Home / Rumah Tangga / Benih Terlarang / Bab 4: Luka yang Membakar

Share

Bab 4: Luka yang Membakar

Author: Intan SR
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-20 21:46:48

Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.

Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.

Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.

Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.

“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.

Pandangan Eliza mengabur oleh air mata. Tangannya yang gemetar mengusap pipinya yang terasa perih dan mulai berdenyut panas.

“Tidak berguna katamu?” tanya Eliza, suaranya serak namun penuh luka.

“Aku sudah mati-matian mencari uang untuk kebahagiaanmu, dan kamu bahkan tidak bisa menuruti apa kataku!” teriak Nando, emosinya meluap tak terkendali.

“Oh, demi kebahagiaanku?” Eliza tertawa getir di tengah isaknya. “Jadi selama ini kamu berpikir aku sudah bahagia?”

“Jadi kamu tidak bahagia?!” Nando balik membentak, matanya merah menatap Eliza seolah istrinya adalah beban yang sangat berat.

Tak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan monster yang disebutnya suami, Eliza turun dari ranjang. Dengan langkah kaki yang goyah, ia keluar dari kamar, hanya ingin mencari udara untuk sekadar menyambung napasnya yang sesak.

Sementara itu, Javier sedang berdiri di balkon. Ia baru saja meletakkan pensil dan menjauh dari meja desainnya—seorang pekerja keras yang sering kali tenggelam dalam kerumitan struktur hingga lupa bahwa malam sudah menua. Ia sedang menghirup udara malam yang dingin untuk menjernihkan pikirannya ketika ia melihat sebuah bayangan bergerak di bawah sana.

Dari ketinggian itu, ia melihat Eliza.

Wanita itu melangkah menuju dapur dengan gerakan yang rapuh, seolah beban di bahunya baru saja bertambah sepuluh kali lipat. Ada rasa menggelitik di benak Javier—sebuah insting protektif yang tajam dan tak bisa ia jelaskan—saat ia melihat betapa goyahnya langkah kaki Eliza. Tanpa berpikir dua kali, Javier meninggalkan balkonnya, menuruni tangga dalam diam, dan mengikuti jejak kesedihan wanita itu.

Ia menemukan Eliza di depan kulkas dengan bahu yang bergetar hebat. Wanita itu mengambil kantung es batu, lalu menempelkannya di pipi yang memerahn.

Saat Eliza berbalik, ia tersentak kaget mendapati Javier sudah berdiri di sana, memandangnya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran dan iba—tatapan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Eliza dapatkan dari Nando.

Eliza, dengan rambut berantakan dan kehancuran yang terpampang nyata di wajahnya, mencoba melarikan diri. Ia ingin pergi, tak mau terlihat sehancur ini di depan pemuda itu.

“Nyonya,” panggil Javier, suaranya rendah dan mampu menghentikan langkah Eliza seketika.

“Kaki Anda terluka,” ucap Javier lembut.

Eliza menunduk, melihat kakinya sendiri yang meninggalkan jejak darah di lantai marmer yang dingin. Entah sejak kapan ia menginjak sesuatu—mungkin serpihan kaca atau benda tajam lainnya—ia sama sekali tidak menyadarinya karena rasa sakit di pipinya jauh lebih mendominasi.

“Aku akan mengurusnya,” sahut Eliza cepat, suaranya bergetar antara rasa malu dan keputusasaan. Ia menjauh dengan langkah terpincang, meninggalkan Javier yang hanya bisa terpaku menatap jejak darah istri bosnya di lantai.

*

Pagi harinya, suasana di rumah itu terasa lebih mencekam daripada sebelumnya. Atmosfernya begitu berat, seolah setiap helai udara mengandung percikan api yang siap meledak.

Orion sudah pergi lebih pagi. Ia memiliki perlombaan di sekolahnya, sebuah alasan yang mungkin sengaja ia gunakan untuk melarikan diri dari ketegangan orang tuanya.

Nando sudah rapi dengan kemeja kerjanya, namun wajahnya masih tegang, menyimpan sisa amarah semalam yang belum padam. Eliza telah selesai memasak dalam diam. Ia baru saja hendak menyuap sarapannya sendiri tanpa memedulikan Nando, namun tiba-tiba piring di depannya didorong kasar oleh suaminya hingga menimbulkan suara berisik yang memekakkan telinga di pagi yang sunyi itu.

“Kamu sudah mulai bertingkah, Eliza,” ujar Nando dengan nada mengancam.

