Share

Bab 05

Penulis: Aamz Kyure
last update Tanggal publikasi: 2026-08-09 11:46:22

Kau ceroboh.”

Hanya dua kata, namun cukup membuat perasaan Mayra semakin tidak karuan. Ia berdiri di sana, napasnya masih tertahan, jantungnya belum sepenuhnya tenang.

Teguran Matthias terkesan tajam dan dingin, seolah nyawa Mayra yang hampir hilang hanyalah gangguan belaka. Rasa bersalah bercampur kebingungan memenuhi dadanya, membuatnya makin menunduk tanpa tahu harus berkata apa.

“Kau seharusnya sudah berada di tempat aman sebelum hewan itu dilepaskan. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.” Rahang Matthias mengeras pelan.

“Saya benar-benar minta maaf, Tuan.” Mayra menelan ludah dengan susah payah, suara bergetar halus. “Tidak seharusnya saya melakukan kesalahan dan merepotkan Tuan.”

Perlahan bisik-bisik terdengar di antara para anak buah. Suara mereka tertahan, segan mengganggu kehadiran tuannya. Tatapan mereka beralih sejenak ke Mayra, lalu kembali ke Matthias, penuh rasa hormat sekaligus sadar betapa beruntungnya gadis itu.

Potongan kata yang terdengar samar-samar di sekitarnya membuat perasaan Mayra semakin tidak nyaman.

“Beraninya pelayan itu melakukan kesalahan sepele yang menyita waktu Tuan Hayes.”

“Tuan Hayes hanya tidak ingin ada kematian yang mengacaukan latihan. Cuma karena diselamatkan, bukan berarti dia berharga.”

“Saat pulang nanti, Tuan Hayes pasti mengurus pelayan itu dengan caranya sendiri.”

Semua seolah sepakat bahwa Mayra tidak berarti apa-apa, hanya gangguan yang kebetulan diselamatkan, bukan seseorang yang layak dilindungi.

“Pergi ke garis aman, sekarang.”

Suara Matthias tiba-tiba terdengar, menyadarkan Mayra yang sebelumnya masih terperangkap dalam isi pikirannya sendiri.

Mayra tersentak pelan, lalu segera menegakkan tubuh. “Baik, Tuan.”

Tanpa menunda lagi, Mayra melangkah menuju garis aman. Ia sebisa mungkin berusaha menyembunyikan gerakan kakinya yang masih sedikit gemetar.

Sementara Matthias sendiri tidak melangkah melewati tempat itu sebelum Mayra pergi sepenuhnya. Ia berdiri diam sebentar, posisinya secara tak terduga menutupi pandangan orang-orang ke arah gadis itu. Hanya sesaat, lalu Matthias menghampiri anak buahnya untuk memberikan arahan. Ia kembali sibuk dengan urusannya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Bahkan Elias pun masih merasa heran. Matthias bisa saja membiarkan Mayra mati, namun ia justru repot-repot menembak untuk menyelamatkannya. Hal itu tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenalnya.

Pandangan Elias melayang ke arah Mayra yang berdiri sendirian di bawah pohon. Tadi ia sempat menerima kode dari Matthias lewat satu tatapan mata yang singkat. Ia paham betul maksudnya, ia harus mengawasi Mayra dan memastikan gadis itu tidak lagi melakukan kesalahan.

Elias mendekat ke arah Mayra. “Kerjakan tugasmu dengan baik. Jangan sampai Tuan Hayes turun tangan sendiri dan menghukummu mati karena ketidakbecusanmu.”

Kakinya terasa lemas mendengar peringatan itu. Mayra mengangguk pelan, tak berani mendongak. “Terima kasih sudah mengingatkan. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

Perasaan tidak nyaman Mayra sedikit berkurang saat Elias akhirnya menjauh. Ia tidak lagi berdiri begitu dekat dengan Kepala Pelayan itu, dan napasnya perlahan kembali lebih tenang meski ada beberapa hal yang masih mengusik hatinya.

Di sekian banyak hal yang dilihatnya, pandangan Mayra justru tertuju pada Matthias. Pria itu memegang senjata dengan tenang. Ia kejam dan tak punya hati, namun karismanya dan ketampanannya memang luar biasa. Samasekali tak bisa dipungkiri.

“Apa yang aku pikirkan?” Mayra bergumam pelan lalu menunduk dalam.

Mayra menepuk pelan sisi kepalanya, seolah ingin menghapus pikiran yang tidak seharusnya muncul.

Mayra berusaha bekerja sebaik mungkin. Ia berinisiatif menyodorkan sapu tangan dan menyiapkan air bahkan sebelum Matthias memintanya. Ia ingin tidak lagi mengecewakan tuannya.

Setelah semuanya selesai para anak buah sudah kembali ke kendaraan untuk membereskan perlengkapan. Elias pun ikut pergi setelah Matthias memberi isyarat untuk mendahului.

Matthias masih harus meninjau ulang jalur evakuasi dan batas aman di area ini. Ia memang bisa menyuruh orang lain melakukannya, namun ia lebih memilih memastikannya sendiri.

Matthias menoleh ke arah Mayra. "Kau bawa pita penanda ini. Saat aku menunjuk bagian yang rusak atau tidak jelas batasnya, kau ikat di tempat itu. Agar besok tim perbaikan langsung tahu apa yang harus dikerjakan.”

Mayra menerima gulungan pita itu dengan hati-hati. "Baik, Tuan.”

Setiap detik bersama Matthias terasa begitu menegangkan. Jantungnya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas, bukan hanya karena takut, tapi karena kehadiran pria itu sendiri. Ia sadar setiap gerakannya diamati, setiap kata yang diucapkan ditimbang. Rasanya tak ada satu pun momen yang bisa dianggap biasa.

“Mendekat sedikit.” Nadanya tidak keras, namun tak bisa dibantah. Matthias menoleh pelan, menatap Mayra yang berdiri agak jauh.

Mayra melangkah maju, hanya dua langkah kecil yang nyaris tak mengubah posisinya.

“Kau sedang menjaga jarak denganku?” Suaranya tenang, namun pertanyaan itu menembus keheningan dengan begitu jelas.

“T-tidak Tuan, hanya saja—”

“Kau takut aku melakukan hal yang tidak pantas padamu?” potong Matthias yang membuat hawa di sekitar mendadak dingin.

Mayra menggeleng kuat, menolak sepenuhnya dugaan itu. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tak mampu mengeluarkan suara.

Tangan Mayra mulai terasa dingin, menjalar perlahan dari ujung jari hingga ke pergelangan. Setiap kata yang keluar dari bibir Matthias selalu saja membuatnya tidak tenang. Seakan ada ketegangan yang tak pernah luruh, juga rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi setiap kali berada di dekatnya.

“Pasang di sana.”

Mathias menunjuk dengan tegas, mengarahkan pandangan Mayra tepat ke posisi itu. Tatapannya mengikuti arah jari itu, memastikan Mayra paham persis di mana letaknya.

“Saya akan pasang dengan benar.” Mayra melangkah maju dengan hati-hati, tapi rasa gugupnya justru membuatnya semakin tidak tenang.

Matanya sesekali melirik ke arah Matthias, dan saat itulah kakinya tersandung. Ia terhuyung ke depan, napasnya tertahan, berusaha sekuat tenaga agar tidak jatuh.

Di saat keseimbangan Mayra nyaris hilang sepenuhnya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Mayra tersentak, tubuhnya menegang. Sentuhan itu tetap terasa asing bagi Mayra, meskipun bukan yang pertama kali.

“Maaf—”

“Aku tidak terlalu suka permintaan maaf. Banyak orang yang meminta maaf padaku, dan mereka berakhir mati.” Tangan Matthias sedikit menekan pinggang Mayra.

Mayra menelan ludah, tak berani bergerak. “Saya mengerti, Tuan.”

Matthias perlahan menurunkan tangannya, melepaskan Mayra dengan gerakan yang lambat dan terkendali. “Lakukan tugasmu dengan benar.”

Mayra menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar. “Saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”

***

Malam sudah datang, pekerjaan Mayra belum tuntas sepenuhnya. Ia meminum air agak cepat, berusaha mendinginkan kepalanya yang penuh dengan bayangan kejadian siang tadi. Ia berharap bisa segera melupakan apa yang terjadi di tempat latihan menembak, namun ingatan itu tak kunjung pudar.

“Kau mau minum berapa gelas lagi?” Ivy menahan tangan Mayra, temannya itu akan kembung jika minum terlalu banyak.

“Aku cuma terlalu haus.” Mayra sebisa mungkin berusaha terlihat tenang.

“Kau pulang dengan selamat, selama kau tidak membuat kesalahan kau pasti akan aman. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?”

Mendengar itu, Mayra justru menegang. Jantungnya berdebar tak menentu. Masalahnya, ia sudah melakukan kesalahan yang tak biasa.

“Kepala Pelayan Elias ….” Mayra menahan napas sejenak, tubuhnya sedikit menegang. Kedatangan pria itu tiba-tiba membuatnya merasa cemas tanpa alasan yang jelas.

“Tuan Hayes menyuruhmu datang ke ruang kerjanya.” Tatapan Elias tertuju pada Mayra.

Mayra terdiam, jantungnya berdebar kencang hingga terasa sesak. Ia mengangguk pelan, tak mampu berkata apa-apa lagi. Kali ini, apa yang diinginkan oleh Tuannya?

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 22

    “Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan niatnya."Saya ingin mengambil cuti untuk hari esok, Tuan." Kata-kata itu akhirnya terucap, setelah Mayra menelan ludah dan menenangkan diri sejenak."Tidak boleh." Matthias langsung menolaknya mentah-mentah, seakan kata-kata itu sudah siap di ujung lidahnya sebelum Mayra selesai berbicara.Hati Mayra berdebar cemas, namun ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tahu … apa ada alasan khusus, Tuan?”Matthias hanya diam, tatapannya masih dingin seperti sebelumnya.Mayra menarik napas pelan,

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 21

    "Ini bukan untuk siapa-siapa," jawab Mayra buru-buru, wajahnya memerah seketika tanpa alasan yang jelas.Mayra segera menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya, berharap Ivy tidak akan menanyainya lebih jauh lagi. Jangan sampai Ivy tahu sosok yang ingin dirinya berikan sapu tangan itu.Mayra menelan ludah gugup, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat malu dan tidak tenang. Ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat."Lihat apa?" Mayra mendorong pelan bahu Ivy sambil memalingkan wajah sedikit. "Tidak ada yang menarik untuk dilihat.”Ivy masih tersenyum dengan tujuan menggoda Mayra. “Kau membordir sapu tangan untuk seseorang yang kau suka, itu sangat menarik.”"Jangan bicara sembarangan," bisik Mayra sepelan mungkin, matanya melirik ke kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar."Kenapa gugup begitu? Aku cuma bercanda." Ivy tertawa tanpa suara, matanya berbinar nakal. "Tapi … apa orang yang kau sukai benar-benar ada di kediaman ini?”Mayra langsung membekap mu

