Share

Bab 04

Author: Aamz Kyure
last update publish date: 2026-08-06 22:50:37

“Kau berpikir terlalu berlebihan.” Ivy menggeleng mantap, raut wajahnya jelas-jelas tidak setuju dengan dugaan itu.

Mayra hanya menunduk dalam, matanya kosong menatap lantai seolah sudah melihat bayangan nasibnya sendiri. Yang Mayra rusak bukanlah gaun biasa, itu gaun warna biru laut kesukaan Nyonya Hayes.

“Aku bukan berlebihan.” Suara Mayra nyaris tak terdengar. “Kalau sekadar menyentuh saja sudah harus dibayar nyawa … apa yang akan terjadi padaku yang merusaknya?”

“Tuan Hayes melepaskanmu, mungkin karena kerjamu bagus.” Ivy menatapnya lembut, berusaha keras menemukan alasan yang paling masuk akal dan paling menenangkan.

Tangan Ivy masih mengusap pelan punggung tangan temannya, seolah ingin menanamkan keyakinan itu perlahan ke dalam hati Mayra. Namun alasan itu tak cukup mampu menenangkan hati Mayra sedikit pun.

Kerja bagus, rajin, teliti, semua hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan benda yang nilainya melampaui nyawa manusia biasa. Apalagi Mayra hanyalah pelayan rendahan, dan nyawanya sama sekali tidak dianggap berharga.

“Bagaimana jika kau istirahat saja?” Suara Ivy terdengar lembut namun tegas, seolah tahu Mayra pasti akan menolak kalau diminta santai begitu saja. “Aku akan bilang ke Kepala Pelayan Elias kalau kau sedang tidak enak bad—”

“Jangan.” Mayra memotong cepat, ia bahkan refleks mengulurkan tangan pelan seolah ingin menahan ucapan itu.

Ivy langsung diam, seolah sadar dirinya hanya membuat Mayra semakin merasa ketakutan.

“Kalau aku bersantai di kamar, tidak enak dilihat pelayan lain.” Mata Mayra bergerak gelisah seolah bayangan orang lain sudah berdiri di sekitar pintu.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Mayra menyembunyikan ketakutan yang sesungguhnya. Ia takut bukan pada pandangan pelayan lain, melainkan kalau Elias tahu, Tuan Hayes pasti akan tahu juga.

Dan jika Tuan Hayes mendengar kabar itu, perhatian pria itu bisa saja kembali tertuju padanya dengan alasan yang belum tentu baik. Itu hanya akan menempatkan Mayra di posisi yang jauh lebih rumit lagi.

“Aku akan lanjut bekerja.” Mayra berusaha tersenyum tipis, meski di matanya masih tersisa bayangan gelisah yang tak sepenuhnya hilang.

“Kau yakin?” Ivy kelihatan ragu.

Mayra menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri sendiri sekaligus meyakinkan temannya. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”

Soal penyebab gaun yang rusak itu, Ivy memutuskan tidak membahasnya lebih lanjut. Bertanya lebih jauh sama saja dengan menumpuk beban baru di atas bahu gadis yang sudah nyaris runtuh. Terlebih Mayra sudah tampak sedikit lebih tenang.

“Terserah kau saja, tapi jangan terlalu memaksakan diri,” ucap Ivy.

Mayra menjawab dengan anggukan kecil saja.

Di luar Mayra tampak sedikit lebih baik, namun pikirannya masih terus bertanya-tanya. Hal berharga apa yang bisa ia berikan pada Matthias, dan pantas ditukar dengan nyawanya sendiri?

***

Keesokan harinya, desas-desus mengerikan tersebar di antara para pelayan. Kabarnya semalam ada seorang rekan mereka yang tewas, ditembak mati seketika, dan sebelum itu salah satu tangannya sudah dipotong.

Mayra mendengar kabar ini langsung dari Ivy. Seketika ingatannya kembali ke ruangan semalam, ke setiap kata dingin dan tatapan tajam Matthias.

Napas Mayra tertahan berat. Ia paham sepenuhnya sekarang bahwa dia hanya selamat sebentar saja. Andai tadi malam Matthias memberikan keputusan yang berbeda, Mayra lah yang akan berakhir sama persis seperti orang itu.

Mayra segera menggeleng pelan, berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu.

