Share

Bermain Api Dengan Anak Angkat
Bermain Api Dengan Anak Angkat
Author: Ungu

Bab 1

Author: Ungu
Namaku Hana, usiaku 31 tahun.

Dari segi finansial dan kehidupan, aku sangat berkecukupan. Satu-satunya kendala adalah kondisi fisik suamiku yang mulai menurun.

Karena merasa kesepian dan tak sanggup menahannya lagi, perhatianku mulai beralih pada anak tiriku, Deny.

Dia seorang pelatih gym dengan bentuk tubuh yang sangat kekar. Terutama bagian paling vital bagi pria, hanya dari lekuknya saja sudah kelihatan kalau ukurannya tidak kecil.

Saat memuaskan diri sendiri di malam hari, aku sering tak bisa menahan diri untuk membayangkan tubuh Deny. Aku sangat penasaran ingin melihat ukuran aslinya dan merasakan sensasinya.

Belakangan ini suamiku sedang dinas keluar kota, membuat gairah di dalam diriku semakin bergejolak tanpa bisa dilampiaskan.

Lagipula ini di rumah sendiri, jadi aku mengganti gaun tidur yang sexy. Setiap kali melangkah, pangkal pahaku yang mulus dan putih samar-samar terlihat.

Potongan dadanya sangat rendah, memperlihatkan lekuk payudaraku yang montok. Dengan bergerak sedikit saja rasanya seperti akan tumpah keluar dari kerahnya.

“Deny, kamu terlihat kurusan belakangan ini. Makan yang banyak untuk menambah nutrisi. Jadi pelatih gym itu sangat berat, jangan sampai kamu kecapekan.”

Aku menyajikan sup yang kumasak untuknya. Saat mendekat, aku tak sengaja tersandung dan harus membungkuk untuk menyeimbangkan badan.

Namun, gara-gara membungkuk, kerah bajuku malah menurun dan pemandangan di dadaku terpampang jelas. Dua asetku yang montok hampir saja terlepas keluar.

Deny sampai melongo melihatnya. Saat menerima mangkuk sup, aku bisa merasakan tubuhnya menegang dan napasnya jadi lebih memburu.

“Terima kasih, Kak Hana. Maaf merepotkanmu,” kata Deny sambil menelan ludah, tatapannya perlahan menjadi membara.

Sudah lama tak dilihat seperti itu oleh pria, aku pun jadi merasa agak malu. Tanpa sadar, aku menutupi kerah baju dengan pipi yang mulai merona.

Tubuhku yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh ini mulai bergejolak. Pikiranku melayang memikirkan aset kekar milik Deny, membuat konsentrasiku semakin buyar.

Tak boleh begini….

Usai makan, aku menyodorkan sekotak permen mint pereda panas untuknya.

Deny seolah paham maksudku, lalu membawa permen itu masuk ke kamarnya.

Setelah akhirnya terbebas dari tatapan panas itu, aku pun menyandarkan tubuhku dengan lemas di sofa.

Namun, rasa hangat di tubuhku tak bisa diredam begitu saja.

Hangatnya tatapan mata Deny seolah meninggalkan bekas yang nyata di tubuhku. Aku menggesekkan kedua pahaku yang gelisah.

Pada akhirnya, aku pun tak sanggup menahannya lagi dan menyusupkan tangan untuk meremas dadaku yang tadi dipandangi oleh Deny. Lalu mulai membelai diriku sendiri dengan canggung.

Di tengah kenikmatan itu, sudut mataku menyadari sebuah kotak.

Permen mint? Lalu apa yang kukasih ke dia tadi?

Pikiranku yang terlanjur dikuasai gairah sempat tak menyadarinya. Begitu sadar, aku terkejut setengah mati dan langsung bangkit dari sofa.

Aku salah kasih! Yang kukasih ke dia itu obat kuat milik suamiku!!

Bahkan tanpa sempat merapikan diri, aku terburu-buru mengambil kotak permen mint itu dan mengetuk pintunya.

Deny segera membukakan pintu, sepertinya dia masih belum sadar apa yang terjadi.

“Deny, aku nggak sengaja salah kasih permen mint, kamu belum makan, ‘kan?”

“Salah ambil? Terus yang di dalam ini apa? Aku sudah makan tiga butir barusan….” Raut wajah Deny tampak kebingungan.

“Itu… itu obat yang biasa diminum ayahmu. Aku hanya khawatir akan terlihat nggak nyaman kalau ditaruh begitu saja, ayahmu juga gengsi. Makanya aku mengosongkan kotak permen itu dan memasukkannya ke dalam sana.”

“Pantas saja agak panas….”

Deny baru mau bicara lagi, tapi reaksi obatnya sudah mulai bekerja. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menutupi bagian bawahnya yang tiba-tiba berubah bentuk dengan canggung.

Karena makan tiga butir sekaligus, efek obatnya terlalu kuat dan tak bisa ditutupi sama sekali.

“Sshh….” Deny merasa agak canggung, tapi perubahan tubuhnya begitu cepat hingga perlahan dirinya mulai kehilangan kendali.

Suamiku saja paling banyak hanya bisa makan dua butir sekaligus. Dengan tubuh Deny yang sekekar ini makan tiga butir, kalau tak dilampiaskan, itu bisa meledakkannya.

Untuk ke rumah sakit tentu saja sudah tak sempat lagi. Napasnya memburu, lalu dia mulai melangkah mendekatiku.

“Kak Hana, ini ulahmu sendiri. Bagaimana kalau kamu bertanggung jawab dan membantu mengeluarkannya….”

Tatapan panas itu kini kembali tertuju tepat di tubuhku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 10

    Karena sudah terlanjur sampai di tahap ini, tak ada salahnya sekalian mencicipi kenikmatan Deny.Namun, kami memilih pindah ke kamarku. Entah apa yang ada di dalam pikiranku, yang jelas aku tak mau Leo melihat kami melakukannya.Deny jauh lebih brutal dibanding Leo. Sepertinya dia cemburu atau entah karena alasan lain, sampai-sampai diriku sudah hampir pingsan, dirinya pun masih tak mau melepaskanku.Begitulah, bermula dari malam itu, interaksi di antara kami pun jadi semakin intens.Setiap kali suamiku tak ada di rumah, Deny tanpa ragu bermesraan denganku. Setiap sudut rumah menjadi saksi bisu jejak percintaan kami.Setiap kali suasana semakin memanas, dia selalu memaksaku memanggilnya sayang dan menyatakan cinta padanya. Saat tidur pun, kami selalu berpelukan. Dia benar-benar sudah mendalami perannya sebagai suamiku.Malah terkadang di rumah, dia sama sekali tak mengizinkanku memakai baju dengan alasan demi kemudahan. Bahkan saat aku sedang masak di dapur pun, dia tetap menyelinap ma

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 9

    Pintu yang tiba-tiba terbuka itu tak hanya membuatku kaget setengah mati, tapi juga mengejutkan dua orang yang sedang melakukan olahraga liar di dalam kamar.Di tengah kepanikan, aku reflek merapatkan pahaku dengan erat, sampai-sampai hampir menjepit benda Leo hingga putus. Dia mengerang kesakitan, lalu langsung mendorongku ikut masuk ke dalam kamar.Aku merasa malu dan tak punya muka lagi untuk menghadapi mereka. Parahnya, Leo di belakangku masih terus menghantamku tanpa kenal lelah.“Wah Hana, cepat sekali kamu datangnya. Kukira Leo bakal butuh waktu lebih lama. Kamu hebat juga, Leo.”Mina bertumpu pada Deny, lalu bangkit dan menatapku dengan senyuman nakal.Mendengar ucapannya, aku pun jadi bingung.Apa maksudnya? Jangan-jangan mereka tahu semua perbuatan Leo sejak awal?Sambil memikirkan hal itu, aku pun menanyakannya.“Tentu saja, sebenarnya aku yang mengusulkan hal ini. Lagipula, aku juga kasihan melihatmu begitu tersiksa setiap hari.”“Sekarang kita juga sudah tahu banyak tentan

