/ Romansa / Berondong Kesayanganku / Terpaksa Berbohong

공유

Terpaksa Berbohong

작가: Suci Komala
last update 게시일: 2026-07-22 21:53:28

Tepat jam sembilan malam, Restoran tutup. Rasa lelah yang meraja membuat Rania terduduk pasrah bersandar di kursi pelanggan. Matanya menyisir ke setiap sudut restoran. Ia tidak menyangka, Restoran peninggalan ayahnya yang sudah ada sejak lebih dari tiga puluh tahun masih berdiri kokoh. Semula, ada rasa khawatir dalam diri Rania jika restorannya ditinggal pelanggan, karena Restoran yang berada di kawasan Menteng Jakarta Pusat itu sempat tutup beberapa tahun. Nyatanya, restorannya kembali ramai. Ada pelanggan lama, banyak pula pelanggan baru.

"Mau menginap di sini?" tanya Dareen yang berhasil mengagetkan Rania.

"Eh, Ken, kenapa belum pulang?"

"Baru selesai input data. Dan untuk surat mutasi, saya sudah simpan di atas meja, ya, Mbak."

"Iya, Ken." Rania berdiri, "dan untuk besok, tolong pastikan lagi sama supplier barang yang tadi belum sempat kirim."

Dareen mengangguk. "Iya."

"Kalo misalnya tidak bisa kirim, terpaksa besok pagi saya ke supermarket dulu. Sana duluan pulang, sana nunggu Reza."

Sejenak Dareen terdiam, lalu pergi.

Rania bergegas ke ruangannya untuk mengambil tas. Tidak berselang lama, Reza menghampiri dan keduanya pulang bersama.

"Rumahmu masih yang dulu?" tanya Reza.

"Iya. Mau ke mana lagi?"

Reza dan Rania saling melempar senyum.

Rupa-rupanya, Reza meminjam mobil Rania karena ban motornya pecah. Jadi, Reza yang mengantar Rania pulang, dan Reza yang akan menjemputnya besok.

***

Mobil Rania sudah terparkir di luar gerbang.

"Sampai ketemu besok!" ucap Rania.

"Tentu," kata Reza, "gak sabar pengen ketemu Bunda."

Rania tersenyum. "Hati-hati, ya, Za."

Rania bergegas turun. Reza pun melanjutkan perjalanan.

Rania membuka pintu gerbang. Namun, saat hendak masuk dirinya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang berada di bawah pohon. Entah siapa. Pakaian serba hitam, topi hitam, mengenakan masker hitam, yang melihat ke arah dirinya. Cepat-cepat ia masuk dan mengunci pintu gerbang.

Rania berlari kecil menuju pintu utama, dan segera masuk.

"Loh, Bunda belum tidur?" tanya Rania saat tiba di ruang tamu.

Bukannya menjawab, Husna malah tersenyum.

"Ada apa, sih?"

"Sini duduk!" Husna menepuk sofa di sampingnya.

Rania menyimpan tas, ponsel, serta kunci mobil di meja, lalu duduk.

Rupanya Husna sengaja menunggu Rania pulang karena sedari tadi ponsel Rania tidak bisa dihubungi. Bukan tanpa alasan, Husna hanya ingin memberi tahu jika Ferdy akan berkunjung esok.

"Loh, bukannya minggu depan?" Rania menghela napas berat.

"Ibunya Ferdy minta dipercepat, karena minggu depan mereka akan berangkat umroh."

"Jadi, Bunda mohon sama kamu, besok jam sepuluh luangkan waktu dan kamu harus tampil cantik," lanjutnya.

"Kenapa mendadak, sih, Bun?"

"Suruh siapa ponselmu mati, Ran?"

"Tadi restoran rame, Bun, ponselku gak sempet aku charge."

Rania menggenggam tangan Husna. "Baik, aku akan temui Ferdy dan keluarganya. Tapi, dengan syarat ...."

Husna mengesah panjang. "Apa?"

"Aku tidak mau cepat-cepat nikah."

Husna menarik tangannya. "Tidak bisa, Nak. Umur kalian sudah waktunya untuk menikah."

Rania berdiri. Semua barang yang ia simpan di meja pun diraihnya. "Aku istirahat dulu, ya, Bun. Bunda juga cepet tidur. Jaga kesehatan."

Husna hanya bisa menatap kepergian putrinya sambil menggeleng.

Di kamar, Rania merebahkan diri di kasur. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar Husna tidak terus memaksanya untuk segera menikah. Bukannya ide yang datang, justru kepala yang berdenyut yang ia dapati. Mata pun terpejam.

***

Hari berganti.

Suasana di ruang makan pagi itu terasa dingin. Dimana ketiga penghuninya sama-sama menyuap nasi, tetapi kepala sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Husna berpikir menu apa kiranya yang cocok disuguhkan untuk Ferdy dan keluarganya, Rania berpikir kalimat apa yang pantas ia sampaikan kepada Husna, dan ada si bontot Vino yang bingung bagaimana caranya meminta izin untuk menagih janji Husna.

"Bunda," ucap Rania dan Vino bersamaan.

Husna menatap Rania dan Vino bergantian. "Satu-satu," katanya.

"Mbak dulu aja," ucap Vino.

"Kamu aja, Dek!" ucap Rania.

Husna menggeleng. "Kalian ini kenapa, sih?"

Rania menyimpan sendok dan garpunya, lalu mentap Husna. "Kalo aku punya pacar, apa Bunda akan tetap memaksa aku untuk menikah dengan Ferdy?"

"Tentu saja tidak!" Husna tersenyum tipis, lalu lanjut bertanya. "Kamu sudah ada pacar memangnya?"

Rania mengangguk cepat. "Su-sudah!"

"Sejak kapan? Kok, kamu gak kasih tau Bunda, sih?"

Rania tersenyum canggung "Belum lama, sih, Bun. Ya ... kita masih sama-sama saling mengenal."

Husna menatap Rania penuh curiga. "Kamu tidak lagi bohongin Bunda, kan? Kamu gak cari alasan untuk menolak Ferdy, kan, Ran?"

Rania mengibaskan kedua tangannya. "Enggak, Bun! Beneran, kok, aku sudah punya pacar."

"Kalian saling mencintai?"

Rania tersenyum. "Tentu saja, Bun. Kalo tidak cinta, mana mungkin kita pacaran."

Husna menghela napas lega. "Syukurlah. Bunda sangat senang mendengarnya. Bunda sempat khawatir kalau kamu tidak bisa membuka hati untuk pria lain. Padahal yang rugi kamu sendiri. Ardi bahagia sama yang lain, masa kamu masih nangisin nasib? Bagus kalau kamu sudah bangkit. Kamu juga berhak bahagia, Nak."

'He'em. Tapi, Ferdy gimana, Bunda?"

"Itu urusan, Bunda. Kalau begitu, hari ini ajak calon mantu Bunda ke rumah.

"O-oh, tentu saja, Bunda. Nanti aku bawa dia ke sini, kok."

"Ya sudah, lanjutkan sarapanmu!"

Kini, perhatian Husna beralih kepada Vino. Rupa-rupanya, putra bungsunya meminta segera dibelikan motor sport. Alih-alih menjawab, Vino malah berhadapan dengan Rania.

"Sekali enggak, tetep enggak, Vin!" tegas Rania.

"Vino janji gak bakal ikut balapan, gak akan kebut-kebutan, kok."

Rania tersenyum sarkas sambil memiringkan kepala menatap Vino. "Padahal Mbak gak kepikiran sampe situ, Dek. Untung saja kamu ngomong."

"Jadi?"

"Tidak boleh!" Rania melotot.

"Bunda ...." Vino memelas, meminta pembelaan.

Husna hanya bisa mengangkat kedua pundaknya. "Mbakmu tidak mengizinkan. Maaf."

"Daripada beli motor, mending kamu bantu Mbak di restoran, Vin."

Vino mengangkat kedua pundaknya sambil cemberut.

"Ya udah, ah ... Mbak mau berangkat kalo gitu."

Rania menyalami tangan Husna. "Aku pamit, ya, Bun."

"Iya, hati-hati. Tapi, ingat,ya, Ran. Kamu jangan sampe bohongin Bunda. Kalo sampe kamu bohong perihal pacarmu itu, Bunda tidak akan pernah memaafkanmu!"

Degh!

Ucapan Husna seperti sebuah palu godam yang siap menghantam dirinya.

Rania tersenyum. "Bunda gak percaya sama aku?"

"Tentu saja Bunda percaya dan sangat yakin kamu tidak akan mengecewakan Bunda."

Rania berdiri tegap, seperti seorang prajurit yang melapor kepada komandannya. "Aku Rania Sekar Galuh, berjanji tidak akan mengecewakan Bunda dan benar adanya jika aku sudah punya pacar."

Husna terkekeh-kekeh. Rania pun pergi.

Kaki memanglah melangkah, tetapi dalam hati, sungguh Rania tidak tenang. "Maafkan aku, Bunda. Aku terpaksa berbohong."

*

Di luar, Rania segera merogoh ponselnya di dalam tas. Dihubunginya nomor seseorang.

"Halo, bisa kita ketemu di Cafe Sapa Pagi sekarang? Ada hal penting. Mau tidak, kamu jadi pacar pura-pura?"

"Rania!"

Rania terkejut sampai-sampai ponsel di tangannya hampir jatuh. Ia meringis takut dan merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa sampai dirinya tidak menyadari kehadiran Husna? Apa kiranya yang akan ia katakan kepada Husna?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Berondong Kesayanganku   Peran Kenan

    Mendengar nama Ardi sontak saja membuat Kenan terduduk dengan rahang mengeras. "Dia bicara apa sama Bunda?" tanya Rania. "Dia bilang ... sudah melaporkan Vino ke kantor polisi."Vino menegang. Rania dan Kenan saling memandang. Rania menggenggam tangan Husna. "Iya, Bun. Kemarin Mas Ardi datang ke restoran." Rania menceritakan semua apa yang Ardi katakan. "A-aku akan masuk penjara? Iya?!" Vino kalut. Anak remaja itu menggelengkan kepala cepat. "Gak! Vino gak mau masuk penjara!""Dek, tenang dulu!" pinta Rania. Vino histeris. "Kenapa Mba gak balikan aja sama dia?! Vino gak mau masuk penjara, Mbak!""Vin, tenang dulu!" ucap Kenan pelan. Vino menatap tajam Kenan. Rahangnya mengetat, bahkan napasnya memburu. Sambil menunjuk Kenan ia berteriak, "Semua gara-gara elu! Kalo aja lu gak nikah sama Mbak, Mbak pasti balikan lagi sama Mas Ardi!"Rania menepis tangan Vino. "Yang sopan kamu, Dek!""Abangmu bela-belain pulang lagi dari Singapura buat bantuin Mbak, bantuin kamu beresin masalah i

  • Berondong Kesayanganku   Dua Bayi Besar

    Tepat jam satu malam, ponsel Kenan berbunyi. Kenan terusik. Ia bangkit dan melangkah pelan menuju nakas. Rupanya penggilan dari Lim. Kenan segera menerimanya. Namun, fokusnya terbelah menjadi dua, karena ia tidak menemukan Rania di tempat tidur. Setelah mengakhiri panggilan, Kenan ke luar kamar mencoba mencari keberadaan Rania. Tempat pertama yang ia datangi adalah kamar Vino. Nihil, Rania tidak ada di sana. Pencarian dilanjutkan ke ruang keluarga, sampai dapur. "Cari makanan?" tanya Husna. "Eh, Bunda." Kenan sedikit terkejut oleh kedatangan mertuanya. "Ken cari Rania, Bun. Bunda tahu kemana perginya?"Husna tersenyum melihat aura kepanikan dari raut wajah menantunya. "Rania tidak akan berani pergi malam-malam. Kalau pulang malam dari restoran, sering. Kamu jangan khawatir."Kenan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa greget karena ibu mertuanya terkesan berbelit-belit. "Jadi, Rania ke mana, Bun?"Lagi, Husna tersenyum. "Tempat favoritnya di balkon belakang

