Home / Zaman Kuno / Berhenti Mengejarku, Pangeran! / Syarat Sang Raja dan Pesanan Besar Toko Roti

Share

Syarat Sang Raja dan Pesanan Besar Toko Roti

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-06 17:30:28

Sekembalinya dari Kediaman Ardent, Kael langsung dipanggil ke ruang kerja Raja Sebastian.

Raja itu telah menunggu di balik meja kerjanya dengan beberapa dokumen penyelidikan yang terbuka.

"Kael."

"Ya, Ayahanda."

Sebastian menatap putranya beberapa saat sebelum bertanya,

"Menurutmu, siapa yang bisa kaupercaya untuk menyelesaikan penyelidikan mengenai monster ini?"

Kael terdiam sejenak.

Kemudian ia menggeleng pelan.

"Saya tidak bisa gegabah memilih seseorang."

"Mengapa?"

"Karena bisa saja orang y
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Cengkeraman Rowan

    Pengawal lainnya segera membungkukkan badan."Salam hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota Elarion."Kael sedikit terkejut karena identitasnya langsung dikenali.Juno hanya tersenyum kecil di sampingnya.Salah seorang pengawal kembali mengangkat kepalanya."Apakah Yang Mulia datang untuk menemui Tuan Duke Rowan Blackwood?"Kael mengangguk pelan."Benar.""Kalau begitu, mohon tunggu sebentar.""Saya akan segera memberitahukan kedatangan Anda kepada Tuan Duke."Salah seorang pengawal segera berlari memasuki kastel untuk melaporkan kedatangan tamu tersebut.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari lorong utama.Seorang pria berambut hitam dengan jubah panjang khas keluarga Blackwood berjalan keluar dengan tenang.Tatapannya langsung tertuju kepada Kael."Duke Rowan," sapa salah seorang pengawal sambil memberi hormat."Yang Mulia Putra Mahkota Elarion datang untuk menemui Anda."Rowan mengalihkan pandangannya kepada Kael.Ia memperhatikan lambang matahari di dada kiri pemuda itu sel

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Pelukis dan Penyihir

    Kael mengikuti Raja Sebastian menuju sebuah lorong rahasia yang tersembunyi di bawah kamar tidur sang raja.Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang cukup luas, diterangi beberapa lampu minyak.Sesampainya di sana, Kael langsung menghentikan langkahnya.Di dalam ruangan itu telah berdiri seorang pria tua yang sangat dikenalnya.Rambutnya memutih, wajahnya dipenuhi kerutan, tetapi senyumnya tetap hangat."Juno Oliver..."gumam Kael pelan.Pria tua itu tersenyum sambil membungkukkan badan."Salam hormat, Yang Mulia Putra Mahkota."Kael menoleh kepada ayahnya dengan wajah penuh kebingungan."Ayahanda...""Bukankah beliau hanya seorang pelukis?"Sebastian tersenyum tipis."Itulah yang diketahui kebanyakan orang.""Lalu kenyataannya?" tanya Kael.Sebastian melirik Juno sejenak sebelum menjawab."Juno Oliver bukan hanya seorang pelukis.""Beliau juga seorang penyihir."Kael membelalakkan matanya."Seorang... penyihir?"Juno terkekeh pelan."Sudah lama sekali aku tidak menggunakan sih

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Portal Menuju Nochtaryn

    "Yang Mulia..."Varian akhirnya mengembuskan napas panjang.Sudah hampir tiga jam ia dan Kael berdebat di ruang kerja, tetapi belum juga menemukan jalan keluar yang jelas.Kasus warga yang menghilang terus bertambah.Di sisi lain, rumor di kalangan rakyat Elarion semakin liar. Banyak yang menganggap semua itu adalah kutukan sejak kedatangan Duke dari Utara ke pameran lukisan beberapa waktu lalu.Varian memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing."Yang Mulia, kita tidak bisa membiarkan desas-desus ini terus berkembang."Kael menyandarkan tubuhnya ke kursi."Aku tahu.""Tetapi kita juga belum memiliki bukti."Varian mengangguk."Itulah sebabnya..."Ia menatap Kael dengan serius."...Anda seharusnya bekerja sama dengan Duke Utara."Kael langsung mengernyit."Duke Rowan?""Ya.""Bagaimanapun juga, beliau adalah penguasa Wilayah Nochtaryn.""Beliau pasti mengetahui lebih banyak mengenai monster dibandingkan kita."Kael terdiam.Varian melanjutkan,"Kalau tujuan kita sama, tidak ada salahn