“Kenapa?” Suara Ivy terdengar bingung sekaligus cemas kala melihat raut wajah Mayra yang berubah sedikit pucat.

“Bukan apa-apa.” Mayra menjawab cepat, berusaha terdengar biasa saja meski suaranya tetap lemah dan bergetar halus.

Mayra menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih pucat dan cemas. Semalam ia terus terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai, bayangan tangan terpotong, tembakan, tatapan dingin Matthias, semuanya berputar terus tanpa henti.

Tapi hal itu, ingin Mayra simpan rapat-rapat sendirian. Ia tidak mau membebani Ivy lagi, apalagi membiarkan temannya tahu betapa dalamnya rasa takut dan seberapa rapuh dirinya sebenarnya.

“Bersiaplah. Tuan Hayes memintamu ikut pergi ke tempat latihan menembak.” Elias tiba-tiba datang menyampaikan pesan itu dengan wajah kaku seperti biasa. “Dalam sepuluh menit, kau sudah harus berada di halaman.”

Tanpa menunggu jawaban Mayra, Elias langsung berbalik dan pergi.

Baru beberapa langkah sosok Elias menjauh, bisik-bisik para pelayan mulai terdengar di sekitar Mayra. Tatapan mereka pun diam-diam mengarah kepadanya.

Tempat latihan menembak keluarga Hayes bukan sekadar tempat untuk mengasah kemampuan menembak. Para pelayan tahu, Matthias sering membawa bawahannya ke sana untuk menjalani latihan keras, menguji kesetiaan, atau menyelesaikan urusan yang tidak ingin diketahui orang luar. Tak sedikit yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali.

“Tempat latihan menembak? Bukannya itu sama saja cari mati?” bisik salah seorang pelayan. “Dia bisa saja tewas di sana.”

“Apa dia sempat membuat kesalahan sampai Tuan Hayes menghukumnya?”

“Kalau Kepala Pelayan Elias yang ikut, mungkin masih aman. Dia tahu cara melindungi diri.” Pelayan itu melirik Mayra. “Tapi dia?”

Mayra menelan ludah.

Dipilihnya Mayra untuk ikut ke tempat seperti itu seolah menjadi bantahan paling jelas terhadap rumor bahwa Matthias tertarik padanya. Kalau benar pria itu menyukai Mayra, tidak mungkin dia membawanya ke tempat yang terkenal berbahaya.

Setidaknya, setelah mendengar kabar itu, para pelayan mungkin akan berhenti menghubung-hubungkan Mayra dengan majikannya.

“Jangan dengarkan mereka.” Ivy berdiri lebih dekat, sedikit menghalangi pandangan orang-orang ke arah Mayra. “Mereka cuma asal bicara hanya untuk menakutimu.”

Kata-kata penenang Ivy tak mampu menenangkan kegelisahan Mayra, Mayra meremas kedua tangannya erat-erat di balik lipatan kain seragam, berusaha menahan getaran yang menjalar dari ujung jari hingga ke lengan. Ia mengangkat wajah sedikit, mencoba memberi senyum tipis.

“Aku mengerti. Aku harus pergi dan segera bersiap.” Suara Mayra terdengar pelan, tetapi berusaha mantap. Dia mengangguk kecil, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri sekaligus Ivy.

Mayra pun meninggalkan Ivy. Setelah berganti pakaian dengan yang pantas, ia segera menuju halaman untuk mengikuti perintah Elias. Namun, semakin dekat dengan tempat latihan menembak, langkahnya justru terasa semakin berat.

Area latihan itu berada di pinggir hutan. Bau tanah lembap bercampur mesiu memenuhi udara. Puluhan orang berdiri dalam barisan dengan senjata di tangan, membuat Mayra semakin sadar bahwa tempat ini bukan tempat biasa.

Jantungnya berdebar kencang. Satu kesalahan saja pasti bisa berakibat fatal.

“Kau.”

Mayra tersentak kecil ketika Matthias tiba-tiba berhenti di hadapannya. Tatapan pria itu langsung tertuju padanya sebelum beralih ke garis depan area latihan.

“Pergilah ke sana. Siapkan penanda untuk batas aman dan pastikan garisnya terlihat jelas,” ujar Matthias datar. “Aku tidak mau ada yang melewati batas tanpa sadar.”

