Home / Rumah Tangga / Benih Terlarang / Bab 5: Membeli Kehangatan Terlarang

Share

Bab 5: Membeli Kehangatan Terlarang

Author: Intan SR
last update publish date: 2026-04-20 21:48:45

Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.

“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”

Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih.

Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.

Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.

“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.

Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.

“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wajah ibunya yang pucat pasi di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.

“Gak apa-apa,” jawab Eliza singkat, suaranya parau. “Kamu dijemput atau ke sana sendirian?”

“Mobil temen udah ada di bawah, aku dijemput,” jawab Orion. Dia ingin bertanya lebih jauh, merasakan ada sesuatu yang hancur di balik tatapan kosong ibunya, namun Eliza menunduk dalam, menyembunyikan luka yang terlalu berdarah untuk diperlihatkan.

Pintu tertutup pelan. Rumah itu kini hanya milik Eliza dan kesepiannya.

Ia menatap perban di telapak tangannya. Putih, bersih, dan dibalut dengan begitu hati-hati oleh Javier pagi tadi. Ia teringat hangatnya tangan pemuda itu, sentuhannya yang seolah menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga jiwanya yang mati suri. Di tengah pengkhianatan suaminya, Eliza merasakan haus yang luar biasa akan sentuhan itu lagi.

Ia beranjak, membersihkan diri dan mengenakan piyama sutra paling sensual yang ia miliki—sesuatu yang selama ini tak pernah dilirik oleh Nando. Dengan nampan berisi teh hangat sebagai alasan, ia melangkah menuju kamar Javier.

Ketukan pertama terasa sangat berat.

“Siapa?” suara bas Javier terdengar dari dalam.

“Ini aku,” jawab Eliza pelan.

Pintu terbuka seketika. Javier mematung di ambang pintu, matanya melebar saat melihat Eliza dalam balutan pakaian yang begitu provokatif. Dan Eliza? Napasnya tertahan. Di depannya, Javier berdiri tegap dengan tubuh yang nyaris sempurna di bawah cahaya lampu koridor. Kulitnya masih lembap, otot-otot perutnya tercetak jelas, dan pemuda itu... belum mengenakan atasan.

“Maaf saya baru saja mandi, saya akan memakai pakaian dulu,” Javier berbalik dengan canggung, namun Eliza tak bisa membuang pandangan sepenuhnya. Ada gairah yang mulai membakar dari dalam perutnya.

Setelah Javier berpakaian, Eliza masuk dan meletakkan teh di meja. Suasana kamar itu terasa sangat panas meski AC menyala.

“Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya Javier. Dia menyadari kegelisahan yang terpancar dari setiap gerak-gerik Eliza.

“Apa kamu bisa membantuku?” Eliza mendongak, menatap mata Javier dengan keberanian yang lahir dari rasa putus asa.

Javier menatapnya ragu, namun ia mengangguk patuh. “Jika saya bisa, saya akan membantu.”

Keheningan jatuh selama beberapa detik, begitu pekat hingga suara detak jantung Eliza seolah bergema di ruangan itu. Javier menunggu dengan sabar, menatap wajah majikannya yang tampak bimbang.

“Nyonya?” panggil Javier lirih.

“Tidurlah denganku malam ini,” ucap Eliza.

Javier mematung. Wajahnya membeku seolah waktu berhenti berputar. “Maaf... saya tidak salah dengar, kan?” tanyanya dengan senyum canggung yang dipaksakan.

Eliza menggeleng mantap, matanya mengunci mata Javier. “Tidak, kamu tidak salah dengar.”

Javier menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun. Ketegangan di antara mereka kini terasa seperti benang yang ditarik kencang, siap putus kapan saja.

“Aku akan membayarmu, berapapun itu,” tambah Eliza. Kalimat itu adalah bentuk pertahanan terakhirnya agar ia tidak terlihat seperti wanita yang sedang mengemis cinta.

“Nyonya... tapi...”

Air mata Eliza mulai mengambang di pelupuk matanya. Rasa malu, harga diri yang hancur karena penolakan dan rasa sakit karena diselingkuhi meledak menjadi satu. “Nando tidur dengan sekretarisnya malam ini di hotel, Javier.”

“Lalu Anda ingin membalasnya?” tanya Javier, suaranya kini terdengar lebih dalam, lebih gelap.

Eliza mengangguk. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma sabun dari tubuh Javier memenuhi indranya. Dengan tangan gemetar, ia menarik tengkuk Javier ke arahnya dan mengecup bibir pemuda itu.

Javier membulatkan mata, tubuhnya menegang menerima serangan yang tiba-tiba. Ia sempat ingin mundur, sebuah sisa dari akal sehatnya, tapi tangan Eliza sudah melingkar erat di pinggangnya, menahan pemuda itu agar tetap di sana.

