Share

Berharap Dia Datang

Penulis: Flouvly Fhlorie
last update Tanggal publikasi: 2026-05-23 12:19:51

Beberapa jam sebelumnya, Cedric sebenarnya sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama keluarga dan Aruna selesai.

Awalnya ia berniat langsung beristirahat seperti yang diperintahkan semua orang padanya.

Namun entah kenapa, pikirannya terus kembali pada menara batu itu.

Pada langit malam yang tadi ingin ia tunjukkan sekali lagi pada Aruna.

Dan pada penolakan lembut gadis itu yang masih terdengar jelas di telinganya.

“Tidak malam ini. Anda baru saja sembuh.”

Cedric menghela napas kecil
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   menjadi Tuan Duke Rowan

    Rowan akhirnya berangkat bersama puluhan petarung pilihan yang telah disiapkan untuk menghadapi Mordrath. Derap kaki kuda dan roda kereta perlahan menjauh dari halaman Kastel Blackwood.Russle berdiri di sana sampai rombongan itu menghilang di balik gerbang.Tatapannya terpaksa tetap tenang.Bagaimanapun, di mata semua orang, dialah Duke Rowan Blackwood."Duke..."Salah seorang asistennya yang bertugas memilah jadwal dan panggilan pertemuan berdiri tidak jauh darinya."Saya tahu masalah ini berat. Anda hanya perlu bersabar."Russle menoleh kepadanya.Ia hanya mengangguk kecil."Ya."Namun setelah asistennya kembali masuk ke kastel, ekspresi Russle perlahan berubah.Tentu saja ini berat.Ia menatap jalan yang baru saja dilewati rombongan Rowan.Bagaimana mungkin aku tenang ketika saudaraku pergi ke sana, sementara seluruh dunia bahkan tidak tahu bahwa orang yang mereka sebut Kapten Eddy sebenarnya adalah Rowan?Russle mengepalkan tangannya di balik jubah.Ia tidak boleh mengejarnya.Ia

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Rumah yang Rusak

    Sebelum para warga meninggalkan ruangan, Russle tiba-tiba angkat bicara."Tuan Duke."Rowan menoleh."Bagaimana kalau mereka untuk sementara tinggal di penginapan yang berada di wilayah Elarion?"Rowan langsung mengerutkan kening."Elarion?""Ya. Wilayah itu lebih jauh dari jalur pergerakan Mordrath. Setidaknya mereka bisa tinggal di sana sampai keadaan Nochtaryn kembali aman."Rowan tampak tidak sepenuhnya setuju."Kita tidak bisa terus-menerus membebani Elarion."Namun beberapa warga yang mendengar usulan tersebut justru mulai mengangguk."Kalau itu membuat keluarga kami aman, kami bersedia.""Saya juga.""Daripada kembali ke rumah yang sudah tidak ada..."Rowan terdiam.Ia akhirnya menghela napas."Baiklah."Ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan segera mengambil selembar kertas."Aku akan mengirim surat kepada Putra Mahkota Kael."Ujung pena mulai bergerak cepat.Dalam surat itu, Rowan menjelaskan bahwa puluhan warga Nochtaryn untuk sementara waktu akan tinggal di sebuah pe

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Vesper Bangkit

    Beberapa hari sebelumnya, setelah Russle dan Aruna berhasil membawa Rowan kembali ke Nochtaryn, keadaan sempat terlihat seolah-olah telah berakhir.Russle telah menggunakan pedang pusaka Blackwood untuk mengalahkan Vesper. Sementara itu, Elandor menggunakan sihirnya untuk memengaruhi seluruh anggota Holy Order agar meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing sebagai orang biasa.Namun, tidak seorang pun menyadari bahwa tubuh Vesper masih menyimpan satu kekuatan terakhir.Di tengah ruangan yang mulai ditinggalkan, tubuh Vesper yang tergeletak tiba-tiba bergerak.Krek...Kulit di sisi lehernya yang terkena tebasan pedang perlahan mengelupas.Lapisan kulit mudanya terlepas sedikit demi sedikit, memperlihatkan kulit baru di bawahnya yang jauh lebih pucat. Wajahnya yang dahulu tampak muda kini kembali pada wujud sebenarnya—tua, kering, dan menyerupai seseorang yang baru saja bangkit dari makam.Jari-jarinya bergerak.Lalu kedua kakinya perlahan menopang tubuh

