LOGIN“Turunin aku sekarang!” teriaknya sambil memukul kaca mobil.
“Aku tidak sudi ikut bersamamu!” Livia terus berontak meminta turun dari mobil. Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi tantrumnya Livia. Saat ini, Raka hanya duduk dengan tenang, satu tangan bersedekap, wajahnya dingin seperti patung. Tatapannya lurus ke depan, seolah Livia bukan manusia, hanya barang bawaan. “Kamu denger aku, kan?” suara Livia bergetar sembari menoleh ke arah Raka. Lagi dan lagi, dalam mobil itu hening tanpa jawaban. Raka sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi ocehan Livia. Dan hal itu membuat Livia semakin kesal. “Jawab aku, Brengsek!” bentaknya dengan penuh emosi. Akhirnya Raka melirik sekilas. “Teruslah berteriak, maka aku akan menyuruh mereka untuk mengikat serta membungkammu!" tegasnya sambil sedikit mengancam. Livia tercekat ketika mendengar ucapan itu membuat tenggorokan. Ia menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi yang menumpuk jadi satu antata takut, marah, dan duka. “Kamu pikir aku takut sama kamu, hem?” katanya lirih namun penuh kebencian. Raka tersenyum tipis. “Aku tahu.” Livia tertawa getir. “Aku benci kamu.” makinya. “Dan aku juga nggak minta kamu buat suka.” Kini Mobil memasuki jalan tol. Kecepatannya bertambah, suara mesin mendengung berat. Livia memeluk tubuhnya sendiri, ia baru menyadari jika jemarinya dingin dan gemetar. . “Kamu akan membawaku ke mana?” akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya meski dengan suara melemah. “Ke tempat yang aman.” “Pembohong. Aman buat siapa?” “Buat aku.” Livia memejamkan matanya ketika mendengar jawaban itu. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya perlahan. “Aku masih tidak percaya… kenapa kamu membunuh Papa?” tanya gadis itu, suaranya nyaris tak terdengar. Mendengar itu,Raka tak langsung menjawab. Namun, beberapa detik berlalu sebelum ia bersuara, datar, dingin dan tanpa rasa bersalah. “Ayahmu main terlalu jauh.” “Itu bukan jawaban.” “Hanya itu, jawaban yang aku punya.” Livia menoleh tajam. “Papa bukan penjahat!” tegas Livia dengan penuh keyakinan. Raka terkekeh pelan. “Semua orang bilang begitu tentang orang yang mereka cintai.” “Kamu nggak berhak ngomong soal cinta!” “Justru karena aku nggak percaya cinta, aku masih hidup sampai sekarang.” timpal Raka dengan tatapan yang cukup lama. Matanya gelap, dalam, dan berbahaya. Kalimat itu menghantam Livia tanpa suara. Ada sesuatu dalam nada Raka... bukan luka yang terbuka, tapi dingin yang terbentuk dari luka lama. gadis itu segera membuang muka. “Aku nggak peduli sama masa lalumu.” “Bagus. Karena aku juga nggak peduli sama air matamu.” ucapnya datar. Setelah beberapa saat kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi tinggi dengan lampu sorot menyala, dan itu memperlihatkan bangunan besar bergaya modern yang terasa lebih seperti benteng dari pada rumah. Kini, gerbang terbuka perlahan. Mobil itu masuk dan berhenti tepat di depan pintu utama. “Keluar,” kata Raka singkat, lebih seperti perintah. “Aku nggak mau.” Gadis itu tak menuruti perkataan Raka. Pria itu turun lebih dulu, lalu membuka pintu Livia. Tanpa banyak bicara, ia menarik lengan gadis itu. “Lepasin!” Livia memberontak. “Jangan sentuh aku, Pria kasar!” bentaknya. “Kalau aku kasar, kamu udah pingsan dari tadi.” “Aku lebih milih mati! Dari pada kamu sentuh,” Raka mendekatkan wajahnya. “Berhenti ngomong soal mati. Kamu belum pantas untuk itu.” Ucapan itu membuat Livia terdiam. Bukan karena setuju, tapi karena lelah. Ia benar-benar lelah melawannya, bahkan untuk berteriak pun rasanya tidak bisa. Saat ini ia hanya bisa menurut. Gadis itu melangkah masuk dengan kaki gemetar. Livia melihat sekelilingnya, interior rumah itu dingin, dinding tinggi berwarna gelap, lantai marmer hitam mengkilap, dan lampu-lampu redup yang menciptakan bayangan panjang. Tak ada sentuhan hangat, tak ada tanda kehidupan. “Ini bukan rumah, ini terkesan seperti penjara,” gumam Livia. Raka menoleh ke arah gadis itu. “Kamu cepat belajar.” Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan mendekat. Wajahnya datar, sorot matanya dingin namun penuh perhitungan. “Dia-?” tanyanya seraya menoleh ke arah Livia. Raka mengangguk cepat, memotong pertanyaan wanita itu. “Siapkan kamar untuknya,” titah Raka. “Kamar tamu?” tanya wanita itu untuk sekadar memastikan. “Tidak.” Raka menatap Livia. “Tapi, kamar pengawasan.” Livia tersentak. “Kamu gila! Aku bukan tahanan!” “Ya, tapi kamu saksi.” “Itu sama aja!” Raka mendekatkan tubuhnya pada gadis itu. “Mulai sekarang, semua hal tentang kamu… aku yang atur.” “Aku bukan milikmu!” “Belum. Dan kamu sudah tak punya kendali apapun atas nyawamu sendiri,” Nada Raka rendah. “Tapi kamu akan terbiasa.” lanjutnya. Gadis itu melangkah pergi tanpa berkata apa-apa. Livia menatap Raka dengan mata basah namun penuh perlawanan. “Kamu pikir kamu menang?” Raka mendekat satu langkah. “Aku selalu menang.” jawabnya penuh percaya diri. “Kamu bakal jatuh.” “Mungkin.” Ia menunduk sedikit. “Dan kamu akan jatuh bersamaku.” Livia tersenyum miring. “Aku bakal jadi mimpi burukmu.” Raka membalas senyum itu, tipis dan berbahaya. “Dan aku udah hidup di mimpi buruk sejak lama.” Raka berbalik, membelakangi gadis itu. “Bawa dia.” titahnya pada para pengawal di rumah itu. Dua pengawal mendekat. Livia berjalan di antara mereka, dadanya terasa kosong. Setiap langkah seperti menjauhkan dirinya dari hidup yang ia kenal. Saat pintu kamar tertutup di belakangnya, Livia terduduk lemas di lantai. Ruangan itu bersih, luas, namun sunyi. Tidak ada jendela yang bisa dibuka, hanya kaca tebal dengan teralis samar. “Papa....." bisiknya. “Aku bersumpah... aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri .” Livia memeluk lututnya, bahunya terguncang. Sementara di luar ruangan, Raka berdiri diam menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.. Sebelum akhirnya seseorang menghampirinya. “Bos, yakin?” tanya Kael begitu ia berada di dekat tuannya. Raka mengalihkan pandangan. “Yakin apa?” “Membawanya ke sini.” Raka mengepalkan tangannya. “Dia akan lebih berbahaya jika berada di luar.” . “Dan di dalam?” Raka terdiam sejenak. “Di dalam… dia akan jadi tanggung jawabku.” Kael mengangguk pelan. Kemudian Raka berjalan pergi meninggalkan kamar Livia dengan langkahnya yang mantap. Namun untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya, berupa sepasang mata penuh kebencian yang tidak memohon, tidak menyerah. Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa… tertantang. Bersambung...Pagi hari...Pagi ini datang tanpa nembawa cahaya yang hangat. Langit di luar jendela kamar Livia abu-abu, seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin.Suara tembakan masih terngiang di kepalanya.Dan wajah Raka yang dingin, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan itu... tengah berdiri di antara dirinya dan maut.“Brengsek…” gumamnya sambil mengusap wajah.Lalu ia bangkit perlahan. Gadis itu merasa tubuhnya terasa pegal, tapi bukan itu yang mengganggunya. Melainkan ada rasa asing di dadanya. Bukan rasa takut. Bukan rasa marah sepenuhnya. Melainkan sesuatu yang lebih menjengkelkan. Satu persatu pertanyaan muncul, yang ia sendiri pun tak tau jawabannya. Kenapa aku nggak dorong dia waktu itu? Kenapa aku tak membalasnya saat itu? Dan kenapa aku nggak membiarkannya celaka? Padahal itu waktu yang tepat.Dengan langkah kakinya yang lemas, Livia berjalan ke kamar mandi. Kini air dingin membasuh
