Share

Bab 192

Author: _PenaKaisar
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-24 09:52:38
‎Jauh di Alam Surgawi, di dalam Istana Langit yang megah, Kaisar Surgawi sedang duduk dalam meditasi. Ruangan itu sunyi. Cahaya keemasan memancar dari dinding-dinding kristal. Pilar-pilar tinggi menjulang ke langit-langit yang dipenuhi ukiran naga. Napasnya teratur. Tubuhnya tidak bergerak. Matanya tertutup rapat.

‎

‎Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya terbuka. Ia merasakan getaran yang sangat kuat dari dunia fana. Getaran itu menjalar ke seluruh Istana Langit. Getaran itu hanya bisa beras
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 195

    Xuan'er menatap Xiao Fan yang berjuang di cengkeraman Bai Yu. Wajah Xiao Fan memerah karena kekurangan udara. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Bai Yu. Matanya menatap Xuan'er dengan campuran kemarahan dan ketidakberdayaan.‎‎"Jangan..." desis Xiao Fan. Suaranya nyaris tak terdengar. "Xuan'er... jangan ikuti dia..."‎‎Xuan'er menggelengkan kepalanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Namun air mata itu bukan air mata gadis yang cengeng. Melainkan air mata seorang putri yang telah memutuskan untuk mengorbankan kebebasannya demi orang yang ia cintai.‎‎"Aku ikut denganmu," kata Xuan'er. Suaranya tenang. Namun penuh tekad. "Tapi lepaskan dia. Sekarang."‎‎Bai Yu menatapnya dengan curiga. Matanya menyipit. Ia mengamati wajah Xuan'er. Ia mencari tipuan. Ia mencari jebakan. Namun ia tidak menemukan apa pun. Hanya tekad. Hanya ketulusan. Akhirnya ia melepaskan cengkeramannya pada Xiao Fan.‎‎Xiao Fan langsung jatuh berlutut. Tangannya memegangi lehernya yang merah. Ia batuk-bat

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 194

    Xuan'er mendengar ucapan Bai Yu. Tubuhnya menegang. Ia melangkah maju. Ia berdiri di samping Xiao Fan. Mahkota bulannya bersinar terang. Cahaya perak memancar dari tubuhnya. Ia menatap Bai Yu dengan mata safir yang tenang. Namun di balik ketenangan itu, ada wibawa yang tidak bisa dibantah.‎‎"Kalau begitu," kata Xuan'er. Suaranya tenang. Namun penuh wibawa. "Mengapa kau tidak melakukannya sekarang?"‎‎Bai Yu menatapnya. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?"‎‎"Oh, benar." Xuan'er tersenyum tipis. "Karena kau tidak bisa. Karena hukum langit itu juga mengikatmu. Dan di ranah yang sama... kau bukanlah tandinganku."‎‎Bai Yu menegang. Wajahnya berubah. Namun sebelum ia bisa menjawab, Xuan'er sudah melesat maju. Kecepatannya belum pernah ditunjukkan sebelumnya. Cahaya perak menyelimuti seluruh tubuhnya. Mahkota bulannya memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Debu-debu di tanah terangkat. Kaca-kaca yang pecah bergetar.‎‎Xuan'er melepaskan serangan pertamanya. Gelomban

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 193

    Tiga hari kemudian, langit di atas Kota Tianyu tiba-tiba terbelah. Sebuah celah spasial raksasa terbuka di angkasa. Celah itu memanjang dari ufuk timur hingga ufuk barat. Dari dalamnya, cahaya keemasan menyilaukan memancar ke seluruh penjuru kota. Cahaya itu begitu terang hingga penduduk Kota Tianyu harus menutup mata mereka dengan tangan. Beberapa dari mereka berhenti beraktivitas. Beberapa lainnya menatap ke atas dengan campuran kagum dan ketakutan. Seorang pedagang tua menjatuhkan dagangannya. Seorang anak kecil berlari ke pelukan ibunya. Seorang prajurit penjaga tembok kota berlutut tanpa sadar.Dari celah itu, Bai Yu melangkah keluar. Jubah putihnya berkilau terkena cahaya keemasan. Di belakangnya, puluhan prajurit surgawi berjubah putih mengikuti. Senjata mereka bercahaya. Mereka turun perlahan seperti dewa-dewa yang menghukum dunia fana. Langit di sekitar mereka bergetar setiap kali mereka melangkah. Udara terasa berat. Tekanan Qi yang luar biasa menyelimuti seluruh kota.Di da

