เข้าสู่ระบบ
Aneya memutuskan untuk melamar kerja. Rencana tabungan pernikahan yang benar-benar tidak bertambah, tuntutan hidup, serta hubungan yang perlahan berubah menjadi rangkaian percakapan yang selalu berujung pada tuntutan.
Menjadikan sebuah hal yang paling mendesak di dalam dadanya sejak beberapa bulan terakhir. Ia sadar bahwa ia tidak harus menjalani hidupnya dengan stagnan dan bergantung pada keadaan. Aneya duduk pada sebuah kedai kopi yang sudah terlalu akrab baginya. Meja kayu di sudut ruangan, stop kontak yang selalu ia gunakan, bahkan alunan musik akustik yang diputar sore itu terasa seperti mengulang hari dengan keadaan yang sama. Waktu terasa kabur ketika hari-hari yang ia jalani diisi dengan pola yang serupa. Laptop terbuka di hadapannya, di monitornya menampilkan Daftar Riwayat Hidup yang sedang ia revisi untuk kesekian kalinya. Dibacanya ulang setiap baris kata, memastikan tidak ada kesalahaan ejaan atau informasi yang terlewat. Ia tahu sebagian besar perekrut mungkin hanya akan melirik sekilas sebelum beralih ke berkas berikutnya. Namun, tetap saja Aneya ingin memastikan semuanya terlihat rapi. “Kau lagi-lagi terpaut dengan aktivitas yang sama, untuk apa lagi kau mengurus lamaran kerjamu itu,” ujar seseorang. Aneya mendongak ke arah sumber suara. Arya berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan datar sembari bersedikap dada. Sorot matanya tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada apa yang sedang Aneya perjuangkan. “Aku sedang memperbaiki berkas lamaranku. Aku butuh kerja, Arya,” ucap Aneya lirih. “Kau tidak merasa lelah dengan hasil yang tetap seperti itu?” cemooh Arya. “Aku sedang berusaha, tenangkan dirimu,” balas Aneya. “Kita butuh kepastian, tabungan pernikahan kita tidak bertambah. Kau masih saja berputar di tempat yang sama, hasilnya pun nihil. Berusaha juga tidak cukup jika tidak ada hasilnya,” gerutu Arya. Jeda singkat tercipta di antara mereka berdua. Aneya menatap pria di depannya, mencoba mencari sisa-sisa empati yang dulu pernah ada. Aneya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima jarak yang kian renggang dan sifat dingin milik Arya. Pria itu terasa seperti orang asing yang mengenal dirinya cukup lama. “Apakah ada perempuan lain selain diriku?” tanya Aneya. Suara Aneya bergetar tipis. Namun, ia berusaha menahannya. Arya terdiam sesaat. Tawanya pecah saat itu juga, ia tertawa tanpa humor. “Kau ini bicara apa?! Sudahlah, berhenti menuduhku selingkuh!” pungkas Arya, “daripada memikirkan hal yang tidak beres, lebih baik kau fokus pada tanggung jawabmu. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan saja kau tidak bisa.” Kalimat itu langsung menusuk di dada Aneya. Ia menerima hujaman verbal itu tanpa aba-aba. “Tapi … kau mau kemana?” tanya Aneya lirih “Ada urusan,” sahut Arya datar. Urusan yang sama sekali tidak pernah ia jelaskan. Pria itu pergi begitu saja dari hadapan Aneya, meninggalkannya dengan laptop yang masih terbuka dan minuman yang semakin terasa hambar. Musik di belakang Aneya masih terus mengalun, tawa pengunjung lain terdengar samar. