LOGINDi dalam kamar hotel Ray sudah berpakaian rapi dan lengkap terlebih dahulu, sementara Firzan masih mengenakan kaos dalam dan celana boxer hitam.
“Hurry up, Firzan! Angela sudah menyuruh kita bersiap-siap,” ucap Ray sambil mematut dirinya di cermin.
“Aku takut nervous di depan teman-teman Mili,” ucap Firzan yang masih berdiam diri duduk di tepi ranjang.
“Rilex, Bro! Anggap saja mereka itu penggemarmu, kamu kan sudah biasa menghadapi orang-orang yang ingin kenalan atau sekadar minta selfie dengan kamu. Just have Fun!”
“Oke lah, I’ll try my best...”
Firzan segera membuka lemari dan mengenakan pakaian yang hari ini dibelikan Mili kemudian seperti Ray, dia pun mematut di depan cermin.
“Trust to me, Firzan! you’re very handsome guy, and you just need a more conffidence to make you be a perfect man!”
“Thank you, Bro...” uca Firzan melakukan tos tinju kepada Ray di samping kirinya.
Di depan cermin Firzan menarik napas lalu mengembuskannya untuk memompa semangat. Dia setuju dengan ucapan Ray, bahwa dirinya harus memupuk lebih banyak lagi rasa percaya diri atas apa yang diucapkan orang-orang di sekelilingnya bahwa dia itu memang seorang lelaki rupawan.
Di ruang VIP restoran saat acara dinner dimulai, seluruh anggota club mamah muda dan mamih rumpi sudah duduk di tempat duduknya masing-masing, mereka mulai menikmati beberapa menu pembuka seperti sup krim, pastel, kroket, chicken salad, dan beberapa camilan lainnya.
Meskipun sambil makan, suara wanita-wanita haus hiburan dan kesenangan ini tetap ramai terdengar. Sebentar bicara-sebentar tertawa, mebuat suasana ruangan itu penuh kehangatan.
“Mana nih, berondong dari Bali-nya, Sis?” ujar Vira, salah satu anggota mamih rumpi kepada Angela.
“Iya, bentar lagi masuk kok,” ucap Angela.
Angela memang sudah memberitahu Ray, agar dia sendiri yang terlebih dahulu masuk ke dalam VIP room restoran. Firzan diminta menunggu giliran di dalam kamar.
“Hai ladies...” ucap Ray sejurus setelah pintu VIP terbuka, dia benderi sebentar memandang ke arah para wanita yang sudah menantinya dengan memamerkan senyumnya yang manis.
“Woowww...” hampir semua wanita di depannya bergumam.
“Big guy...”
“Macho...”
“Mau dong ototnya...”
Tangan-tangan wanita di depannya melambai-lambai agar Ray mau menghampiri mereka. Ray berjalan dengan tenang menghampiri satu-satu wanita yang sedang histeris itu.
“Hi, my name Ray!” ucap Ray saat pertama kali menghampiri Vira yang duduk paling kiri di bagian depan. Vira menjulurkan tangan kepada Ray, dan Ray menyambut uluran tangannya lalu mencium tangan wanita berkulit putih dan berambut keriting itu.
“Boleh lihat six-packnya dong...” pinta Vira tanpa malu-malu mengelus-elus perut Ray.
“With pleasure,” ucap Ray tidak keberatan.
Ray mulai membuka kancing bajunya satu persatu, hingga dibalik hem berwarna putih itu tampaklah kaos oblong putih yang menutup bagian dalam tubuhnya.
“You can open it now,” ucap Ray kepada Vira, wanita yang lain malah teriak histeris. Tanpa ragu-ragu Vira mengangkat kaos dalam Ray ke atas maka tersembulah otot perut di tubuh Ray, yang tercetak begitu menggoda para wanita yang melihatnya.
“Wow, nice...” ucap Vira sambil mengelus-elus perut six-pack Ray membuat yang lain iri.
Ray pun berjalan bergiliran mendekati satu persatu wanita di hadapannya. Bermacam-macam keinginan mereka yang harus Ray layani, selain memegang otot Ray ada juga wanita yang menyuruh Ray memegang bagian depan dadanya yang bulat.
“Aku juga punya otot nih, tapi hanya two-pack aja, kamu mau melihatnya kan?” ucap Pricilia sambil mendekatkan dadanya ke tubuh Ray.
“Oh my good, it’s look hot...,” ucap Ray sambil memandang ke arah dua benda bulat itu menempel di perut six-packnya. “Can i grab it!” pinta Ray.
“Silakan, dengan senang hati... hahaha...” ucap Pricilia. Ray pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia lantas menyentuh dengan lembut dada Pricilia yang menggunakan bra berwarna pink. Semua berteriak histeris melihatnya, menambah suasana di ruangan private itu semakin panas.
Teman-teman mereka yang lain pun tak mau kalah, ada yang minta digendong, bahkan ada yang minta di-slap bagian bokongnya dengan tangan berotot Ray.
Terakhir, Ray menghampiri meja Angela yang duduk di meja paling depan sebelah kanan, tanpa berkata apa-apa Angela langsung mengajak Ray berciuman, saling memagut bibir masing-masing.
“Huhhhh...” semua yang melihat berteriak sambil bertepuk tangan.
Kini giliran Ray memberikan games sensual kepada mereka, dua wanita yang terpilih akan menerima reward bisa bersenang-senang dengan Ray di kamar hotel.
