แชร์

Toko Roti milik Sang Lady

ผู้เขียน: Flouvly Fhlorie
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-30 11:48:21

Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.

“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang. “Lady?” panggilnya sekali lagi.

“Ah, maaf. Saya sedang banyak pikiran.”

“Jangan pikirkan bisik-bisik itu, Lady!” Kael berbisik singkat di telinganya. Aruna menengok ke kanan dan kiri—dan benar saja.

“Hei, bukankah itu Lady yang suka mengejar-ngejar pangeran?”

“Apa pangeran disihir?”

“Rumornya Lady itu berubah.”

“Ah, masa sih?”

Keduanya tidak menggubris hingga akhirnya sampai ke dalam toko. Aruna berteriak kecil kegirangan karena banyak orang mengatakan kue dan rotinya enak.

“Lady, kuenya enak sekali!” komentar seorang ibu paruh baya di pojokan sembari menunjukkan kue kering yang hampir habis tergigit.

“Ya?” Aruna bergegas menghampiri, menarik bangku di depannya. “Rasanya bagaimana?”

“Enak sekali, Lady! Saya rasa Anda harus membuka cabang lagi di daerah lain!” Ibu itu terus berkomentar sambil mengunyah beberapa potong mile crepes yang dipesannya tadi.

“Terima kasih karena sudah berkenan datang di hari pertama pembukaan kami,” ucap Aruna tulus.

Semua orang yang ada di sana tercengang. Untuk pertama kalinya, mereka mendengar Lady Evelyne mengucapkan hal semacam itu kepada rakyat biasa. Padahal biasanya ia jarang bersosialisasi dengan rakyat—hanya dengan bangsawan kelas atas.

Bisik-bisik kembali terdengar, terlebih ada gosip yang tiba-tiba beredar bahwa Pangeran Kael sedang mengejar Lady Evelyne.

Tapi Kael tidak peduli. Ia justru tersenyum bangga melihat Aruna berbaur dengan para pembeli.

“Kau hebat, Lady,” ucapnya pelan, hanya untuk didengar Aruna.

Aruna menoleh. “Apa?”

“Tidak apa-apa.”

---

Keduanya tidak menggubris bisik-bisik itu hingga akhirnya berkeliling ke dalam toko. Namun sebelum sempat melihat-lihat lebih jauh, Kael menarik lengan Aruna perlahan ke arah belakang—tepat di mana pintu dapur berada.

“Bolehkah aku melihat dapurmu, Lady?” tanyanya dengan mata berbinar. “Sejak kemarin, aku penasaran.”

Aruna mengangguk. “Silakan, Yang Mulia.”

Begitu pintu dapur terbuka, Kael segera melangkah masuk. Matanya menjelajahi setiap sudut—rak-rak bumbu yang tertata rapi di dinding, gantungan panic besi dengan ukiran bunga yang tidak biasa, serta sebuah papan tulis kecil bertuliskan daftar pesanan dengan tulisan tangan yang rapi. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah serangkaian botol kaca berisi rempah-rempah yang diberi label dengan gambar-gambar lucu—mata tersenyum, bintang, dan bulan sabit.

“Lady, jadi ini dapurmu?” Kael mengamati sekeliling dengan saksama. Matanya berhenti pada sebuah teko tanah liat berbentuk kucing gemuk yang sedang memegang cangkir. Di sampingnya, ada wadah sendok kayu yang diukir menyerupai sesosok makhluk berjubah dengan topi runcing. Sungguh aneh. Sungguh tidak biasa. Namun justru itu yang membuatnya unik. “Hiasan-hiasan ini... dari mana Anda mendapatkannya?”

Aruna tersenyum tipis. Ia tahu betul bahwa semua aksesoris dapur ini adalah hasil sentuhan dunianya dulu—dunia modern yang penuh warna dan imajinasi. Tentu saja orang-orang di kerajaan ini tidak akan terbiasa melihatnya.

“Apakah hiasannya monoton? Terlalu sederhana?” tanya Aruna dengan nada yang sengaja diimut-imutkan. Ia memiringkan kepala, kedua tangannya menggenggam erat di depan dada.

Kael terdiam. Bukan karena risih, melainkan karena... lucu? Ya, Lady Evelyne yang dulu angkuh dan pemarah kini bertingkah imut di hadapannya. Perbedaan itu membuat dada Kael berdebar aneh.

“Ah, tidak kok, Lady. Bagus,” jawabnya akhirnya, sedikit terbata. Matanya masih tak bisa lepas dari teko berbentuk kucing itu. “Sangat... unik. Aku belum pernah melihat dapur dengan aksesoris seperti ini di seluruh kerajaan.”

