MasukBeberapa hari sebelum hari pernikahannya, Aleena Reverie memergoki tunangannya berselingkuh dengan adik tirinya. Dia segera memberitahu keluarganya tetapi tidak ada satupun yang mempercayainya. Saat kondisi hatinya sedang kalut, Aleena pergi ke sebuah club untuk melepaskan kesedihannya. Sialnya, dia malah bermalam dengan seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal. Akibat kesalahan pada malam itu, Aleena mengetahui kabar bahwa dirinya sedang mengandung. Dia langsung diusir oleh keluarganya dan terpaksa membesarkan anak yang tidak diketahui ayahnya. Seakan semesta masih belum puas, Aleena mengetahui sebuah fakta bahwa kesialan yang terjadi dalam hidupnya merupakan rencana ibu dan juga adik tirinya. Aleena bertekad membalas rasa sakit hati yang dia rasakan. Di tengah Aleena yang sedang dalam misi pembalasan dendam, tiba-tiba seorang pria hadir dan mengatakan bahwa dialah laki-laki pada malam itu yang sudah membuatnya mengandung. Pria yang merupakan CEO Shailendra grup sekaligus sepupu mantan tunangannya, mengulurkan tangan pada Aleena sebab dia adalah ayah dari anaknya.
Lihat lebih banyak“Uhh! Ohh! Oh! Ang sarap… Ah! Ahh!” halinghing ni Sierra at napasabunot sa buhok nito.
Nadismaya si Sierra nang tumigil ito sa pagpapaligaya sa kanya ngunit agad rin siyang napaungol nang pinasok ng lalaki ang dalawang daliri sa hiyas niya. First he moved his fingers slowly. Hanggang sa bumilis ang paglabas-pasok ng daliri nito sa pagkababae niya. “Ohh… p-please…” she moaned hoarsely. “H-hindi ko na kaya… Haaahh” The pleasure is too much. She didn’t know how to handle it. Sunod-sunod ang kanyang ungol habang nilalamon ng sarap ang kanyang katawan. “Ohhh! This feels good.” His fingers are moving too fast. Unti-unting namuo ang matinding sensasyon sa kanyang puson. Gusto nang sumabog ni Sierra pero natatakot siya na huminto ito sa ginagawa kapag sinuway niya. Huminto ito at hinalikan siya. “So fvcking wet,” ungol nito sa kanyang labi. She arched her back and cried as he fvcked her harder with his fingers. “No… I’m… ah!” nanginginig ang kanyang mga binti. She was so close. Ngunit bago pa man siya tuluyang labasan, huminto ito. “What the hell!” galit niya itong tinignan. “Talikod,” utos nito. “Huh?” tuliro niyang tinignan ang lalaki. Muntik ng mapasigaw si Sierra nang pwersahang pinatalikod siya ng lalaki. “Ah!” napadaing siya nang maramdaman ang hampas nito sa kanyang pang-upo. “Tuwad, Sierra,” mariin nitong sabi. Hindi pa siya nakakabawi nang bigla siyang pasukin nito. “Ahhh!” napasigaw si Sierra sa sobrang sakit. Pakiramdam niya parang hinati ang kanyang katawan. “You’re a virgin,” he muttered, his movements faltering for only a second. “Yes…” she whispered weakly. Halos mapaiyak siya sa sakit. “Hindi pa nangangalahati ang ipinasok ko. Kaya mo ba o ihihinto—” “K-kaya ko,” putol niya dito. Hindi ito nagsalita. Inihanda na lamang ni Sierra ang sarili sa sakit. Isang marahas na pasok ang ginawa nito dahilan para masagad siya. Parang may napunit sa loob ni Sierra sa ginawa nito. Halos mapunit ang kumot sa higpit ng kanyang pagkakahawak. “Fvck! Ang sikip mo…” hirap nitong bulong. Saglit itong hindi gumalaw, hinahayaan siyang masanay sa laki nito. Hinaplos ng lalaki ang kanyang tiyan bago muling kumilos ngunit sa pagkakataong ito, mas mabilis at mas malalim. “Ugh… slow down!” pagsusumamo niya, ngunit lalo lamang nitong diniin ang sarili sa kanya. “Ah! Ah! Please don't stop!” wala siyang nagawa kundi ang umungol habang paulit-ulit siyang sinasagad. “So fvcking tight… sa akin ka lang,” he growled as he continued pounding into her mercilessly. He groaned and fvcked her harder. Napuno ng kanyang mga ungol ang buong silid. “Please… make me come,” she pleaded when he got wild. “Good girl. You’re