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 8

    Aku tak mau menurutinya, bagaimanapun juga diriku masih punya sedikit akal sehat. Aku tak sanggup melakukan tindakan senekat Mina.Jika sampai diketahui oleh dua orang di dalam kamar itu, rasanya bakal canggung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi mereka nantinya. Jadi, lebih baik berpura-pura tak tahu sama sekali.“Leo, hentikan! Kita nggak boleh begini. Aku selalu menganggapmu anaknya Mina, kita nggak pantas melakukan hal seperti ini.”Aku menurunkan nada suaraku untuk memperingatkannya sambil berusaha melepaskan pegangannya pelan-pelan.Di dalam hati, aku mulai merasa agak emosi. Kenapa diriku selalu dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini?Dulu dengan Deny dan sekarang malah dengan Leo. Kalau saja pria ini adalah orang asing yang sama sekali tak ada hubungannya denganku, aku mungkin sudah menyerah dan menuruti kemauannya. Bagaimanapun, aku tak perlu bertemu dengannya lagi setelah melakukan semuanya, sehingga beban mentalku jauh lebih ringan.Namun, mana mungkin Leo mau melepa

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 7

    Kepalaku terasa berdengung hebat. Seketika, rasa panik melanda hatiku, membuatku bingung setengah mati harus menjelaskan apa.“Kamu asal bicara apa, sih? Aku pikir Deny mimpi buruk lagi. Waktu di rumah, dia suka mencariku untuk menenangkannya kalau sedang mimpi buruk.”“Kok kamu nggak tidur, malah datang ke kamarku? Di mana mereka?”Aku berdiri sambil mendorongnya, lalu menyalakan lampu tidur di samping ranjang.“Mereka masih asik main di luar. Aku ke sini hanya mau lihat kondisimu, kamu nggak kuat minum, ‘kan?”Aku menjawab diriku baik-baik saja dan menyuruhnya segera kembali tidur karena kepalaku masih terasa agak pusing.“Kak Hana, aku punya cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa pusing akibat alkohol, mau dicoba? Deny juga lagi pakai cara ini untuk membantu ibuku menghilangkan rasa pusingnya.”Leo mendekatiku dengan raut wajah penuh godaan, sementara satu tangannya sudah mendarat di atas pahaku.Mendengar Deny yang sedang membantu Mina menghilangkan rasa pusing, sebuah prasangka

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 6

    Cuaca hari ini sangat panas. Tadinya berniat memakai rok pendek, tapi begitu teringat ada Deny dan Leo, aku menggantinya lagi dengan rok panjang sebelum keluar.Tubuhku ini tipe yang sangat tak tahan panas. Saat main mahjong, kukira Leo tak akan berani melakukan ulah nakal di depan mata Mina. Jadi, aku pun mengangkat ujung rokku untuk mencari angin.Siapa sangka, Leo malah memanfaatkan kesempatan dengan menjulurkan kakinya ke bawah, lalu pelan-pelan merambat naik menyusuri pahaku.Aku panik setengah mati takut ketahuan Mina. Sambil menepis kakinya, aku mendongak dan melotot tajam ke arahnya, menyuruhnya untuk menjaga sikap.Namun tak disangka, dia malah nekat merambat naik lagi, ujung kakinya bahkan langsung menyasar dan menempel tepat di titik paling sensitifku.Aku mencoba mundur sedikit, tapi malah takut terlihat oleh Deny dan Mina yang ada di dekatku. Jadi, aku pun terpaksa menahannya dulu.Saat aku mendongak dan menatap Leo, dia tersenyum licik sambil menggerakkan bibirnya, menyir

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 5

    Sensasi basah dan hangat di punggung terasa banyak, membuktikan betapa melimpahnya stok yang dikeluarkan Deny.Tanpa memikirkan hal lain, aku buru-buru menarik pakaianku untuk menutupi tubuh seadanya, lalu berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Tak disangka, Deny malah ingin ikut masuk. Dia beralasan masih ada sisa yang belum keluar dan memintaku membantunya untuk membersihkannya.Mandi bersamanya? Memikirkannya saja aku tak berani. Aku takut diriku tak bisa menahan diri untuk melakukan hal yang lebih jauh. Apalagi tubuhku terasa sangat hampa saat ini dan tujuanku ke kamar mandi sebenarnya ingin memakai mainan untuk menenangkan diriku sendiri.Sebelumnya aku memang ingin mendapatkannya, demi merasakan sensasi cacing tanah yang hangat, tapi sekarang malah tak berani lagi. Aku takut permainan ini malah membakar diriku sendiri. Jadi, lebih baik menjaga jarak.Untungnya Deny tak pernah tahu isi pikiran nakalku. Jika tidak, diriku pasti sudah tak bisa lepas darinya sekarang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status