เข้าสู่ระบบDua minggu berlalu sejak malam itu dan tidak ada apa pun yang berubah. Aneya belum mendapat kabar dari perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera.
Aneya masih membuka kotak surel setiap pagi dengan harapan yang sama dan menutupnya kembali dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar tenang. Aneya mencoba menghubungi Arya, ia tidak meminta solusi dari pria itu, hanya kehadirannya guna mengalihkan pikirannya yang terus berputar pada kemungkinan terburuk. Alih-alih Pria itu menolak, Arya langsung mengindahkan permintaan Aneya dan tiba lebih cepat dari yang ia duga, beberapa kudapan juga dibawa oleh pria tersebut. Mereka berdua sempat larut dalam percakapan ringan. Untuk sesaat, Aneya hampir percaya bahwa kecemasannya cukup berlebihan untuk memikirkan surel yang telah ia kirim. Namun, kepercayaan itu runtuh secara perlahan, tepat ketika Arya mulai berbicara tanpa benar-benar menimbang kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Tidak mungkin perusahaan itu akan merekut orang sepertimu,” ucap Arya setengah bercanda, “kau hanya akan membuat atasanmu stres nantinya karena kau selalu merasa cemas berlebihan.” Aneya terdiam. Bukan karena ia kehabisan jawaban, melainkan karena ia sudah terlalu sering mendengar nada seperti itu. Dulu, Arya adalah orang yang selalu berada di sampingnya dan selalu menguatkan dirinya. Namun, entah sejak kapan perhatian itu berubah menjadi kritik dan kepedulian menjelma menjadi pembandingan yang melelahkan. Aneya bertahan karena ia masih percaya Arya akan kembali seperti dulu. Aneya tidak terima atas apa perkataan pedas yang telah keluar dari mulut Arya. Meskipun itu berkesan seperti candaan, tidak ada yang lucu sama sekali baginya. “Kandidat yang melamar pada posisi itu bukan hanya dirimu, mereka pasti lebih memilih kandidat yang punya jam terbang lebih tinggi ketimbang orang sepertimu,” balas Arya. “Kau keterlaluan! Lihat saja nanti jika aku sudah mendapatkan pekerjaan itu. Ketika status sosial kita sudah berbeda, kau tidak akan menjadi orang yang akan ku pilih untuk menghabiskan sisa hidup bersamaku!” tegas Aneya. Aneya menahan air mata yang hampir lolos keluar dari pelupuk matanya. Ia sempat merasa tidak percaya diri akibat perkataan Arya yang menggema di kepalanya. Sebuah pesan masuk dalam kotak surel Aneya. Matanya terbelalak dengan apa yang ia baca. “Selamat Siang, Nona Aneya. Lamaran Anda telah kami tinjau. Kami mengundang anda untuk mengikuti wawancara pada siang hari ini di PT Bhaskara Karya Sejahtera. Terima Kasih. Tertanda, Ravin Bhaskara,” tulis pesan surel itu. Jantungnya berdetak cepat. Antara gugup dan tidak percaya, netranya tetap terpaku pada surel itu. “Aku sudah menerima surel balasan lamaranku dari perusahaan itu, siang ini mereka mengundangku untuk mengikuti wawancara,” ungkap Aneya. Arya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Ia seolah tidak percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Aneya. “Tidak mungkin!” balas Arya. Aneya tidak merespon. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, wanita itu memilih untuk mempersiapkan berkasnya untuk sesi wawancara nanti. Arya berlalu tanpa banyak kata. Tidak ada pamit yang hangat, tidak ada jeda untuk menunggu, hanya kepergian yang dingin dan tergesa. Tangis Aneya pecah. Alih-alih membiarkan dirinya berlarut, Aneya kembali pada fokus utamanya dan bergegas. Di depan cermin, Aneya menarik napas panjang. Ia mengikat rambutnya, merapikan diri sekadarnya, lalu meraih tas. Aneya tiba di halaman perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera tepat pukul satu siang waktu setempat. Ia menggunakan jasa transportasi daring untuk mengantar dirinya. Mata Aneya masih sembap dibalik riasan yang bersemayam di wajahnya. Ia tidak memperdulikan hal kecil itu karena satu yang ia tahu, ia harus membuktikan bahwa cemoohan Arya itu tidak benar. Salah satu Petugas Keamanan yang berjaga tepat di pintu utama mempersilahkan Aneya untuk masuk dengan sangat ramah. Ia diarahkan menuju ke lobi utama untuk menunggu panggilan tes wawancara, decak kagumnya tak berhenti di luar saja, lagi-lagi Aneya terpukau melihat interior dan nuansa dari lobi kantor perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera. Terhitung satu jam lamanya Aneya menunggu, ia melihat sekitar tapi hanya beberapa karyawan yang berlalu lalang. Ia berusaha berprasangka baik, mungkin saja masih ada kandidat lain selain dirinya yang sedang melakukan tes wawancara lebih dulu. Aneya sibuk menggulirkan aplikasi yang berada di ponselnya. Kecemasannya masih ada, tapi lebih didominasi oleh rasa bosan. “Nona Aneya Naez?” celetuk seseorang. Aneya sontak mencari sumber suara tersebut dan dengan cepat menaruh ponselnya ke dalam tas, matanya membelalak ketika melihat seorang pria dengan setelan formal nan elegan kini berada tepat di hadapannya. Posturnya tegap, memiliki sorot mata tenang yang tajam. Aura dominannya juga terasa, membuat Aneya tanpa sadar meluruskan badannya. “Ah … iya, itu nama saya,” gagap Aneya. Pria itu tersenyum ringan sembari memberikan salah satu tangannya. Sebuah isyarat untuk berjabat tangan sebagai perkenalan dengan Aneya. “Ravin Bhaskara, direktur dari perusahaan ini,” ucap pria itu, “mari ikut saya.” Jantung Aneya berdegup kencang setelah menyambut uluran tangan dari pria itu. Aneya tidak menyangka bahwa ia akan diwawancarai langsung oleh direktur perusahaan yang ia lamar. Langkah kaki Ravin terlihat begitu mantap menyusuri koridor panjang. Aneya menelan salivanya dengan susah payah, ia sangat gugup. Derap langkah dari sepatu milik Ravin dan sepatu hak tinggi milik Aneya seakan mengikuti tempo yang saling bersahutan. Ravin membukakan pintu untuk Aneya, menampakan sebuah ruangan minimalis, sunyi, dingin dan dengan sedikit sentuhan aroma elegan, persis menggambarkan seorang Ravin. Pria itu kemudian mempersilahkannya duduk pada salah satu sofa yang berada di ruangan tersebut. “Sebelum kita mulai, saya akan meninjau kelengkapan berkas anda terlebih dahulu,” ucap Ravin seraya memeriksa berkas milik Aneya. Tanpa tergesa dan tenang, seperti itulah hasil analisa Aneya setelah membaca bahasa tubuh Ravin secara diam-diam. Dua menit berlalu dalam keheningan yang menekan. Rasa tegang kian berdesir di sepanjang aliran darah milik Aneya, ia terpaku menatap Ravin. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, pandangannya jatuh tepat di mata Aneya. “Sial,” cerca Aneya dalam hati. “CV anda menarik, kita akan mulai tesnya,” ujar Ravin. Ravin mulai memberikan pertanyaan tes wawancara pada Aneya. Pertanyaan yang dilontarkan begitu tajam, terstruktur dan memberi sedikit kesan jebakan halus. Walaupun keraguan menyelimuti Aneya, Ravin tetap menunggu setiap jawaban yang diberikan tanpa menyela. Aneya sebisa mungkin memberi kesan yang jujur dan apa adanya. Ia menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Aneya tidak sadar bahwa setiap jawaban yang ia berikan sedang dinilai, bukan hanya mencakup secara profesional, melainkan juga secara personal. Aneya merasa Ravin cukup puas dengan jawaban yang ia berikan. Saat hampir selesai, terlihat pria itu sedikit menarik napas dan menghembuskannya. Ravin menyandarkan tubuhnya dan memainkan pena di tangannya. “Baik, kita menuju ke pertanyaan terakhir,” ujar Ravin. Aneya menggigit bibir bawahnya. Ketegangan kian intens dirasakan, rasa tenangnya hanya bersifat sementara, saat ini netranya tidak teralihkan dari Ravin. “Apakah anda memiliki seorang kekasih? tanya Ravin “bagaimana anda melihat hubungan tersebut dalam lima tahun kedepan?