Permainannya gampang, di tangan Ray sudah ada buah pisang, peserta yang mampu menghabiskan sebuah pisang dalam waktu tercepat dia akan jadi pemenangnya. Syaratnya Ray yang mememasukan pisang itu ke dalam mulut peserta yang berposisi mendongakan wajah ke atas, hingga buah itu habis tertelan.
Pricilia maju pertama kali ingin mencoba. Di depan Ray dia mendongakan wajahnya, Ray memasukan buah pisang masak yang telah dikupas kulitnya ke dalam mulut Pricilia secera perlahan-lahan dari unjung hingga pangkal buah itu masuk seluruhnya ke bagian mulut dan pangkal tenggorokan Pricilia. Baru saja Ray melepas pegangannya di ujungnya pisang, Pricilia tiba-tiba tersendak mengeluarkan buah itu dari mulutnya hingga jatuh ke lantai.
“Failed!” ucap Ray, “Good try!” tambahnya.
Wanita lain dengan semangat ingin bermain, memasukan buah pisang ke dalam mulutnya, agar bisa bobo seranjang dengan Ray.
“Anggap aja ini latihan buat yang nanti menang ya, hehehe...” ucap Vira dengan nakal kepada Nanda...
“Rasya…!” teriak Kevin mencari sahabatnya. Namun, ia mendapati di dapur sepi, tidak ada siapa-siapa. “Mbak Nung… Mbak Nung…!” panggil Kevin lagi mencari pembantu rumahnya itu, namun sama, tidak ada jawaban. “Kemana sih Mbak Nung? Rasya juga nggak ada lagi…” gumamnya keheranan.Ahhhh…!Saat akan melangkah keluar dari ruangan dapur, langkah Kevin terhenti mendengar sayup-sayup suara desahan seorang perempuan. Kening Kevin mengerut, suara aneh itu kemudian terdengar lagi, ia menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. Pandangan Kevin akhirnya tertuju pada gudang yang pintunya tertutup. “Mbak Nung… Mbak… Mbak Nung…!”Panggil Kevin sambil mengetuk-ngetuk pintu gudang yang terkunci itu. Namun, beberapa saat memanggil tidak ada jawaban. Hening, suara desahan itu pun tak terdengar lagi. “Apa aku salah dengar? Tapi, tadi jelas sekali suaranya berasal dari gudang ini,” pikir Kevin masih berdiri di depan pintu gudang dengan perasaan heran. Kevin memutuskan untuk pergi ke teras depa
Setelah membuntuti Tante Mili, Kevin memutuskan kembali ke rumah, tentu saja ia tidak ingin pergi terlalu lama karena ada Rasya yang semalam menginap di rumahnya. Ia menduga temannya itu masih tertidur, karena saat ditelepon tadi tidak ada jawaban.“Aduhhh… sakit…” Saat Kevin masuk ke dalam rumah terdengar rintihan seseorang. Rupanya Mbak Nung sedang memijat punggung Rasya di ruang tengah. “Loh, kenapa lu, bro…?” tanya Kevin tiba-tiba.Tentu saja Rasya dan Mbak Nung terkejut melihat Kevin sudah kembali ke rumah, untung saja Rasya sudah mengenakan pakaian, demikian pula Mbak Nung, jadi tak dicurigai Kevin.“I-ini Mas… katanya badannya Mas Rasya pada pegal-pegal semua,” jawab Nung menjelaskan.“Makanya kalau tidur jangan kelamaan, Sya…”“Daripada nunggu lu nggak jelas ke mana, mending gue tidur,” ucap Rasya dengan nada ketus pada Kevin.Merasa tidak nyaman lagi karena kedatangan Kevin, Mbak Nung memilih pergi ke dapur, “Ya udah, Mas Rasya, Mas Kevin, aku mau lanjut menyiapkan masakan u
“Kevin tadi mau pergi ke mana, Mbak?” tanya Rasya pada Mbak Nung sejurus ia keluar dari kamar mandi. “Mas Kevin nggak bilang mau pergi ke mana, setelah Bu Mili keluar rumah dia langsung pergi,” jawab Mbak Nung yang masih mengemas tempat tidur Kevin.“Loh… berarti di dalam rumah ini sekarang tinggal kita berdua saja dong, Mbak,” ujar Rasya terdengar antusias .“Iya betul, Mas…” jawab Mbak Nung sambil tersenyum salah tingkah.“Wah, aku jadi takut nih, Mbak?”“Takut kenapa, Mas Rasya?”“Takut nggak bisa nahan diri, soalnya pagi ini Mbak Nung kelihatan seksi sekali,” ucap Rasya menggoda si pembantu rumah itu.“Ah, bisa aja Mas Rasya nih…” Mbak Nung kembali tersipu dibuat Rasya.“Tapi…, aku lapar, Mbak, apa masih ada makanan untuk sarapan?”“Iya ada, Mas, tadi aku bikin nasi goreng dan telor ceplok. Tapi… sebelum sarapan nasi goreng, apa Mas Rasya tidak ingin sarapan yang lain?” tanya Mbak Nung mulai menjalankan rencananya menggoda anak muda yang hanya mengenakan boxer dan masih bertelanja
Kevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman, lalu mengeluarkan ponsel dari saku cela
“Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal
Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun