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa, seolah percakapannya dengan Arya barusan tidak pernah terjadi. Sementara itu, ia juga masih terpaku pada tempatnya, bahkan untuk menghirup udara saja membuat paru-parunya terasa berat. Tekanan batin dan tekanan ekonomi beradu di kepalanya, menciptakan kebisingan yang hanya bisa didengar oleh dirinya. Aneya memesan minuman seperti biasa, lalu kembali duduk. Tangannya bergerak membuka kembali berkas lamaran, kali ini dengan tekad yang bercampur lelah. “Harus berapa gelas cokelat dingin lagi agar hidupku tidak terus-terusan seperti ini?” batinnya getir. Ia sadar bahwa hubungannya dengan Arya sudah sangat jauh berubah. Pria itu semakin dingin dan menjadi posesif yang tidak bisa dijelaskan, bahkan terlalu sering membuatnya merasa bersalah. Tudingan perihal Arya yang selingkuh bukan lagi sebatas rumor, Aneya sudah terlalu sering mendengar, memergoki serta terlalu sering memaafkan pria tersebut. Aneya bahkan kehilangan beberapa teman akibat ulah Arya. Namun, entah kenapa ia masih memilih bertahan dan berharap pria itu akan berubah, walaupun dengan harapan yang semakin tipis. Pandangan Aneya teralihkan ke arah luar kedai, sebuah cahaya terang menarik perhatiannya. Sebuah videotron menyala tidak jauh dari posisinya, berdiri tegak di antara lalu lintas yang mulai padat. Pada videotron itu terpampang informasi rekrutmen sebuah perusahaan yang sedang merekrut sekretaris. Ketika menangkap deretan kata tersebut, Aneya mengerutkan sedikit dahinya. Ia berdiri, berpindah ke area luar agar bisa melihat lebih jelas. Udara malam menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal dan kendaraan yang lalu-lalang. Aneya kemudian memicingkan mata, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi dari kelelahan. “Perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera ingin merekrut sekretaris?” gumam Aneya. Dengan gerakan cepat, Aneya mengeluarkan ponsel dan memotret layar itu. Ia memperbesar gambar yang diambilnya dan membaca setiap detail dengan saksama. Alamat surel, persyaratan umum dan kontak yang tertera pada iklan tersebut ia perhatikan satu per satu. Nama perusahaan itu terdengar asing di telinganya. Namun, desain selebarannya sederhana, rapi dan tidak berlebihan. Tidak ada janji manis murahan yang terasa muluk, tidak ada pula kata-kata hiperbola seperti yang sering ia temui pada lowongan kerja abal-abal. Malam itu, Aneya membuka laptopnya kembali. Ia menyusun ulang berkas lamaran dengan lebih teliti. Portofolio ia rapikan, pengalaman sebagai asisten dosen ia jabarkan dengan jelas, riwayat organisasi ia susun singkat namun padat. Rasa ragu yang ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih berani. Tanpa menunggu rasa takut kembali mengambil alih, ia langsung mengirim surat lamaran serta berkas pendukung pada surel yang tertera di informasi rekrutmen itu. Ia tidak tahu apakah lamaran itu akan dibalas. Namun, setidaknya ia sudah mengambil satu langkah. Ada keraguan, harap dan kelelahan yang bercampur menjadi satu di dalam jiwa Aneya. Baginya, ini bukan lagi soal percaya atau tidak percaya. Ini hanya soal bertahan sedikit lebih lama sebelum mengetahui hasil dari semuanya. Ia menutup laptop perlahan. Tidak ada perasaan lega yang berlebihan, hanya kesadaran bahwa ia telah mengambil satu langkah. Tak lama kemudian, Arya kembali menjemputnya. Aneya duduk di jok belakang motor, memandangi jalan yang terbentang di depannya. Lampu-lampu kota memantul di aspal yang gelap. Aroma asing yang berasal dari Arya kembali menyergapnya, manis dan terlalu familiar. Aneya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Beberapa menit kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar pelan di tangannya. Pertanda ada sebuah notifikasi yang masuk. “Selamat malam, Nona Aneya. Lamaran Anda telah kami terima. Kami akan segera menghubungi Anda kembali untuk jadwal wawancara di Bhaskara Karya Sejahtera berikutnya, tertanda Ravin Bhaskara” celetuk isi surel tersebut. Senyum kecil terbit di wajah Aneya. Ada