obat-obatan. Lei duduk di dek. Tubuhnya sudah pulih. Namun ia masih tidak suka air. Ia menatap laut dengan wajah masam.‎‎"Matahari belum terlalu tinggi," kata Xiao Fan. "Kita berangkat sekarang."‎‎Namun sebelum mereka sempat bergerak, langit di atas mereka berubah. Beberapa perahu muncul dari arah barat. Perahu-perahu itu besar. Layar-layarnya hitam. Di atasnya berdiri puluhan orang. Pakaian mereka compang-camping. Wajah mereka keras. Mata mereka serakah.‎‎Di perahu paling depan, berdiri seorang pria berjubah merah. Tubuhnya tinggi. Wajahnya tajam. Auranya kuat. Spirit Severing Awal. Ia menatap Xiao Fan dengan senyum tipis.‎‎"Jadi kalian yang menemukan Api Samudra?" kata pria itu. Suaranya lantang. "Aku sudah mendengar tentang api itu. Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Dan sekarang... kalian akan memberikannya padaku."‎‎Xiao Fan melan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 201

    ‎Malam itu, mereka berkumpul di dek perahu. Ombak-ombak menghantam lambung. Angin laut bertiup pelan. Bintang-bintang memenuhi langit. Wei Lian duduk di tengah. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam lututnya sendiri. Ia menarik napas panjang.‎‎"Ada sesuatu yang harus kuberitahu kalian semua," kata Wei Lian. Suaranya pelan.‎‎Xiao Fan duduk di seberangnya. Lei berbaring di samping Xiao Fan. Tubuhnya masih lemah setelah kejadian di dasar samudra. Namun ia tetap terjaga. Mo Cheng duduk di dekat kemudi. Ia menatap Wei Lian dengan mata penasaran.‎‎"Aku sudah memberitahu Xiao Fan," kata Wei Lian. "Tapi kalian berdua belum tahu. Klan Wei... adalah keturunan dari seorang kultivator yang pernah mencoba mengambil Api Samudra."‎‎Mo Cheng menegang. Matanya terbelalak. "Apa?"‎‎"Ratusan tahun lalu," kata Wei Lian. "Leluhur kami. Ia gagal. Ia tidak mati. Namun ia tidak berhasil. Dan kegagalan itu menjadi kutukan."‎‎"Kutukan apa?" tanya Mo Cheng.‎‎"Klan Wei tidak pernah bisa memiliki ket

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 200

    ‎Mereka menyewa sebuah perahu. Perahu itu terbuat dari kayu jati. Layarnya putih. Tali-temalinya kuat. Pemilik perahu itu seorang nelayan tua yang tidak banyak bicara. Mereka berlayar dari dermaga Kota Pelabuhan Terakhir. Angin laut mendorong perahu itu ke timur. Ombak-ombak menghantam lambungnya.‎‎Tiga hari mereka berlayar. Matahari terbit dan tenggelam. Bintang-bintang muncul dan menghilang. Wei Lian duduk di buritan. Ia menajamkan pedangnya dengan batu asah. Mo Cheng berdiri di haluan. Ia mengawasi cakrawala. Lei duduk di dek. Ia menatap air. Ia tidak berkata banyak sejak mereka berlayar. Xiao Fan berdiri di kemudi. Ia menatap kompas di tangannya. Ia menatap langit. Ia menatap laut.‎‎Hari ketiga, air laut berubah. Warnanya berubah dari biru tua menjadi biru muda. Semakin ke timur, semakin jernih. Akhirnya, air itu begitu jernih hingga mereka bisa melihat dasar samudra. Dasar itu sangat dalam. Sangat gelap. Namun mereka bisa melihatnya. Pasir putih. Batu-batu karang. Reruntuhan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 199

