Share

Batal Nikah Membawa Berkah
Batal Nikah Membawa Berkah
Penulis: Shirin Maulani

Part 1

"Satu juta ...!" Herman melongo saat calon besannya memberikan uang dapur untuk keperluan pernikahan kedua anak meraka.

"Iya, saya rasa itu sudah cukup." Nurma terlihat tak suka dengan reaksi Herman yang menurutnya terlalu berlebihan.

"Uang satu juta memang cukup untuk apa bu Nurma? untuk biaya dapur saja tentu sangat kurang, belum lagi biaya tenda dan yang lainnya, sedangkan bu Nurma sendiri ingin pernikahan yang mewah." Herman menggelengkan kepalanya. Bahu bidangnya terlihat naik turun menahan emosi.

"Pak Herman tak terima dengan pemberian uang dapur dari kami? seharusnya Bapak itu bersyukur karena Azam masih mau menikahi Mira dan kami masih mau memberikan u*ng dapur kepada kalian."

"Saya lebih bersyukur kalau anak saya tidak jadi menikah dengan Azam."

"Jaga bicara anda, pak Herman! Azam itu anak laki-laki kami yang sempurna dengan paras yang tampan. Azam juga sudah punya pekerjaan tetap di Bank swasta. Berbeda dengan Mira, bisa-bisanya dia melayani lelaki yang bukan muhrimnya saat akan menikah dengan Azam."

"Cukup bu Nurma! anda sudah terlalu banyak menghina keluarga saya, Mira bukan orang yang seperti anda tuduhkan. Kalau memang Azam sudah mapan mana mungkin hanya memberi uang dapur sebesar satu juta." Herman melihat ke arah Azam yang hanya tertunduk tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Sementara Mira menangis dalam pelukan Ibunya. "Pintu sudah terbuka lebar kalian juga tahu jalan pulang bukan?"

 "Anda mengusir kami?" teriak Nurma yang menggema di dalam ruangan. "Cih, sombong sudah miskin sombong, Ayo Zam kita pulang." Nurma berdiri hendak meninggalkan rumah tersebut.

Tangis Mira sudah tak terkendali dalam pelukan Ibunya, matanya terasa berkunang-kunang, perlahan kesadarannya mulai hilang.

"Mira, Mira, sadar Mira" Sartinah menggoyang tubuh anaknya. "Pak, Mira pingsan Pak."

Azam yang hendak meninggalkan rumah tersebut terhenti dengan teriakan Ibunya Mira, ada rasa khawatir pada matanya. Ketika Azam berbalik dan ingin membantu Mira, dengan cekatan bu Nurma menarik tangan Azam dan membawanya pergi. Sebelum bu Nurma benar-benar pergi meninggalkan rumah tersebut, ia berpesan.

"Untuk cincin tunangan dan seserahan dari Azam tolong segera dikembalikan kepada kami." Bu Nurma langsung meleos pergi meninggalkan rumah Mira dengan langkah yang panjang diikuti oleh Azam.

Pak Herman nampak kesal, ia tak menyangka ada manuisa seperti keluarga Azam, akan tetapi ia benar-benar bersyukur jika Mira tak jadi menikah dengan Azam.

Pak Herman membopong tubuh Mira ke kamarnya yang diikuti langkah sang istri.

"Gimana ini Pak," ujar Sartinah yang nampak khawatir dengan anaknya.

"Nggak apa-apa bu, sebentar lagi juga Mira sadar. Coba dioleskan minyak angin pada perut dan juga hidungnya." Bu Sartinah langsung mengambil minyak angin dan mengoleskan pada putrinya.

"Mira sadar neng," ujar Ibunya sembari memijat-mijat tangannya.

Kepala Mira terasa berat, iya sudah sadar, Mira bisa mendengar suara bu Sartinah memanggil namanya, namun badannya masih sangat lemas untuk merespon.

Bulir-bulir air mata Mira kembali menetes mengingat kejadian tadi.

"Bu," Hanya itu yang terucap dari bibir mungilnya sambil menangis tersedu.

Herman melangkahkan kaki mencoba mendekati anaknya.

"Maafkan Bapak karena telah membatalkan pernikahanmu, tapi percayalah itu semua demi kebaikanmu." Herman pergi meninggalkan Mira bersama bu Sartinah yang kini semakin menangis tersedu.

"Yang sabar ya nak, yang kuat." Sartinah berusaha membuat Mira tegar dan kuat menghadapi kenyataan pahit.

"Ibu yakin yang dilakukan Bapakmu itu demi kebaikanmu. Tidak ada orang tua yang tega membuat anaknya menderita." Mira mengangguk mengerti perkataan Ibunya.

Mira hanya kecewa pada Azam, laki-laki yang telah bersamanya, semasih mereka duduk dibangku SMA. Laki-laki yang telah berjanji akan memperjuangkan cintanya apapun yang terjadi, seolah sirnah begitu saja saat membiarkan keluarga Mira dihina oleh Ibunya Azam.

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status