共有

Benih Cinta Dalam Ruang Direktur
Benih Cinta Dalam Ruang Direktur
作者: Lavenhaze

Bab 1

作者: Lavenhaze
last update 公開日: 2025-12-06 10:17:08

Aneya memutuskan untuk melamar kerja. Rencana tabungan pernikahan yang benar-benar tidak bertambah, tuntutan hidup, serta hubungan yang perlahan berubah menjadi rangkaian percakapan yang selalu berujung pada tuntutan.

Menjadikan sebuah hal yang paling mendesak di dalam dadanya sejak beberapa bulan terakhir. Ia sadar bahwa ia tidak harus menjalani hidupnya dengan stagnan dan bergantung pada keadaan.

Aneya duduk pada sebuah kedai kopi yang sudah terlalu akrab baginya. Meja kayu di sudut ruangan, stop kontak yang selalu ia gunakan, bahkan alunan musik akustik yang diputar sore itu terasa seperti mengulang hari dengan keadaan yang sama. Waktu terasa kabur ketika hari-hari yang ia jalani diisi dengan pola yang serupa.

Laptop terbuka di hadapannya, di monitornya menampilkan Daftar Riwayat Hidup yang sedang ia revisi untuk kesekian kalinya. Dibacanya ulang setiap baris kata, memastikan tidak ada kesalahaan ejaan atau informasi yang terlewat.

Ia tahu sebagian besar perekrut mungkin hanya akan melirik sekilas sebelum beralih ke berkas berikutnya. Namun, tetap saja Aneya ingin memastikan semuanya terlihat rapi.

“Kau lagi-lagi terpaut dengan aktivitas yang sama, untuk apa lagi kau mengurus lamaran kerjamu itu,” ujar seseorang.

Aneya mendongak ke arah sumber suara. Arya berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan datar sembari bersedikap dada. Sorot matanya tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada apa yang sedang Aneya perjuangkan.

“Aku sedang memperbaiki berkas lamaranku. Aku butuh kerja, Arya,” ucap Aneya lirih.

“Kau tidak merasa lelah dengan hasil yang tetap seperti itu?” cemooh Arya.

“Aku sedang berusaha, tenangkan dirimu,” balas Aneya.

“Kita butuh kepastian, tabungan pernikahan kita tidak bertambah. Kau masih saja berputar di tempat yang sama, hasilnya pun nihil. Berusaha juga tidak cukup jika tidak ada hasilnya,” gerutu Arya.

Jeda singkat tercipta di antara mereka berdua. Aneya menatap pria di depannya, mencoba mencari sisa-sisa empati yang dulu pernah ada.

Aneya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima jarak yang kian renggang dan sifat dingin milik Arya. Pria itu terasa seperti orang asing yang mengenal dirinya cukup lama.

“Apakah ada perempuan lain selain diriku?” tanya Aneya.

Suara Aneya bergetar tipis. Namun, ia berusaha menahannya.

Arya terdiam sesaat. Tawanya pecah saat itu juga, ia tertawa tanpa humor.

“Kau ini bicara apa?! Sudahlah, berhenti menuduhku selingkuh!” pungkas Arya, “daripada memikirkan hal yang tidak beres, lebih baik kau fokus pada tanggung jawabmu. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan saja kau tidak bisa.”

Kalimat itu langsung menusuk di dada Aneya. Ia menerima hujaman verbal itu tanpa aba-aba.

“Tapi … kau mau kemana?” tanya Aneya lirih

“Ada urusan,” sahut Arya datar.

Urusan yang sama sekali tidak pernah ia jelaskan. Pria itu pergi begitu saja dari hadapan Aneya, meninggalkannya dengan laptop yang masih terbuka dan minuman yang semakin terasa hambar.

Musik di belakang Aneya masih terus mengalun, tawa pengunjung lain terdengar samar. Dunia di sekitarnya berjalan seperti biasa, seolah percakapannya dengan Arya barusan tidak pernah terjadi. Sementara itu, ia juga masih terpaku pada tempatnya, bahkan untuk menghirup udara saja membuat paru-parunya terasa berat.

Tekanan batin dan tekanan ekonomi beradu di kepalanya, menciptakan kebisingan yang hanya bisa didengar oleh dirinya. Aneya memesan minuman seperti biasa, lalu kembali duduk. Tangannya bergerak membuka kembali berkas lamaran, kali ini dengan tekad yang bercampur lelah.

“Harus berapa gelas cokelat dingin lagi agar hidupku tidak terus-terusan seperti ini?” batinnya getir.

Ia sadar bahwa hubungannya dengan Arya sudah sangat jauh berubah. Pria itu semakin dingin dan menjadi posesif yang tidak bisa dijelaskan, bahkan terlalu sering membuatnya merasa bersalah.

