Share

Bab 03

Penulis: Aamz Kyure
last update Tanggal publikasi: 2026-08-05 18:05:26

“G-gaun itu—”

“Bicara yang benar.” Matthias memotong dengan suara yang terdengar lebih dingin, rahangnya mengeras perlahan.

Mayra tanpa sadar berhenti bernapas sebentar. Kepalanya menunduk makin dalam, pandangannya terpaku pada lantai saja. Dadanya sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dihirup.

“Gaun itu rusak karena kelalaian saya, Tuan.” Mayra memejamkan matanya untuk beberapa saat.

Matthias tidak mengatakan apapun.

Suasana yang sunyi itu membuat Mayra menelan ludahnya dengan susah payah. “Mohon maaf, Tuan. Jika diperlukan Tuan bisa memotong seluruh gaji saya untuk mengganti kerugian itu.”

Mayra memang sangat butuh gaji tinggi hasil dari bekerja menjadi pelayan di kediaman Hayes, tapi semuanya tak berarti apa-apa jika ia tidak selamat malam ini.

“Uang tidak akan pernah cukup, gantilah dengan yang lain.”

Sesuatu yang pernah Mayra dengar tak sengaja melintas dengan cepat di benaknya, para pelayan pernah bilang kalau Tuan Hayes sangat mencintai istrinya yang hilang. Semua barang peninggalannya harus selalu utuh, di tempatnya, tak boleh bergeser ataupun rusak.

Jantung Mayra berdegup keras sampai ke leher. Ia tidak berani bicara apa yang ia curigai, takut dianggap mengarang alasan, atau malah memperburuk keadaan. Ia bahkan belum tahu pasti siapa yang sebenarnya merusak gaun itu. Di sini, sekadar menyentuh benda itu saja sudah bagai dosa besar.

Kursi kerja Matthias sedikit bergeser, pria itu mendekati Mayra dengan langkah pelan.

“Angkat kepalamu.”

Perintah itu terasa berat bagai beban di pundaknya. Tubuh Mayra membeku, jarak di antara mereka kini begitu dekat, ia bisa merasakan kehadiran pria itu sepenuhnya.

Mayra perlahan mengangkat kepala, tapi tetap tidak berani menatap mata milik Matthias. “Saya akan melakukan apapun, asal Tuan mengampuni kesalahan yang telah saya perbuat.”

“Apapun?” Matthias terkekeh sinis.

“Satu atau dua nyawa bahkan tidak bisa dibandingkan dengan gaun itu.” Setiap kata Matthias terasa berat dan tajam.

Matthias meraih dagu Mayra, sentuhan yang begitu dingin. Jari-jarinya kaku namun tegas, memaksa wajahnya perlahan terangkat sampai tak ada jalan lagi untuk menghindar.

Saat pandangan mereka akhirnya bertemu, napas Mayra seakan berhenti sepenuhnya. Di balik sorot mata yang tajam, dingin, dan seolah tak berperasaan itu, anehnya ia melihat sesuatu yang sulit dijelaskan.

Sentuhan itu membuat Mayra merasa tidak nyaman, bulu kuduknya berdiri seketika. Mayra menelan ludah dengan susah payah, keinginan untuk menarik diri sangat kuat, tapi kakinya terasa terpaku, dan tangannya tak berani terangkat untuk menolak

“Tuan, tolong lepaskan saya.” Suara Mayra bergetar pelan, hampir tak terdengar, matanya kembali berusaha menunduk meski dagunya masih ditahan.

“Sedang memerintahku?” tanya Matthias dengan suara rendah yang penuh cemooh halus, seolah baru saja mendengar hal paling konyol sekaligus paling berani.

Mathias menatap Mayra lekat-lekat. Matanya menelusuri wajah Mayra, raut wajahnya terkesan dingin dan meremehkan.

“Kau pikir posisimu punya hak menuntut sesuatu?” Jari Matthias menekan pelan dagu Mayra seolah tak boleh sedikitpun bergerak ataupun menghindar.

Tubuh Mayra menegang kaku, jari-jarinya saling meremas erat di belakang pinggang, berusaha sekecil mungkin agar tak menarik perhatian lebih. Matanya kembali berusaha menunduk sedalam mungkin meski dagunya belum dilepaskan. Bahu Mayra merosot lemah, seluruh keberaniannya runtuh seketika.

