Share

Bab 2

Author: Ungu
Aku terdiam, gairah yang tadinya hampir kulupakan kini kembali bergejolak.

Namun… ini tak boleh.

“Nggak boleh, kita nggak boleh begini….”

Aku berpura-pura dipersulit, bersusah payah mengalihkan pandangan dari bagian bawahnya dengan wajah yang terasa sangat panas.

Ukurannya memang sudah cukup mengerikan, ditambah efek obat, ukurannya semakin kelihatan seperti mau merobek celananya.

“Kak Hana, kamu tega melihat aku meledak? Kalau nggak segera dilampiaskan dan ada efek sampingnya, hancurlah seumur hidupku ini.”

Deny benar-benar sudah tak bisa menahan diri. Urat-urat di keningnya sudah menonjol, wajahnya memerah hingga terlihat keunguan.

Dia terlihat sangat tersiksa.

Sementara diriku seolah-olah ikut tertular, gairah di dalam diriku tak bisa diredam sama sekali.

Akal sehat memberitahuku bahwa ini salah, tapi tubuhku yang tak pernah terpuaskan ini baru pertama kali dihadapkan pada kesempatan yang benar-benar bisa memuaskannya….

Sekali ini saja….

Hanya sekali ini saja. Suamiku juga tak ada di rumah… tak akan ada yang tahu.

Aku bergumam meyakinkan diriku sendiri, lalu mengulurkan tangan yang gemetar untuk membuka celananya pelan-pelan.

Benda di sana mirip ular piton raksasa yang bergoyang-goyang, benar-benar menakutkan.

Melihat langsung wujud aslinya membuatku tercengang sampai menganga. Bahkan kedelai pun… kalah dengan ukurannya ini.

Jika ukuran sebesar ini memaksakan masuk ke dalam, mungkinkah diriku bakal baik-baik saja?

Saat ini, aku malah sempat ingin mundur karena takut taman bungaku tak akan muat dan malah berujung terluka.

“Kak Hana, cepat dong, aku sudah nggak tahan. Kalau kamu masih nggak bergerak, aku yang bakal maju duluan.”

Di bawah desakan Deny, aku seperti terhipnotis dan dengan linglung mengulurkan tangan untuk memeriksanya.

Suhu yang membara, tekstur yang kekar, terasa sangat menggoda. Ukuran raksasa yang nyata ini jauh lebih menggiurkan daripada mainan apa pun.

Aroma yang kuat merangsang hidungku, membuatku rasanya ingin mengabaikan semuanya dan langsung menelannya bulat-bulat untuk merasakan kenikmatannya.

“Sshh….”

Karena terlalu larut dalam pikiran, aku kurang mengatur tenaga hingga menyakitinya, membuat Deny gemetar menahan sakit.

“Kak Hana, tenagamu terlalu kuat. Kondisiku saat ini nggak bisa menahannya….”

“Kalau begitu… aku akan lebih pelan. Coba kamu rasakan lagi, kalau tetap nggak bisa, baru kita cari cara lain….”

Namun, setelah beberapa saat, tetap tak ada kemajuan sama sekali. Aku pun mulai panik.

Saat mendongak, aku melihat mata Deny sudah memerah dan menatap lekat-lekat ke arah dua gunung di dadaku yang montok. Napasnya memburu berat seperti lembu, kelihatannya dia sudah mulai hilang kesadaran.

“Kak Hana, coba pakai mulutmu, boleh? Kalau begini terus, aku benaran nggak bisa keluar.”

Melihat kondisinya yang seperti itu, aku tak bisa berpikir panjang lagi. Sambil menggigit bibir merahku, aku berlutut, menundukkan kepala dan mengulumnya dalam-dalam.

“Hmmm… nyaman sekali….”

Tubuh Deny perlahan-lahan mulai rileks. Aku pun menggunakan semua teknik yang pernah kupelajari untuk membantunya melepaskan gairah.

Lidahku berjelajah seperti ular kecil yang lincah, menyusuri dari atas ke bawah, kemudian dari bawah ke atas, terus-menerus merangsang setiap detail sensitifnya.

“Kak Hana, aku boleh memegangmu? Biar hasilnya lebih maksimal.”

Tanpa menunggu persetujuanku, tangannya sudah langsung bergerak sendiri.

