Share

Bab 3

Author: Ungu
“Apa? Nggak… nggak boleh! Sekarang masih belum termasuk berhubungan langsung. Kalau begitu, apa bedanya dengan berhubungan langsung? Nggak boleh!”

Bagaimanapun juga, aku ini ibu tirinya. Sungguh tidak pantas melakukan hal seperti itu.

“Kak Hana, kamu sudah janji mau bertanggung jawab padaku.”

Tangannya bergerak meremas ujung dadaku, meluluhkan sisa-sisa penolakanku menjadi desahan pasrah. Di hadapannya, aku lemas tak berdaya bagaikan genangan lumpur, hanya bisa pasrah merasakan belaian yang tak sanggup kubendung dan meratapi akal sehatku yang perlahan tenggelam digulung gelombang gairah.

Aku tahu… diriku sudah tak sanggup memintanya berhenti.

“Hanya… sekali ini saja.”

Aku mendekatkan tubuhku padanya, menyerahkan diri sepenuhnya untuk dipermainkan sesukanya.

Dia tampak semakin bersemangat. Tangan besarnya yang tidak sabar meraba-raba gaun tidurku, lalu perlahan menyingkap gaun itu ke atas, memperlihatkan bagian intimku yang sudah sangat basah.

“Kak Hana, kamu nggak boleh pakai apa-apa. Harus bersentuhan langsung dengan kulit baru bisa terasa. Kalau ada penghalangnya pasti akan mengganjal, malah bisa lecet nantinya.”

“Tenang saja, aku benaran nggak bakal sampai tahap paling akhir. Hanya menggesek-gesek sampai keluar saja.”

Deny mengatur posisiku. Begitu siap, dia langsung bergerak dengan tidak sabar.

Cacing tanah raksasa yang panas dan padat itu bergerak-gerak di antara pahaku. Area yang tadinya rata, kini terus terdesak hingga cairan yang tersembunyi di bawahnya terus keluar tanpa henti.

Di bawah gesekan yang kencang itu, bagian paling sensitifku ikut menjadi sasaran. Sensasi geli dan nikmat meluap-luap membuat seluruh tubuhku gemetar hebat.

“Hm… Deny, pelan-pelan dong, geli sekali… aku sudah nggak tahan….”

Aku tak menyangka dia bakal sekuat ini. Sepuluh menit berlalu, tapi tempo gesekan cacing tanah raksasa itu sama sekali tak melambat atau pun berhenti.

Aku sudah tak sanggup menahannya lagi. Ada sensasi aneh seperti ingin buang air kecil, tapi di saat yang sama juga terasa berbeda. Di bawah gerakan dahsyatnya, tubuhku mulai terasa lemas dan tak bertenaga, hingga hampir tak sanggup lagi menopang tubuh.

Bukannya menuruti permintaanku, Deny malah melucuti gaun tidurku sekalian. Kini aku benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun di hadapannya.

“Kak Hana, aku merasa sangat nyaman sekarang… licin dan hangat… sudah lama sekali aku nggak merasakan rasa seperti ini.”

“Kak Hana, bagaimana cara kamu merawat tubuhmu ini? Ayahku benar-benar beruntung sekali. Rasanya nyaman sekali. Aku malah bersyukur salah minum obat. Kalau nggak, mana mungkin bisa merasakan kenikmatan luar biasa begini.”

Gesekannya yang begitu bertenaga memberikan sensasi yang hampir tak ada bedanya dengan berada di dalam sungguhan. Aku bahkan bisa mendengar suara basah yang nyaring. Saat menunduk, aku melihat sudah ada jejak cairanku di lantai.

Pikiranku semakin kacau, sampai-sampai timbul pikiran yang menginginkan agar dia langsung menerobos masuk saja.

Tepat pada saat itu, tiba-tiba ponselku berdering.

Itu panggilan video dari suamiku. Aku panik setengah mati dan berusaha mendorong Deny, tapi dia yang sedang terbawa suasana sama sekali tak mau berhenti, bahkan tak takut kalau sampai ketahuan.

Aku terpaksa mengarahkan kamera ponsel ke arah dadaku agar bagian belakangku tak terlihat.

“Sayang, kamu lagi apain? Kok wajahmu merah sekali?”

Aku berbohong bilang sedang latihan yoga dan karena durasinya agak lama hari ini, jadi rasanya capek sekali dan mau istirahat sebentar lagi.