taking it so good, baby,” he groaned. Walang patid ang paggalaw nito sa loob niya. “Ahh! Yes! Don't stop! Malapit na ako!” Nanginginig na napasandal ang noo ni Sierra sa headboard nang labasan siya. He pulled out and made her face him. Binuhat siya nito at muling pinasok. Agad siyang napayakap sa leeg ng lalaki nang marahas nitong bayuhin ang pagkababae niya. “Ahh! Ah! Ah… bilisan mo pa… ang sarap naman,” she threw her head on his shoulder as his cōck fattened inside her. Nakinig naman ito sa pakiusap niya. Lalo nitong binilisan ang galaw. Sagad ang bawat hugot-baon ng lalaki sa lagusan ni Sierra. “Ohh! Oh! Ohh! … Ibaon mo pa! Uhhh…” she's already a moaning mess. “Cum with me, baby,” utos nito. “Lalabasan na ako…” she cried and arched her back as her orgasm slammed into her like fireworks. Sumunod naman ito. Sa dami ng inilabas nito sa loob niya, umagos ‘yon palabas sa kanyang pagkababae. He never pulled away. Dinala siya nito sa loob ng banyo at doon na naman muling pinaungol. He thrust his full length into her, slamming his lips against hers as he moved at a steady pace. Malalim na napahinga si Sierra at mahigpit na kumapit dito habang lalo nitong binilisan ang galaw. “Fvck! Fvck! Ang sarap mo!” bulong nito habang hinawakan ang kanyang hita at itinaas ang kanyang binti papunta sa baywang nito. “Uhh! Huh! My god! Ohhh…” malakas niyang ungol habang ipinulupot ang kanyang mga paa sa likod nito. “This pvssy is mine… all mine,” paulit-ulit nitong sabi sa bawat malalim na pagbaon, na nagtulak kay Sierra sa sukdulang sarap na may halong sakit. “Ayan na. Lalabasan na ako! Oohh…” He groaned, thrusting deeper before finally releasing his seed inside her. Bumagsak ang ulo ni Sierra sa leeg nito nang labasan siya. Naramdaman niyang ibinaba siya nito sa malamig na tiles. Wala na siyang lakas. Dahan-dahan nitong inalis ang kanyang takong, tila naging kalmado na muli. “Sa susunod, huwag mo akong susuwayin,” malamig nitong sabi. There was a pause before he added. “At sa susunod, mag-ipon ka nang lakas hanggang kaya muna ang magdamag kitang aangkinin.” Unti-unting pumikit si Sierra habang nilalamon siya ng dilim. Wala nang susunod. Hinding-hindi na siya lalapit ulit sa fiancé ng kanyang kapatid.Dua minggu sebelum Aleena dan Harry bertemu. Sebelum artikel-artikel yang memunculkan berita miring mengenai Eloise, tiba-tiba Harry mendapatkan sebuah panggilan dari nomor tanpa nama, dia mengangkat panggilan tersebut tanpa curiga. "Halo, dengan siapa saya bicara?" Harry diam saat orang itu berbicara, dan setelahnya, ekspresi wajah Harry berubah serius. "Baik, saya akan ke sana dalam satu jam." Harry berjalan menuju ruang private yang berada di sebuah restoran mewah di mall terbesar yang ada di pusat kota. Sepanjang perjalanan, dia tidak henti bertanya-tanya alasan pria itu memintanya untuk datang. Padahal mereka sama sekali tidak dekat, mereka pun sama-sama bersaing untuk mendapatkan hati Aleena. Dia sudah bersiap dengan kata-kata penolakan jika seandanya nanti Ethan menyuruhnya untuk pergi menjauhi Aleena. Namun, yang terjadi saat ini sangat berbanding terbalik dengan yang dia pikirkan sepanjang perjalanan menuju kemari. Ethan malah memberikan sebuah flashdisk berisi beberapa
"Tidak ada!" Aleena melihat Ansel lalu kembali berkata, "Jangan dengarkan kata-katanya! Terkadang anak-anak memiiki imajinasi di luar dugaan orang dewasa."Aleena langsung buru-buru mengambil mainan dari tangan putranya kemudian menuntunnya duduk di kursi makan. Dia mengambilkan makanan untuk Ansel dan tidak menyadari melakukan hal yang sama untuk Ethan. Melihat sikap Aleena yang tiba-tiba gugup, seketika membuat Ethan merasa lucu. Dia segera bergabung dengan keduanya. "Ansel, makanlah dengan baik. Usahakan jangan berantakan, mengerti?"Merasa dirinya diperhatikan, Aleena mengangkat wajah dan saat itu dia bertemu tatap dengan Ethan. "Ada apa?" Aleena bertanya tanpa sadar nada suaranya menjadi ketus."Kenapa marah padaku? Apakah karena sebenarnya ada hadiah untukku tapi kamu terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya?" ucap Ethan sebelum memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya.Aleena hendak membantah tetapi langsung diurungkan. Melihat ada Ansel di antara mereka, tidak baik u
"Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Eloise pasti memiliki alasan kenapa dia melakukannya," Helena berusaha untuk membujuk Ivander supaya mempercayai perkataannya. Dia tidak bisa membiarkan suaminya mencoret nama Eloise dari daftar pewaris keluarga Anderson. "Aku sudah memberikan waktu pada kalian membuktikan bahwa Eloise tidak bersalah. Kuperintahkan untuk segera membereskan kekacauan yang sudah kalian buat. Tapi, apa ini? Eloise dipenjara dan membuat keadaan perusahaan semakin kacau! Kalian mau membuatku hancur, ya?!" Wajah Ivander sudah sangat merah saking besar amarah yang dirasakannya. Pria itu nampak seperti bisa menghancurkan apapun yang ada di depannya. Baru kali ini dia melihat kemarahan Ivander yang tidak biasa. Sampai-sampai dia merasa khawatir dengan keselamatannya di masa depan.Namun, Helena penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia berusaha untuk tetap tersenyum di depan sang suami. Helena mencoba memegang lengan Ivan
Aleena buru-buru melepaskan diri dari Ethan sehingga membuat Ansel yang berada di tengah-tengah mereka menjadi kebingungan. Dia berusaha untuk mengubah ekspresi wajahnya seperti biasa. "Ansel, karena Papa sudah ada di sini, sebaiknya Ansel tidur. Hari sudah malam, sudah waktunya untuk kita beristirahat," ucap Aleena seraya merebahkan diri di samping Ansel. "Mama, kenapa wajah Mama merah? Apakah Mama sakit?" Mendengar kalimat Ansel, seketika Aleena mengangkat wajah dan menatap Ethan. Buru-buru dia mengalihkan pandangan, dia tidak berani untuk menatap suaminya. Rasanya seperti jantung akan meledak jika bertemu pandang dengannya. "Tidak, mama hanya lelah dan ingin istirahat saja. Lebih baik sekarang kita tidur, ya?" Aleena benar-benar menghindari kontak mata dengan Ethan. Dia langsung menarik selimut, menutupi tubuhnya dan Ansel. Dalam hati berharap bahwa tidak akan ada lagi pertanyaan serta hari langsung berganti menjadi pagi. Baru saja Aleena mendengarkan embusan napas Ansel yang
Tidak terdapat tugas serius di tubuh Ansel sehingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Tetapi, karena Ethan dan Aleena merasa tidak yakin, mereka meminta dokter untuk tetap merawat Ansel. Kejadian penculikan tersebut telah menimbulkan trauma yang sangat dalam bagi Ansel sehingga membutuhkan pe
Ethan menarik tangan Aleena untuk masuk ke dalam mobilnya. Tetapi baru saja mereka sampai di depan mobil Ethan, Aleena langsung menghempaskan tangan pria itu dengan kasar. "Tunggu dulu! Bagaimana bisa anakku ada di rumah orang tuamu?" Aleena seperti tersadar suatu hal, "Apakah kamu yang membawanya?
"Kamu pikir, pernikahan kita sungguhan?" Saat itu juga Ethan tidak dapat berkata-kata. Dia hanya bergeming sembari terus menatap Aleena. Hal apa yang selanjutnya dikatakan, dia sudah mengetahuinya. Aleena menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, "Tujuan kita menikah adalah karena An
Hati Aleena kini dipenuhi oleh kewaspadaan. Setelah apa yang dilakukan oleh Ethan, dia semakin tidak mempercayai semua hal yang dikatakan olehnya. Aleena tersenyum sinis kemudian berkata, "Kamu pikir aku akan percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh pembohong sepertimu?" Aleena bersedekap, dia m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan