LOGINSuara benturannya berat dan bersih. Kepala Jayden tersentak keras ke samping, percikan keringat dan darah beterbangan di bawah cahaya lampu. Tubuhnya goyah, lututnya hampir menyerah
Bayu menarik kembali tangannya perlahan. Ia sengaja menahan sebagian kekuatannya. Ia bisa saja menghancurkan lebih dari itu namun ia memilih tidak.Jayden terhuyung, dunia berputar di sekelilingnya.Dan untuk pertama kalinya malam itu, sang juara terlihat benar-benar kalah.Brukh!Seketika itu Basri langsung berdiri dan menuju ke arah Bayu sebelum teman-temannya mengajak mereka berjudi lagi.“Ayo kita pergi dari sini. Soalnya nanti mereka ngajak judi lama lagi!” Tanpa basa basi Basri menarik tangan Bayu sampai ke pintu besi dan mereka pun menuruni anak tangga. Mereka menuju ke lantai paling bawah gedung. Mereka membuka pintu besi lagi yang menutup tempat area pertarungan yang mana dari dalam sana sudah mulai terdengar sorakan penonton. Bayu dan Basri masuk dan langsung menuju ruangan staff yang dipenuhi para petarung.Bau pengap langsung menyergap disertai bau keringat dari para petarung di sana. Namun, karena terbiasa menciumnya Bayu tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia tetap menuju lemari loker tempatnya menyimpan baju ganti. “Bang, aku ganti baju bentar ya,” pamit Bayu.Basri mengangguk sambil menunjukkan ke belakangnya ada ruang Soma di sana.“Iya Sono gih. Aku mau ke ruangan bos Soma
Bayu menatap jam dinding yang ternyata masih ada waktu baginya sebelum pergi ke pertandingan Delune. Jadi ia kembali membelai Mila tanpa pikir-pikir lagi karena sudah tidak tahan akan sentuhan tubuh wanita itu. Setelah berciuman cukup lama perlahan Bayu mencium bagian leher dan meninggalkan bekas tanda merah di sana, lalu sampai ke bagian buah dadanya.Kedua tangan Bayu memainkan buah dada dengan meremas-remas tapi secara bergantian ia juga mengulumnya di dalam mulut. Lidahnya memainkan ujung buah dada yang sedang dihisapnya seperti bayi.Ukuran buah dada Mila memang tidak diragukan lagi, besar dan masih kencang. Apalagi saat kedua tangan Bayu meremasnya terasa sangat penuh dan kenyal. Baru saja Mila merasakan sentuhan dan hisapan di dadanya itu sudah membuat dirinya basah di bawah sana.Sentuhan yang selama ini sangat ia dambakan dan inginkan. Setiap kali berhubungan dengan pria lain Mila tidak pernah merasa puas, ia juga kerap kali membayangkan wajah Bay
Dor! Dor! Satu peluru mengenai garis lingkar nomor empat dan satunya lagi mengenai garis lingkaran nomor dua. Kedua matanya bisa melihat jarak yang sudah disesuaikan cukup jauh. Namun, jika memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya maka semua tembakan akan mengenai sasaran. Itu hanya akan menimbulkan kecurigaan yang sangat besar, akan lebih baik semuanya berjalan sesuai urutan. Bayu ingin Alex melihatnya belajar perlahan bukan belajar dengan cepat dan langsung bisa memahami semuanya. Intinya sebisa mungkin Bayu akan menahan dirinya agar tidak terlihat terlalu pandai dalam menembak. Maka dari itu ia sengaja tidak mengenakan sasaran dengan tepat. “Oh iya, Stevia belum ajukan kamu untuk membuat surat izin penggunaan senjata api kah?” Alex menepuk sebelah pundak Bayu. “Oh itu, belum aku rasa dia masih sibuk. Belum lagi sekarang nona Stevia sedang dirawat di rumah sakit.” Mendengar Stevia yang berada di rumah sakit, wajah Alex langsung berubah jadi lebih serius. “Dia sakit? Tida
“Iya Non Selvi udah besar sekarang. Jadi hati-hati bawanya ya.” Setelah membawa rantang Selvi berbalik pergi dan menuju mobil. Kali ini ia pergi sendiri ke rumah sakit karena baik pak Jo maupun Bayu sudah libur hari ini. Jadi mau tidak mau Selvi harus pergi menemani Stevia di rumah sakit. Ia menyetir mobil mulai meninggalkan kediamannya. Sementara itu masih di dalam rumah Bayu yang baru saja bangun tidur. Ia meregangkan tubuhnya di kasur dengan mata yang masih agak sedikit menyipit karena cahaya masuk dari jendela kamar. Sejenak ia bangun lalu ke kamar mandi, dengan capat Bayu bersiap-siap untuk pergi lebih pagi. Sebelumnya Bahu sudah menghubungi Alex dan jam latihan mereka diundur jadi pagi. Beberapa saat kemudian Bayu yang sedang menuruni tangga langsung membuat Rini dan Sri menoleh ke arahnya. “Bayu hari ini nggak ke rumah sakit?” Tanya Rini. “Nggak Mbak, aku liburkan tiap Minggu,” jawab B
“Bayu, sini kunci mobilnya kasihin ke aku,” ucap Pak Jo.Bayu pun merogoh kantongnya. “Ini pak, kuncinya ambil aja.”Baru saja Bayu menyerahkan kunci kepada pak Jo, lalu Selvi pun berjalan pergi masuk ke rumah lebih dulu tanpa menoleh lagi ke belakang.“Hei Bayu, nona Selvi nggak cari sering masalah sama kamu kan?” Arif yang baru saja datang tiba-tiba menepuk pundak Bayu.“Eh, Arif. Nggak sih, nona palingan cuma duduk diam aja kok di mobil,” sahut Bayu.“Aih, syukur deh. Soalnya kamu tau kan kalau gitu. Untung aja dia nggak banyak komplen sama kalian berdua. Kayaknya dia juga cape kalo ganti sopir lagi.” Pak Jo terlihat mengangguk. “Iya kayaknya yang dibilang Arif bener. Sebenarnya kita juga sependapat iya kan Bayu?”“Eum … ya, kalo dilihat dari sifat Nona yang sekarang memang banyak berubah.” “Ya, kamu bilang itu betul juga. Tapi setidaknya akhirnya dia sudah tidak seperti dulu aja udah untung banget.” Arif y
“Nona Stevia terbangun,” bisiknya pelan sambil memberikan kode dengan matanya yang menoleh ke arah ranjang.Selvi pun dengan cepat memperbaiki duduknya lalu menjaga jarak dari Bayu untuk sementara. “Tante, udah bangun!” Stevia segera menoleh ke pusat suara tempat duduk Selvi. “Eh, kamu udah datang ya. Sebenarnya besok—”Selvi tahu apa yang akan dibicarakan Stevia jadi ia pun memotong, “Aku tahu, barusan Bayu susah memberitahuku. Besok aku akan datang sama Pak Jo.”“Syukurlah jika kamu sudah tahu, makasih ya Bayu sudah bilang sama Selvi.” Wajah Stevia kembali menoleh pada Bayu.Bayu hanya mengangguk lalu duduk lebih dekat di kursi samping pasien sambil membawa sepiring buah untuk cemilan.“Ini makan buah dulu, Nona biar cepat sembuh.”“Kamu juga ikut makan, kita makan sama-sama,” jawab Stevia.“Aku juga mau Tante!” Selvi dengan cepat meraih garpu dan memasukkan buah melon yang sudah di tusuk pakai garp