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Untuk sesaat pikiran Aneya terpaku akan wajah Arya dan kata-katanya yang meremehkan dirinya. Pertanyaan bukan sembarang pertanyaan, bukan seperti pertanyaan standar. Aneya ingin menyimpan pertanyaan itu hanya untuk dirinya sendiri. “Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan yang satu ini?” gumam Aneya dalam hati.Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli
Ravin terkekeh pelan. “Kau pasti mulai merasa kepanasan.” “Benar. Cuaca hari ini membuatku gerah,” sahut Aneya sambil mengusap tengkuknya. Tanpa terlalu memikirkannya, ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Bukan untuk menarik perhatian dari Ravin, melainkan semata-mata agar udara terasa lebih lega di sekitar lehernya. Aneya kemudian mencondongkan tubuh ke arah panel pendingin udara. Jemarinya baru saja hendak menekan tombol ketika ia merasakan tatapan dari arah samping. Ia langsung menoleh dan Ravin sedang memandanginya. Tatapan pria itu tidak lagi setenang beberapa saat lalu. Matanya sempat turun sekilas sebelum kembali bertemu dengan pandangan Aneya, sementara senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. “Astaga!” seru Aneya dalam hati. Aneya terdiam. Baru menyadari posisi kemejanya, ia buru-buru merapikan bagian kerah yang terbuka. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aneya berusaha terdengar biasa. Ravin hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa bersalah
Ravin terkekeh pelan, entah dibagian mana yang membuat pria itu merasa lucu. Lirikan mata Ravin jatuh pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, sorot mata itu kemudian menatap Aneya dengan teduh. “Pantas saja kau bertanya seperti itu, sekarang sudah mendekati pukul Waktu Aneya Bagian Makan Siang,” canda Ravin yang sontak melepaskan tawanya. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mendorong pelan dada pria itu, sedangkan Ravin masih menyunggingkan senyum khas di wajah tampan itu. Ketika pria tersebut akhirnya mengambil sedikit jarak, Aneya memperhatikan dengan saksama jemari Ravin yang sibuk merapikan bagian depan kemeja, padahal tidak ada satu pun lipatan yang terlihat berantakan. “Biar aku saja,” kata Aneya cepat dan turut memperbaiki. Tangannya terulur untuk membenahi kerah kemeja Ravin. Gerakannya sempat terhenti ketika menyadari jarak mereka kembali begitu dekat. “Apa sekretarisku sengaja memperlambat waktu makan siang hanya untuk mendapatkan momen seperti ini?” goda
Aneya bergeming sesaat, sebelum ia kembali memberanikan diri menatap Ravin. Ia sempat berusaha menelan ludah sebelum membuka suara. “Aku hanya teringat sesuatu, seandainya dulu semuanya tidak berakhir seperti itu, mungkin sebagian uang ini sudah masuk ke tabungan yang pernah kami rencanakan,” aku Aneya jujur bernada lirih. Pria itu tidak menyela. Aneya perlahan menundukkan wajah, takut kalimatnya terdengar seperti tanda bahwa ia masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasihnya, Arya. “Aku tidak merindukannya, hanya … menyayangkan semuanya. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak rencana yang akhirnya harus dilepaskan begitu saja,” lanjut Aneya cepat. Tidak ada perubahan tajam pada wajah pria tersebut, tidak ada juga pertanyaan yang dilayangkan dimana membuat Aneya merasa harus membela diri. “Aku mengerti,” sahut Ravin sambil mengangguk pelan. Aneya mengangkat wajahnya. Ia mendapati air muka pria itu tampak biasa saja, tidak ada tanda secuil protes yang tak te
