LOGINPukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.
“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi. Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.” Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai. “Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi terlalu percaya diri hanya karena pujian dari pemuda itu.” Dada Eliza berdenyut pedih. “Sebaiknya kamu sesekali memberikanku pujian, jika tidak mau orang lain memujiku,” sahutnya pelan, matanya beralih menatap Nando yang kini sudah berbaring santai di atas ranjang king-size mereka. Nando tertawa kecil, suara yang terdengar meremehkan. “Sayang, kamu tau, aku tidak asal memuji. Pujianku itu mahal.” Eliza menutup mulutnya rapat-rapat. Berdebat dengan Nando seperti mencoba mengukir air; sia-sia dan melelahkan. Dia pun ikut naik ke ranjang, berbaring di sisi yang jauh dari Nando. Dia memunggungi suaminya, menciptakan jarak fisik yang mencerminkan jurang di antara hati mereka. Tak butuh waktu lama hingga dengkur kasar mulai terdengar dari mulut lelaki itu. Eliza memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kegelapan menelan air mata yang enggan jatuh. Dia muak, sangat muak, namun rantai bernama "keluarga sempurna" ini masih menahannya untuk tetap bertahan. * Keesokan paginya, rutinitas kembali berjalan seperti mesin yang berkarat. Eliza sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan di tengah aroma kopi yang tak mampu menghangatkan suasana. Nando memang kaya, namun sifat kikirnya tersembunyi di balik alasan idealis. Dia menolak mempekerjakan asisten rumah tangga bukan karena masalah biaya, melainkan karena dia tidak mau istrinya bermalas-malasan sementara dia bekerja keras di kantor. Baginya, Eliza harus terus bergerak agar tetap "berguna". “Ma, aku mau roti panggang dibawa ke sekolah,” kata Orion, meletakkan tasnya di kursi meja makan dengan suara debum pelan. Eliza mengangguk, tangannya dengan cekatan mengoles mentega. Tak lama, Nando muncul, tampak tajam dan berkuasa dalam balutan kemeja presisi dan dasi sutra. “Javier akan bekerja di rumah mulai hari ini. Siapkan makan siang untuknya nanti,” perintah Nando sambil membetulkan manset tangannya. “Iya,” jawab Eliza pendek. Orion mendongak, menatap ayahnya dengan kening berkerut. “Kenapa dia harus tinggal di sini?” “Karena ini proyek rahasia, Orion. Desain gedung konsulat yang sedang kami kerjakan punya protokol keamanan tingkat tinggi. Papa tidak mau data-datanya bocor lewat server kantor pusat. Di sini, di studio pribadi papa, semuanya lebih aman di bawah pengawasan papa,” jelas Nando dengan nada otoriter yang tak ingin dibantah. Javier muncul tak lama kemudian, tampak segar meski mungkin dia belum sepenuhnya terbiasa dengan rumah ini. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak kan?” tanya Nando saat Javier duduk di meja makan. Javier mengangguk, matanya sempat bersit beradu dengan mata Eliza sebelum beralih ke Nando. “Terima kasih Tuan, kamarnya sangat nyaman.” “Apakah Kakak bayar sewa karena tinggal di rumah ini?” tanya Orion tiba-tiba di sela kunyahan nasi gorengnya. Javier tampak tersentak, wajahnya menunjukkan kebingungan sesaat. “Emm, itu…” “Itu sudah termasuk fasilitas perusahaan, Orion. Kamu masih kecil jadi jangan banyak tanya!” sergah Nando tajam. “Aku sudah 18 tahun, Pa,” Orion membela diri, suaranya naik satu oktav. “Dan dia juga baru 22 tahun. Nggak beda jauh.” Nando meletakkan sendoknya dengan denting keras. “Tapi belum tentu kamu nanti bisa sehebat dia saat umur 22 tahun. Sebaiknya kamu banyak belajar dari Javier daripada banyak protes.” Orion terdiam, namun matanya menatap tajam ke arah ayahnya. Kilat kemarahan dan kebencian terpancar jelas di sana. Javier bergeser canggung, merasakan atmosfer yang mendadak terasa berat dan beracun. “Setiap hari seperti ini, kamu tidak perlu khawatir,” ucap Eliza sambil memasukkan bekal roti panggang ke dalam tas Orion. Dia mencoba mencairkan ketegangan dengan nada bicara yang ringan. “Kalau mereka tiba-tiba akur, itu baru aneh.” Javier hanya tersenyum tipis, matanya mengikuti gerak-gerik Eliza yang tenang namun tampak rapuh. * Rumah kembali menjadi sunyi yang mematikan setelah anak dan suaminya pergi. Orion baru akan pulang sore hari, dan Nando? Hanya