Napas Mayra tertahan sejenak, namun segera mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”

Mayra menelan ludah, lalu berjalan perlahan menuju garis depan. Jantungnya berdebar keras, sementara tangan yang memegang perlengkapan penanda sedikit gemetar. Dia mengepalkannya erat, berusaha mati-matian agar tidak terlihat takut.

Sasaran hari itu adalah seekor babi hutan liar. Hewan itu dilepaskan dari kandang di ujung area dan langsung berlari menuju zona tembak.

Semuanya berjalan sesuai prosedur. Sampai hewan itu tiba-tiba berbelok tajam.

Bukannya masuk ke jalur sasaran, babi hutan itu justru menabrak pagar pembatas, melompati garis aman, lalu melesat lurus ke arah Mayra yang sedang berjongkok membetulkan penanda. Punggungnya membelakangi bahaya.

Belum sempat siapa pun bereaksi, suara tembakan memecah udara.

Dorr!

Babi hutan itu ambruk hanya beberapa langkah di depan Mayra. Darah membasahi rumput, sementara tubuhnya masih sempat meronta sebelum akhirnya diam.

Mayra membeku. Napasnya tercekat, jantungnya berpacu liar karena sadar betapa dekatnya maut tadi.

Perlahan, dia mendongak.

Matthias berdiri tak jauh darinya, pistol masih terangkat di tangannya. Wajah pria itu tetap datar, seolah baru saja menembak sesuatu yang sama sekali tidak berarti.

“T-Tuan ….”

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 06

    “Pekerjaanmu biar diurus pelayan lain, jangan membuang waktu Tuan Hayes hanya untuk menunggumu.” Elias berbalik tanpa menunggu tanggapan.Mayra segera meletakkan gelas di meja. Tangannya masih sedikit gemetar, sehingga ia bergerak sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Napasnya diatur perlahan dan dalam, berusaha tampil tenang, meski jantungnya berpacu begitu kencang hingga terasa sesak dan nyeri.“Kamu akan baik-baik saja.” Ivy tahu persis apa yang Mayra takutkan, ia bisa membacanya dari wajah pucat dan tatapan gelisah itu.“Entahlah, aku tidak yakin.” Mayra mengeluarkan tawa kecil yang terdengar hampa.Ivy meraih tangan Mayra yang terasa dingin, lalu menggenggamnya pelan namun erat.“Kau tidak perlu khawatir.” Mayra melepaskan genggaman itu perlahan, berusaha terlihat tegar. Cukup Mayra sendiri yang memikul kegelisahan ini, Ivy tidak perlu ikut terlibat. Mayra bahkan tidak tahu sampai kapan dirinya akan tetap hidup. Nyawanya kini berada sepenuhnya di dalam ge

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 05

    Kau ceroboh.” Hanya dua kata, namun cukup membuat perasaan Mayra semakin tidak karuan. Ia berdiri di sana, napasnya masih tertahan, jantungnya belum sepenuhnya tenang. Teguran Matthias terkesan tajam dan dingin, seolah nyawa Mayra yang hampir hilang hanyalah gangguan belaka. Rasa bersalah bercampur kebingungan memenuhi dadanya, membuatnya makin menunduk tanpa tahu harus berkata apa. “Kau seharusnya sudah berada di tempat aman sebelum hewan itu dilepaskan. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.” Rahang Matthias mengeras pelan. “Saya benar-benar minta maaf, Tuan.” Mayra menelan ludah dengan susah payah, suara bergetar halus. “Tidak seharusnya saya melakukan kesalahan dan merepotkan Tuan.” Perlahan bisik-bisik terdengar di antara para anak buah. Suara mereka tertahan, segan mengganggu kehadiran tuannya. Tatapan mereka beralih sejenak ke Mayra, lalu kembali ke Matthias, penuh rasa hormat sekaligus sadar betapa beruntungnya gadis itu. Potongan kata yang terdengar samar-s