“Saya tidak berani, Tuan. Maaf telah lancang.” Suara Mayra hampir hilang tertelan rasa takut.

“Semua yang bekerja denganku memang harus tahu posisinya.” Suara Matthias terdengar rendah namun pasti.

Matthias tidak mengurangi tekanan di dagu, justru menatap lekat seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar paham bahwa ada garis tegas antara tuan dan pelayan yang tak boleh disentuh apalagi dilanggar.

“Tapi Tuan … posisi seperti ini akan membuat siapapun salah paham,” ucap Mayra pelan dan penuh keraguan, jantungnya berdebar kencang sampai terasa sesak.

Mata Mayra sengaja mengelak, tak berani menatap lurus. Ia tahu betul dirinya kembali melanggar batas dengan berani mengucapkan hal berbahaya ini, namun keinginan mengembalikan jarak yang seharusnya ada, lebih kuat daripada rasa takutnya.

“Mencoba menegurku yang seolah sedang melakukan hal tidak pantas padamu?” Nada Matthias tetap dingin dan berwibawa, tapi ada sedikit getaran halus yang tak biasa.

Tatapan Matthias menyapu wajah Mayra dari bawah ke atas, seolah menilai seberapa besar keberanian gadis itu hingga berani menilai apa yang pantas atau tidak pantas dilakukan olehnya.

“S-saya tidak bermaksud, saya—” Mayra tak mampu melanjutkan, untuk sesaat ia takut kembali salah bicara.

“Kau pikir kau punya hak menetapkan aturan untukku juga?”

Kata-kata itu menghantam dada Mayra lebih berat daripada bentakan mana pun. Mayra sadar bahwa ia bukan sekadar tak punya hak, ia bahkan tak berhak menilai mana yang benar atau salah.

Rasa bersalah bercampur keputusasaan memenuhi dadanya sepenuhnya. Ya, siapa dirinya sampai berani berharap ada aturan yang berlaku sama untuk keduanya?

“Tuan adalah pria terhormat, mana mungkin melakukan hal tidak pantas pada perempuan rendahan seperti saya. Maaf atas kelancangan saya dan sikap yang tidak tahu diri.”

Setiap kata terasa pahit, namun terpaksa Mayra ucapkan. Ia sengaja merendahkan dirinya serendah mungkin, agar jarak di antara mereka kembali terlihat jelas, agar Matthias tak merasa dituduh, agar ia sendiri terlihat tahu betul di mana tempatnya berdiri.

Matthias melepaskan dagu Mayra, lalu mundur selangkah.

“Hal apa yang bisa kau berikan padaku dan pantas ditukar dengan nyawamu?” Suaranya berat dan tajam. Matanya menatap lurus, menuntut jawaban yang Mayra sendiri belum tahu.

Mayra mengatupkan bibirnya, tak lagi mampu mengatakan sepatah kata pun.

“Kau bisa keluar.”

Mayra membungkuk hormat tanpa mengatakan apapun lagi. Gerakannya pelan, rendah, dan penuh kepatuhan yang tak bersisa. Mayra keluar dari ruangan itu dengan perasaan tak nyaman yang menekan dadanya. Jantungnya masih berdebar tidak beraturan, napasnya juga belum kembali tenang.

Udara di luar terasa sama beratnya dengan di dalam. Pertanyaan pria itu masih menggantung jelas di kepalanya, dinginnya sentuhan di dagu juga masih terasa melekat di kulitnya.

Sepanjang jalan menuju kamarnya, Mayra lebih banyak melamun. Pikirannya terus tertinggal di ruangan itu, ia berjalan tanpa benar-benar sadar ke mana ia pergi. Begitu ia melewati pintu kamar, ketegangan yang ditahan sekuat tenaga akhirnya luruh sepenuhnya.

Lututnya melemah tak tertahankan, tubuhnya perlahan merosot dan akhirnya jatuh terduduk di lantai dingin. Ia merasakan betapa gemetar seluruh tubuhnya, dadanya pun terasa makin sesak.

“Apa yang terjadi?” Ivy menghampiri Mayra dengan cepat, raut wajahnya langsung berubah cemas.

Ivy segera membantu Mayra berdiri perlahan, menopang tubuh temannya yang terasa berat dan goyah sepenuhnya. Ia menuntun langkah itu pelan-pelan sampai ke pinggiran kasur, lalu mendudukkan Mayra dengan hati-hati.

