Share

Bab 4. Cinta Sepihak

Jantung Kayana berdegup kencang, terlebih ketika Eiser menyusuri leher jenjangnya dengan menggunakan bibir. Namun, Kayana tidak akan membiarkan itu berlanjut. Ia tidak boleh terbuai pada perasaan yang hanya ia rasakan sepihak. Eiser tidak akan bersikap selembut ini. Kayana mencoba mensugesti diri dan segera mengembalikan kesadarannya.

"Berhenti, Eiser. Bukankah kamu bilang ingin makan."

Eiser tersenyum miring. "Bukankah kamu yang menginginkan ini? Kamu pasti sengaja tidak menyiapkan aku pakaian ganti agar aku berpenampilan begini."

Kayana terpejam. Ingin sekali memprotes dan mengatakan, "bukannya pakaian kamu ada di lemari. Kenapa mengambil pakaian saja menunggu aku?" Tetapi itu hanya ada dalam angan saja.

Kayana tidak ingin memancing emosi Eiser dan memilih untuk diam dan meminta maaf. "Maaf, kalau begitu akan aku siapkan sekarang."

Kayana berdiri. Tetapi lagi-lagi Eiser menahannya. Eiser meraih pinggang lalu mengangkat Kayana dan mendudukkan di atas meja yang kosong.

"Terlambat."

Eiser mencondongkan tubuh. Sebaliknya, Kayana refleks mundur ke belakang.

"Meja makan ini cukup besar 'kan? Bagaimana menurutmu?"

Kayana menelan saliva. Ia benar-benar merasakan firasat buruk. Lebih buruk dari sebelumnya. Jangan-jangan Eiser ingin melakukannya di meja makan?

"Eiser apa maksud kamu?"

"Kamu terlalu naif, Kay. Aku benci wanita seperti itu. Bukankah sejak dulu kamu memang menginginkan aku."

Kayana membeku. Bibirnya kaku, lidahnya kelu. Yang dikatakan Eiser memang tidak salah. Sejak sekolah menengah atas, Kayana memang menyimpan perasaan kepada Eiser yang merupakan teman satu kelasnya.

Namun, itu adalah cinta sepihak karena Eiser hanya menganggapnya sebagai teman. Lalu bagaimana Eiser tahu tentang perasaannya? Ia bahkan tidak pernah mengungkapkannya kepada siapapun. Perasaan itu tersimpan rapi di dalam hati. Apa Eiser berkata begitu hanya ingin memancingnya saja?

"Aku tidak mengerti maksud kamu, Eiser."

"Ckk, jangan munafik. Kalau kamu tidak menginginkan aku. Mana mungkin kamu melakukan segala cara untuk bisa menikah dengan aku. Iya 'kan?"

Kedua manik Kayana terpejam. Benar saja, pria itu hanya memancing dirinya agar mau mengakui semuanya. Sayang sekali, itu tidak akan pernah terjadi. Kayana tidak akan mengakui perbuatan yang jelas tidak ia lakukan.

"Terserah kamu ingin menganggap aku seperti apa. Sekarang menyingkirlah dan biarkan aku pergi."

"Tidak semudah itu." Eiser semakin menghimpit tubuh Kayana. "Sudah kubilang hari ini aku akan menghukummu 'kan? Jadi terima hukumanmu."

Kayana menggigit bibir, mencoba menghalau lenguhan yang nyaris keluar ketika bibir Eiser tenggelam di antara ceruk leher dan menyapu dengan menggunakan lidah. Kayana terpejam menahan beban berat di atasnya. Namun, itu tidak bertahan lama. Sebab suara seseorang seketika menghentikan aktivitas keduanya.

"Apa yang kalian lakukan?"

Keduanya sama-sama terkesiap, seketika menoleh ke arah sumber suara. "Freeya!" ucap keduanya secara bersamaan.

Freeya yang salah tingkah langsung memutar tubuh ke belakang. Adik dari Eiser itu sama halnya, begitu kaget dengan pemandangan yang ada di depan mata.

"Astaga, kenapa kalian melakukannya di situ? Kayak gak ada tempat lain aja."

"Kamu sendiri, kenapa bisa masuk?" Eiser langsung berdiri. Begitu juga dengan Kayana yang segera bangun memperbaiki pakaiannya.

"Gimana aku bisa masuk? Pintu gerbang nggak dikunci, pintu utama juga. Bukan cuma aku tapi maling juga bisa masuk, Kak."