Sambil mendengarkan godaan mesum suamiku di telepon dan merasakan tatapannya dari layar, tubuh bagian belakangku malah berada dalam dekapan pria lain. Tangannya bergerak bebas menelusuri tubuhku, sementara barangnya yang membesar menjepit erat di antara pahaku, menggesek area sensitifku hingga cairan yang keluar ikut membasahi tubuh pria itu.

“Sayang, aku kangen denganmu. Ayo kita sambil video call, sambil main sebentar. Aku mau lihat kamu….”

Aku terkejut setengah mati. Tanpa sadar reflek merapatkan paha, membuat pria di belakangku menggeram menahan kenikmatan.

“Sayang, aku agak capek hari ini, lagi nggak ada gairah. Bagaimana kalau besok saja? Besok malam, aku pakai kostum baru yang baru kubeli khusus untukmu.”

Entah kalimatku yang mana yang memancing emosi Deny, dia mendadak menghentakkan bagian bawahnya dengan sangat keras hingga rasanya kulit di area sensitifku seperti terkelupas.

Sensasi dahsyat yang menyengat itu hampir saja membuatku menjerit keras.

“Nggak mau, harus video call malam ini! Aku sudah menahan diri beberapa hari.”

Suamiku benar-benar tak bisa dibujuk malam ini, dia bahkan sudah mulai melepas pakaiannya.

Saat hendak mencari alasan lagi untuk menolak, aku merasa benda di antara pahaku mulai bergerak semakin liar. Bagian ujungnya yang sangat besar kini sudah menempel dan menggesek tepat di lubangku yang basah kuyup.

Dia mau masuk!

Dalam kepanikanku, aku berusaha mendorongnya menjauh. Kalau benda sebesar ini sampai menerobos masuk, aku pasti tak akan sanggup menahannya.

Tanpa kusadari, aku lupa kalau masih ada ponsel di genggamanku, hingga kameranya bergeser dan mengarah tepat ke area tubuh kami yang saling bersentuhan intim….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 10

    Karena sudah terlanjur sampai di tahap ini, tak ada salahnya sekalian mencicipi kenikmatan Deny.Namun, kami memilih pindah ke kamarku. Entah apa yang ada di dalam pikiranku, yang jelas aku tak mau Leo melihat kami melakukannya.Deny jauh lebih brutal dibanding Leo. Sepertinya dia cemburu atau entah karena alasan lain, sampai-sampai diriku sudah hampir pingsan, dirinya pun masih tak mau melepaskanku.Begitulah, bermula dari malam itu, interaksi di antara kami pun jadi semakin intens.Setiap kali suamiku tak ada di rumah, Deny tanpa ragu bermesraan denganku. Setiap sudut rumah menjadi saksi bisu jejak percintaan kami.Setiap kali suasana semakin memanas, dia selalu memaksaku memanggilnya sayang dan menyatakan cinta padanya. Saat tidur pun, kami selalu berpelukan. Dia benar-benar sudah mendalami perannya sebagai suamiku.Malah terkadang di rumah, dia sama sekali tak mengizinkanku memakai baju dengan alasan demi kemudahan. Bahkan saat aku sedang masak di dapur pun, dia tetap menyelinap ma

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 9

    Pintu yang tiba-tiba terbuka itu tak hanya membuatku kaget setengah mati, tapi juga mengejutkan dua orang yang sedang melakukan olahraga liar di dalam kamar.Di tengah kepanikan, aku reflek merapatkan pahaku dengan erat, sampai-sampai hampir menjepit benda Leo hingga putus. Dia mengerang kesakitan, lalu langsung mendorongku ikut masuk ke dalam kamar.Aku merasa malu dan tak punya muka lagi untuk menghadapi mereka. Parahnya, Leo di belakangku masih terus menghantamku tanpa kenal lelah.“Wah Hana, cepat sekali kamu datangnya. Kukira Leo bakal butuh waktu lebih lama. Kamu hebat juga, Leo.”Mina bertumpu pada Deny, lalu bangkit dan menatapku dengan senyuman nakal.Mendengar ucapannya, aku pun jadi bingung.Apa maksudnya? Jangan-jangan mereka tahu semua perbuatan Leo sejak awal?Sambil memikirkan hal itu, aku pun menanyakannya.“Tentu saja, sebenarnya aku yang mengusulkan hal ini. Lagipula, aku juga kasihan melihatmu begitu tersiksa setiap hari.”“Sekarang kita juga sudah tahu banyak tentan

