Mag-log inMikhaila Ameera Violetta POV
Menatap Langit yang sudah berada di dalam kain kafan membuatku semakin ingin menyusulnya. Aku tidak siap ditinggal oleh Langit begitu saja. Perjuanganku untuknya belum mencapai batas kemampuanku, namun kenapa Tuhan mengambilnya begitu saja? Apakah aku dan Bara bukanlah orangtua yang baik hingga Tuhan mengambil Langit kembali?
Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku sudah siap dengan gown berwarna merah rancangan salah satu designer langganan Mama Belinda. Sebenarnya aku sedikit tidak percaya diri dengan model gaun berbelahan tinggi seperti ini, tapi memang aku akui, ini membuat aset-aset terbaik di tubuhku menonjol dengan maksimal. Termasuk badanku yang mulai menyusut meskipun belum kembali ke berat badan awal sebelum hamil."Kamu kenapa sih, Yang ngaca terus?""Enggak PD, Bar. Badan masih melar, takut juga kalo ASI-nya rembes."Memang sejak Langit meninggal, aku masih rajin memompa asiku yang aku berikan kepada salah satu bayi di rumah sakit karena ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya
Bara Nareswara POVSetelah menunggu kabar selama beberapa waktu, akhirnya aku tidak lolos seleksi jadi aktor. Bukannya kecewa, aku justru bahagia. Bahkan aku dan Mikha bisa tertawa bersama karena menertawakan kebodohanku ini. Toh sudah jelas aku tidak bisa berakting, penulisnya saja yang sedikit aneh, mau memakai aku menjadi pemeran utama prianya hanya karena namaku baru saja wara-wiri lagi di media namun dengan masalah yang berbeda dengan biasanya. Jika dulu biasanya aku digosipkan dengan banyak perempuan, namun saat ini justru karena aku kehilangan anakku untuk selama-lamanya. Sudah tahu kehilangan itu sakit, tapi ada aja yang tega mengatakan jika ini karma untukku. Tanpa mereka harus mengatakan itu juga aku sadar kalo aku pantas mendapatkan balasan dari apa yang aku perbuat dulu, tapi jangan bawa-bawa kondisi Langit itu sebagai karma. Karena Lan
Mikhaila Ameera Violetta POVAku tidak mengerti dengan sikap Bara yang membuatku harus bekerja dua kali saat ini. Bisa-bisanya ia melarang aku memberikan barang-barang Langit ke panti asuhan. Memang sih hanya yang Mama Belinda belikan saja yang tidak boleh aku berikan ke panti, namun tetap saja itu membuatku harus bongkar-bongkar lagi bersama Mbak Lia. Padahal kami sudah mem-packing ajak kemarin."Pantas aja mas Bara enggak kasih ijin barang-barang dari ibu untuk dikasih ke panti, Mbak.""Memangnya kenapa, Mbak Lia?" Tanyaku sambil sibuk memilah-milah baju bayi ini dari kardus."Satu baju ini aja harganya mungkin lebih mahal daripada gaji saya sebulan."
Bara Nareswara POVDi balik kemudi mobil, aku terus berpikir tentang ide gila yang Mikha katakan kepadaku tadi. Mendaki gunung, oh my God... Rasanya aku tidak yakin dengan ide gila ini. Apalagi jika harus mendaki berdua dengan Mikha saja. Sepertinya akan benar-benar menguras emosi daripada tenaga jika sampai ide gila itu terealisasi. Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena Mikha sebelas dua belas dengan Mama sifatnya. Dulu ketika aku masih SMP, Papa pernah mengajakku dan Mama menaiki gunung Rinjani dan hasilnya adalah Mama yang setiap saat lebih banyak mengomel daripada menikmati pemandangan indah yang bisa kami nikmati di sana.Lagipula sejak Langit meninggal, aku lebih sering pergi ke makamnya dari pagi sampai sore. Entah kenapa ada rasa tidak tega membiarkannya sendirian di tem
Mikhaila Ameera Violetta POVMenatap Langit yang sudah berada di dalam kain kafan membuatku semakin ingin menyusulnya. Aku tidak siap ditinggal oleh Langit begitu saja. Perjuanganku untuknya belum mencapai batas kemampuanku, namun kenapa Tuhan mengambilnya begitu saja? Apakah aku dan Bara bukanlah orangtua yang baik hingga Tuhan mengambil Langit kembali?"Yang tabah ya, Mik.""Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya.""Ikhlaskan. Semoga nanti kamu dan Bara segera akan mendapatkan gantinya Langit."Damn it! Kata-kata yang aku dengar dari
Bara Nareswara POV Setelah tiga minggu aku harus bermain solo, akhirnya Mikha mau membantuku mengeluarkan benihku meskipun hanya dengan bantuan tangan dan mulutnya saja. Sejujurnya ini masih kurang tapi aku harus cukup puas dengan semua ini. Apalagi Mikha masih dalam masa nifas. Di saat aku merasa bahagia, namun ada hal yang mengganjal di dalam hatiku. Ya, apalagi kalo bukan kelakuan Mikha yang merasa insecure dengan tubuhnya. Padahal aku tidak mempermasalahkan perutnya yang menghitam dan tidak sedatar dulu. Bagiku wajar saja seorang wanita memiliki tubuh seperti ini apalagi ia baru saja melahirkan. Jangankan untuk berdandan dan merawat diri, menyisir rambutnya saja Mikha terkadang tidak sempat jika Langit sudah mulai menangis.Meksipun kami di rumah menyewa jasa perawat khusus bayi







