Share

Bab 89 Racun Jiwa Layu

Author: _PenaKaisar
last update publish date: 2026-06-25 08:44:48

Xuan'er menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika matanya masih terpaku pada keempat jasad yang terbaring di lantai. "Siapa yang telah melakukan ini pada keluarga mereka.... Bahkan anak-anak mereka... siapa yang benar-benar tega melakukan hal keji seperti ini?"

‎Xiao Fan tidak menjawab. Ia berjongkok di samping jasad si pria yang tampaknya adalah kepala keluarga dan meletakkan dua jarinya di leher korban. Tidak ada denyut nadi atau sisa-sisa kehangatan tubuh. Mereka sudah mati setidaknya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 181

    Saat mendengar penjelasan Bai Mei bahwa Hutan Seribu Daun diracuni oleh racun yang sama dengan Racun Pelahap Jiwa, Xiao Fan langsung teringat pada catatan-catatan yang ia temukan di markas Sekte Seribu Racun di Desa Racun. Tentang formula racun yang membunuh jiwa tanpa merusak tubuh dan termasuk klien misterius yang membayar dengan batu roh surgawi. Dan juga tentang pesanan khusus dari Kultus Mata Tiga yang tidak pernah dijelaskan tujuannya.‎‎Semuanya mulai tersambung dalam pikirannya seperti potongan puzzle yang akhirnya membentuk gambar yang mengerikan.‎‎"Sekte Seribu Racun hanyalah alat kecil," kata Xiao Fan pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain. "Kultus Mata Tiga menggunakan mereka untuk menyebarkan racun ke seluruh dunia fana. Dan salah satu target utama mereka adalah Hutan Seribu Daun."‎‎Tetua Bai Mei mengangguk. "Karena dengan meracuni Pohon Leluhur, mereka bisa memadamkan Api Kehidupan Hijau secara perlahan. Memastikan bahwa tidak ada manusia fan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 180

    Xiao Fan tidak membuang waktu untuk merayakan kemenangan perang. Ia membawa Xuan'er kembali ke ibukota dengan kecepatan penuh menggunakan kereta terbang yang ditarik oleh Lei dalam wujud Qilin-nya yang besar. Sepanjang perjalanan, Xuan'er terbaring lemah di dalam kereta. Racun Pelahap Jiwa terus menyebar perlahan namun pasti, bergerak mendekati jiwanya sedikit demi sedikit. Batu roh surgawi yang menahannya mulai memudar cahayanya.‎‎"Kakak Xiao Fan..." bisik Xuan'er, suaranya nyaris tak terdengar. "Kalau aku... kalau aku tidak selamat... tolong jangan salahkan dirimu..."‎‎"Jangan bicara seperti itu." Xiao Fan menggenggam tangannya yang dingin. "Kau akan selamat. Aku akan memastikannya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi."‎‎"Kau selalu... terlalu keras kepala..."‎‎"Dan kau selalu suka memarahiku karena itu." Xiao Fan menatapnya. "Jadi bertahanlah. Kau masih harus memarahiku banyak hal setelah ini."‎‎Xuan'er tersenyum lemah. "Berjanji... jangan lakukan sesuatu yang bodoh..."‎‎

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 179

    ‎Xiao Fan meletakkan telapak tangannya yang menyala Api Suci Nirwana di atas luka di bahu Xuan'er. Api emas itu merembes masuk ke dalam tubuh gadis itu, mencari racun hitam yang sedang menyebar. Tapi begitu api suci menyentuh racun itu, reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan.‎‎"AAAAARGH!" Xuan'er menjerit. Tubuhnya menegang seperti tersengat petir. Matanya membelalak lebar, dan darah hitam mulai mengalir lebih deras dari lukanya.‎‎"Xuan'er!" Xiao Fan menarik tangannya dengan panik. "Apa yang terjadi?!"‎‎Racun Pelahap Jiwa tidak seperti racun-racun lain yang pernah ia hadapi. Racun ini bereaksi terhadap api. Bukannya lenyap atau dimurnikan, racun itu malah bergerak lebih dalam ke arah jiwa Xuan'er.‎‎"Jangan... jangan gunakan api suci..." desah Xuan'er disela napasnya ya g tersengal. "Racun ini... dia memakan energi... dia menjadi lebih kuat setiap kali kau mencobanya..."‎‎Xiao Fan mengepalkan tangannya. "Kalau Api Suci tidak berhasil, maka..." Ia menyalakan Api Kegelapan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 178

