ログインRowan dan Elandor saling memandang.Mereka tidak mendengar apa pun.Pedang itu kembali berbicara hanya kepada Russle."Dan sekarang kau kembali setelah sekian lama."Russle menggenggam gagangnya."Kenapa aku?""Karena kau tidak pernah benar-benar meninggalkan darahmu."Russle terdiam.Lalu ia menarik pedang itu.Tidak ada perlawanan.Srak!Pedang putih tulang itu terlepas dari altar dengan begitu mudahnya, seolah sejak awal memang menunggu tangannya.Cahaya putih memenuhi ruangan.Rowan sampai harus memicingkan mata.Elandor tersenyum lebar."Jadi benar..."Russle menatap pedang di tangannya.Pedang itu terasa ringan.Terlalu ringan.Seolah beratnya memang hanya berlaku bagi orang yang bukan pemiliknya.Kemudian suara itu kembali terdengar."Sudah waktunya, keturunanku."Russle menelan ludah."Apa maksudmu?"Pedang itu tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lebih serius."Vesper masih hidup."Russle membeku.Matanya perlahan menyipit.Dan untuk pertama ka
Elandor membawa mereka menaiki tangga batu yang berada di ujung taman.Anak tangganya sudah tua, sebagian bahkan hampir tidak terlihat karena tertutup lumut hijau yang tebal. Setiap kali diinjak, permukaannya terasa licin.Russle baru menaiki beberapa anak tangga ketika kakinya hampir tergelincir."Whoa—"Ia buru-buru berpegangan pada dinding.Rowan yang berada beberapa langkah di depannya juga hampir kehilangan keseimbangan ketika menginjak salah satu anak tangga."Astaga..."Elandor hanya terus berjalan seolah tangga licin itu bukan masalah baginya.Russle kemudian menoleh kepada Rowan."Rowan, berikan tanganmu."Rowan mengangkat alis."Untuk apa?""Mari berpegangan. Biar tidak jatuh."Rowan tampak enggan, tetapi akhirnya mengulurkan tangannya.Russle menggenggamnya erat.Mereka melanjutkan perjalanan bersama.Beberapa anak tangga kemudian, Russle melirik wajah Rowan yang sejak tadi terlihat masam."Kau marah karena aku lolos dua kali?"Rowan langsung menoleh."Tidak.""Terus kenapa
Russle masih berada di tempatnya ketika waktu tersisa lima menit.Berbeda dengan Rowan yang berkeliling mencari tanda-tanda air, Russle justru duduk diam di antara semak belukar.Ia memandangi tanah di sekelilingnya.Tidak terlalu basah.Tidak terlalu kering.Tidak ada suara gemericik.Namun ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Kalau memang ada aliran air di sini..."Russle memetik sebuah ranting kecil."...tidak mungkin Elandor menyuruh kami mencarinya dengan cara biasa."Ia mulai menggambar garis-garis kecil di tanah menggunakan ranting tersebut.Dulu, ketika hidup jauh dari Nochtaryn, Russle terbiasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia pernah melewati berbagai hutan tanpa bantuan peta maupun sihir.Ia tahu satu hal.Air tidak selalu terlihat dari permukaan.Russle menusukkan rantingnya ke tanah.Sekali.Dua kali.Ketiga kalinya, ujung ranting terasa menembus bagian tanah yang jauh lebih lunak.Russle berhenti."Hm?"Ia berjongkok dan mulai menggali menggunakan ranting
Russle memutar kepalanya.Tidak ada siapa-siapa."Temukan di mana aliran air mengalir..."Suara itu terdengar dari arah kanan."...berwarna sejernih biru permata."Kemudian suara tersebut berpindah ke arah kiri."Kalau kalian menemukannya sebelum aku kembali..."Hening."...kalian akan mengetahui langkah berikutnya."Russle mengerutkan kening."Dan kalau tidak?"Tidak ada jawaban.Tiba-tiba—Wusss!Kabut tipis menyapu tanah di antara mereka.Russle mengulurkan tangan."Rowan!"Namun ketika kabut menghilang, Rowan sudah tidak berada di tempatnya.Russle menoleh ke segala arah."Rowan?"Tidak ada jawaban.Rowan memilih bergerak lebih dahulu.Ia menyusuri hutan dengan langkah hati-hati, sesekali memperhatikan keadaan tanah di bawah kakinya.Tidak terlalu basah.Namun juga tidak cukup kering untuk menunjukkan bahwa daerah itu sama sekali tidak memiliki sumber air."Setidaknya ada kemungkinan air berada di sekitar sini."Rowan berjongkok dan menyentuh tanah dengan ujung jarinya.Tidak ada
"Berpikirlah tanpa emosi, Rowan."Suara Elandor terdengar dari seluruh penjuru labirin.Tegas, tetapi tetap tenang.Namun sosoknya sama sekali tidak terlihat.Rowan terdiam.Ia menatap tangannya yang terluka, lalu memandang kembali puluhan cermin di hadapannya.Selama ini ia hanya mengandalkan amarah.Setiap kali melihat wajah Vesper, ia ingin menghancurkannya.Tetapi justru itulah yang membuatnya terus terjebak.Rowan menarik napas panjang.Sekali.Dua kali.Kemudian ia menutup matanya."Tanpa emosi..."Ia membuka matanya kembali.Kali ini tatapannya jauh lebih tenang.Ia mulai mengamati satu per satu bayangan Vesper.Tidak menyerang.Tidak bergerak.Hanya mengamati.Bayangan pertama bergerak sedikit.Yang kedua juga.Yang ketiga...Semuanya tampak sama.Namun setelah memperhatikannya lebih lama, Rowan menyadari sesuatu.Ada satu bayangan yang tidak mengikuti gerakan Vesper lainnya.Ketika semua bayangan mengangkat tangan, bayangan itu tetap diam.Ketika yang lain melangkah maju, ia
Bab 111Russle menatap satu per satu bayangan Vesper yang memenuhi cermin.Mata Russle perlahan menyala merah membara, seperti bara api yang hidup di tengah kegelapan.Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun—Satu per satu lilin di sepanjang lorong mulai padam.Dari ujung ruangan.Lalu lilin berikutnya.Kemudian berikutnya lagi.Kegelapan bergerak mendekatinya seperti gelombang.Sampai akhirnya lilin terakhir di dekat Russle ikut padam.Gelap.Sangat gelap."Jangan gunakan sihirmu."Suara Elandor menggema dari suatu tempat yang tidak dapat ditemukan Russle."Gunakan instingmu!"Russle terdiam.Ia menutup matanya.Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengesampingkan seluruh kekuatan sihirnya.Tidak ada penglihatan khusus.Tidak ada telepati.Tidak ada kemampuan untuk membaca jejak mana.Hanya dirinya sendiri.Napasnya.Pendengarannya.Dan insting yang selama ini hampir selalu ia abaikan karena terlalu bergantung pada sihir.Russle menarik napas perlahan.Satu langkah.Tidak ada apa-
Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.
Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip
Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan
Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har







