LOGINEdward langsung mengerutkan kening. Rasa kesalnya kepada Kenric rupanya belum hilang."Jangan dekat-dekat lagi denganku saat ini!"Kenric yang semula berdiri tidak jauh darinya langsung terdiam.Ia menundukkan kepala, lalu perlahan berjalan mendekati Aruna dan berdiri lengket di sisi ibunya.Beberapa saat kemudian, Kenric menarik ujung pakaian Aruna."Ibunda...""Hm?""Kenric salah, ya?"Suaranya terdengar kecil dan sedih.Aruna langsung menunduk memandangnya. Ia menggeleng pelan, lalu mengusap rambut emas putranya."Tidak. Kenric tidak salah.""Tapi Kak Edward marah...""Kakakmu hanya sedang kesal karena kau melaporkannya kepada Ayahanda."Kenric mengangguk kecil."Aku cuma takut dia benar-benar kabur...""Aku tahu."Aruna tersenyum lembut."Kau tidak perlu merasa bersalah karena mengkhawatirkan kakakmu."Kenric akhirnya sedikit tersenyum dan semakin mendekat kepada Aruna.Dari kejauhan, Edward yang masih berdiri dengan wajah kesal diam-diam melirik mereka.Melihat Kenric begitu deka
Kenric langsung berlari menyusuri lorong istana. Napasnya sedikit terengah ketika akhirnya menemukan Kael dan Aruna yang sedang berjalan santai bersama."Ibunda!"Aruna menoleh."Kenric? Kenapa berlari?"Kenric segera menghampiri mereka, lalu bersembunyi di belakang punggung Aruna.Meski sekarang tubuhnya sudah lebih tinggi daripada sang ibu, ia tetap berdiri di sana seolah-olah Aruna adalah tempat persembunyian paling aman di seluruh istana.Aruna menoleh ke belakang."Kenric?"Kenric menunjuk ke arah koridor dengan wajah serius."Edward bilang mau kabur menemui Cherryl!"Aruna terdiam.Kael juga terdiam.Beberapa detik kemudian, Kael menghela napas panjang."Anak itu..."Aruna menahan tawa."Kenric, kau tahu Edward bilang begitu karena bercanda, kan?""Tidak, Ibunda."Kenric menggeleng mantap."Dia sudah merencanakannya."Kael langsung menatap putranya."Merencanakan?"Kenric mengangguk."Katanya besok."Aruna akhirnya tertawa kecil.Sementara itu, Kael sudah mulai memijat pelipisny
Kenric tumbuh dengan sifat yang sangat berbeda dari kakaknya.Jika Edward sejak kecil senang berlatih pedang, berkuda, dan melakukan hal-hal yang membuat para pengawal istana kewalahan, Kenric justru lebih sering ditemukan di tempat-tempat yang jauh lebih tenang.Terutama di dapur."Kenric, jangan bermain tepung lagi!"Teriakan Aruna terdengar dari seluruh dapur.Kenric yang saat itu baru berusia sepuluh tahun langsung berhenti, kedua tangannya masih penuh tepung."Aku tidak bermain, Ibunda."Aruna menunjuk lantai yang sudah dipenuhi jejak tepung."Itu apa?"Kenric menunduk."...Eksperimen."Aruna memejamkan mata.Benar-benar anaknya.Namun, di luar kebiasaannya bermain tepung bersama Aruna, Kenric memiliki kegemaran lain yang membuat para pengurus istana diam-diam kagum.Ia suka membaca.Buku sejarah, ekonomi, perdagangan, bahkan laporan keuangan kerajaan.Suatu pagi, Aruna menemukan Kenric duduk di ruang kerja dengan beberapa lembar dokumen di depannya."Kenric?"Kenric mengangkat w
“Edward, main dulu di luar, ya. Adiknya butuh istirahat,” pinta Aruna lembut.Edward mengangguk patuh. “Baik, Ibunda!”Ia pun keluar bersama pengasuhnya, meninggalkan Aruna, Kael, dan bayi kecil mereka di dalam kamar.Aruna kemudian menatap bayi yang sedang tertidur dalam pelukannya.“Bagaimana kita menamainya, ya?”Kael duduk di sampingnya.Aruna berpikir sejenak.“Bagaimana kalau Kenric?”Kael memperhatikan wajah mungil putra mereka, lalu mengangguk.“Kenric. Aku suka.”Aruna tersenyum puas. “Kalau begitu, namanya Kenric.”Kael kemudian menatap istrinya. Melihat wajah Aruna yang masih terlihat lelah, ia tiba-tiba mengecup keningnya dengan lembut.“Maaf, Sayang...” ucapnya pelan. “Ini sakit, kan?”Aruna menggeleng.“Memang sakit,” jawabnya jujur. “Bahkan rasanya lebih sakit daripada waktu melahirkan Edward.”Kael terdiam, merasa bersalah.Namun Aruna kemudian tersenyum sambil memandangi bayi mereka.“Tapi melihat wajah Kenric setampan ini...” Ia mengusap pipi mungil putranya. “Aku ja
Delapan bulan kemudian, pagi itu dapur istana dipenuhi aroma masakan yang sedang disiapkan Aruna.Ia sedang mengaduk sup ketika tiba-tiba tangannya berhenti.Rasa nyeri menusuk perutnya.“Ah...”Aruna menarik napas panjang, mencoba mengabaikannya.Mungkin hanya rasa tidak nyaman biasa.Namun beberapa saat kemudian, rasa sakit itu datang lagi—jauh lebih kuat.“Ahh...!”Sendok di tangannya hampir terlepas.Seorang pelayan yang berada di dekatnya langsung menoleh.“Yang Mulia?”Aruna berpegangan pada meja.“Perutku... sakit...”Pelayan itu langsung panik.“Panggil tabib! Cepat!”Belum sempat pelayan lain berlari keluar, gelombang nyeri berikutnya datang.“AAAHH!”Aruna membungkuk sambil memegangi perutnya. Napasnya memburu.“Ini... lebih sakit dari waktu Edward...”Para pelayan segera menghampirinya.“Yang Mulia, kita harus ke kamar!”“Aku bisa jalan...” Aruna mencoba melangkah.Namun baru satu langkah, rasa sakit kembali menghantam.“Ah—!”Kakinya melemas.Dua pelayan segera menopang tu
Aruna mengunci pintu kamar setelah memastikan Edward sudah tidur nyenyak di kamarnya.Kael menatapnya dengan tatapan penuh selidik.“Sayang... kau benar-benar mau menuruti permintaan Edward?”Aruna terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.“Kita bicarakan baik-baik dulu. Kalau memang ingin punya anak lagi, kita harus sama-sama siap.”Kael menghela napas. “Jadi bukan karena Edward memaksa?”“Bukan.” Aruna menghampirinya. “Karena kita sendiri yang memutuskan.”Kael tersenyum lembut.“Kalau begitu... kita pikirkan besok.”Aruna mengangguk.Malam itu mereka menghabiskan waktu berdua, berbicara panjang tentang kemungkinan memiliki anak kedua.Keesokan paginya...Edward berlari memasuki kamar dengan wajah penuh semangat.“Ibunda! Ayahanda! Jadi Edward akan punya adik?!”Kael yang baru bangun langsung mematung.Aruna menutup wajahnya dengan selimut.“Edward... siapa yang memberitahumu lagi?!”“Edward cuma berharap!”Kael menatap langit-langit kamar.“Anak ini benar-benar tidak bisa menunggu.”S
Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.
Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip
Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan
Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har







