Share

4

Author: Vivohilolove
last update Huling Na-update: 2024-12-29 21:52:07

"Aku suamimu!" ujar Marco kepada Elena.

Ini sudah hari ketiga setelah Elena sadar dari koma.

Kondisi Elena sudah cukup stabil tidak seperti sebelumnya, jadi dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Elena.

Anggap saja dia percaya jika Elena mengalami amnesia dan tidak mengingatnya, maka dari itu dia akan bicara untuk menyakinkan Elena jika dia adalah suami dari wanita ini.

Elena mendengus mendengar ucapan Marco."Kau lagi!" kesalnya menatap Marco tidak percaya.

"Kau mau apalagi? Yang aku ingat, aku belum menikah. Aku tidak mengenalmu! Kenapa kau keras kepala sekali?"

"Apa kau harus kupukul dulu agar kau mengerti? Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan!"

"Meskipun aku seorang wanita dan masih sakit, bukan berarti aku tidak bisa memberimu pelajaran jika kau terus membuatku kesal dengan terus membual!" geram Elena.

"Aku mengatakan kebenaran. Aku bahkan mempunyai bukti! Mau kau terima atau tidak terima, aku adalah suamimu! Aku suamimu! Kita sudah menikah!" tegas Marco mengabaikan wajah kesal Elena yang membuatnya sedikit tidak nyaman.

Selama ini Elena selalu menatapnya dengan mata berbinar penuh cinta.

Sebelumnya, dia tidak pernah mau repot meluangkan waktu untuk melihat atau menemani istrinya.

Dia tidak peduli kepada Elena dan tidak pernah menganggap Elena sebagai istrinya.

Dia selalu menjadi pihak yang dikejar dan dicintai istrinya setengah mati.

Elena selalu melakukan apa yang dianminta atau tidak dimintanya hanya untuk menyenangkan hatinya.

Namun, sekarang semuanya terasa berbalik. Dia tidak senang ketika merasa diabaikan oleh istrinya semenjak bangun dari koma.

Dia tidak suka melihat wajah acuh dan wajah kesal Elena seakan dia tidak diinginkan lagi oleh istrinya, membuat dia seperti merasakan sesuatu yang hilang.

Elena menatap datar Marco."Mana buktinya?" tanyanya dengan acuh, masih menatap waspada Marco.

Marco menggeram kesal melihat Elena benar-benar tidak tertarik kepadanya.

Elena bahkan melihatnya seperti dia seorang penjahat yang patut diwaspadai.

Marco menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memberikan amplop coklat berisi dokumen dan foto pernikahan mereka kepada Elena sebagai bukti yang menunjukkan jika mereka adalah pasangan yang terikat.

Elena mengambil apa yang diberikan oleh Marco dengan ekspresi malas. Dia menatap Marco penuh peringatan.

"Meskipun bukti ini menyatakan kau suamiku, tapi aku tidak akan sepenuhnya percaya kepadamu sebelum benar-benar memverifikasinya!"

"Sekarang penipuan semakin canggih dan apapun bisa dipalsukan! Jadi selama aku belum yakin kau suamiku, jangan pernah memanggil aku istrimu!"

"Aku tidak mau kesempatan untuk mencari suami tampan dan baik hati untuk masa depanku di rusak olehmu! Ingat itu baik-baik!" ujarnya sambil membuka amplop coklat ditangannya.

Marco menggertakkan gigi menatap Elena marah."Elena, aku tidak berbohong! Jika kau masih tidak percaya, kau bisa bertanya kepada keluargamu!"

"Kau memang istriku dan kita sudah menikah! Jadi singkirkan pikiran tidak tahu malu yang ada di otakmu untuk mencari pria lain untuk kau jadikan suami di saat aku masih menjadi suamimu!"

"Oh, Elena istriku, apa ini sebenarnya tabiat aslimu? Kau selama ini terlihat begitu mencintaiku tapi di belakangku kau bermain dengan pria lain. Kau hebat sekali! Tipuanmu sangat hebat!" sinisnya.

Elena menatap Marco tidak percaya."Apa otakmu rusak?"

Marco:"...."

"Kau yang kehilangan ingatanmu akibat otakmu rusak terbentur aspal dengan keras! Beraninya kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu!" kesal Marco tidak terima.