Rangsangan dahsyat menyerangku hingga membuat seluruh tubuhku gemetar. Tangan besarnya yang bertenaga meremas kelembutan di dadaku, memijat dan memainkannya dengan sangat mahir. Cengkeraman kuat yang belum pernah kurasakan sebelumnya membuatku mendesah pelan, “Hm….”

Entah sengaja atau tidak, dia terus menekan bagian paling sensitifku, membuatku hampir tak sanggup menahannya.

Aku ingin menyusupkan tanganku ke bawah untuk menenangkan rasa geli di tubuhku, tapi takut terlihat olehnya. Jadi, aku hanya bisa merapatkan kedua pahaku erat-erat dan berusaha menahannya.

Lebih dari sepuluh menit berlalu, daguku sampai terasa pegal, tapi ular piton raksasa milik Deny belum juga menunjukkan tanda-tanda bakal meledak.

“Deny, kondisimu ini agak aneh. Masih belum keluar juga? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?”

Aku sudah tak sanggup menahannya lagi, sangat ingin dia mengisi kekosonganku, tapi mana mungkin diriku mengajukan permintaan seperti itu?

“Aku nggak mau ke rumah sakit. Kak Hana, kalau benar-benar nggak ada cara lain, kita pakai cara yang paling langsung saja. Kamu bantu menjepitku….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 10

    Karena sudah terlanjur sampai di tahap ini, tak ada salahnya sekalian mencicipi kenikmatan Deny.Namun, kami memilih pindah ke kamarku. Entah apa yang ada di dalam pikiranku, yang jelas aku tak mau Leo melihat kami melakukannya.Deny jauh lebih brutal dibanding Leo. Sepertinya dia cemburu atau entah karena alasan lain, sampai-sampai diriku sudah hampir pingsan, dirinya pun masih tak mau melepaskanku.Begitulah, bermula dari malam itu, interaksi di antara kami pun jadi semakin intens.Setiap kali suamiku tak ada di rumah, Deny tanpa ragu bermesraan denganku. Setiap sudut rumah menjadi saksi bisu jejak percintaan kami.Setiap kali suasana semakin memanas, dia selalu memaksaku memanggilnya sayang dan menyatakan cinta padanya. Saat tidur pun, kami selalu berpelukan. Dia benar-benar sudah mendalami perannya sebagai suamiku.Malah terkadang di rumah, dia sama sekali tak mengizinkanku memakai baju dengan alasan demi kemudahan. Bahkan saat aku sedang masak di dapur pun, dia tetap menyelinap ma

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 9

    Pintu yang tiba-tiba terbuka itu tak hanya membuatku kaget setengah mati, tapi juga mengejutkan dua orang yang sedang melakukan olahraga liar di dalam kamar.Di tengah kepanikan, aku reflek merapatkan pahaku dengan erat, sampai-sampai hampir menjepit benda Leo hingga putus. Dia mengerang kesakitan, lalu langsung mendorongku ikut masuk ke dalam kamar.Aku merasa malu dan tak punya muka lagi untuk menghadapi mereka. Parahnya, Leo di belakangku masih terus menghantamku tanpa kenal lelah.“Wah Hana, cepat sekali kamu datangnya. Kukira Leo bakal butuh waktu lebih lama. Kamu hebat juga, Leo.”Mina bertumpu pada Deny, lalu bangkit dan menatapku dengan senyuman nakal.Mendengar ucapannya, aku pun jadi bingung.Apa maksudnya? Jangan-jangan mereka tahu semua perbuatan Leo sejak awal?Sambil memikirkan hal itu, aku pun menanyakannya.“Tentu saja, sebenarnya aku yang mengusulkan hal ini. Lagipula, aku juga kasihan melihatmu begitu tersiksa setiap hari.”“Sekarang kita juga sudah tahu banyak tentan