Ia berjalan mendekati rak rempah, mengamati label bergambar bintang tersenyum pada botol kayu manis. “Ini siapa yang menggambar?”

“Aku, Yang Mulia,” jawab Aruna jujur. “Karena dapur adalah tempat yang hangat, jadi kupikir hiasannya harusnya membuat orang tersenyum.”

Kael mengangguk pelan. “Kau benar, Lady.” Ia menoleh ke arah Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dapur ini... sama seperti dirimu. Berbeda. Tapi entah mengapa, terasa nyaman.”

Aruna merasakan pipinya memanas. “A-ah, sudahlah, Yang Mulia. Lebih baik kita kembali ke depan, para pembeli pasti menunggu.”

Namun sebelum mereka sempat melangkah, Kael berkata lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, “Aku ingin kembali ke sini suatu hari nanti.”

Aruna hanya bisa diam, hatinya berdebar tak karuan.

---

Di luar toko, sesosok pria jangkung dengan mantel hitam berdiri di antara kerumunan. Matanya menyipit mengawasi pintu masuk toko dari kejauhan.

Duke Rowan Blacwood.

Ia tersenyum tipis, lalu membatin lirih. “Jadi, ini alasanmu Lady. Kau menolak bertemu denganku?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Wujud Asli Vesper

    "Tetapi dia kan menculik Rowan?" Aruna berusaha berbicara kepada Rualyn melalui pikirannya.Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban.Lalu terdengar suara tua yang berwibawa dari balik pikirannya."Bunuh Vesper. Cepat."Aruna langsung mengenali suara itu.Elandor.Matanya sedikit melebar. Jadi sejak tadi, Elandor memang sengaja menahan sihir Vesper agar mereka memiliki kesempatan.Aruna tidak membuang waktu.Ia mengangkat tangannya dan memberi kode kepada Rowan dan Russle.Russle yang melihat gerakannya langsung mengerti.Rowan juga memperhatikan arah pandangan Aruna."Apa rencananya?" bisik Rowan.Aruna hanya menunjuk ke arah kabut hitam.Vesper.Russle menggenggam pedang pusaka lebih erat.Pedang itu bergetar pelan."Akhirnya," bisiknya melalui telepati. "Saatnya."Russle mengangguk.Ia memberi isyarat kepada Rowan.Mereka berdua kemudian bergerak berlawanan arah, mengapit posisi Vesper tanpa membuat suara.Vesper masih sibuk mencoba memperluas kabutnya."Dasar Rualyn... selalu saja

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Aruna Mengalihkan Perhatian

    Mereka akhirnya membagi tugas.Aruna menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju meninggalkan Russle yang berjongkok di dekat pasak tempat Rowan terikat."Aruna, jangan terlalu dekat," bisik Russle.Aruna mengangguk."Aku tahu."Ia kemudian berjalan mendekati Vesper dan Elandor.Keduanya langsung menatapnya.Aruna memasang senyum kecil."Jadi kalian berdua memang selalu bekerja sama seperti ini?"Vesper menyipitkan mata."Apa maksudmu?""Entahlah. Aku hanya berpikir..."Aruna memandang Elandor dari ujung kepala sampai kaki."...dua orang tua yang sudah hidup selama itu seharusnya punya cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu."Elandor terdiam.Russle yang mendengar dari kejauhan hampir tertawa.Aruna sendiri sebenarnya merasa aneh.Aku benar-benar mengatakan ini?Sifat seperti ini bukan dirinya.Namun suara Rualyn terdengar lembut di dalam kepalanya.Jangan takut menjadi berbeda dariku. Gunakan caramu sendiri.Aruna kembali tersenyum."Atau jangan-jangan kalian memang tidak p

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Di Luar Bayang-Bayang Rualyn

    Tiba-tiba Vesper mengangkat tangannya.Tanpa peringatan, ia melemparkan sebuah bola besi berduri ke arah Aruna."Aruna!"Aruna tersentak. Namun tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia segera menghindar ke belakang Russle.Brak!Bola besi itu menghantam lantai dan menggores permukaannya sebelum memantul beberapa kali.Russle langsung berdiri di depan Aruna, tatapannya berubah tajam."Vesper!"Vesper hanya tersenyum santai."Refleksmu cukup bagus, gadis."Aruna mengatur napasnya, lalu mengintip dari balik bahu Russle."Kau barusan benar-benar melempar benda itu kepadaku?""Tentu.""Tanpa peringatan?""Itulah gunanya kejutan."Aruna menatapnya datar."Orang tua aneh."Russle sampai terdiam sesaat.Bahkan Rowan yang masih terikat menahan senyum.Sementara Vesper justru tertawa kecil."Menarik. Di tengah keadaan seperti ini, kau masih sempat menghinaku."Ia mengangkat satu tangan lagi.Bola besi yang tadi tergeletak di lantai perlahan terangkat dan kembali melayang ke telapak