Tuhan dan jadwal proyeknya yang tahu kapan pria itu akan menampakkan batang hidungnya. Eliza mencoba membunuh sepi dengan membersihkan rumah. Suara dengung vacuum cleaner menjadi satu-satunya teman, hingga tiba-tiba, sebuah suara percikan air yang keras meledak dari arah dapur. Kran di wastafel tiba-tiba lepas. Air muncrat tak terkendali, menghantam dinding dan lantai dengan kekuatan penuh. Eliza panik, berusaha menahan lubang itu dengan tangannya, namun sia-sia. Air membasahi seluruh tubuhnya dalam sekejap. “Agh, tolong!” seru Eliza refleks. Dalam hitungan detik, Javier muncul. Dia berlari ke dapur, matanya cepat memetakan kekacauan itu. Dengan gerakan tangkas, dia merunduk ke bawah wastafel dan memutar katup sumber aliran air. Seketika, pancuran liar itu berhenti. Keheningan kembali, menyisakan suara tetesan air dari ujung baju Eliza yang basah kuyup. Gaun tipisnya kini menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan lekuk yang seharusnya tersembunyi. Javier juga terkena cipratan, kemeja depannya basah transparan. “Kayaknya tadi pagi tidak ada gejala bocor,” gumam Javier, napasnya sedikit memburu karena berlari. “Sebenarnya sudah bocor lama, tapi aku tutup dengan plester pipa. Suamiku tak pernah mau memperbaiki hal-hal 'kecil' seperti ini,” kata Eliza, suaranya bergetar antara kedinginan dan rasa malu. Javier terkekeh pelan. Tawa yang terdengar hangat dan tulus. “Kenapa? Apa itu lucu?” tanya Eliza, sedikit tersinggung. “Maaf, bukan begitu,” sahut Javier cepat. Dia segera berjongkok, mulai memeriksa keran yang rusak itu dengan tangan-tangan yang tampak sangat kompeten. “Hanya saja, rumah semewah ini seharusnya tidak butuh plester pipa.” Eliza terdiam. Benar. Rumah ini mewah, tapi semuanya rusak di dalam. “Apa ada kran baru yang bisa saya pasang?” tanya Javier sambil mendongak. Eliza bergegas ke laci pojok dapur, mengambil kran cadangan yang pernah ia beli diam-diam, lalu memberikannya pada Javier. Dia berdiri sangat dekat dengan pemuda itu, aroma air yang dingin bercampur dengan aroma tubuh Javier yang maskulin dan hangat. Javier mulai memasang kran itu, otot-otot lengannya bekerja dengan efisien saat mengencangkan baut. Eliza hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung tegap Javier dari belakang. Rambut pemuda itu sedikit basah, jatuh di dahi dengan cara yang sangat menarik. Entah mengapa, di tengah kekacauan dapur yang basah ini, Eliza merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Ada rasa aman. Ada rasa bersyukur karena pagi ini dia tidak sendirian menghadapi kerusakan di rumahnya. Ada seorang pria yang bersedia kotor dan basah hanya untuk memperbaiki apa yang diabaikan oleh suaminya.Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wa
Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.Pandangan Eliza mengabur
Waktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan.Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando.“Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kay
Pukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi.Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.”Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai.“Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi
Detik jam dinding di ruang makan itu terdengar seperti palu yang memukul peti mati. Eliza terduduk kaku, sudah tiga jam ia terjebak dalam kesunyian yang mencekam di atas kursi kayu mahoni yang dingin. Matanya sesekali melirik angka yang terus merangkak naik, sementara perutnya terasa perih, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa cemas yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.Bukan sekali dua kali Nando melakukan ini. Suaminya adalah arsitek ulung yang mampu membangun struktur paling kokoh di kota ini, namun gagal membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri. Setiap kali Nando pulang terlambat, tak pernah ada kata maaf yang melintasi bibir pria itu. Kesalahannya selalu terkubur di bawah tumpukan cetak biru dan ambisi.“Mending Mama makan dulu,” suara Orion memecah keheningan.Anak laki-lakinya yang berumur 18 tahun itu berdiri di ambang pintu, menatap Eliza dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa jengah. Orion sudah makan lebih dulu di kamar. D