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 8

    Aku tak mau menurutinya, bagaimanapun juga diriku masih punya sedikit akal sehat. Aku tak sanggup melakukan tindakan senekat Mina.Jika sampai diketahui oleh dua orang di dalam kamar itu, rasanya bakal canggung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi mereka nantinya. Jadi, lebih baik berpura-pura tak tahu sama sekali.“Leo, hentikan! Kita nggak boleh begini. Aku selalu menganggapmu anaknya Mina, kita nggak pantas melakukan hal seperti ini.”Aku menurunkan nada suaraku untuk memperingatkannya sambil berusaha melepaskan pegangannya pelan-pelan.Di dalam hati, aku mulai merasa agak emosi. Kenapa diriku selalu dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini?Dulu dengan Deny dan sekarang malah dengan Leo. Kalau saja pria ini adalah orang asing yang sama sekali tak ada hubungannya denganku, aku mungkin sudah menyerah dan menuruti kemauannya. Bagaimanapun, aku tak perlu bertemu dengannya lagi setelah melakukan semuanya, sehingga beban mentalku jauh lebih ringan.Namun, mana mungkin Leo mau melepa

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 7

    Kepalaku terasa berdengung hebat. Seketika, rasa panik melanda hatiku, membuatku bingung setengah mati harus menjelaskan apa.“Kamu asal bicara apa, sih? Aku pikir Deny mimpi buruk lagi. Waktu di rumah, dia suka mencariku untuk menenangkannya kalau sedang mimpi buruk.”“Kok kamu nggak tidur, malah datang ke kamarku? Di mana mereka?”Aku berdiri sambil mendorongnya, lalu menyalakan lampu tidur di samping ranjang.“Mereka masih asik main di luar. Aku ke sini hanya mau lihat kondisimu, kamu nggak kuat minum, ‘kan?”Aku menjawab diriku baik-baik saja dan menyuruhnya segera kembali tidur karena kepalaku masih terasa agak pusing.“Kak Hana, aku punya cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa pusing akibat alkohol, mau dicoba? Deny juga lagi pakai cara ini untuk membantu ibuku menghilangkan rasa pusingnya.”Leo mendekatiku dengan raut wajah penuh godaan, sementara satu tangannya sudah mendarat di atas pahaku.Mendengar Deny yang sedang membantu Mina menghilangkan rasa pusing, sebuah prasangka

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 6

    Cuaca hari ini sangat panas. Tadinya berniat memakai rok pendek, tapi begitu teringat ada Deny dan Leo, aku menggantinya lagi dengan rok panjang sebelum keluar.Tubuhku ini tipe yang sangat tak tahan panas. Saat main mahjong, kukira Leo tak akan berani melakukan ulah nakal di depan mata Mina. Jadi, aku pun mengangkat ujung rokku untuk mencari angin.Siapa sangka, Leo malah memanfaatkan kesempatan dengan menjulurkan kakinya ke bawah, lalu pelan-pelan merambat naik menyusuri pahaku.Aku panik setengah mati takut ketahuan Mina. Sambil menepis kakinya, aku mendongak dan melotot tajam ke arahnya, menyuruhnya untuk menjaga sikap.Namun tak disangka, dia malah nekat merambat naik lagi, ujung kakinya bahkan langsung menyasar dan menempel tepat di titik paling sensitifku.Aku mencoba mundur sedikit, tapi malah takut terlihat oleh Deny dan Mina yang ada di dekatku. Jadi, aku pun terpaksa menahannya dulu.Saat aku mendongak dan menatap Leo, dia tersenyum licik sambil menggerakkan bibirnya, menyir

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 5

    Sensasi basah dan hangat di punggung terasa banyak, membuktikan betapa melimpahnya stok yang dikeluarkan Deny.Tanpa memikirkan hal lain, aku buru-buru menarik pakaianku untuk menutupi tubuh seadanya, lalu berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Tak disangka, Deny malah ingin ikut masuk. Dia beralasan masih ada sisa yang belum keluar dan memintaku membantunya untuk membersihkannya.Mandi bersamanya? Memikirkannya saja aku tak berani. Aku takut diriku tak bisa menahan diri untuk melakukan hal yang lebih jauh. Apalagi tubuhku terasa sangat hampa saat ini dan tujuanku ke kamar mandi sebenarnya ingin memakai mainan untuk menenangkan diriku sendiri.Sebelumnya aku memang ingin mendapatkannya, demi merasakan sensasi cacing tanah yang hangat, tapi sekarang malah tak berani lagi. Aku takut permainan ini malah membakar diriku sendiri. Jadi, lebih baik menjaga jarak.Untungnya Deny tak pernah tahu isi pikiran nakalku. Jika tidak, diriku pasti sudah tak bisa lepas darinya sekarang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status