Se connecterPagi-pagi sekali, setelah mandi dengan air hangat, Aruna akhirnya bersiap memulai harinya.Pelayan pribadi keluarga Valmont sempat membantunya memilih pakaian yang cocok untuk udara musim semi yang mulai terasa hangat.Dan pada akhirnya—Aruna mengenakan gaun berenda berwarna ungu muda dengan lengan pendek yang menjuntai lembut di sisi lengannya.Warna itu membuat kulitnya terlihat jauh lebih cerah di bawah cahaya matahari pagi.Rambut panjangnya juga hanya dihias sederhana menggunakan pita tipis senada, membuat penampilannya tampak jauh lebih ringan dibanding biasanya.Saat Aruna keluar dari kamar tamu yang ditempatinya selama berada di kediaman Valmont—ia langsung mendapati Cedric sudah berdiri menunggunya di lorong.Pria itu mengenakan pakaian kasual bangsawan bernuansa hitam dan abu gelap yang tetap terlihat terlalu rapi untuk sekadar berjalan santai.Dan seperti biasa—tatapan hijau itu langsung tertuju padanya begitu saja.Beberapa detik terlalu lama.Sampai Aruna mulai merasa
Aruna mencoba mengendalikan jantungnya yang masih berdegup kacau setelah percakapan tadi.Masalahnya, ia benar-benar hanya berusaha bersikap baik.Namun entah bagaimana, Cedric justru salah mengartikannya sebagai tanda kalau dirinya jatuh cinta.“Huh… kenapa sulit sekali menghadapinya sih…” gumam Aruna pelan tanpa sadar menggunakan bahasa dari zamannya sendiri.Angin malam berembus pelan di antara dinding batu menara.Dan detik berikutnya—Cedric sedikit mengernyit.Bahasa itu terdengar asing di telinganya.Pria itu menatap Aruna beberapa saat dengan sorot mata penasaran samar sebelum akhirnya bertanya pelan,“Apa tadi yang Anda katakan, Lady?”Tatapannya terasa terlalu intens.Terlalu fokus.Seolah benar-benar menunggu jawaban.Aruna langsung tersentak kecil.Baru saat itulah ia sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dipahami siapa pun di dunia ini.“…Ah.”Ia buru-buru mengalihkan pandangan sambil terkekeh kecil canggung.“Itu—”Otaknya langsung bekerja cepat mencari al
“Lady?”Aruna menoleh pelan, menatap Cedric seolah menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.Angin malam berembus lembut di sekitar menara batu, membuat ujung rambut keemasan Aruna bergerak perlahan. Di atas mereka, langit malam membentang luas dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan samar.Cedric memutar cangkir tehnya perlahan sebelum akhirnya berkata tenang,“Soal pesta musim semi kerajaan waktu itu… Anda berubah.”Aruna yang tadinya sedang menggigit cookies langsung terdiam.Ia tidak menyangka Cedric menyadari perubahan dirinya secepat itu.Tatapan hijau pria itu tetap tertuju padanya saat ia melanjutkan dengan nada lembut,“Anda tidak lagi mengejar Putra Mahkota.”Cedric terkekeh kecil samar sebelum sudut bibirnya terangkat tipis.“Dan entah kenapa…” sorot matanya melembut, “itu membuat saya senang.”Aruna berkedip pelan.Lalu tanpa sadar, pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya.“Anda menyukai saya?”Langit malam mendadak terasa jauh lebih sunyi setelahnya.Cedric menata
Aruna menatap Cedric dalam-dalam, mencoba memahami maksud tersembunyi di balik tatapan tenang pria itu.“Maksud Anda?” tanyanya pelan.Udara malam di atas menara terasa jauh lebih dingin dibanding yang ia perkirakan. Angin berembus pelan di antara dinding batu tua, membuat ujung rambut Aruna ikut bergerak tertiup.Tanpa sadar, ia merapatkan jubah krem yang menutupi tubuhnya agar hawa dingin tidak terlalu menusuk kulit.Dan tepat saat itulah—Tatapan Cedric tanpa sengaja turun sedikit.Pria itu membeku sepersekian detik.Di balik jubah yang sedikit terbuka karena gerakan tadi, terlihat gaun tidur kuning lembut yang dikenakan Aruna malam ini.Renda tipis di bagian leher dan ujung lengannya membuat penampilan gadis itu terlihat jauh lebih lembut dibanding biasanya.Sangat berbeda dari gaun bangsawan formal yang selalu ia pakai sebelumnya.Dan entah kenapa—Pemandangan sederhana itu justru terasa terlalu berbahaya bagi ketenangan Cedric.Tatapan hijaunya langsung goyah samar sebelum ia bu
Beberapa jam sebelumnya, Cedric sebenarnya sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama keluarga dan Aruna selesai.Awalnya ia berniat langsung beristirahat seperti yang diperintahkan semua orang padanya.Namun entah kenapa, pikirannya terus kembali pada menara batu itu.Pada langit malam yang tadi ingin ia tunjukkan sekali lagi pada Aruna.Dan pada penolakan lembut gadis itu yang masih terdengar jelas di telinganya.“Tidak malam ini. Anda baru saja sembuh.”Cedric menghela napas kecil sambil menatap jendela kamarnya yang memperlihatkan langit penuh bintang di luar.Pada akhirnya, ia tetap berdiri dari tempat tidur.Dan beberapa menit kemudian—Pria itu sudah berjalan keluar mansion menuju menara batu.Tentu saja Duchess Estelle langsung mengetahui niat putranya.“Cedric.”Suara sang ibu membuat Cedric berhenti di lorong utama.Duchess Estelle berdiri sambil membawa mantel bulu hitam tebal di tangannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Sedikit khawatir.Sedikit pasrah.D
Aruna masih berbaring di atas tempat tidur dengan tatapan kosong mengarah ke langit-langit kamar.Selimut yang tadi menutupi tubuhnya kini sudah berantakan di sekitar kasur akibat dirinya yang terus bolak-balik gelisah sejak terbangun dari mimpi aneh itu.Ia menghela napas panjang pelan sebelum akhirnya melirik jam dinding di sisi kamar.Tepat tengah malam.“…Tidak heran suasananya sesunyi ini,” gumamnya lirih.Namun meski sudah mencoba memejamkan mata berkali-kali, Aruna tetap tidak bisa tidur lagi.Bayangan mimpi tadi terus muncul di kepalanya.Tatapan Kael.Suara Rowan.Dan terutama—Wajah Cedric yang berlutut sambil memegang cincin itu.“Aduh…” Aruna langsung menutupi wajahnya dengan bantal sebentar sebelum akhirnya duduk frustrasi.Karena merasa percuma memaksa diri tidur, ia akhirnya bangkit perlahan dari tempat tidur.Aruna membuka lemari besar di sudut kamar lalu mengambil sebuah jubah panjang berwarna krem lembut yang cukup tebal untuk menutupi gaun tidurnya.Setelah memastik







