LOGINSaat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.
“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang. “Lady?” panggilnya sekali lagi. “Ah, maaf. Saya sedang banyak pikiran.” “Jangan pikirkan bisik-bisik itu, Lady!” Kael berbisik singkat di telinganya. Aruna menengok ke kanan dan kiri—dan benar saja. “Hei, bukankah itu Lady yang suka mengejar-ngejar pangeran?” “Apa pangeran disihir?” “Rumornya Lady itu berubah.” “Ah, masa sih?” Keduanya tidak menggubris hingga akhirnya sampai ke dalam toko. Aruna berteriak kecil kegirangan karena banyak orang mengatakan kue dan rotinya enak. “Lady, kuenya enak sekali!” komentar seorang ibu paruh baya di pojokan sembari menunjukkan kue kering yang hampir habis tergigit. “Ya?” Aruna bergegas menghampiri, menarik bangku di depannya. “Rasanya bagaimana?” “Enak sekali, Lady! Saya rasa Anda harus membuka cabang lagi di daerah lain!” Ibu itu terus berkomentar sambil mengunyah beberapa potong mile crepes yang dipesannya tadi. “Terima kasih karena sudah berkenan datang di hari pertama pembukaan kami,” ucap Aruna tulus. Semua orang yang ada di sana tercengang. Untuk pertama kalinya, mereka mendengar Lady Evelyne mengucapkan hal semacam itu kepada rakyat biasa. Padahal biasanya ia jarang bersosialisasi dengan rakyat—hanya dengan bangsawan kelas atas. Bisik-bisik kembali terdengar, terlebih ada gosip yang tiba-tiba beredar bahwa Pangeran Kael sedang mengejar Lady Evelyne. Tapi Kael tidak peduli. Ia justru tersenyum bangga melihat Aruna berbaur dengan para pembeli. “Kau hebat, Lady,” ucapnya pelan, hanya untuk didengar Aruna. Aruna menoleh. “Apa?” “Tidak apa-apa.” --- Keduanya tidak menggubris bisik-bisik itu hingga akhirnya berkeliling ke dalam toko. Namun sebelum sempat melihat-lihat lebih jauh, Kael menarik lengan Aruna perlahan ke arah belakang—tepat di mana pintu dapur berada. “Bolehkah aku melihat dapurmu, Lady?” tanyanya dengan mata berbinar. “Sejak kemarin, aku penasaran.” Aruna mengangguk. “Silakan, Yang Mulia.” Begitu pintu dapur terbuka, Kael segera melangkah masuk. Matanya menjelajahi setiap sudut—rak-rak bumbu yang tertata rapi di dinding, gantungan panic besi dengan ukiran bunga yang tidak biasa, serta sebuah papan tulis kecil bertuliskan daftar pesanan dengan tulisan tangan yang rapi. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah serangkaian botol kaca berisi rempah-rempah yang diberi label dengan gambar-gambar lucu—mata tersenyum, bintang, dan bulan sabit. “Lady, jadi ini dapurmu?” Kael mengamati sekeliling dengan saksama. Matanya berhenti pada sebuah teko tanah liat berbentuk kucing gemuk yang sedang memegang cangkir. Di sampingnya, ada wadah sendok kayu yang diukir menyerupai sesosok makhluk berjubah dengan topi runcing. Sungguh aneh. Sungguh tidak biasa. Namun justru itu yang membuatnya unik. “Hiasan-hiasan ini... dari mana Anda mendapatkannya?” Aruna tersenyum tipis. Ia tahu betul bahwa semua aksesoris dapur ini adalah hasil sentuhan dunianya dulu—dunia modern yang penuh warna dan imajinasi. Tentu saja orang-orang di kerajaan ini tidak akan terbiasa melihatnya. “Apakah hiasannya monoton? Terlalu sederhana?” tanya Aruna dengan nada yang sengaja diimut-imutkan. Ia memiringkan kepala, kedua tangannya menggenggam erat di depan dada. Kael terdiam. Bukan karena risih, melainkan karena... lucu? Ya, Lady Evelyne yang dulu angkuh dan pemarah kini bertingkah imut di hadapannya. Perbedaan itu membuat dada Kael berdebar aneh. “Ah, tidak kok, Lady. Bagus,” jawabnya akhirnya, sedikit terbata. Matanya masih tak bisa lepas dari teko berbentuk kucing itu. “Sangat... unik. Aku belum pernah melihat dapur dengan aksesoris seperti ini di seluruh kerajaan.” Ia berjalan mendekati rak