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 192

    ‎Jauh di Alam Surgawi, di dalam Istana Langit yang megah, Kaisar Surgawi sedang duduk dalam meditasi. Ruangan itu sunyi. Cahaya keemasan memancar dari dinding-dinding kristal. Pilar-pilar tinggi menjulang ke langit-langit yang dipenuhi ukiran naga. Napasnya teratur. Tubuhnya tidak bergerak. Matanya tertutup rapat. ‎ ‎Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya terbuka. Ia merasakan getaran yang sangat kuat dari dunia fana. Getaran itu menjalar ke seluruh Istana Langit. Getaran itu hanya bisa berasal dari satu sumber. Energi bulan murni dari Klan Bulan Abadi. ‎ ‎"Energi itu..." Kaisar Surgawi bergumam pelan. "Tidak salah lagi. Gadis Bulan Suci telah membebaskan segelnya." ‎ ‎Belum sempat ia berdiri, langit di atas Istana Langit berubah. Awan keemasan berputar seperti pusaran raksasa. Pusaran itu berputar semakin cepat. Semakin besar. Warnanya berubah dari keemasan menjadi putih menyilaukan. Dari dalamnya, sebuah gema suara turun. Suara yang agung. Angkuh. Penuh wibawa. Suara itu m

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 191

    ‎Kaisar Tianyu merasakan lonjakan kekuatan itu dari istananya. Tubuhnya menegang. Cangkir teh di tangannya bergetar. Ia meletakkan cangkir itu dan berdiri. Matanya menatap ke arah Balai Alkimia Awan Putih. Energi surgawi yang sangat kuat memancar dari sana. Energi yang tidak ia kenal. Energi yang membuat bulu tengkuknya berdiri.‎‎Ia melesat keluar dari istana. Para pengawal istana terkejut dan mencoba mengikutinya, namun ia melambaikan tangannya. "Jangan ikut! Jaga istana!"‎‎Ia terbang di atas atap-atap kota. Angin malam menerpa jubahnya. Dalam hitungan detik, ia mendarat di halaman Balai Alkimia Awan Putih. Debu beterbangan. Ia mendorong pintu balai dan berlari melewati koridor. Ketika ia sampai di kamar Xuan'er, ia melihat Xiao Fan berdiri di tengah ruangan. Lei berdiri di dekat pintu dengan tubuh gemetar. Luo Pang dan Tetua Bai Mei berdiri di sudut dengan wajah pucat. Dan di udara, Xuan'er melayang dengan cahaya perak menyelimuti tubuhnya.‎‎"Apa yang terjadi?" Kaisar Tianyu m

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 190

    Xiao Fan melesat di atas langit bersama Lei. Angin menerpa wajahnya. Awan-awan putih terbelah di depannya. Di bawah sana, hutan-hutan dan sungai-sungai melintas cepat seperti pita yang terurai. Ia tidak memperlambat langkahnya. Setiap detik begitu berharga.‎‎"Tuan, kita hampir sampai!" Lei menunjuk ke arah kejauhan.‎‎Menara-menara Kota Tianyu mulai tampak di ufuk. Tembok-tembok batu yang menjulang tinggi. Bendera-bendera kekaisaran yang berkibar. Xiao Fan menajamkan pandangannya. Ia mempercepat lajunya. Lei mengikutinya dengan susah payah, napasnya memburu, namun ia tidak mengeluh sama sekali.‎‎Mereka mendarat di halaman Balai Alkimia Awan Putih. Debu beterbangan dari tanah yang menghantam kaki mereka. Beberapa pelayan terkejut dan mundur beberapa langkah. Xiao Fan tidak menghiraukan mereka. Ia berlari masuk ke dalam balai. Lei mengikutinya dari belakang.‎‎"Di mana Xuan'er?" tanya Xiao Fan kepada pelayan pertama yang ia temui.‎‎"Di kamar belakang, Tuan! Tetua Bai Mei sedang

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 8 Jurus Pedang Sembilan Langit

    Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 7: Panggung Keemasan

    Alun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 6: Pagi Yang Menentukan

    Beberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga d

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 5: Senyuman yang Tak Pernah Terucap

    Latihan itu berlangsung hingga bulan bergeser ke barat. Xiao Fan akhirnya menyarungkan pedangnya, napasnya terengah-engah tapi matanya bersinar puas."Cukup," katanya pada diri sendiri. "Ini sudah cukup."Ia berjalan kembali ke anak tangga tempat Xuan'er duduk. Gadis itu telah tertidur, kepalanya b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status