Mag-log inWaktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.
Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan. Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando. “Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kayu yang memenuhi ruangan. Eliza meletakkan nampan itu di atas meja tunggal yang bersih dari gulungan blueprint. “Makanlah,” perintah Eliza, suaranya melembut tanpa ia sadari. “Mengurusi pekerjaan seperti itu tak akan ada habisnya.” Javier terkekeh, suara rendahnya mengisi kekosongan studio itu. Ia duduk dan mulai menyantap masakan Eliza dengan antusiasme yang sama seperti semalam. Eliza berdiri di sana sejenak, mengamati bagaimana cahaya matahari jatuh di bahu tegap pemuda itu. “Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa bilang padaku,” kata Eliza, berniat segera pergi sebelum suasana menjadi terlalu intim. Namun, baru saja Eliza hendak melangkah, suara Javier menghentikannya. “Maaf, di mana saya bisa mencuci pakaian saya? Jujur saja, saya ke sini membawa beberapa pakaian kotor.” Eliza menoleh, menatap mata Javier yang menantikan jawaban. “Setelah makan siang, aku bisa tunjukkan di mana ruang cuci bajunya.” * Usai makan, Javier membawa piring dan nampan itu sendiri ke dapur. Eliza, yang sedang terduduk di sofa ruang tengah—mungkin setengah tertidur karena bosan yang mencekik—tersentak kaget mendengar suara kran air yang menyala. Ia bangkit dan mendapati punggung Javier yang sedang bergerak ritmis di depan wastafel, mencuci piring sisa makannya. Sebuah pemandangan yang mustahil dilakukan oleh Nando. Eliza segera menghampirinya. “Kamu tidak perlu mencucinya,” cegah Eliza. Javier menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang mematikan. “Setidaknya saya harus meringankan pekerjaan Anda.” Keheningan jatuh di antara mereka, hanya suara sisa tetesan air yang terdengar. Jantung Eliza berdegup sedikit lebih kencang saat menyadari betapa dekatnya mereka. “Oh ya, ruang cuci... aku akan mengantarmu.” Javier mengangguk. Dia berjalan di samping Eliza, masih mengenakan kemeja yang sama dengan pagi tadi. Kemeja yang sedikit berkerut, menandakan dia belum mengganti pakaiannya—sangat manusiawi dibandingkan Nando yang selalu tampil sempurna tanpa cela. “Kamu bisa pakai mesin cuci ini, dan menjemur di balkon sebelah ini.” Eliza membuka pintu geser kaca, membiarkan udara luar masuk. Javier mengangguk mengerti. Sementara itu, Eliza mulai mengambil jemuran yang sudah kering sejak pagi tadi. Tumpukan pakaian yang menggunung dan selimut tebal di tangannya menghalangi pandangan bawahnya. Ia tidak menyadari ada ganjalan di tengah pintu geser itu. Kaki Eliza tersandung. Tubuhnya limbung ke depan, jatuh menuju lantai balkon yang keras. “Nyonya!” Javier bergerak secepat kilat. Ia menangkap Eliza sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai. Dalam sekejap, Eliza merasakan tangan hangat Javier yang menggenggam erat kedua pergelangan tangannya, menopang berat tubuhnya. Napas Javier terasa di kening Eliza. Panas. Aromanya maskulin, bercampur sedikit wangi deterjen dan keringat yang tidak mengganggu. Anehnya, alih-alih segera menjauh, tangan Eliza seolah membeku. Ia tertegun, seakan jiwanya yang dingin baru saja menemukan sumber api. Apakah dia menyukai kehangatan dari Javier? “Anda tidak apa-apa?” tanya Javier, suaranya terdengar cemas tepat di depan wajahnya. Suara itu menyentak kesadaran Eliza. Ia segera menarik tangannya, meskipun sisa hangat dari jari-jari Javier masih terasa membekas di kulitnya. “Terima kasih.” Javier segera mengambil sebagian tumpukan pakaian yang berat itu dari tangan Eliza, meletakkannya dengan rapi di atas keranjang cucian bersih. “Terima kasih,” bisik Eliza lagi, kali ini tanpa berani menatap mata pemuda itu. * Malam harinya, meja makan kembali menjadi medan pertempuran sunyi. Orion sudah mengunci diri di kamarnya, memilih melewatkan makan malam daripada harus duduk dalam aura dingin orang tuanya. Sementara Nando? Seperti biasa, tidak ada kabar. Eliza duduk diam, menunggu suaminya seperti wanita bodoh yang telah diprogram untuk patuh. Namun, langkah kaki yang mendekat memecah lamunannya. Javier muncul, kehadirannya seolah membawa harapan di tengah kegelapan rumah ini. “Nyonya, Tuan Nando bilang pada saya di pesan meminta saya makan malam duluan,” katanya, berdiri di ujung meja. Eliza menarik napas panjang, menekan rasa