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 20

    Matthias menunduk sedikit, rahangnya mengeras sejenak sebelum ia kembali menatap Mayra. "Orang yang kau sukai itu … dia lebih menarik dariku?” Mayra benar-benar bingung. Pertanyaan itu terdengar begitu aneh di telinganya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa duduk diam dengan perasaan yang semakin gelisah.Padahal Matthias paling tidak suka membandingkan dirinya dengan orang lain, dan sekarang pria itu sendiri yang membahas sesuatu yang tidak seharusnya dibahas.“Jawab,” desak Matthias dengan sedikit penekanan.“Tuan berada di kelas yang berbeda, Tuan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun apalagi dengan orang biasa seperti kami.” Mayra menelan ludah pelan. Entah kenapa, Mayra merasa sorot mata Matthias semakin menajam tepat setelah mendengar jawabannya.Mayra memberanikan diri menatap Matthias sedikit lebih lama dari biasanya. "Wajah Tuan terlihat agak kemerahan … apa Tuan sedang sakit?”Matthias hanya diam dengan tangan yang mencengkeram bukunya begitu kuat, jari-jari

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 19

    Mata Mayra nyaris terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Benda kecil di tangan pria itu terlihat sangat familiar, itu adalah ikat rambut kesukaannya yang telah hilang."Ikat rambut itu memang terlihat mirip milik saya, Tuan." Mayra menatap benda itu sekilas, ia sedikit ragu dan takut salah mengenali benda itu."Tadi pagi saat aku terbangun, benda ini sudah ada di genggamanku.” Mata Matthias menatap ikat rambut itu sejenak, seakan sedang mengingat sesuatu yang samar namun nyata.Tubuh Mayra seketika sedikit menegang kala tiba-tiba teringat kejadian kemarin malam.Matthias menatap Mayra yang masih diam memproses semuanya. “Kemarin malam, kau yang mengurusku saat mabuk. Kalau bukan milikmu, milik siapa?”Mayra berusaha menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat berdebar kencang. “Itu memang milik saya, Tuan. Maaf, saya baru menyadarinya.”Bukannya merasa lega setelah jujur, Mayra justru menelan ludah dengan perasaan yang kian gelisah. Sesuatu di ruangan itu terasa be

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 18

    Mayra menelan ludah. "Saya akan mengambil lap—""Lap pakai bajumu," potong perempuan itu dengan cepat, raut wajahnya terlihat begitu angkuh.Mayra melirik sekilas ke arah Matthias. Pria itu hanya diam, berdiri tenang tanpa satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia pun menyimpulkan kalau Matthias pasti samasekali tidak keberatan.“Saya mengerti, Nona.” Mayra mati-matian menahan perasaan sesak yang menggerogoti dadanya, berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.perempuan angkuh itu tersenyum lebar, terlihat sangat puas mendapatkan apa yang ia mau."Berhenti." Suara Matthias tiba-tiba terdengar tegas, memotong gerakan Mayra yang baru saja hendak menurunkan lututnya ke lantai yang dingin itu."Lanjutkan." seru perempuan angkuh itu yang merasa tak terima. Matanya melotot ke arah Mayra."Jane Hartley." Satu panggilan itu terucap rendah namun penuh ancaman.Suara Matthias sedingin es, membuat suhu ruangan seketika terasa turun. Jane seketika terdiam, wajahnya pucat pasi mendengar nada itu yan

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 17

    Mayra refleks mundur selangkah, menjauhkan diri dari jangkauan tangan Matthias. "U-untuk ... menutupi luka yang saya dapatkan karena lalai dalam bekerja.”Mayra mencengkeram erat pinggiran nampan di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan karena takut Matthias mengetahui apa yang telah terjadi semalam."Kau menyembunyikan sesuatu?" Tatapan Matthias tajam dan menyelidik, seakan berusaha membaca setiap ekspresi di wajah Mayra.Mayra menelan ludah dengan susah payah, kepalanya semakin menunduk dalam. "T-tidak, Tuan ... saya tidak menyembunyikan apapun.”“Aku tidak suka kau terlalu sering menunduk,” ucap Matthias dengan nada yang tegas namun tenang. “Ke depannya, ingat baik-baik hal ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mayra terkejut sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya sebisa mungkin meskipun hatinya masih berdebar cemas. “Saya mengerti, Tuan.”Setiap kali Mayra menatap sepasang mata berwarna abu-abu itu, perasaan aneh yang s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status