Eliza mendongak pelan. Pipinya masih memerah, tamparan Nando selalu meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.

“Bertingkah apalagi?” tanya Eliza dengan nada datar yang menakutkan. “Gara-gara tadi malam? Kamu lupa terakhir kali kamu mabuk dan memaksaku berhubungan intim membuatku berakhir di rumah sakit?”

Seketika, wajah Nando menegang. Rasa malu dan rasa bersalah yang tak mau diakuinya membuat ekspresinya mengeras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri atau meminta maaf, ia berbalik dan pergi begitu saja.

Tak lama setelah mobil Nando menderu pergi, Javier muncul. Ia belum mengetahui detail badai yang baru saja lewat, selain melihat piring yang hancur berantakan di atas lantai dapur.

“Aku akan membuatkanmu sarapan sebentar lagi,” ucap Eliza, suaranya mencoba terdengar normal meski matanya sembap.

“Tidak usah Nyonya, saya ke sini karena ingin mengambil minum,” sahut Javier berbohong. Ia tahu Eliza sedang tidak dalam kondisi untuk melayani siapa pun.

Eliza menyeka air matanya dengan kasar, lalu berlutut untuk membereskan pecahan piring yang berserakan.

“Agh!” Sebuah pecahan piring yang tajam menggores telapak tangan Eliza. Luka itu cukup dalam, menganga lebar dan darah merah segar segera menetes deras, mengotori lantai.

Javier bergerak secepat kilat. Ia segera mendekat ke arah Eliza dan berjongkok di depannya. “Biar saya yang membereskannya.”

“Kamu bukan pembantu,” protes Eliza, suaranya sedikit meninggi karena rasa sakit dan frustrasi yang bertumpuk.

“Saya hanya ingin membantu,” sahut Javier lembut. Ia memandang Eliza dengan tatapan yang dalam, dan tanpa sengaja, pandangan keduanya bertemu. Di sana, di antara pecahan keramik dan genangan air mata, ada sebuah koneksi yang tak terucapkan—sebuah pengakuan atas rasa sakit yang sedang Eliza alami.

*

Beberapa saat kemudian, Eliza mencoba mengobati luka di telapak tangannya sendiri di ruang tengah. Namun sialnya, tangannya terlalu gemetar; ia tak bisa melakukannya sendirian.

Javier, yang sejak tadi mengawasinya dari kejauhan, akhirnya mendekat. Ia duduk di sofa tepat di samping Eliza, mengambil alih perban dan obat merah dari tangan wanita itu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah Eliza adalah porselen yang bisa pecah kapan saja—ia mulai membebat telapak tangan itu.

“Siang ini Anda istirahat saja. Saya tidak akan makan siang,” kata Javier pelan, pandangannya terfokus pada perban yang ia lilitkan, tak berani menatap Eliza karena tahu betapa rapuhnya wanita itu saat ini.

Eliza hendak bicara, ingin memprotes tugasnya, namun Javier memotongnya lebih dulu.

“Saya bisa memesan makanan di luar, Nyonya.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Benih Terlarang   Bab 5: Membeli Kehangatan Terlarang

    Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wa

  • Benih Terlarang   Bab 4: Luka yang Membakar

    Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.Pandangan Eliza mengabur

  • Benih Terlarang   Bab 3: Sentuhan Pertama Javier

    Waktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan.Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando.“Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kay

  • Benih Terlarang   Bab 2: Lelaki yang Melihatku

    Pukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi.Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.”Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai.“Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi

  • Benih Terlarang   Bab 1: Kedatangan Sang Penggoda

    Detik jam dinding di ruang makan itu terdengar seperti palu yang memukul peti mati. Eliza terduduk kaku, sudah tiga jam ia terjebak dalam kesunyian yang mencekam di atas kursi kayu mahoni yang dingin. Matanya sesekali melirik angka yang terus merangkak naik, sementara perutnya terasa perih, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa cemas yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.Bukan sekali dua kali Nando melakukan ini. Suaminya adalah arsitek ulung yang mampu membangun struktur paling kokoh di kota ini, namun gagal membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri. Setiap kali Nando pulang terlambat, tak pernah ada kata maaf yang melintasi bibir pria itu. Kesalahannya selalu terkubur di bawah tumpukan cetak biru dan ambisi.“Mending Mama makan dulu,” suara Orion memecah keheningan.Anak laki-lakinya yang berumur 18 tahun itu berdiri di ambang pintu, menatap Eliza dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa jengah. Orion sudah makan lebih dulu di kamar. D

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status