Elena menganggukkan kepala."Otakmu benar-benar rusak. Harusnya aku tidak bertanya" ujarnya acuh.

Marco menggertakan gigi, lalu menghela nafas kasar. Lebih baik dia lebih memilih diam tidak membalas ucapan Elena kembali, atau dia akan semakin naik darah.

Dia tidak yakin Elena sudah berubah atau pura-pura berubah untuk menghindari curiga.

Dia harus memperhatikan Elena mulai dari sekarang agar istrinya tidak berulah yang semakin merepotkannya di masa depan.

Marco menatap Elena dengan lekat untuk memperhatikan ekspresi istrinya setelah melihat bukti yang dia berikan.

Satu

Dua

Tiga

Marco mengangkat sebelah alisnya, menatap Elena heran karena melihat reaksi istrinya tidak seperti yang diperkirakan olehnya.

"Kau tidak terkejut?" tanyanya ketika bibirnya sudah gatal ingin berbicara kepada Elena.

Dia ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh istrinya.

"Oh, apa sebenarnya kau tidak kehilangan ingatan sampai kau tidak terkejut, karena kau sudah tau kalau kita ini suami istri?" ujar Marco menatap tajam Elena dengan mata menyipit curiga.

Elena menatap Marco datar. Dia melengos kembali menatap bukti-bukti yang ada di tangannya.

"Aku terkejut" jawabnya acuh tak acuh."Soal tuduhanmu kepadaku, bukankah rumah sakit ini mempunyai poli kejiwaan? Aku benar-benar merekomendasikan dirimu untuk memeriksakan kesehatan mentalmu kesana" ujarnya.

Marco menatap Elena tajam."Terkejut, heh? Apanya yang terkejut? Kau bahkan diam saja sedari tadi! Dan aku tidak gila!" geramnya.

"Lalu kau mau aku bagaimana? Sedari tadi aku terus salah di matamu. Bukan! Sedari awal kita bertemu, kau terus menyalahkan aku!" ujar Elena menatap dingin Marco, lalu kembali menatap lembaran foto di tangannya.

Dia membolak-balik foto pernikahannya dan tidak ingin lagi repot menatap pria yang mengaku menjadi suaminya.

Marco mengepalkan tangan."Sekarang kau percaya aku ini suamimu?" tanyanya dengan kemarahan tertahan.

"Tidak!" jawab Elena singkat dan padat.

Marco:"....."

Wajah Marco berkedut."Yang kau pegang itu foto pernikahan kita! Apa kau tidak lihat di foto itu kau yang paling tersenyum lebar!"

Elena menatap Marco dingin."Ini pasti ada kesalahan" ujarnya sambil menunjukan foto pernikahannya.

Marco menggeram."Kesalahan apa? Foto itu memang diambil saat resepsi pernikahan kita. Kau yang mengatur segalanya, mulai dari tema pesta, dekorasi, gaun, hingga memilih pengisi acara dan tempat bulan madu kita!"

"Aku terdengar seperti seorang agensi wedding organizer dibandingkan seorang pengantin" komentar Elena ketika mendengar ucapan Marco.

Marco kehilangan kata-kata ketika mendengar ucapan Elena.

Memang benar saat itu Elena bertingkah lebih heboh dari pihak wedding organizer yang ditunjuk untuk mengurus pesta pernikahan mereka.

Marco menghela nafas kasar."Itu karena kau yang paling antusias dengan pernikahan kita sampai kau ingin semuanya sempurna, sehingga kau lebih memilih turun tangan sendiri untuk mengurus pernikahan kita, meski ada pihak wedding organizer yang ditunjuk untuk mengurus segalanya" ujarnya memberitahu kenyataan kepada Elena.

"Benarkah? Terdengar seperti bukan aku. Aku bukan orang yang suka melakukan hal sia-sia seperti itu untuk orang yang tidak aku cintai"

"Katakan padaku, apa yang kau lakukan sebelumnya sampai aku mau menikah denganmu? Pria gila sepertimu, bukan tipeku!"

"Oh, apa kau melakukan sebuah pemaksaan kepadaku hingga aku hamil dan terpaksa meminta pertanggung jawabanmu untuk menikahiku?" tanya Elena menatap curiga Marco.