rasa gugup, takut, sekaligus lega yang bercampur menjadi satu. Perasaan yang terasa ringan dan jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Sepersekian detik kemudian Aneya mengernyitkan alisnya, ia membaca kembali isi surel tersebut. Terasa ada sesuatu yang aneh. “Ravin Bhaskara? Apakah dia direktur dari perusahaan tersebut?” batin Aneya. Sedikit yang Aneya tahu bahwa nama dan bayangan miliknya telah ditandai oleh perusahaan tersebut. Sebuah pertemuan telah terjadwal yang akan ia hadapi nantinya. Motor terus melaju, membawa Aneya menjauh dari kedai kopi itu. Aneya yang menatap jalan panjang di depannya malam itu, belum menyadari bahwa keputusan kecilnya di kedai kopi akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengubah seluruh hidupnya.“Jangan khawatir, itu bukan sesuatu yang membuatmu terlihat salah di mataku,” sahut Ravin seraya tersenyum. Aneya menatapnya beberapa saat. Senyum Ravin masih bertahan, hangat dan tanpa ada kesan menghakimi. Kalimat tersebut mampu membuat Aneya meyakini dirinya sendiri bahwa itu bukan sepenuhnya hal yang salah. Beberapa detik kemudian, Ravin kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. Tangannya yang tadi sempat mengusap rambut Aneya turun perlahan dan kembali menggenggam setir. “Terima kasih sudah meyakinkanku,” gumam Aneya pelan. Aneya membiarkan kepalanya bersandar pada jok. Ia menatap sisi wajah Ravin dari samping, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Setidaknya, ia tidak perlu merasa malu hanya karena pikirannya sempat dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Halaman perusahaan milik Ravin mulai terlihat di ujung jalan. Begitu mobil memasuki area parkir, Aneya mengenali deretan kendaraan yang tertata rapi di sekitar gedung. Ravin mengarahkan mobil ke tempat biasanya, pria itu
Aneya memperhatikan gerakan ibu jari Ravin yang menyentuh layar ponsel. Sesaat kemudian, suara dari seberang terdengar lebih jelas memenuhi kabin. Ravin rupanya mengaktifkan pengeras suara. Ia spontan menegakkan tubuh. Pandangannya memperhatikan ponsel di tangan Ravin, menunggu jawaban yang akan terdengar dari sana. “Kami sudah memeriksanya kembali, Pak, semuanya aman. Dia tetap berada pada jarak yang aman di dalam ruangannya,” jawab suara bariton dari seberang. Aneya menahan napas, tetapi mencoba menghembuskannya secara perlahan. Ravin tidak langsung membalas, tatapannua tetap lurus ke jalan, sementara satu tangannya menggenggam kemudi lebih erat. “Periksa tanda-tanda lainnya,” ujar Ravin, “apa ada kemungkinan dia sempat mencoba keluar tanpa sepengetahuan kalian?” “Seperti apa, Pak?” sahut suara dari ponsel terdengar bingung. “Masuk ke ruangannya dan periksa area sekitar, apabila kalian menemukan pembungkus makanan dari restoran cepat saji, maka ia sempat berhasil melarik
“Cepat sekali perginya,” sambung Ravin setengah berbisik. “Itu yang membuatku semakin bingung,” ujar Aneya pelan dengan pandangan yang masih tertuju pada tempat yang sama tersebut. Aneya mengembuskan napas panjang. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menetap di dadanya, terlebih setelah semua yang terjadi belakangan ini. Ia masih mencoba mengingat kembali wajah pria tersebut, berharap ingatannya tidak keliru. “Kita kembali ke kantor saja, sambil menunggu kabar dari mereka. Semoga saja tidak ada gerakkan tambahan yang dibuat oleh Arya,” kata Ravin kemudian. Aneya menoleh kepadanya. Ia tidak banyak berdebat dan hanya mengangguk kecil. Mereka pun berlalu meninggalkan area tersebut. Aneya berjalan di sisi Ravin menuju pintu keluar, tetapi beberapa kali ia masih sempat melirik ke belakang. Berharap sosok yang tadi dilihatnya tiba-tiba muncul dari arah mana saja di area restauran itu. Begitu pintu restoran terbuka, udara dari luar menyambut wajahnya. Aneya menarik napas dalam-dalam sebe