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 04

    “Kau berpikir terlalu berlebihan.” Ivy menggeleng mantap, raut wajahnya jelas-jelas tidak setuju dengan dugaan itu.Mayra hanya menunduk dalam, matanya kosong menatap lantai seolah sudah melihat bayangan nasibnya sendiri. Yang Mayra rusak bukanlah gaun biasa, itu gaun warna biru laut kesukaan Nyonya Hayes.“Aku bukan berlebihan.” Suara Mayra nyaris tak terdengar. “Kalau sekadar menyentuh saja sudah harus dibayar nyawa … apa yang akan terjadi padaku yang merusaknya?”“Tuan Hayes melepaskanmu, mungkin karena kerjamu bagus.” Ivy menatapnya lembut, berusaha keras menemukan alasan yang paling masuk akal dan paling menenangkan.Tangan Ivy masih mengusap pelan punggung tangan temannya, seolah ingin menanamkan keyakinan itu perlahan ke dalam hati Mayra. Namun alasan itu tak cukup mampu menenangkan hati Mayra sedikit pun.Kerja bagus, rajin, teliti, semua hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan benda yang nilainya melampaui nyawa manusia biasa. Apalagi Mayra hanyalah pelayan rendahan, dan nya

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 03

    “G-gaun itu—”“Bicara yang benar.” Matthias memotong dengan suara yang terdengar lebih dingin, rahangnya mengeras perlahan.Mayra tanpa sadar berhenti bernapas sebentar. Kepalanya menunduk makin dalam, pandangannya terpaku pada lantai saja. Dadanya sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dihirup.“Gaun itu rusak karena kelalaian saya, Tuan.” Mayra memejamkan matanya untuk beberapa saat.Matthias tidak mengatakan apapun.Suasana yang sunyi itu membuat Mayra menelan ludahnya dengan susah payah. “Mohon maaf, Tuan. Jika diperlukan Tuan bisa memotong seluruh gaji saya untuk mengganti kerugian itu.”Mayra memang sangat butuh gaji tinggi hasil dari bekerja menjadi pelayan di kediaman Hayes, tapi semuanya tak berarti apa-apa jika ia tidak selamat malam ini.“Uang tidak akan pernah cukup, gantilah dengan yang lain.”Sesuatu yang pernah Mayra dengar tak sengaja melintas dengan cepat di benaknya, para pelayan pernah bilang kalau Tuan Hayes sangat mencintai istrin

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 02

    “Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?”Mayra refleks menahan napas. Jari-jarinya masih mencengkram ujung gaun, sementara pelayan di hadapannya tampak semakin pucat.“T-Tuan, maaf. Saya hanya khawatir gaun itu akan rusak. Saya bermaksud—”“Lalu kau ingin merusak gaun itu dengan tanganmu sendiri?” Suara Matthias terdengar lebih tajam dan menusuk.Pelayan itu semakin menundukkan kepala. Tidak ada lagi keberanian untuk menjelaskan apa pun. Pandangan Matthias kembali tertuju pada Mayra yang hanya bisa menundukkan kepala. Ia sempat menatap perempuan itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada pelayan di hadapannya.“Orang yang merasa dirinya berkuasa di rumah ini tidak pantas untuk tinggal di sini.” Tatapan Matthias mengeras. Ia mengangkat satu tangannya dan menunjuk pelayan tersebut.“Singkirkan dia.”Wajah pelayan itu seketika pucat.“T-Tuan, mohon ampuni saya. Saya benar-benar tidak bermaksud—”Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Elias tiba-tiba meraih l

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 01

    “Saya tidak bisa melakukannya, Tuan. Saya hanya pelayan di rumah ini.” Mayra menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung celemek.Di hadapannya, Matthias masih menggenggam gaun berwarna biru laut. Potongannya anggun, dengan kain yang berkilau lembut di bawah cahaya ruangan.Warna biru itu rasanya tidak asing, Mayra pernah melihat foto yang ada di kamar milik istri Matthias. Di sana istri Matthias mengenakan dress selutut warna biru laut.Kenapa Tuan Hayes menyuruhnya memakai gaun dengan warna yang merupakan favorit istrinya?“Pakai,” ulang Matthias singkat.Mayra mengangkat wajah dengan ragu. “Tuan, saya takut gaun ini—”“Cepat pakai dan jangan membuat Tuan Hayes menunggu.”Suara Elias, kepala pelayan, terdengar dari samping. Mayra menelan kembali ucapannya. Jika bahkan Elias menyuruhnya menurut, ia tahu tidak ada gunanya membantah lagi.Akhirnya, Mayra mengulurkan tangan dan menerima gaun tersebut dengan hati-hati.“B–baik, Tuan. Akan saya pakai.” Mayra kemudian bergegas menuju ruang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status