Bahkan rasa jijik kembali terlintas di matanya.

Marco yang mendengar tuduhan dan ekspresi jijik di mata istrinya meskipun hanya sepersekian detik membuat kepalanya seperti ingin meledak.

Marco bangkit dari duduknya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terjungkal ke belakang hingga menimbulkan suara kursi yang jatuh dengan keras.

Tanpa berkata-kata, Marco lebih memilih meninggalkan Elena daripada dia kehilangan kendali saat menghadapi istrinya yang sangat menyebalkan.

Elena menatap punggung Marco yang menghilang dari balik pintu dengan acuh tak acuh.

"Ada apa dengannya? Aku belum selesai bicara, tapi dia sudah pergi dan marah begitu saja" gumam Elena, lalu menggedikan bahu tidak peduli.

Dia menatap foto pernikahan ditangannya."Bukankah foto ini begitu aneh? Harusnya di foto ini aku yang cemberut bukan si gila itu!"

"Dia sepertinya sudah salah memilih orang orang untuk membuat foto editan ini. Sayang sekali, padahal foto ini benar-benar terlihat sangat asli. Aku hampir saja tertipu!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    TAMAT

    “Tuan, Josh Riddle ingin bertemu dengan anda” ujar Zain kepada Marco yang duduk termenung di dalam kantornya sambil menelan ludah. Marco mendongak, menatap asistennya dengan tatapan suram. “Kapa?” Tanyanya dengan suara serak. “Di restoran Classico siang ini tuan” jawab Zain dengan hati-hati.Marco terdiam. Ia merasakan firasat buruk, namun tetap menganggukkan kepalanya. “Kau atur saja jadwalku agar bisa bertemu dengannya” jawabnya. “Bertemu dengan mantan iparku” batinnya menambahkan.Waktu seakan berlalu dengan cepat hingga akhirnya Marco duduk berhadapan dengan Josh di restoran seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Josh menatap mantan adik iparnya yang berwajah kusut dan bertubuh lebih kurus dari pertemuan mereka terakhir di sebuah acara pesta perusahaan kolega mereka. “Kau sepertinya hidup tidak dengan baik akhir-akhir ini” sindir Josh tanpa basa-basi. Ia antara iba dan tidak iba dengan keadaan Marco sekarang yang mungkin kurang lebih ada andilnya yang membuat mantan iparnya

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    33

    Marco mengusap wajahnya kasar. Ia terus terngiang ucapan adiknya sendiri. “Aku memang salah kepada Elena. Tapi semua yang aku lakukan adalah akibat perbuatannya sendiri” gumamnya mencoba masih membela dirinya sendiri. Ia akui jika selama ini dia selalu mudah terprovokasi oleh ucapan Marrie tentang Elena yang ternyata sekretarisnya itu hanya berpura-pura tertindas di depannya. Namun bukan salahnya juga lebih mempercayai Marrie, sebab sifat Elena yang sejak dulu memang sombong dan sulit diatur seperti sifat keras kepala nona muda keluarga kaya. “Ok, aku akui kalau aku salah paham tentangmu dan Marrie. Tapi Elena, kau juga sering mengganggu Jenny dan selalu membawa namanya dalam pertengkaran kita padahal dia tidak salah sama sekali. Sikapmu yang pencemburu itulah yang membuatku muak padamu. Jadi bukan hanya aku yang bersalah di sini” gumam Marco kembali. Namun tanpa ia sadari jika Elena tidak pernah mengganggu mantan kekasih suaminya itu terlebih dahulu, melainkan Jenny yang selalu m

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    32

    Plak!Marco menampar wajah Mona dengan keras setelah mereka pulang ke rumah dan berpisah dengan Elena diperusahaan.Setelah mencapai tujuannya, Elena tidak ingin berlama-lama lagi bersama dengan Marco dan Mona yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami dan mantan iparnya. "Marco!" Teriak nyonya Mariska menatap Marco tidak percaya karena baru saja menampar putri kesayangannya.Marco menatap Mona tajam."Bagus Mona! Kau sudah mempermalukan kakak!" Geramnya. Mona menatap Marco berlinang air mata. Rasa pedas akibat tamparan Elena sebelumnya saja belum hilang sepenuhnya, namun kakaknya sendiri malah menambah rasa perih itu. "Kak! Aku adikmu! Apa kau menamparku hanya demi istri yang tidak kau cintai itu?!" Teriak Mona tidak terima. "Mona! Tutup mulutmu!" Marco menunjuk hidung Mona dengan marah. Mona menangis. Nyonya Mariska pusing melihat pertengkaran antara dua anak yang dicintainya.Dia bahkan belum mengerti penyebab pertengkaran yang ada sampai kedua anaknya berkelahi seperti ini.