Tanpa banyak bicara, Ivy beranjak mengambilkan segelas air, lalu kembali duduk di samping Mayra.

“Minum ini agar kau sedikit lebih tenang.” Ivy mengulurkan gelas dengan hati-hati, jari-jarinya hampir menyentuh tangan Mayra untuk memastikan gadis itu sadar keberadaannya.

Mayra meneguk air beberapa kali, berharap ia kembali bisa bernapas dengan tenang.

“A-aku merusak gaun milik Nyonya Hayes,” ungkap Mayra.

“Bagaimana bisa? Kau adalah orang yang sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu.” Suara Ivy terdengar masih tak percaya, tangannya bahkan terulur pelan menyentuh lengan Mayra untuk menenangkan sekaligus meyakinkan.

“Aku tidak tahu.” Mayra masih linglung, tak sanggup menjelaskan apapun.

“Tapi, kau baik-baik saja kan?” Tangannya menggenggam pelan jari-jari Mayra yang masih dingin dan gemetar.

“Kau masih hidup, itu jauh lebih penting,” ucap Ivy setelah memastikan Mayra tidak memiliki luka serius.

Meskipun Mayra masih hidup, entah kenapa ia sama sekali tidak merasa senang ataupun lega. Ada sesuatu berat di dadanya yang terasa menyakitkan, seolah kematiannya tidak dibatalkan melainkan hanya ditunda pelan-pelan.

“Ivy … a-apa mungkin, besok Tuan Hayes akan menghukumku mati di depan seluruh staf rumah ini?”

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 18

    Mayra menelan ludah. "Saya akan mengambil lap—""Lap pakai bajumu," potong perempuan itu dengan cepat, raut wajahnya terlihat begitu angkuh.Mayra melirik sekilas ke arah Matthias. Pria itu hanya diam, berdiri tenang tanpa satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia pun menyimpulkan kalau Matthias pasti samasekali tidak keberatan.“Saya mengerti, Nona.” Mayra mati-matian menahan perasaan sesak yang menggerogoti dadanya, berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.perempuan angkuh itu tersenyum lebar, terlihat sangat puas mendapatkan apa yang ia mau."Berhenti." Suara Matthias tiba-tiba terdengar tegas, memotong gerakan Mayra yang baru saja hendak menurunkan lututnya ke lantai yang dingin itu."Lanjutkan." seru perempuan angkuh itu yang merasa tak terima. Matanya melotot ke arah Mayra."Jane Hartley." Satu panggilan itu terucap rendah namun penuh ancaman.Suara Matthias sedingin es, membuat suhu ruangan seketika terasa turun. Jane seketika terdiam, wajahnya pucat pasi mendengar nada itu yan

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 17

    Mayra refleks mundur selangkah, menjauhkan diri dari jangkauan tangan Matthias. "U-untuk ... menutupi luka yang saya dapatkan karena lalai dalam bekerja.”Mayra mencengkeram erat pinggiran nampan di tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan karena takut Matthias mengetahui apa yang telah terjadi semalam."Kau menyembunyikan sesuatu?" Tatapan Matthias tajam dan menyelidik, seakan berusaha membaca setiap ekspresi di wajah Mayra.Mayra menelan ludah dengan susah payah, kepalanya semakin menunduk dalam. "T-tidak, Tuan ... saya tidak menyembunyikan apapun.”“Aku tidak suka kau terlalu sering menunduk,” ucap Matthias dengan nada yang tegas namun tenang. “Ke depannya, ingat baik-baik hal ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mayra terkejut sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya sebisa mungkin meskipun hatinya masih berdebar cemas. “Saya mengerti, Tuan.”Setiap kali Mayra menatap sepasang mata berwarna abu-abu itu, perasaan aneh yang s

