Share

Belenggu Membara Sang Penguasa
Belenggu Membara Sang Penguasa
Penulis: Li Pena

1 > Belenggu Darah

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 12:50:14

Papa!" Livia berteriak histeris, suara tembakan memekakkan telinga, mengudara di tengah senyapnya malam.

"Pa, jangan tinggalin Livia, Pa." Tubuhnya ambruk, dunianya runtuh dalam satu detik. Menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung tak berdaya, di atas lantai marmer putih yang sekarang berubah warna dengan bau anyir menyengat.

Mata Livia membelalak, napasnya tercekat, sementara kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia buru-buru melangkah mundur, memilih bersembunyi di balik lemari besar. Tangannya yang tremor ia gunakan untuk membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tak pecah dan mereka menyadari keberadaannya.

"Bos, target sudah—"

"Tutup mulutmu, sialan!" Pria itu mengumpat, memotong kalimat yang belum usai anak buahnya lontarkan.

Livia mencoba mengintip dari celah kecil pintu lemari. Di sana, pria itu berdiri. Tubuhnya tinggi, dan tegap. Auranya mengerikan, tak peduli dengan mayat yang tergeletak di sisinya berdiri.

Tanpa merasa bersalah, pria itu mengeluarkan sapu tangan hitam dan mengelap pistolnya dengan santai. Pekerjaan itu seolah telah dilakoninya berkali-kali tanpa rasa bersalah.

"Kita pergi sekarang?" tanya salah satu pria dengan senjata di genggaman tangannya.

"Tunggu," jawabnya singkat sembari memberi isyarat kepada anak buahnya untuk diam beberapa saat.

Tangannya diangkat ke udara. Lengan jasnya tersibak, dalam sudut ini Livia mampu melihat gelang pria itu berukir nama...

Raka Blackwood.

Dia meringis pilu, matanya melotot. Tak sadar suaranya memancing tatapan Raka ke arahnya. Meski dia segera membekap mulutnya, namun mata mereka telah lebih dahulu beradu pandang.

"Jangan, kumohon. Jangan ke sini," rafal Livia. Tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdebar tak karuan. Keringat lolos membasahi dahi.

Gadis itu menahan napas, berharap pria itu segera pergi. Namun langkah kaki Raka justru semakin mendekat. "Ada orang di sini rupanya, mau keluar sendiri, atau ku paksa, hem," ucapnya tenang. "Aku tahu kamu di sana bocah sialan. Keluar!" sentak Raka setelah ia berada di depan lemari itu.

Tubuh Livia bergetar. Ia benar-benar merasa takut, namun bukan hanya itu. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu dengan satu dorongan emosi, ia menendang pintu lemari hingga terbuka.

"Bocah sialan!" bentaknya.

Ia berdiri dengan tubuh gemetar, menunjuk Raka dengan mata penuh air mata dan kebencian. Napasnya memburu, namun ia tetap berdiri tegap di hadapan Raka.

"Kamu membunuh Papaku!" teriak Livia. "Apa Salah Pap, kenapa kamu bunuh Papa!" makinya. Ingin sekali Livia menerjang pria itu, membalas dendam akan kematian sang ayah. Namun, dia bisa apa. Nyawanya di sini sebagai taruhan.

Melihat itu, anak buah Raka bergerak, namun pria itu justru mengangkat tangan ke udara memberi isyarat berhenti. Kini tatapannya tak lepas dari Livia. Tatapannya tajam dan menusuk.

"Siapa yang membunuhnya? Dia mati sendiri," ucap Raka datar.

Livia tertawa pendek, tawa menyakitkan lebih tepatnya. "Bohong! Aku lihat kamu nembak Papa! Apa salah Papa!" bentaknya dengan mata merah dan air mata yang lolos.

"Percaya diri sekali kamu, buka matamu lebar-lebar, sialan. Papamu yanng milih mati, karena ingin segera masuk ke pintu neraka," lanjut Raka dengan nada dingin.

"Dasar gila!" Livia berteriak. "Aku pasti laporin kamu. Aku akan buat kamu mendekam di penjara, berengsek!"

Mendengar itu, Raka tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Livia berdiri. "Silakan saja, nggak ada yang ngelarang. Lakuin sesuka hatimu, bocah."

Mendengar itu, anak buah Raka mulai gelisah. Salah satu dari mereka berbisik, “Bos, polisi bisa datang kapan aja.”

“Beresin,” jawab Raka singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Livia.

Livia tersentak. “Kamu mau kabur?” tanyanya dengan sedikit bentakan kecil.

Raka mengangkat alis. “Kabur dari apa?” bukannya menjawab, ia justru balik bertanya pada gadis itu.

“Dari pembunuhan!”