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    31

    "Apa?! Kau ingin aku dipenjara?!" Teriak Mona menatap tidak percaya Elena."Kesalahan apa yang membuatku harus dipenjara! Kak Elena! Kau keterlaluan! Apa ini cara agar kau menarik perhatian kakakku?""Kak Elena, biar kuberitahu sesuatu. Perbuatanmu ini hanya akan membuat kak Marco kesal dan marah padamu. Bahkan dia mungkin tidak akan memaafkanmu!" "Aku dan keluarga Sebastian tidak akan memaafkanmu! Aku tidak mau dipenjara. Jadi hentikan rencana konyolmu itu. Atas dasar apa aku dipenjara?!""Aku hanya mengatakan beberapa patah kata saat kita di mall tadi. Selama ini aku juga tidak menindasmu""Kapan aku menipumu? Kau jangan bohong! Aku bukan penjahat!" Teriak Mona dengan nafas tersengal karena marah. Wajah Marco tidak kalah gelap menatap istrinya."Elena, apa lagi ini. Kumohon bisakah kau berhenti berbuat onar?!" Marahnya menatap Elena tidak habis pikir.Ia mana mungkin membiarkan adik kandungnya dipenjara meski Mona nan

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    30

    "Cari tahu darimana keluarga para gadis ini berasal, lalu laporkan kepada kakakku apa yang sebelumnya terjadi di sini""Selanjutnya dia akan tahu bagaimana cara menangani mereka, karena keluarga mereka tidak mengajarkan anak mereka dengan baik hingga berani bicara kurang ajar di depanku" perintah Elena kepada para pengawalnya.Elena menatap Mona yang sebelumnya sangat sombong dengan mata tajam."Dan untuk gadis yang satu ini, aku tidak mengenalnya. Tapi karena dia mengatakan jika dia adalah adik iparku, maka sepertinya itu benar""Maka dari itu, aku akan menghitung kerugian ini dan menanganinya secara terpisah""Aku ingin tahu apa Marco masih bisa menerima balasanku setelah pukulan berat yang keluarga Riddle lakukan kepadanya terakhir kali""Sepertinya apa yang terjadi kepada keluarga Sebastian akhir-akhir ini masih belum cukup untuk memberi mereka pelajaran untuk berhenti menggangguku!" ujar Elena sambil tersenyum miring, membuat takut Mona dan teman-teman gadis itu. Sedangkan Rache

  • Bercerai Setelah Hilang Ingatan    29

    "Kak Elena!" Seruan seorang gadis menghentikan langkah Elena yang sedang berjalan-jalan di mall bersama dengan teman-temannya.Mona menghampiri Elena dengan senyum sumringah. Kebetulan sekali. Ia juga sedang berjalan-jalan dengan temannya di pusat perbelanjaan ini. Namun karena kartu kreditnya dibekukan, ia terus mencari alasan untuk tidak berbelanja bersama dengan temannya. Ia sangat malu dan ingin sekali pulang. Namun tidak mempunyai alasan yang tepat untuk menghindari teman-temannya.Dan pada saat ia melihat Elena, ia seperti menemukan malaikat penyelamat. "Siapa?" Elena menatap gadis yang ada dihadapannya dengan bingung. Ia rasa hilang ingatannya tidak mungkin sampai membuatnya melupakan orang-orang yang dikenalnya di masa lalu. Mona tercengang."Kak, kau tidak mengenalku?" Ujarnya tidak percaya. Seakan teringat sesuatu, ia menatap kakak iparnya dengan takjub. Sepertinya benar jika Elena hilang ingatan. Tidak mengenal dirinya, keluarganya, bahkan kakak sulungnya sebagai suami

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status