Tatapan Ravin tertahan beberapa saat. Aneya menangkap sesuatu yang berbeda di sana, ada kecemasan yang disembunyikan di balik wajah pria itu yang tetap berusaha tenang. Rahangnya memang sempat mengeras, tetapi Ravin masih mengatur napasnya perlahan, seolah tidak ingin membuat kegelisahan Aneya semakin buruk. “Aku tahu ini membuatmu khawatir, tapi kumohon padamu untuk tetap tenang. Kita belum tahu apakah pria itu benar-benar Arya. Jangan sampai kita membuat kesimpulan sebelum memastikan semuanya,” ujar Ravin rendah. Aneya mengangguk kecil, meski jemarinya masih saling menggenggam di atas meja. Cara Ravin berbicara sedikit meredakan sesak di dadanya, tetapi bayangan sosok yang tadi dilihatnya masih terus berputar di kepala. Ravin tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakan pria itu membuat Aneya refleks mendongak, matanya mengikuti Ravin yang kini mengambil beberapa langkah menjauh dari meja. “Tunggu di sini, tidak akan lama,” kata Ravin dengan suara yang perlahan memudar. Aneya
“Lagipula aku tidak ingin tenagamu habis hanya karena memikirkannya, aku tidak melarangmu bercerita, aku harap kau tidak mengartikan seperti itu,” lanjut Ravin dengan senyum hangat yang menghias wajahnya. Aneya mengangguk kecil, senyum tipis sempat terukir sebelum ia kembali mengambil sepotong ayam di hadapannya. Percakapan tentang masa lalu perlahan mereka tinggalkan. Kini, yang terdengar hanya suara bungkus makanan yang sesekali bergesekan, denting es di dalam gelas minuman, dan tawa kecil yang muncul di sela-sela obrolan ringan mereka. Untuk beberapa saat, Aneya membiarkan dirinya menikmati makan siang itu tanpa memikirkan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Kehadiran Ravin saat ini membuatnya mampu mengalihkan hal yang sempat mengganggu pikiran. Ravin meletakkan bungkus makanan setelah suapan terakhir. “Tunggu di sini, biar aku yang bayar.” Aneya spontan menahan tangan pria tersebut. Bahkan sebelum Ravin sempat berdiri. “Biar aku saja,” cegah Aneya, “sesekali aku yang
Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli
“Baik, Pak,” jawab Aneya, “hanya saja, saya tidak ingin merepotkan,”“Jangan berpikir seperti itu,” ujar Ravin.Nada suara pria itu terdengar tenang, tidak menekan. Aneya mengangguk kecil. Ia tidak menambahkan apa pun lagi.Aneya dapat merasakan sisi lembut pria itu sesaat. Ravin tidak berkata apa-
“Lepaskan,” perintah suara itu lagi.“Kau tidak punya hak menyuruhku. Akan ku buat jalang simpananmu ini menderita!” gertak Arya.Kalimat itu jatuh seperti benda tumpul yang menghantam telinga Aneya. Nafasnya tercekat. Sebelum sempat memahami sepenuhnya makna kata-kata itu, tarikan di rambutnya se
“Oh ayolah, mengapa terasa susah bagimu. Aku hanya mengajakmu untuk bertemu sebentar,” paksa Arya dari seberang.“Kalau aku bilang tidak mau, berarti aku tidak mau!” jelas Aneya sedikit meninggi.“Sialan! Bahkan ketika aku coba meminta maaf, kau masih jual mahal, wanita lain tidak ada yang seperti
Aneya tertegun dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar dari Ravin. Ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan itu tanpa harus memberitahukan pada Ravin tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.“Saya sedikit tidak sabar untuk menghadapi pertemuan hari ini, makanya jam tidur saya semalam sedik