“Brengsek!” seru Livia, kesal. Bagaimana ia tak kesal, ketika mengetahui bahwa pintu kamarnya kembali terkunci. Dan sesuai dugaannya bahwa posisinya di rumah itu tak jauh beda dengan seorang tawanan. Jemarinya meremas gagang pintu, menahan emosi yang menumpuk sejak semalam. Bukan cuma marah, tapi ia juga merasa terhina karena ia tak punya kendali atas hidupnya lagi. “Aku bukan tawanan, tapi kenapa kamu menahanku seperti ini,” lirih Livia, sembari menempelkan dahinya ke pintu. Ia menarik napas panjang. Sehingga tercium bau besi dingin dari gagang pintu yang terasa begitu nyata, seperti simbol dari semua yang merampas kebebasannya. Bahkan rumah ini pun terasa terlalu sunyi untuk disebut aman.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ia melangkah mundur dan berbalik membelakangi pintu. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.Setelah mendengar Livia mempersilakan masuk, Mara pun membuka pintu dengan wajah tenang. “Kamu diminta turun. Sekarang.” katanya pada Livia yang tengah berdi
Kamar Livia... Mesti pintu kamar itu tertutup dengan bunyi cukup pelan, namun efeknya seperti palu yang menghantam dada Livia. Kamar itu benar-benar sunyi, seolah dunia di luar berhenti bergerak. Dalam ruangan itu lampu temaram menyala redup, sehingga memantulkan bayangan tubuh gadis itu di lantai marmer hitam yang dingin.Livia menoleh ke sekeliling. Kamar itu besar, bersih, dan rapi. “Ini penjara,” gumamnya lirih. Meski kamar itu cukup besar, bersih dan rapi... Livia tak pernah merasa nyaman. Sebab posisinya di rumah itu hanyalah seorang tawanan yang berkedok saksi. Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mencoba memutar gagang pintu. Dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci. Mengetahui itu, tangan gadis itu mengepal, dengan rahangnya mengeras. Kini nafasnya mulai memburu, karena marah yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. “Brengsek…” desisnya.Livia menyandarkan punggung ke pintu lalu tubuhnya meluncur turun hingga duduk di lantai. Lututnya ia tarik ke dada, disertai
“Turunin aku sekarang!” teriaknya sambil memukul kaca mobil. “Aku tidak sudi ikut bersamamu!” Livia terus berontak meminta turun dari mobil.Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi tantrumnya Livia. Saat ini, Raka hanya duduk dengan tenang, satu tangan bersedekap, wajahnya dingin seperti patung. Tatapannya lurus ke depan, seolah Livia bukan manusia, hanya barang bawaan.“Kamu denger aku, kan?” suara Livia bergetar sembari menoleh ke arah Raka.Lagi dan lagi, dalam mobil itu hening tanpa jawaban. Raka sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi ocehan Livia. Dan hal itu membuat Livia semakin kesal.“Jawab aku, Brengsek!” bentaknya dengan penuh emosi.Akhirnya Raka melirik sekilas. “Teruslah berteriak, maka aku akan menyuruh mereka untuk mengikat serta membungkammu!" tegasnya sambil sedikit mengancam. Livia tercekat ketika mendengar ucapan itu membuat tenggorokan. Ia menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi yang menumpuk jadi satu antata takut, marah, dan duka.“Kam
Papa!" Livia berteriak histeris, suara tembakan memekakkan telinga, mengudara di tengah senyapnya malam."Pa, jangan tinggalin Livia, Pa." Tubuhnya ambruk, dunianya runtuh dalam satu detik. Menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung tak berdaya, di atas lantai marmer putih yang sekarang berubah warna dengan bau anyir menyengat. Mata Livia membelalak, napasnya tercekat, sementara kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia buru-buru melangkah mundur, memilih bersembunyi di balik lemari besar. Tangannya yang tremor ia gunakan untuk membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tak pecah dan mereka menyadari keberadaannya. "Bos, target sudah—" "Tutup mulutmu, sialan!" Pria itu mengumpat, memotong kalimat yang belum usai anak buahnya lontarkan. Livia mencoba mengintip dari celah kecil pintu lemari. Di sana, pria itu berdiri. Tubuhnya tinggi, dan tegap. Auranya mengerikan, tak peduli dengan mayat yang tergeletak di sisinya berdiri. Tanpa merasa bersalah, pria itu mengeluarkan sapu tangan hitam d