    ‎Mereka tiba di Kota Pelabuhan Terakhir setelah tiga hari perjalanan. Kota itu berdiri di tepi daratan. Di depannya terbentang Samudra Timur yang luas. Ombak-ombaknya menghantam dermaga. Angin laut bertiup kencang. Bau garam memenuhi udara. Suasana kota itu berbeda dari kota-kota lain. Penduduknya pendiam. Rumah-rumah mereka dibangun menghadap ke laut. Jendela-jendela mereka selalu tertutup. Di dinding-dinding kota terdapat ukiran-ukiran kuno. Ukiran itu menggambarkan makhluk-makhluk laut raksasa. Ada yang berbentuk ular. Ada yang berbentuk kura-kura. Ada yang berbentuk ikan bertanduk.‎‎Xiao Fan menyewa kamar di penginapan pelabuhan. Penginapan itu sederhana. Lantainya kayu. Dindingnya batu. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang. Ia menatap keluar jendela. Samudra Timur terlihat di kejauhan. Gelap. Dalam. Misterius.‎‎"Aku akan mencari informasi," kata Xiao Fan kepada yang lain. "Kalian istirahat dulu."‎‎Ia melangkah keluar dari penginapan. Ia menuju pelabuhan. Di sana, para pelau

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 198

    Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah desa kecil di tepi sungai. Desa itu sunyi. Tidak ada anak-anak bermain di jalan. Tidak ada pedagang menjajakan barang. Tidak ada orang tua duduk di teras rumah. Hanya ada beberapa sosok yang berjalan pelan di jalan tanah. Mereka berjalan seperti orang yang kehilangan jiwa. Mata mereka kosong. Tatapan mereka hampa. Mereka tidak menyapa. Mereka tidak menoleh. Mereka hanya berjalan tanpa tujuan.‎‎Xiao Fan menarik tali kuda. Kereta itu berhenti. Ia melompat turun. Lei, Wei Lian, dan Mo Cheng mengikutinya. Mereka menatap desa itu dengan wajah tegang.‎‎"Apa yang terjadi di sini?" tanya Mo Cheng. Ia mengerutkan dahinya. "Kenapa mereka seperti itu?"‎‎Xiao Fan tidak menjawab. Ia mengaktifkan Mata Yin-Yang. Matanya berubah. Satu mata berwarna emas. Satu mata berwarna ungu. Ia menatap desa itu. Ia menatap penduduknya. Ia menatap sungai di dekat sana. Dan ia melihat sesuatu. Energi gelap. Energi itu merembes dari sungai. Energi itu menyelimuti de

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 197

    ‎Wei Lian berdiri di ruang sebelah. Ia sedang menyiapkan perbekalan. Tali-tali kulit. Kantong-kantong air. Roti kering. Obat-obatan. Tangannya sibuk. Namun telinganya mendengar. Dinding balai itu tipis. Suara Xiao Fan dan Lei menembusnya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tentang Samudra Timur. Tentang Naga Laut. Tentang Api Samudra.‎‎Wei Lian berhenti menyiapkan perbekalan. Ia meletakkan kantong air di atas meja. Ia menatap dinding. Matanya kosong. Ia menarik napas panjang. Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Ia menuju ruang alkimia Xiao Fan. Ia mengetuk pintu.‎‎"Masuk," kata Xiao Fan.‎‎Wei Lian membuka pintu. Ia melangkah masuk. Lei masih duduk di sudut ruangan. Matanya masih merah. Namun ia sudah tidak menangis. Xiao Fan berdiri di dekat meja. Ia menatap Wei Lian.‎‎"Ada apa, Wei Lian?" tanya Xiao Fan.‎‎Wei Lian menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri tegak. Wajahnya dingin seperti biasanya. Namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang...

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 8 Jurus Pedang Sembilan Langit

    Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 7: Panggung Keemasan

    Alun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 6: Pagi Yang Menentukan

    Beberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga d

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 5: Senyuman yang Tak Pernah Terucap

    Latihan itu berlangsung hingga bulan bergeser ke barat. Xiao Fan akhirnya menyarungkan pedangnya, napasnya terengah-engah tapi matanya bersinar puas."Cukup," katanya pada diri sendiri. "Ini sudah cukup."Ia berjalan kembali ke anak tangga tempat Xuan'er duduk. Gadis itu telah tertidur, kepalanya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status