ログインMikhaila Ameera Violetta POVSiang ini aku dan Bara sudah berada di ruang keluarga rumah Grandma Bara yang ada di Sydney. Sejak beberapa hari sebelum kami berangkat ke sini, suasana hatiku jauh lebih baik setelah aku berbicara dengan Mama Belinda. Mungkin aku beruntung karena memiliki ibu mertua yang bisa serasa jadi ibu kandung. Dengannya aku bisa mencurahkan apa yang aku rasakan. Saran dari Mama adalah aku cukup berhenti melihat akun media sosial ataupun televisi. Aku harus menikmati hidup dan waktu yang masih aku miliki dengan Bara sebelum kami akhirnya sama-sama sibuk dengan kegiatan kami lagi.Jadi siang ini aku dan Bara memilih duduk bersama Grandma Barbara di sini. Dasarnya Bara memang kurang ajar, bisa-bisanya ia memanggil Grandma-nya dengan panggilan Barbie. Sumpah, aku sempat tidak enak kepada Grandma ketika pertama kali aku mendengar Bara memanggil begitu. Tapi menurut Grandma, Bara sudah memangilnya begitu sejak ia kecil. Ia bahkan memangil Bara dengan panggilan Ken. Kelua
Bara Nareswara POVSejak pulang dari kondangan hampir satu Minggu yang lalu, Mikha lebih sering menyibukkan dirinya sendiri dan jarang ada di rumah bersamaku. Aku tahu memang dia lebih sering pergi ke panti asuhan dan rumah sakit dari pagi sampai sore. Malam hari kadang saat ia sampai di rumah, ia memilih mengabaikan aku. Entah kenapa Mikha tidak bisa menerima alasanku yang aku tidak memberitahu masalah kedekatan Papanya dengan Fiorella. Model muda pendatang baru yang sedang naik daun.Bahkan hasil wawancara diriku dan Mikha saja kala di kondangan itu kalah booming dengan berita Fio yang menggandeng Papa Rey. Justru karena Fio mengaku terang-terangan bila ia sedang menjalin hubungan dengan Papa Rey, akhirnya latar belakang Papa Rey yang sudah memiliki dua orang anak dikulik habis-habisan. Tidak hanya itu saja, akun sosial media Mikha juga penuh sekali dengan orang yang menginvite dirinya untuk berteman. Sayangnya Mikha memilih meng-uninstal aplikasi sosial medianya.Selama seminggu ju
Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku sudah siap dengan gown berwarna merah rancangan salah satu designer langganan Mama Belinda. Sebenarnya aku sedikit tidak percaya diri dengan model gaun berbelahan tinggi seperti ini, tapi memang aku akui, ini membuat aset-aset terbaik di tubuhku menonjol dengan maksimal. Termasuk badanku yang mulai menyusut meskipun belum kembali ke berat badan awal sebelum hamil."Kamu kenapa sih, Yang ngaca terus?""Enggak PD, Bar. Badan masih melar, takut juga kalo ASI-nya rembes."Memang sejak Langit meninggal, aku masih rajin memompa asiku yang aku berikan kepada salah satu bayi di rumah sakit karena ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya
Bara Nareswara POVSetelah menunggu kabar selama beberapa waktu, akhirnya aku tidak lolos seleksi jadi aktor. Bukannya kecewa, aku justru bahagia. Bahkan aku dan Mikha bisa tertawa bersama karena menertawakan kebodohanku ini. Toh sudah jelas aku tidak bisa berakting, penulisnya saja yang sedikit aneh, mau memakai aku menjadi pemeran utama prianya hanya karena namaku baru saja wara-wiri lagi di media namun dengan masalah yang berbeda dengan biasanya. Jika dulu biasanya aku digosipkan dengan banyak perempuan, namun saat ini justru karena aku kehilangan anakku untuk selama-lamanya. Sudah tahu kehilangan itu sakit, tapi ada aja yang tega mengatakan jika ini karma untukku. Tanpa mereka harus mengatakan itu juga aku sadar kalo aku pantas mendapatkan balasan dari apa yang aku perbuat dulu, tapi jangan bawa-bawa kondisi Langit itu sebagai karma. Karena Lan
Mikhaila Ameera Violetta POVAku tidak mengerti dengan sikap Bara yang membuatku harus bekerja dua kali saat ini. Bisa-bisanya ia melarang aku memberikan barang-barang Langit ke panti asuhan. Memang sih hanya yang Mama Belinda belikan saja yang tidak boleh aku berikan ke panti, namun tetap saja itu membuatku harus bongkar-bongkar lagi bersama Mbak Lia. Padahal kami sudah mem-packing ajak kemarin."Pantas aja mas Bara enggak kasih ijin barang-barang dari ibu untuk dikasih ke panti, Mbak.""Memangnya kenapa, Mbak Lia?" Tanyaku sambil sibuk memilah-milah baju bayi ini dari kardus."Satu baju ini aja harganya mungkin lebih mahal daripada gaji saya sebulan."
Bara Nareswara POVDi balik kemudi mobil, aku terus berpikir tentang ide gila yang Mikha katakan kepadaku tadi. Mendaki gunung, oh my God... Rasanya aku tidak yakin dengan ide gila ini. Apalagi jika harus mendaki berdua dengan Mikha saja. Sepertinya akan benar-benar menguras emosi daripada tenaga jika sampai ide gila itu terealisasi. Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena Mikha sebelas dua belas dengan Mama sifatnya. Dulu ketika aku masih SMP, Papa pernah mengajakku dan Mama menaiki gunung Rinjani dan hasilnya adalah Mama yang setiap saat lebih banyak mengomel daripada menikmati pemandangan indah yang bisa kami nikmati di sana.Lagipula sejak Langit meninggal, aku lebih sering pergi ke makamnya dari pagi sampai sore. Entah kenapa ada rasa tidak tega membiarkannya sendirian di tem