Tudingan perihal Arya yang selingkuh bukan lagi sebatas rumor, Aneya sudah terlalu sering mendengar, memergoki serta terlalu sering memaafkan pria tersebut.

Aneya bahkan kehilangan beberapa teman akibat ulah Arya. Namun, entah kenapa ia masih memilih bertahan dan berharap pria itu akan berubah, walaupun dengan harapan yang semakin tipis.

Pandangan Aneya teralihkan ke arah luar kedai, sebuah cahaya terang menarik perhatiannya. Sebuah videotron menyala tidak jauh dari posisinya, berdiri tegak di antara lalu lintas yang mulai padat.

Pada videotron itu terpampang informasi rekrutmen sebuah perusahaan yang sedang merekrut sekretaris. Ketika menangkap deretan kata tersebut, Aneya mengerutkan sedikit dahinya.

Ia berdiri, berpindah ke area luar agar bisa melihat lebih jelas. Udara malam menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal dan kendaraan yang lalu-lalang. Aneya kemudian memicingkan mata, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi dari kelelahan.

“Perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera ingin merekrut sekretaris?” gumam Aneya.

Dengan gerakan cepat, Aneya mengeluarkan ponsel dan memotret layar itu. Ia memperbesar gambar yang diambilnya dan membaca setiap detail dengan saksama. Alamat surel, persyaratan umum dan kontak yang tertera pada iklan tersebut ia perhatikan satu per satu.

Nama perusahaan itu terdengar asing di telinganya. Namun, desain selebarannya sederhana, rapi dan tidak berlebihan. Tidak ada janji manis murahan yang terasa muluk, tidak ada pula kata-kata hiperbola seperti yang sering ia temui pada lowongan kerja abal-abal.

Malam itu, Aneya membuka laptopnya kembali. Ia menyusun ulang berkas lamaran dengan lebih teliti. Portofolio ia rapikan, pengalaman sebagai asisten dosen ia jabarkan dengan jelas, riwayat organisasi ia susun singkat namun padat.

Rasa ragu yang ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih berani. Tanpa menunggu rasa takut kembali mengambil alih, ia langsung mengirim surat lamaran serta berkas pendukung pada surel yang tertera di informasi rekrutmen itu.

Ia tidak tahu apakah lamaran itu akan dibalas. Namun, setidaknya ia sudah mengambil satu langkah.

Ada keraguan, harap dan kelelahan yang bercampur menjadi satu di dalam jiwa Aneya. Baginya, ini bukan lagi soal percaya atau tidak percaya. Ini hanya soal bertahan sedikit lebih lama sebelum mengetahui hasil dari semuanya.

Ia menutup laptop perlahan. Tidak ada perasaan lega yang berlebihan, hanya kesadaran bahwa ia telah mengambil satu langkah.

Tak lama kemudian, Arya kembali menjemputnya. Aneya duduk di jok belakang motor, memandangi jalan yang terbentang di depannya. Lampu-lampu kota memantul di aspal yang gelap.

Aroma asing yang berasal dari Arya kembali menyergapnya, manis dan terlalu familiar. Aneya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri.

Beberapa menit kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar pelan di tangannya. Pertanda ada sebuah notifikasi yang masuk.

“Selamat malam, Nona Aneya. Lamaran Anda telah kami terima. Kami akan segera menghubungi Anda kembali untuk jadwal wawancara di Bhaskara Karya Sejahtera berikutnya, tertanda Ravin Bhaskara” celetuk isi surel tersebut.

Senyum kecil terbit di wajah Aneya. Ada rasa gugup, takut, sekaligus lega yang bercampur menjadi satu. Perasaan yang terasa ringan dan jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

Sepersekian detik kemudian Aneya mengernyitkan alisnya, ia membaca kembali isi surel tersebut. Terasa ada sesuatu yang aneh.

“Ravin Bhaskara? Apakah dia direktur dari perusahaan tersebut?” batin Aneya.

Sedikit yang Aneya tahu bahwa nama dan bayangan miliknya telah ditandai oleh perusahaan tersebut. Sebuah pertemuan telah terjadwal yang akan ia hadapi nantinya.

Motor terus melaju, membawa Aneya menjauh dari kedai kopi itu. Aneya yang menatap jalan panjang di depannya malam itu, belum menyadari bahwa keputusan kecilnya di kedai kopi akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 197

    “Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 196

    “Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 195

    Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 194

    “Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 192

    “Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 81

    “Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 74

    “Aku serius,” jawab Ravin, “memaksakan diri hanya akan memperparah dan membuatmu semakin lelah.” Mereka akhirnya tiba di depan pintu ruangan Aneya. Ravin dengan cepat meraih gagang pintu dan membukanya, pria itu mempersilakan Aneya untuk masuk. “Padahal kau tidak perlu repot-repot seperti itu,”

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status