kecewa yang sudah mendarah daging. “Kalau begitu kamu makan saja dulu. Di meja ini kamu bisa memakan yang mana saja.” Javier terdiam, tidak langsung mengambil piring. Ia menatap Eliza dengan tatapan yang sangat asing di rumah ini: tatapan peduli. “Bagaimana dengan Nyonya?” Eliza tersentak. Pertanyaan itu sederhana, namun sanggup meruntuhkan pertahanan yang ia bangun sepanjang hari. Sudah berapa lama tidak ada yang bertanya apakah dia sudah makan atau belum? “Bagaimana kalau Anda makan dengan saya? Karena sepertinya Tuan akan pulang larut lagi.” Eliza memandang Javier yang kini sudah duduk di hadapannya, menunggunya dengan sabar. Tak ada tuntutan, hanya ajakan tulus dari seorang pria yang melihatnya sebagai manusia. Eliza perlahan mengangguk, lalu mulai mengambil piringnya. * Sepanjang makan malam, ruang makan yang biasanya sedingin makam itu perlahan mencair. Eliza dan Javier mulai bercerita; untaian kalimat yang awalnya kaku berubah menjadi percakapan ringan yang mengalir begitu saja. Mereka menertawakan hal-hal kecil—kejadian sepele di dapur, hingga cerita-cerita konyol tentang adaptasi Javier di kota ini. Javier adalah pria yang berbahaya bagi wanita seperti Eliza. Dia sangat sopan, namun memiliki karisma alami yang membuatnya begitu asyik diajak bicara. Sudah terlalu lama Eliza tidak banyak bicara seperti ini; mengeluarkan kata-kata yang bukan sekadar laporan rumah tangga atau jawaban singkat atas perintah suaminya. Eliza bahkan sesekali terkekeh, suara tawa yang terdengar asing di telinganya sendiri. Ucapan-ucapan Javier yang tampak sepele ternyata mampu meringankan beban di hatinya, seolah pemuda itu sedang perlahan-lahan mencungkil duri yang telah lama tertancap di sana. Sementara itu, Orion yang baru saja keluar dari kamarnya hendak menuju dapur, mendadak menghentikan langkah. Ia mematung di koridor yang gelap, tersembunyi oleh bayang-bayang pilar rumah. Matanya terpaku pada sosok Eliza. Di sana, di bawah cahaya lampu gantung kristal yang mewah, ia melihat ibunya tersenyum. Bukan senyum palsu yang biasa Eliza tunjukkan saat menyambut tamu Nando, tapi senyum yang mencapai matanya. Eliza terkekeh, bahunya berguncang pelan, tampak begitu hidup dan... cantik. Orion berdiri diam, mengamati ibunya dari tempatnya berdiri. Hatinya berdenyut dengan rasa pedih yang aneh. Ia sendiri bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali ia melihat ibunya tersenyum seperti itu? Kapan terakhir kali rumah ini tidak terasa mencekam? Orion menatap Javier—pemuda asing yang baru tinggal sehari di rumah mereka, namun sudah berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Ayahnya selama belasan tahun: membuat Eliza merasa bahagia. Sebuah alarm kecil mulai berbunyi di kepala Orion, sebuah firasat bahwa kebahagiaan ini adalah awal dari sesuatu yang sangat rumit.Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wa
Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.Pandangan Eliza mengabur
Waktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan.Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando.“Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kay
Pukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi.Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.”Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai.“Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi
Detik jam dinding di ruang makan itu terdengar seperti palu yang memukul peti mati. Eliza terduduk kaku, sudah tiga jam ia terjebak dalam kesunyian yang mencekam di atas kursi kayu mahoni yang dingin. Matanya sesekali melirik angka yang terus merangkak naik, sementara perutnya terasa perih, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa cemas yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.Bukan sekali dua kali Nando melakukan ini. Suaminya adalah arsitek ulung yang mampu membangun struktur paling kokoh di kota ini, namun gagal membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri. Setiap kali Nando pulang terlambat, tak pernah ada kata maaf yang melintasi bibir pria itu. Kesalahannya selalu terkubur di bawah tumpukan cetak biru dan ambisi.“Mending Mama makan dulu,” suara Orion memecah keheningan.Anak laki-lakinya yang berumur 18 tahun itu berdiri di ambang pintu, menatap Eliza dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa jengah. Orion sudah makan lebih dulu di kamar. D