rempah, mengamati label bergambar bintang tersenyum pada botol kayu manis. “Ini siapa yang menggambar?” “Aku, Yang Mulia,” jawab Aruna jujur. “Karena dapur adalah tempat yang hangat, jadi kupikir hiasannya harusnya membuat orang tersenyum.” Kael mengangguk pelan. “Kau benar, Lady.” Ia menoleh ke arah Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dapur ini... sama seperti dirimu. Berbeda. Tapi entah mengapa, terasa nyaman.” Aruna merasakan pipinya memanas. “A-ah, sudahlah, Yang Mulia. Lebih baik kita kembali ke depan, para pembeli pasti menunggu.” Namun sebelum mereka sempat melangkah, Kael berkata lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, “Aku ingin kembali ke sini suatu hari nanti.” Aruna hanya bisa diam, hatinya berdebar tak karuan. --- Di luar toko, sesosok pria jangkung dengan mantel hitam berdiri di antara kerumunan. Matanya menyipit mengawasi pintu masuk toko dari kejauhan. Duke Rowan Blacwood. Ia tersenyum tipis, lalu membatin lirih. “Jadi, ini alasanmu Lady. Kau menolak bertemu denganku?”Russle pun segera kembali ke Kastel Blackwood. Ia menuntun kudanya sambil berjalan bersama puluhan pemuda yang baru saja melewati pertempuran panjang.Sesampainya di halaman kastel, aroma daging panggang langsung menyambut mereka.Ternyata benar perkataan Russle.Para koki kastel sudah menyiapkan puluhan potong daging rusa yang dipanggang dengan madu. Hidangan itu bahkan disusun di meja panjang agar seluruh pasukan bisa makan bersama."Wah!""Benar-benar sudah disiapkan!"Para pemuda segera duduk dan menyantapnya dengan lahap. Setelah berjam-jam berada di medan perang, makanan hangat itu terasa seperti hadiah besar."Terima kasih, Tuan Duke Rowan!"Ucapan itu terdengar hampir bersamaan.Russle hanya mengangguk, lalu mencoba menyunggingkan senyum yang biasa diberikan Rowan kepada bawahannya."Sama-sama. Kalian sudah bekerja keras."Namun ketika suasana mulai tenang, salah seorang ajudan yang sejak tadi memperhatikan rombongan tiba-tiba menghampiri.Ia melihat satu hal yang terasa jangg
Russle dan Rowan saling berpandangan.Mereka tidak punya banyak waktu.Tanpa perlu berbicara, keduanya memahami apa yang harus dilakukan."Semua mundur!" perintah Russle.Para petarung segera menarik diri.Russle mengangkat tangan kanannya, sementara Rowan mengangkat tangannya seolah-olah hendak memberikan aba-aba menyerang.Padahal, di balik gerakan itu, keduanya mulai menyatukan sihir mereka.Mana Russle berputar di sekitar tubuhnya.Mana Rowan menyusul, lalu perlahan menyatu dengan milik saudaranya.WHOOOM!Angin berembus keras.Para pemuda yang berada di dekat mereka sampai harus menahan tubuh agar tidak terdorong."Jangan lepaskan formasi!" seru Russle.Rowan mengangguk.Keduanya kemudian mengarahkan tangan dan senjata mereka lurus ke depan, berpura-pura sedang mempersiapkan serangan.Mordrath-mordrath di hadapan mereka mulai menggeram.Namun bukannya menyerang, energi sihir yang terkumpul justru membentuk gelombang besar di depan mereka.BOOOOM!Gelombang tersebut menghantam tan
Tiba-tiba, dari balik pepohonan yang menutupi lereng pegunungan, ratusan burung beterbangan kocar-kacir. Kepakan sayap mereka terdengar riuh sebelum seluruh kawanan menghilang ke langit.Para pemuda langsung saling berpandangan."Itu pertanda buruk..."Russle tidak menjawab. Sejak awal ia memang merasa ada sesuatu yang janggal di wilayah ini. Bahkan itulah alasan ia datang sendiri ke garis depan.Firasatnya terus mengatakan hal yang sama.Ada sesuatu yang akan terjadi."Tunggu," ujar Russle tegas. "Apa pun yang terjadi, jangan menyerang."Para pemuda mengangguk.Rowan—yang sebenarnya adalah Russle dalam penyamaran—berdiri paling depan, memperhatikan pepohonan yang mulai bergoyang hebat.DUUM...Satu langkah.DUUM...Langkah kedua.Tanah di bawah kaki mereka bergetar.Kemudian—BRAK!Pepohonan di hadapan mereka roboh sekaligus.Sesuatu keluar dari balik hutan.Semua orang membeku.Seekor Mordrath muncul.Namun ukurannya membuat seluruh monster yang mereka hadapi sebelumnya terlihat sep
Pemuda itu berlari secepat mungkin menuju Kastel Blackwood.Namun ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun tentang dirinya.Ia merupakan keturunan Blackwood dari garis yang telah lama meninggalkan klan tersebut. Kakek buyutnya dahulu menikah dengan seorang rakyat biasa, melepaskan gelar bangsawannya, lalu meminta namanya dihapus dari catatan sejarah Blackwood agar keturunannya dapat hidup tanpa bayang-bayang politik keluarga besar itu.Karena itu, ia tetap memiliki darah Blackwood meskipun tidak lagi menyandang nama tersebut.Sesampainya di gerbang kastel, ia bahkan tidak mengalami hambatan berarti."Saya perlu bertemu dengan Duke Rowan Blackwood. Saya perlu tambahan tombak—"Ucapannya terhenti.Matanya membesar.Di halaman kastel, puluhan kereta kuda telah berjejer rapi. Masing-masing dipenuhi peti persenjataan dan tombak dalam jumlah besar, siap dikirim menuju wilayah utara.Dan di antara kereta-kereta itu berdiri Russle.Dengan penyamarannya sebagai Rowan yang masih sempurna, ia
Rombongan Rowan terus bergerak semakin jauh ke wilayah utara. Di balik penyamarannya sebagai Kapten Eddy, ia memimpin puluhan petarung melewati kawasan yang sudah porak-poranda.Kali ini mereka berhadapan dengan makhluk yang berbeda.Bukan Mordrath kelas rendah.Seekor Mordrath kelas menengah berdiri di tengah padang, ukurannya hampir sebesar rumah kecil milik penduduk. Tubuhnya diselimuti sisik tebal, sementara ekornya bergerak ke kanan dan kiri dengan ujung setajam bilah pisau. Raungannya membuat tanah seakan ikut bergetar.Beberapa pemuda langsung mengangkat senjata."Kapten! Kita harus menyerangnya sekarang!""Dia sedang memangsa ternak warga!"Namun Rowan mengangkat tangannya."Biarkan dulu.""Apa?!""Kapten, kalau kita membiarkannya—""Tenang."Tatapan Rowan tidak lepas dari monster tersebut."Kita cari titik lemahnya."Ia tidak sekadar memperhatikan ukuran atau bentuk tubuhnya. Ia mengamati setiap gerakan—bagaimana sisiknya bergeser ketika monster itu berjalan, bagian mana yang
Rowan akhirnya berangkat bersama puluhan petarung pilihan yang telah disiapkan untuk menghadapi Mordrath. Derap kaki kuda dan roda kereta perlahan menjauh dari halaman Kastel Blackwood.Russle berdiri di sana sampai rombongan itu menghilang di balik gerbang.Tatapannya terpaksa tetap tenang.Bagaimanapun, di mata semua orang, dialah Duke Rowan Blackwood."Duke..."Salah seorang asistennya yang bertugas memilah jadwal dan panggilan pertemuan berdiri tidak jauh darinya."Saya tahu masalah ini berat. Anda hanya perlu bersabar."Russle menoleh kepadanya.Ia hanya mengangguk kecil."Ya."Namun setelah asistennya kembali masuk ke kastel, ekspresi Russle perlahan berubah.Tentu saja ini berat.Ia menatap jalan yang baru saja dilewati rombongan Rowan.Bagaimana mungkin aku tenang ketika saudaraku pergi ke sana, sementara seluruh dunia bahkan tidak tahu bahwa orang yang mereka sebut Kapten Eddy sebenarnya adalah Rowan?Russle mengepalkan tangannya di balik jubah.Ia tidak boleh mengejarnya.Ia
Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip
Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan
Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har
Tiga hari sejak pesta, Aruna belum keluar dari kamar.Bukan karena malas. Tapi karena ia sedang sibuk mengamati.Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, ia memperhatikan ritme kehidupan kediaman Ardent. Para pelayan lalu-lalang dengan tugas masing-masing. Kepala dapur berteria