“Jangan tolak aku,” bisik Eliza tepat di depan bibir Javier. Napas mereka bercampur, panas dan memabukkan.

Javier menelan ludah sekali lagi, pertahanannya runtuh berantakan. Ia tidak lagi mundur. Ia justru memajukan wajahnya, membalas ciuman Eliza dengan intensitas yang mengejutkan.

Ciuman itu... begitu lembut namun menuntut. Javier menyesap bibir Eliza dengan cara yang membuat wanita itu menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar dicium. Ini bukan ciuman kasar penuh nafsu yang biasa dilakukan Nando. Ini adalah ciuman yang memuja, yang haus, dan seolah ingin menghisap seluruh rasa sakit Eliza keluar dari tubuhnya.

Lidah Javier menyapu lembut, mengundang Eliza masuk ke dalam tarian yang lebih dalam. Sensasi terbakar merambat dari bibir Eliza ke seluruh syarafnya, membuatnya lemas namun sekaligus merasa sangat hidup. Di dalam dekapan Javier yang kokoh, Eliza akhirnya merasa menjadi seorang wanita lagi—wanita yang diinginkan, bukan sekadar pajangan yang terlupakan.

**

Malam itu, dinginnya AC di kamar Javier tak lagi mampu menembus kulit Eliza. Semuanya terbakar. Di bawah temaram lampu nakas, Eliza membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan sensasi yang selama ini hanya ia bayangkan dalam mimpi-mimpi paling sepinya.

Sentuhan Javier bukan sekadar kontak fisik, itu adalah intmidasi yang lembut. Tangan pemuda itu—yang biasanya menggenggam jangka dan pensil arsitektur—kini menelusuri setiap inci lekuk tubuh Eliza seolah sedang menghafal sebuah mahakarya yang sakral.

Setiap kali jemari Javier menyentuh kulitnya, Eliza merasa ada kembang api yang meledak di bawah sarafnya, menghanguskan rasa sakit dan penghinaan yang ditinggalkan Nando.

Ketika semuanya berakhir, kesunyian yang biasanya terasa mencekik di kamar rumah itu, kini berubah menjadi damai.

Eliza menyandarkan kepalanya di dada Javier yang bidang. Ia bisa merasakan detak jantung pemuda itu yang masih berpacu kuat, senada dengan napasnya yang perlahan mulai teratur.

Kulit Javier terasa panas dan lembap, memberikan kontras yang nyata dengan seprai katun di bawah mereka. Di dalam dekapan yang begitu kokoh, Eliza merasa sangat kecil namun sekaligus sangat terlindungi.

Javier melingkarkan lengannya di bahu Eliza, jemarinya bermain lembut di helai rambut wanita itu yang berantakan. Tak ada kata-kata. Kata-kata hanya akan merusak kesucian dari sebuah dosa yang begitu indah malam itu.

Eliza memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Javier—perpaduan antara aroma maskulin, sabun, dan gairah yang masih tersisa.

"Nyonya..." bisik Javier pelan, suaranya serak dan dalam, menggetarkan dada tempat Eliza bersandar.

"Jangan panggil aku begitu," sela Eliza pelan, suaranya hampir hilang ditelan malam. "Malam ini ... aku bukan nyonyamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Terlarang   Bab 5: Membeli Kehangatan Terlarang

    Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wa

  • Benih Terlarang   Bab 4: Luka yang Membakar

    Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.Pandangan Eliza mengabur

  • Benih Terlarang   Bab 3: Sentuhan Pertama Javier

    Waktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan.Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando.“Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kay

  • Benih Terlarang   Bab 2: Lelaki yang Melihatku

    Pukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi.Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.”Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai.“Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi

  • Benih Terlarang   Bab 1: Kedatangan Sang Penggoda

    Detik jam dinding di ruang makan itu terdengar seperti palu yang memukul peti mati. Eliza terduduk kaku, sudah tiga jam ia terjebak dalam kesunyian yang mencekam di atas kursi kayu mahoni yang dingin. Matanya sesekali melirik angka yang terus merangkak naik, sementara perutnya terasa perih, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa cemas yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.Bukan sekali dua kali Nando melakukan ini. Suaminya adalah arsitek ulung yang mampu membangun struktur paling kokoh di kota ini, namun gagal membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri. Setiap kali Nando pulang terlambat, tak pernah ada kata maaf yang melintasi bibir pria itu. Kesalahannya selalu terkubur di bawah tumpukan cetak biru dan ambisi.“Mending Mama makan dulu,” suara Orion memecah keheningan.Anak laki-lakinya yang berumur 18 tahun itu berdiri di ambang pintu, menatap Eliza dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa jengah. Orion sudah makan lebih dulu di kamar. D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status