Kening Aneya berkerut. Ia menatap Ravin lekat, seolah mencoba memastikan pria itu sedang bercanda. “Ravin,” panggil Aneya, “bukankah tadi kau sudah berjanji?” Ravin mengembuskan napas pelan. Senyum tipis di wajah pria itu belum sepenuhnya hilang, tetapi sorot matanya berubah lebih lembut. “Aku ingat, dan aku tidak sedang membahas janji yang tadi,” balas Ravin sederhana. Pria tersebut terdiam sejenak. Aneya masih menatapnya, menunggu kalimat berikutnya. “Hal yang kumaksud adalah transfer setelah gajimu masuk. Anggap saja itu hadiah dariku,” lanjut Ravin dengan senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. Bibir Aneya terbuka hendak menyela. Namun, Ravin lebih dulu mengangkat telapak tangannya pelan, seolah memohon agar ia mendengarkan sampai selesai. “Tolong, jangan buru-buru menolaknya. Terimalah sebagai ketulusanku, bukan karena kau merasa berutang apa pun padaku,” tandas Ravin lebih lembut. Aneya terdiam. Pandangannya terus bertahan pada wajah Ravin, berusaha mencari se
Aneya duduk berhadapan dengan Ravin, dipisahkan oleh meja kerja yang sebulan lalu terasa begitu sulit ia dekati. Pandangannya menelusuri wajah pria itu dalam diam. Ia masih mengingat dengan jelas sosok Ravin yang pertama kali dikenalnya. Raut wajah dingin, sorot mata tajam, dan wibawa yang membuat siapa pun enggan berlama-lama menatapnya. Saat itu, Ravin terasa seperti dinding tinggi yang mustahil disentuh. Namun kini, yang ia lihat benar-benar berbeda. Garis tegas di wajah Ravin melunak, sudut bibirnya dihiasi senyum tipis, dan tatapannya tak lagi memancarkan tekanan yang dulu selalu membuat Aneya gugup. Sosok yang pernah terasa begitu jauh itu kini justru menjadi tempat yang paling membuatnya merasa tenang. “Sebelum aku memberikan gajimu, aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Ravin santai sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan senyum tipis yang masih bertahan di wajahnya. “Tentu, katakan saja,” sahut Aneya mengangguk tanpa ragu. “Kau ingin menerimanya dalam bentuk trans
Sedikit demi sedikit, seolah tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kedekatan itu, sementara pikirannya justru semakin kacau. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram lebih erat, dan setiap detik yang berlalu hanya membuatnya semakin sulit membedakan mana yang ingin ia hindari dan mana yang diam-diam ia
Persneling mobil menjadi batas yang sedikit mengganggu, decakan kesal Ravin dapat ditangkap oleh telinganya. Pria itu kemudian melepas pegangan yang bersemayam di pinggang Aneya saat menariknya mendekat beberapa detik lalu. Sorot matanya mengekor Ravin yang membuka pintu mobil tergesa, pria tersebu
“Sayangnya tidak, aku serius atas apa yang kukatakan. Jika dia tidak bisa berkomitmen, maka biarkan aku menjadi lelaki pertama yang membuktikan padamu akan hal tersebut,” jawab Ravin dengan tegas dan terdengar serius. Aneya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Nada pria itu bergema tidak main-mai
Aneya memutuskan untuk melamar kerja. Rencana tabungan pernikahan yang benar-benar tidak bertambah, tuntutan hidup, serta hubungan yang perlahan berubah menjadi rangkaian percakapan yang selalu berujung pada tuntutan. Menjadikan sebuah hal yang paling mendesak di dalam dadanya sejak beberapa bulan