    ‎Tepat saat Kaisar Xiyuan terjatuh dan kontrak gelapnya melemahkannya, langit di atas lembah berubah. Tekanan berwarna keemasan yang berputar seperti matahari begitu kuat hingga semua orang yang hadir langsung merasakan kehadiran seorang kultivator yang berada di puncak dunia fana.‎‎Kaisar Tianyu turun dari langit. Jubah emasnya berkibar-kibar diterpa angin. Di sekelilingnya, aura Setengah Langkah Dao Transformation yang murni memancar dengan kekuatan yang membuat tanah di bawahnya retak dan udara di sekitarnya bergetar. Semua prajurit langsung jatuh berlutut, tidak mampu menahan tekanan itu. Bahkan Wei Zheng menundukkan kepalanya dalam-dalam.‎‎"Yang Mulia..." bisiknya.‎‎Kaisar Tianyu mendarat di hadapan Kaisar Xiyuan. Ekspresinya lebih dingin dari es, lebih tajam dari pedang. Ia menatap kaisar itu yang sedang berlutut dan merintih, dengan mata yang menunjukkan campuran antara kekecewaan dan kemarahan yang tertahan.‎‎"Kaisar Xiyuan," suaranya menggema di seluruh lembah. "Kau t

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 177

    Xuan'er jatuh berlutut. Darah hitam mengalir dari bahunya. Tapi Xiao Fan tidak bisa langsung menolongnya, terlalu banyak musuh di sekelilingnya. Ia menghantam pembunuh yang mencoba menusuknya dari samping, lalu melesat ke arah Xuan'er sambil berteriak pada Lei.‎‎"LEI! JAGA XUAN'ER!"‎‎"TAPI TUAN! MUSUH MASIH—"‎‎"SEKARANG!"‎‎Lei mendarat di samping Xuan'er, tubuhnya membesar hingga seukuran kuda. Petir menyambar-nyambar di sekelilingnya, menciptakan dinding listrik yang membuat para pembunuh tidak bisa mendekat. "Nona Xuan'er! Bertahanlah! Aku akan melindungimu! Jangan mati di sini!"‎‎Xuan'er tersenyum lemah. "Lei... kau benar-benar... tidak pernah berubah..."‎‎---‎‎Kaisar Xiyuan menyaksikan penyergapannya mulai gagal. Para pembunuh Kultus yang ia kirim jatuh satu per satu. Wei Zheng menebas mereka seperti ilalang. Xiao Fan membakar dan melahap mereka dengan dua apinya. Dan Lei menggagalkan setiap serangan dari atas.‎‎"MATI KALIAN!" teriak Kaisar Xiyuan, berdiri dari kur

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 176

    ‎Di tengah perundingan, Xiao Fan terus mengamati Kaisar Xiyuan dengan Mata Yin-Yang-nya. Perdana Menteri Zhao sedang membacakan syarat-syarat damai dengan suara monoton, tapi Xiao Fan tidak mendengarkannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada aura Kaisar Xiyuan yang semakin lama semakin jelas terlihat tidak stabil.‎‎Di permukaan, aura Kaisar Xiyuan tampak seperti aura kultivator Spirit Severing Puncak—kuat, mengintimidasi, dan penuh wibawa. Tapi di bawahnya, ada lapisan energi gelap yang berdenyut seperti jantung makhluk hidup.‎‎'Dia seharusnya berada di Setengah Langkah Dao Transformation,' pikir Xiao Fan. 'Setara dengan Kaisar Tianyu. Tapi kekuatannya sekarang hanya sekitar Spirit Severing Puncak. Sebagian besar energinya terkuras oleh sesuatu....'‎‎Matanya bergerak ke leher Kaisar Xiyuan. Di balik kerah jubahnya yang tinggi, tersembunyi sebuah tato hitam. Tato itu berbentuk mata dengan tiga pupil. Sama seperti simbol Kultus Mata Tiga.‎‎'Kontrak gelap,' Xiao Fan menyimpulka

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 8 Jurus Pedang Sembilan Langit

    Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 3: Secangkir Teh Beracun

    Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 2: Bunga Es di Taman Plum

    Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 1 Jenius Seribu Tahun

    Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status