LOGIN“Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m
“Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria
“Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti
“Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara
“Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr
Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga
Aneya tertegun dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar dari Ravin. Ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan itu tanpa harus memberitahukan pada Ravin tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.“Saya sedikit tidak sabar untuk menghadapi pertemuan hari ini, makanya jam tidur saya semalam sedik
Panggilan itu telah terputus. Namun, gema suara pria itu masih tertinggal di kepala Aneya. Nada Arya yang singkat, respon yang dingin, semuanya menyatu menjadi satu kesan yang tidak bisa ia tepis begitu saja. Aneya menghela napas pelan, berusaha mengatur kembali raut wajahnya sebelum menoleh ke ara
Hari pertama bekerja hampir selesai. Sore datang tanpa benar-benar diminta. Cahaya matahari yang sejak siang menyelinap lewat kaca gedung perlahan memudar, berganti warna jingga pucat yang jatuh di sudut-sudut ruangan. Aneya baru menyadari waktu ketika matanya terasa perih dan bahunya kaku, ia meng
“Iya, Pak,” jawab Aneya mantap. Mereka masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara. Pintu lift menutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung, tetapi tidak sepenuhnya tidak nyaman. Aneya menatap angka lantai yang bergerak turun. Ia menyadari betapa sunyinya lift itu, hanya diisi suara de