“Ini bukan pembunuhan. Aku hanya membungkamnya,” sahut Raka dingin.

Ucapan itu membuat dada Livia sesak. “Kamu bukan manusia, taoi kamu iblis,” Livia berbisik penuh cacian.

“Kalau aku iblis, Lalu sebutan apa yang cocok untuk ayahmu?” Ia maju beberapa langkah, sehingga tak ada lagi jarak di antara mereka.

“Diam! Jangan samakan dirimu dengan Papaku!” pekik Livia karena ia sudah tidak tahan lagi. Dengan emosi yang memuncak, ia mendorong dada Raka sekuat tenaga.

Namun, Dorongan itu sama sekali tak membuat Raka bergeser sedikit pun. Dan justru sebaliknya, tangan pria itu dengan cepat langsung menangkap pergelangan Livia, dan mengunci gadis itu dengan kekuatannya. Hal itu membuat Livia meringis kesakitan

“Lepaskan aku!” teriak Livia, berusaha menarik tangannya.

“Aku bilang lepasin!” bentaknya lagi.

“Kalau aku mau nyakitin kamu, maka aku bisa membuat tanganmu patah dari tadi.” ujar Raka sembari mendekatkan wajahnya,

Livia terdiam sesaat. Saat ini tangannya gemetar di dalam genggaman Raka. Ia hanya bisa merasakan dinginnya kulit pria itu, kulit yang keras dan tak berperasaan.

“Kamu tahu kenapa kamu masih hidup?” tanya Raka dengan nada pelan.

Livia menelan ludah. “Karena kamu terlalu pengecut.”

“Karena kamu saksi.” jawabnya disertai senyuman miring.

“Itu berarti kamu takut,” Livia menyambar cepat.

Mendengar itu, Raka tertawa pendek. Lalu ia melepaskan tangan Livia tiba-tiba. Sehingga membuat tubuh gadis itu hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

“Dengerin aku baik-baik... mulai malam ini, kamu tidak punya kendali atas hidupmu sendiri” ujarnya penuh penjelasan.

Livia mendongak tajam. “Kalau begitu, aku lebih baik mati!”

“Percaya sama aku… mati itu jauh lebih mudah dari pada hidup bersamaku.” kata Raka dengan nada pelan, tajam, dan menusuk

Dan Kata-kata itu berhasil membuat bulu kuduk Livia berdiri.

“Bos,” panggil Kael dengan sedikit mendesak, “waktunya-”

Raka mengangguk tipis. lalu tatapannya menoleh ke Livia lagi. “Kamu ikut bersamaku,”

“Aku nggak mau!” Livia mundur beberapa langkah. “Aku mau tetap di sini! Ini rumahku!” Ia menolak mentah-mentah ajakan Raka.

“Ini bukan rumah, karena rumah ini udah jadi kuburan.” katanya datar sembari menatap ruangan itu yang di mana, jasad ayah Livia terbujur kaku dalam genangan cairan merah.

Ucapan itu mampu menghancurkan sisa kekuatan Livia. Sehingga tanpa pikir panjang ia pun menyerang Raka. Dan untuk pertama kalinya ia menampar, memukul, mencakar seorang pria dengan semua kemarahan, duka, dan ketakutannya.

“Bunuh aku sekalian!” jeritnya.

Raka menahan kedua tangan Livia dengan mudah. Nafas mereka bertabrakan. Mata Livia merah, wajahnya basah oleh air mata.

“Kalau aku bunuh kamu, aku akan kehilangan satu-satunya kartu yang bisa bikin banyak orang ketakutan.” Ia berbisik di telinga Livia.

“Kamu gila! Kamu monster. Kamu jadikan aku-”

“Ya.” jawabnya singkat dengan nada dingin.

Raka melepaskan satu tangannya, lalu memberi isyarat pada Kael. “Siapkan mobil.”

Kael mengangguk dan pergi.

Sementara itu, Livia hanya bisa menggeleng putus asa. “Aku membencimu, Brengsek!”

“Aku tahu.”

“Aku bersumpah... aku bakal balas semua ini.” Livia bersumpah pada dirinya sendiri di depan pria itu disertai tatapan penuh kebencian, kemarahannya.

"Aku akan menunggu." Raka menatapnya datar.

Beberapa detik kemudian, Raka membungkuk dan mengangkat tubuh Livia begitu saja. Gadis itu menjerit, memukul dada Raka, menendang dengan sisa tenaganya.

“Turunkan aku! Dasar pembunuh!”

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur

    Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    38 > Titik Balik

    "DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    37 > Wajah Dari Masa Lalu

    Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan

    Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    35 > Di Antara Hidup Dan Perang

    Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit

  • Belenggu Membara Sang Penguasa    34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam

    Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status