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 16

    Ujung hidung Matthias bergeser perlahan di sepanjang garis leher Mayra, menekan lembut sebelum bibirnya berbisik tepat di samping telinga Mayra dengan nada rendah. “My Queen.”“T-tolong menjauh sekarang juga.” Tubuh Mayra gemetar, kali ini ia mendorong sekuat tenaga dengan gerakan agak kasar. Alih-alih melepaskan, Matthias justru menekan bibirnya di kulit leher Mayra. Pria itu meninggalkan tanda yang tak akan hilang begitu saja, sesuatu di dalam diri Mayra seketika meledak.Mayra meronta, dan tanpa sadar kuku-kukunya mencakar punggung pria itu. Ia marah, takut, dan apa yang terjadi sekarang sungguh telah melanggar batas yang seharusnya ada di antara mereka.“Sshh.” Suara itu lolos begitu saja dari bibir Matthias, cakaran Mayra tak sengaja mengenai luka lama di punggungnya yang belum sepenuhnya kering.Saat Matthias sedikit lengah, ia akhirnya berhasil melepaskan diri dengan susah payah dan segera mundur dan bergegas berdiri agar Matthias tak lagi menjangkaunya.“Saya tidak bermaksud

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 15

    “Apa kau bisa berhenti membahas hal yang menakutkan?” Mayra menatapnya lemah, suaranya terdengar memohon.“Ya sudahlah.” Ivy menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi pasrah.Ivy menyadari bahwa kekhawatirannya yang terus dirinya ucapkan justru semakin menekan Mayra, samasekali tidak membuat Mayra merasa terbantu. Ia menepuk pelan lengan Mayra tanpa mengatakan apapun lagi.“Kalau kue ulang tahun itu harus sama persis, berarti penampilannya juga harus sama.” Mayra berhenti sejenak, rasa cemas kembali menyusup. “Tapi aku bahkan tidak tahu detail apa pun tentang kue itu.”“Menurutmu aku tidaklah begitu berguna?” Ivy tersenyum sedikit, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. “Aku punya fotonya.”Mayra menatapnya lebar, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya merasa sedikit lega. “Kau sangat hebat.”“Banyak pelayan yang memiliki foto ini, tidak ada yang begitu hebat. Mereka berpikir kalau mereka pasti bisa ditunjuk kapan saja, jadi menyimpan foto itu sangatlah berguna,” teran

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 14

    “Bukannya kemarin malam dia masuk kamar di atas jam sepuluh? Bisa-bisanya dia masih hidup.” Salah satu teman kamar Mayra berkomentar dengan nada tak percaya sekaligus sinis.Mayra baru saja menyelesaikan seluruh tugasnya, tubuhnya terasa lelah dan pikirannya masih penuh kegelisahan. Ia lebih memilih untuk tidak terlalu peduli dengan kalimat pedas itu.Di kediaman ini, pelanggaran aturan jam malam adalah dosa yang biasanya dibayar dengan nyawa. Fakta bahwa Mayra masih berdiri di sana tanpa luka sedikit pun, terasa tak masuk akal bagi mereka.“Itu karena temanku adalah pelayan pribadi Tuan Hayes.” Ivy muncul tiba-tiba dari arah belakang, lalu merangkul bahu Mayra erat. “Kau tidak terima? Mau menggantikan posisi temanku?”“Tch.” Pelayan yang berkomentar tadi langsung melengos memalingkan wajah, raut wajahnya masih menampakkan ketidakrelaan.“Tch tch apa?” Nada bicara Ivy berubah dingin dan tajam.“Sudah …” Mayra menarik lengan Ivy pelan, membujuknya agar tenang. “Kau cuma akan lelah kala

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 13

    “Mana mungkin, gelang seperti itu samasekali bukan selera Nyonya Hayes.” Ivy tersenyum tipis sambil menggeleng. “Beliau lebih suka dengan hal-hal yang mencolok.”“Begitu?” Rasanya ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati Mayra. “Lalu, kenapa Tuan Hayes memiliki gelang yang tidak istrinya suka?”“Mungkin gelang itu pemberian dari rekan kerjanya, atau bisa saja dari teman dekat.” Ivy kembali melahap makanannya.Siapapun yang memberikan gelang itu, orang tersebut pasti sangatlah berani dan tidak takut mati. Memberikan sesuatu yang tidak Nyonya Hayes suka adalah tindakan yang penuh risiko. Mayra mengusap pelan lehernya yang tiba-tiba terasa merinding.“Kau sepertinya tahu banyak tentang kediaman ini … padahal kau datang sehari setelah aku.” Mayra menyadari keterbatasannya, masih begitu banyak hal yang belum ia pahami.“Sudah seharusnya begitu.” Ivy merangkul pundak Mayra, menatapnya lekat. “Kita tidak boleh mati sia-sia, kita punya kesempatan lebih untuk bertahan hidup kalau sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status