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Surat di Balik Jendela

    "Anu, Russle...""Hm?""Kau lupa melepaskan penyamaranmu."Russle berkedip beberapa kali."Oh."Ia tersenyum kikuk."Benar juga."Perlahan, ia melepaskan sihir penyamarannya.Wajah Kapten Eddy memudar sedikit demi sedikit, berganti menjadi wajah aslinya.Setelah itu, Russle mengangkat telunjuknya.Dengan satu gerakan kecil, seluruh jendela di kamar Rowan menutup sendiri. Tirai-tirai tebal ikut tertutup, memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengintip dari luar.Ruangan menjadi sunyi.Russle kemudian menggandeng lengan Rowan menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar."Rowan.""Apa?""Lihat."Keduanya berdiri berdampingan di depan cermin.Dua sosok yang wajahnya nyaris identik menatap balik dari pantulan itu."Rowan," ujar Russle pelan."Apakah aku mirip denganmu?"Rowan memperhatikan pantulan mereka beberapa saat.Ia lalu menggeleng sambil terkekeh kecil."Tidak."Russle mengangkat sebelah alis."Tidak?""Gaya bicaramu berbeda.""Cara berjalanmu juga.""Selera pakaianmu, ke

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Tanggung Jawab Sebuah Gelar

    "Rowan kembali ke kamarnya setelah memberikan seluruh perintah kepada Harry dan Hayes.Malam itu, ia tidak langsung beristirahat.Ia justru berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang gelap.Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang janggal.Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.Di tengah lamunannya, suara yang sangat dikenalnya terdengar di dalam benaknya."Rowan."Ia langsung menyadari itu adalah telepati Russle."Ada apa?"Suara Russle terdengar santai, bahkan sedikit mengejek."Kau payah sekali, ya."Rowan mengangkat sebelah alisnya."Apa maksudmu?""Aku hanya butuh dua jam untuk memusnahkan seluruh Ravener di sana.""Padahal kau sudah bertarung lebih dari sehari."Rowan menghela napas kecil."Aku tidak memakai sihir sepertimu.""Dan aku harus memastikan seluruh pasukan tetap hidup."Terdengar tawa pelan dari Russle."Baiklah, itu juga benar."Rowan hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di garis depan."Lalu setelah itu—"Tok.Tok.To

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Bulu Hitam Mordrath

    "Apa yang kalian temukan di sana?" tanya Rowan dengan nada yang semakin serius.Harry tidak langsung menjawab.Ia merogoh saku bagian dalam mantelnya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain gelap.Perlahan, ia membukanya dan meletakkannya di atas meja.Rowan menatap benda itu tajam.Seketika raut wajahnya berubah."Itu..."Di atas meja tergeletak sehelai bulu berwarna hitam keunguan yang berkilau samar. Ukurannya jauh lebih besar daripada bulu burung biasa, dan masih memancarkan aura mana yang pekat.Rowan mengangkatnya dengan hati-hati."Tidak mungkin..."Suaranya nyaris tak terdengar.Hayes mengangguk pelan."Kami menemukannya di dekat jurang."Rowan menggenggam bulu itu semakin erat."Itu bulu Mordrath."Ruangan mendadak hening.Harry dan Hayes saling berpandangan."Apakah Anda yakin, Tuan Duke?""Sangat yakin."Tatapan Rowan semakin tajam."Mordrath adalah monster tingkat tertinggi.""Ia tidak pernah meninggalkan wilayahnya tanpa alasan.""Terlebih lagi..."Ia kembali

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Pangeran Kael Sampai Di Valdrice

    Pangeran Kael Draven baru saja melewati batas wilayah Kerajaan Valdrice saat langit sudah gelap gulita. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Perjalanan yang dimulai pukul delapan malam itu masih menyisakan tiga jam lagi menuju istana.Ia menatap pemandangan di luar jendela kereta kuda. Awalnya hany

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Utusan dari Kerajaan Valdrice

    Senja yang berwarna jingga telah bertengger lama di ujung barat. Kael baru saja mengantarkan Aruna tepat di depan Kediaman Ardent dengan kereta kudanya. Embusan angin sore membawa wangi roti panggang dari kejauhan, mengingatkannya pada hari yang melelahkan namun anehnya membahagiakan."Terima kasih

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Toko Roti milik Sang Lady

    Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.

  • Berhenti Mengejarku, Pangeran!   Cookies dan Janji Pangeran Kael

    Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status