"Katakan untuk apa kamu datang kemari?"

Freeya berbalik, menarik napas panjang lalu berjalan mendekati meja makan. "Bukannya Kakak bilang Kak Kayana sakit, aku kemari bawa obat herbal dari Mommy. Supaya Kak Kay sembuh dan bisa hadir di pesta anniversary perusahaan Om Reymond," kata Freeya sembari menggerakkan kantong plastik di tangan.

"Sakit? Pesta?" Kayana merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya ini.

"Iya, emangnya Kak Eiser nggak bilang sama Kakak?" Freeya meletakkan kantong di tangan ke atas meja. Kayana melirik kesal suaminya.

"Kamu ini. Bisa nggak kalau mau datang telpon dulu?" protes Eiser. Ia masih kesal lantaran aktivitasnya diganggu.

"Ya, sudah tidak apa-apa. Freeya 'kan sudah terlanjur datang. Sebaiknya kita makan bersama. Kemarikan obatnya, biar aku simpan dulu."

"Tuh 'kan, Kak Kay aja bilang gak apa-apa. Sana mending Kak Eiser ganti baju, sakit mata aku lihat Kakak pakai begituan."

Eiser mendecak lalu melangkah ke arah tangga. Tak butuh waktu lama untuk berpakaian. Eiser memilih kaus dan celana kain karena saat ini ia tidak ada jadwal kantor.

Suasana ruang makan sedikit berwarna karena ada Freeya. Gadis berusia 25 tahun itu begitu lahap menikmati makanannya. Kayana memandang adik iparnya. Sepertinya ia harus berterimakasih kepada gadis itu karena telah membuatnya lepas dari Eiser, setidaknya untuk sementara waktu.

"Masakan Kak Kay enak. Lain kali Kakak menginaplah di rumah, dan masak untuk kita semua. Mommy pasti bakal suka banget sama masakan Kak Kay," celoteh Freeya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Dia bukan pembantu," sahut Eiser dingin. Freeya melirik kesal ke arah kakaknya.

"Ckk, aku gak nanya Kakak. Aku ngomong sama Kak Kay."

"Tetap saja, dia harus mendapat izinku sebelum pergi ke manapun," debat Eiser. Kayana menatap kakak beradik ini secara bergantian lalu membuka suara.

"Freeya, katakan padaku soal pesta. Pesta apa yang kamu maksud?" Kayana sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar tak menimbulkan perdebatan.

"Pesta Anniversary perusahaan Om Reymond, Adik Daddy. Mommy ingin mengenalkan Kakak sebagai menantunya jadi Kakak harus datang. Itu sebabnya Mommy meminta Freeya untuk mengantar obat untuk Kak Kay, supaya Kakak bisa hadir," ucap Freeya penuh harap.

Kayana mengulas senyum, kemudian mencuri lirik pada sang suami lalu menjawab. "Aku akan datang, jika kakakmu mengizinkan."

Awalnya Eiser menolak datang ke acara. Terlebih bersama dengan Kayana. Namun, karena permintaan keluarga. Eiser pun menyetujuinya. Selain keterpaksaan, kehormatan dan nama baik keluarga adalah alasan utama ia mau datang bersama dengan istrinya.

Pukul 7 malam, pesta harusnya dimulai. Namun, karena salah satu anggota keluarga belum datang, maka acaranya ditunda.

Terlambat sebentar tidak akan masalah. Kayana terlihat cantik dengan model rambut disanggul ke belakang, dengan sisa beberapa helai di bagian depan yang dibiarkan menjuntai ke bawah.

Fitur wajahnya yang cantik dan halus dan seputih salju ditutupi dengan riasan tipis, lalu matanya yang jernih dan gelap tetapi sangat cerah, berkilat dan memukau pandangan. Membuatnya terlihat begitu lembut dan anggun.

Wanita itu sangat serasi berada di sisi Eiser, yang kini tengah dibalut dengan jas mewah berwarna senada dengan gaun yang dikenakan oleh Kayana. Matanya yang cokelat memperlihatkan tatapan yang tajam dan dalam. Seolah memancarkan aura yang begitu mematikan.

Pria yang sangat mahal senyum itu memang Eiser, ini pertama kalinya ia datang ke acara formal bersama dengan istrinya. ia mendekat ke arah sang istri lalu berbisik.

"Ini adalah tempat umum, jadi bersikaplah layaknya seorang istri."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status