LOGINKini semua pekerja berbalik pergi pulang. Termasuk Bayu.
Dalam perjalanan pulang, Bayu menghela nafas lega.“Huuffh … hampir saja aku terlibat masalah. Untung saja Bang Azis orang yang cukup adil. Kalau tidak? Mungkin aku harus cari pekerjaan baru,” gumam Bayu.Saat Bayu melewati jalan yang sudah sangat dikenalnya, matanya sekilas tertuju pada rumah besar bercat mencolok itu rumah para wanita yang dijual untuk kesenangan pria. Lampu-lampu terasnya menyala terang mAkan tetapi, Bayu menjadi lebih tegang saat mereka telah sampai di rumah sakit. Perasaannya campur aduk, rasanya belakang leher terasa dingin karena gugup ia juga mulai merasa mual. Mereka berdua duduk di kursi sambil menunggu antrian karena Stevia mendaftar cukup telat.“Ada apa? Wajahmu terlihat pucat sekali. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Stevia sebari mengelus punggung Bayu.“Aku tidak apa-apa, hanya …” wajah Bayu semakin terlihat pucat. Melihat antrian yang masih tersisa dua orang lagi Bayu memutuskan untuk ke toilet sebentar.“Kamu mau ke mana?” Tangan Stevia menahan tangan Bayu.“Ah, aku mau ke toilet sebentar. Apa Nona bisa menungguku di sini?” Bayu sempat menghentikan langkahnya. Tapi Stevia melepaskan tangan Bayu setelah tahu alasannya.“Ohh … gitu, sana gih kamu pergi sekarang bentar lagi aku bakal giliran kita.”Wajah Bayu mengangguk pelan lalu berbalik pergi dari sana. Di toilet Bayu mem
Hingga akhirnya Bayu pun bertelanjang dada membuat Selvi tidak tahan untuk menyentuh tubuhnya. “Sini biar aku periksa lebih detail dengan menyentuhnya. Karena bisa saja kan, permukaan kulit terlihat bersih tapi saat disentuh siapa tahu ada yang sakit?” Sentuhan demi sentuhan terus berlanjut sehingga membuat Bayu ikut mulai terangsang. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu. “Aku rasa di bagian sini terasa sakit.” Bayu melepaskan celana dan pakaian dalam lainnya. Batang miliknya sudah mengeras dan menegang lalu Bayu mengarahkan tangan Selvi agar menyentuh miliknya di bawah sana. “Ini terasa sakit apa kamu bisa mengobatinya Nona?” Dengan suara berat yang terdengar sensual di telinga Selvi, membuatnya mengikuti alur yang dibuat Bayu dengan menyentuh batang perkasa itu. Satu tangan Selvi ternyata tidak cukup ia pun membuka baju piyama dan memegang kedua buah dadanya. Selvi menggesek batang
Mendengar itu Bayu tentu langsung merespon. “Masa sih, perasaan aku melihatnya dia tadi biasa aja. Aku juga nggak sehebat itu cuma pas beruntung aja menang. Waktu itu aku juga sering kalah kan?”“Emm … oh iya, yang waktu itu tapi seterusnya kan kamu menang!” Basri terus berbicara dengan Bayu sementara Ria duduk ikut tersenyum saat keduanya asik tertawa. Namun, sedari tadi pandangan matanya terus diam-diam melirik ke arah Bayu.Baik wajah dan secara fisik Bayu memang sangat jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan Basri. Dari ukuran tubuh Bayu juga lebih besar, tinggi dan tampan. Tetapi berbanding terbalik dengan Basri yang sudah tidak lagi berbadan atletis karena sudah lama tidak berolahraga, tingginya juga di atas rata-rata. Dengan wajah yang memang terbilang biasa.Membuat mata Ria jadi menyipit saat mengamati kedua pria di hadapannya. Jika saja sedari awal ia bertemu dengan Bayu mungkin dirinya tidak akan menjalin hubungan dengan Basri. Namu
Tapi Bayu baru saja teringat akan janjinya pada Rara. Seketika itu Bayu langsung mengubah topik.“Oh iya, Abang Bas. Tau nggak tempat tinggal yang aman buat wanita?” tanya Bayu.Mendengar itu Basri langsung melihat Bayu dengan seksama. Ia bahkan memegang kedua pundak Bayu.“Apa mungkin kamu melarikan diri dengan pacarmu karena hubungan kalian tidak direstui?”“Hah? Bukan begitu sebenarnya di tempat dulu aku tinggal. Ada seorang wanita cantik yang bekerja sebagai pelacur, beberapa tahun terakhir dia berusaha melunasi dirinya tapi mucikari yang menjadi atasannya tidak mau melepaskannya.” Bayu segera menjelaskannya.“Lalu apa dia melarikan diri?” Basri sudah bisa menebak kelanjutannya.Tebakan Basri membuat Bayu langsung mengangguk. “Itu benar, karena tidak tahan dan merasa tidak bisa bebas dia akhirnya memilih kabur. Tapi permasalahannya tidak sampai di situ.”“Apa yang terjadi, bukankah hanya tinggal mencari tempat tingga
Bayu yang kebingungan dengan kondisinya saat ini karena pertarungannya ternyata sudah berakhir. Sedangkan dirinya merasa tidak ingat saat pertarungan barusan tahu-tahu ternyata sudah berakhir dan semua penonton sedang bersorak atas kemenangannya.Jantung Bayu berdegup kencang dengan suara dengungan masih terdengar di telinga meski tidak sekeras tadi. Bayu memegang dadanya karena jantung terasa seakan mau meledak.Di hadapan orang lain Bayu tidak terlihat begitu senang meski baru saja memenangkan pertarungan. Namun, wajahnya malah terlihat sangat kebingungan. “Ikut saja dulu denganku, ayo!” Basri yang melihat itu segera membawa Bayu meninggalkan arena. Tanpa menjawab Bayu tetap mengikuti Basri dari belakangnya. Mereka masuk ke ruangan tadi yang tepat di depan loker tempat baju Bayu berada. “Apa kau baru saja sadar dengan apa yang kamu lakukan?” tanya Basri.Mata Basri menatap Bayu dengan serius sembari memegang kedua pundaknya.
Hanya dengan satu gerakan tangan aba-aba dari wasit pertarungan di atas arena dimulai saat itu juga. Bayu beberapa saat lalu sempat menoleh ke arah Basri karena ia mengenali suara teriakannya barusan.Namun, karena pertarungan sudah dimulai maka Bayu kini fokus menatap lawannya. Kali ini pria yang menjadi lawannya adalah Arham salah satu petarung handal. Usianya sepantaran dengan Bayu mungkin hanya beda sedikit.Arham menatap tajam Bayu sambil meju dan mereka saling ancang-ancang akan menyerang satu sama lain. Saat kepalan tangan Arham mulai diarahkan pada Bayu dengan kekuatan penuh semangat dan cepat.Sebaliknya Bayu yang sadar akan serangan yang baru saja diarahkan padanya. Gerakan Arham begitu cepat jika dilihat oleh orang lain tapi berbeda dengan Bayu melihat gerakan itu jadi lambat. Gerakan santai Bayu hanya bergeser pelan sudah bisa menghindari pukulan.Merasakan pukulannya yang baru saja melesat hanya mengenai udara kosong. Membuat Arham se