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Mahkota Bunga

    Bab 132Kael membawa Aruna menuju taman pribadinya.Ukurannya memang tidak terlalu luas, hanya sekitar 4 × 5 meter, tetapi suasananya terasa begitu tenang. Pepohonan kecil menaungi sebagian taman, sementara berbagai jenis anggrek tumbuh di sepanjang sisi jalan setapak. Ada yang menjuntai dari pot-pot batu, ada pula yang tumbuh di antara semak hijau dengan bunga berwarna lembut.Aruna berhenti begitu memasuki taman."Indah sekali..."Kael tersenyum melihat reaksinya."Anda suka anggrek?" tanya Aruna sambil memperhatikan salah satu bunga."Iya, Lady. Saya menyukainya."Aruna menoleh kepadanya."Sama."Kael terdiam sebentar."Benarkah?"Aruna mengangguk."Iya. Aku suka melihatnya, apalagi kalau sedang berbunga."Kael tersenyum."Berarti kita punya kesukaan yang sama."Aruna berjalan perlahan menyusuri jalan setapak."Apakah Anda yang merawat semuanya?""Sebagian."Kael menunjuk beberapa anggrek."Yang itu diberikan kepadaku saat ulang tahun. Yang di sana kutanam sendiri."Aruna mendekat

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Berjalan-jalan Ke Taman Pribadi

    "Lady, mau jalan-jalan bersamaku?" tanya Kael tiba-tiba.Aruna mengerjap."Bukankah di luar sedang kacau? Duke Rowan bahkan mengingatkanmu untuk menyebarluaskan berita tentang monster Utara yang berkeliaran ke mana-mana."Kael menggeleng cepat."Bukan keluar yang itu maksudku."Ia tampak sedikit salah tingkah sebelum akhirnya melanjutkan."Aku punya taman pribadi di istana."Kael menatap Aruna, lalu pipinya kembali memerah."Kalau kau mau... kita bisa berjalan-jalan di sana."Aruna terdiam.Entah mengapa, melihat Kael yang biasanya begitu percaya diri kini malah gugup hanya karena mengajaknya berjalan-jalan membuat hatinya terasa hangat.Gemes.Aruna hampir saja tertawa melihat telinganya yang ikut memerah."Kau kenapa?"Kael langsung menggeleng."Sepertinya aku baik-baik saja.""Benarkah?""Benar."Aruna tersenyum kecil."Kalau begitu... boleh."Mata Kael langsung berbinar."Benarkah?"Aruna mengangguk."Iya."Kael segera berdiri, tetapi baru melangkah dua langkah ia berhenti dan kem

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Pengakuan Kael kepada a Aruna

    "Lady..." Kael meletakkan cangkir tehnya perlahan setelah menghabiskan tegukan terakhir. Kali ini, tidak ada senyum jahil di wajahnya.Aruna menatapnya."Jika aku mengatakan sesuatu kepadamu, apakah kau akan menganggapku gila?"Aruna menggeleng santai."Sepertinya tidak."Dalam hati, ia justru berpikir bahwa pria di hadapannya ini terkadang lebih mirip tukang lawak di televisi daripada seorang pangeran pewaris takhta.Kael menarik napas panjang.Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tatapan kelabu lembutnya kemudian bertemu dengan mata Aruna."Lady..."Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya."Aku menyukaimu."Aruna membeku.Kael melanjutkan sebelum keberaniannya menghilang."Awalnya aku mengira aku hanya senang menggodamu. Aku pikir melihatmu kesal, mendengar ocehanmu, atau membuatmu tersenyum hanyalah hiburan bagiku."Ia tersenyum kecil, tetapi wajahnya kembali memerah."Tapi ternyata bukan itu."Kael menundukkan pandangan sebentar."Setiap kali kau pergi, aku selalu mencari-cari alas

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Toko Roti milik Sang Lady

    Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Cookies dan Janji Pangeran Kael

    Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Ketika Sang Pangeran Ditolak

    Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Putra Mahkota Mendatangi Kediaman Sang Lady

    Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status