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 8

    Aku tak mau menurutinya, bagaimanapun juga diriku masih punya sedikit akal sehat. Aku tak sanggup melakukan tindakan senekat Mina.Jika sampai diketahui oleh dua orang di dalam kamar itu, rasanya bakal canggung. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi mereka nantinya. Jadi, lebih baik berpura-pura tak tahu sama sekali.“Leo, hentikan! Kita nggak boleh begini. Aku selalu menganggapmu anaknya Mina, kita nggak pantas melakukan hal seperti ini.”Aku menurunkan nada suaraku untuk memperingatkannya sambil berusaha melepaskan pegangannya pelan-pelan.Di dalam hati, aku mulai merasa agak emosi. Kenapa diriku selalu dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini?Dulu dengan Deny dan sekarang malah dengan Leo. Kalau saja pria ini adalah orang asing yang sama sekali tak ada hubungannya denganku, aku mungkin sudah menyerah dan menuruti kemauannya. Bagaimanapun, aku tak perlu bertemu dengannya lagi setelah melakukan semuanya, sehingga beban mentalku jauh lebih ringan.Namun, mana mungkin Leo mau melepa

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 7

    Kepalaku terasa berdengung hebat. Seketika, rasa panik melanda hatiku, membuatku bingung setengah mati harus menjelaskan apa.“Kamu asal bicara apa, sih? Aku pikir Deny mimpi buruk lagi. Waktu di rumah, dia suka mencariku untuk menenangkannya kalau sedang mimpi buruk.”“Kok kamu nggak tidur, malah datang ke kamarku? Di mana mereka?”Aku berdiri sambil mendorongnya, lalu menyalakan lampu tidur di samping ranjang.“Mereka masih asik main di luar. Aku ke sini hanya mau lihat kondisimu, kamu nggak kuat minum, ‘kan?”Aku menjawab diriku baik-baik saja dan menyuruhnya segera kembali tidur karena kepalaku masih terasa agak pusing.“Kak Hana, aku punya cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa pusing akibat alkohol, mau dicoba? Deny juga lagi pakai cara ini untuk membantu ibuku menghilangkan rasa pusingnya.”Leo mendekatiku dengan raut wajah penuh godaan, sementara satu tangannya sudah mendarat di atas pahaku.Mendengar Deny yang sedang membantu Mina menghilangkan rasa pusing, sebuah prasangka

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 6

    Cuaca hari ini sangat panas. Tadinya berniat memakai rok pendek, tapi begitu teringat ada Deny dan Leo, aku menggantinya lagi dengan rok panjang sebelum keluar.Tubuhku ini tipe yang sangat tak tahan panas. Saat main mahjong, kukira Leo tak akan berani melakukan ulah nakal di depan mata Mina. Jadi, aku pun mengangkat ujung rokku untuk mencari angin.Siapa sangka, Leo malah memanfaatkan kesempatan dengan menjulurkan kakinya ke bawah, lalu pelan-pelan merambat naik menyusuri pahaku.Aku panik setengah mati takut ketahuan Mina. Sambil menepis kakinya, aku mendongak dan melotot tajam ke arahnya, menyuruhnya untuk menjaga sikap.Namun tak disangka, dia malah nekat merambat naik lagi, ujung kakinya bahkan langsung menyasar dan menempel tepat di titik paling sensitifku.Aku mencoba mundur sedikit, tapi malah takut terlihat oleh Deny dan Mina yang ada di dekatku. Jadi, aku pun terpaksa menahannya dulu.Saat aku mendongak dan menatap Leo, dia tersenyum licik sambil menggerakkan bibirnya, menyir

  • Bermain Api Dengan Anak Angkat   Bab 5

    Sensasi basah dan hangat di punggung terasa banyak, membuktikan betapa melimpahnya stok yang dikeluarkan Deny.Tanpa memikirkan hal lain, aku buru-buru menarik pakaianku untuk menutupi tubuh seadanya, lalu berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Tak disangka, Deny malah ingin ikut masuk. Dia beralasan masih ada sisa yang belum keluar dan memintaku membantunya untuk membersihkannya.Mandi bersamanya? Memikirkannya saja aku tak berani. Aku takut diriku tak bisa menahan diri untuk melakukan hal yang lebih jauh. Apalagi tubuhku terasa sangat hampa saat ini dan tujuanku ke kamar mandi sebenarnya ingin memakai mainan untuk menenangkan diriku sendiri.Sebelumnya aku memang ingin mendapatkannya, demi merasakan sensasi cacing tanah yang hangat, tapi sekarang malah tak berani lagi. Aku takut permainan ini malah membakar diriku sendiri. Jadi, lebih baik menjaga jarak.Untungnya Deny tak pernah tahu isi pikiran nakalku. Jika tidak, diriku pasti sudah tak bisa lepas darinya sekarang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status