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Pertemuan Kembali Tiga Keturunan

    Beberapa waktu sebelumnya, Elandor telah tiba di ruangan utama dengan membawa Rowan seolah-olah tubuh pria itu tidak lebih berat daripada selembar kertas. Bahkan di usianya yang sudah sangat tua, tenaganya masih terasa tidak masuk akal.Ia membawa Rowan menuju sebuah pasak besar yang berdiri tepat di tengah ruangan. Dengan besi tua, ia mengikat kedua tangan Rowan pada pasak tersebut.Rowan mencoba menggerakkan tangannya, tetapi sia-sia.Elandor juga memasang sebuah pengaman sihir pada pergelangan tangan Rowan. Begitu Rowan mencoba mengumpulkan kekuatan sihir, segel itu langsung menyala dan memutus alirannya."Lepaskan aku!" teriak Rowan dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Siapa kau?! Kaki tangan Vesper?!"Elandor sama sekali tidak menjawab.Ia hanya terkekeh."Hihihihi..."Tawa tua itu terdengar ganjil di ruangan yang luas, seperti suara seseorang yang sudah terlalu lama tinggal sendirian.Elandor kemudian menatap Rowan dengan tatapan penuh antisipasi."Sebentar lagi pewaris Blackwo

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Suara Rowan

    Aruna langsung bersembunyi di belakang Russle. Bahkan dari jarak sejauh itu, aura Vesper terasa begitu dingin dan mengintimidasi. Nada suaranya yang rendah saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang."Aku tidak akan menyerahkan diri!" seru Aruna, berusaha memberanikan diri.Russle mengangguk."Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya membawamu."Tangannya menggenggam erat pedang pusaka.Vesper hanya tertawa kecil."Ho... ho... ho..."Kemudian ia bertepuk tangan dua kali.Tep! Tep!Suara itu menggema ke seluruh lembah.Dari balik pepohonan, jembatan batu, dan bangunan-bangunan tua di sekitar mereka, bermunculan puluhan orang berjubah gelap. Sebagian membawa senjata, sementara yang lain menggunakan sihir untuk menghalangi jalan keluar.Aruna menelan ludah."Banyak sekali..."Russle melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Aruna."Jangan jauh-jauh dariku."Vesper tersenyum puas melihat keduanya."Silakan."Ia mengangkat satu tangan."Kalau kalian memang mampu melawan mereka

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Penemuan Lembah Tersembunyi

    "Buka kuncinya dengan bunga yang kelopaknya sama seperti itu. Cari di sini. Cepat."Suara Rualyn terdengar samar di dalam kepala Aruna.Aruna langsung menoleh kepada Russle."Russle, kita membutuhkan bunga. Kelopaknya harus sama persis dengan lambang di pintu itu."Russle tidak banyak bertanya."Di mana?""Aku tidak tahu. Tapi Rualyn bilang ada di sekitar sini."Russle langsung mengamati sekeliling.Ia berjalan melewati akar-akar besar, menyibak semak-semak, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sesuatu yang menjulang tinggi di antara pepohonan."Di sana."Sebuah pohon raksasa berdiri di tengah hutan. Batangnya begitu besar hingga mungkin diperlukan beberapa orang untuk mengelilinginya.Di antara dahannya tumbuh bunga-bunga aneh.Kelopaknya berjumlah tujuh, persis seperti lambang pada pintu.Russle mendekat.Beberapa bunga masih mekar, sementara satu bunga yang tampak paling sempurna telah jatuh di tanah.Ia mengambilnya dengan hati-hati."Yang ini?"Aruna mengangguk setelah mempe

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Cookies dan Janji Pangeran Kael

    Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Ketika Sang Pangeran Ditolak

    Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Putra Mahkota Mendatangi Kediaman Sang Lady

    Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Cookies Buatan Lady Evelyne

    Tiga hari sejak pesta, Aruna belum keluar dari kamar.Bukan karena malas. Tapi karena ia sedang sibuk mengamati.Dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang, ia memperhatikan ritme kehidupan kediaman Ardent. Para pelayan lalu-lalang dengan tugas masing-masing. Kepala dapur berteria

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status