  • Berondong Kesayanganku   Marahnya Kenan

    "Biar aku saja!" Kenan mengambil alih handuk dari tangan Rania, lalu beranjak pergi. Rania melongo. "Ken, maaf!" serunya. Rania terdiam. Seharusnya yang marah dirinya, tetapi kenapa Kenan? Pikirnya. Rania memilih membersihkan diri. Setelah dua puluh menit berlalu, Rania meninggalkan kamar memakai baju piyama dengan rambut yang ia gulung asal dan menjepitnya dengan jepitan rambut. Rania mencari sosok Husna juga Kenan. Nihil, mereka tidak ada di dapur maupun ruang keluarga. "Rupanya kalian di sini," ucap Rania saat masuk ke kamar Vino. Seketika ia terpaku dengan pemandangan di hadapannya, dimana kedua tangan Husna sibuk mengompres. Tangan kanan mengompres pipi Vino dan tangan kiri mengompres pipi menantu kesayangannya. "Salah satu biar aku saja," tawar Rania sambil mendekat. "Aku!" ucap Kenan dan Vino bersamaan. Husna turun dari ranjang dan memberikan kesempatan kepada Rania. Tidak di sangka, dua pria itu menarik lengan Rania sampai-sampai wanita itu terduduk di antara mereka.

  • Berondong Kesayanganku   Ciuman Pertama?

    Rania duduk bersandar sambil bersilang dada. Bibirnya melengkungkan senyum penuh arti. "Silakan saja lanjutkan kasus ini. Aku tidak takut! Mungkin Mas lupa, kalau Vino masih enam belas tahun."Sejenak Ardi terdiam, lalu tertawa. "Hahahaha ... maksudmu akan balik melaporkanku? Silakan. Kita bertemu di persidangan!"Ardi beranjak dari duduknya. "Sebelum Vino benar-benar masuk penjara dan kamu menyesal, Mas tetap berbaik hati padamu. Mas beri waktu dua kali dua puluh empat jam untuk berpikir."Ardi melenggang pergi. Rania mengembuskan napas kasar. "Pak Luky dengar semua?" Rania menatap pria itu. Luky mengangguk pelan. "Dengar, Bu.""Kalau begitu jangan katakan hal ini kepada Kenan.""O-oh, baik, Bu."Rania tidak bisa duduk tenang. Ardi sangat licik, jadi Rania harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Oleh karena itu, Rania menyerahkan restoran kepada Luky. Saat itu juga ia harus menemui Vino. Rania memacu mobilnya menuju rumahnya di Menteng. Tidak jauh. Hanya lima belas

  • Berondong Kesayanganku   Syarat Dari Ardi

    Rania menunggu telepon dari nomor itu lagi sampai keesokan harinya. Namun nyatanya, nomor itu tak kunjung menghubunginya lagi. Di bengkel pun Rania sudah mengantongi informasi mengenai perkelahian Vino dan Ardi.Ting!Rania yang sedang duduk termangu di meja makan dikagetkan dengan suara notifikasi sebuah pesan. "Pagi-pagi jangan melamun. Habiskan sarapannya!" Pesan dari Kenan. Rania mengernyit. Dalam hati jadi bertanya-tanya, mengapa Kenan bisa tahu? Lantas mata Rania menyisir ke setiap sudut. Nampak olehnya CCTV di beberapa titik, sedangkan satu CCTV mengarah kepadanya. Rania tersenyum dan menjulurkan lidah ke arah CCTV itu, lalu kembali fokus pada ponselnya. "Banyak masalah di restoran, Ken."Dari pesan, berubah menjadi panggilan vidio. Rania menyandarkan ponselnya pada tempat tisu. Nampak olehnya Kenan masih di tempat tidur. Muka bantalnya sangat kentara. "Aku sudah tahu. Itu biarkan Luky yang tangani. Kamu jangan pikirkan.""Bagaimana aku tidak kepikiran, Ken. Tangihan teta

  • Berondong Kesayanganku   Masuk Rumah Sakit

    Rania terus membunyikan klakson karena macet tak kunjung terurai. Ia gelisah sekaligus khawatir saat diberitahu jika Vino masuk rumah sakit. Pikiran Rania benar-benar kacau. Belum lagi masalah di restoran yang menguras emosi. Bagaimana tidak? Barang yang datang tidak sesuai dengan surat jalan. Kualitas barang yang dikirim pun jauh dari kata bagus. "Ya ampun, tahu macet begini mending jalan kaki saja!" gerutu Rania. Setelah tiga puluh menit, akhirnya mobil menembus jalan Sudirman. Rania pun tiba di salah satu rumah sakit di sana. Setelah memastikan mobil terkunci, Rania berlari ke ruang instalasi gawat darurat. Betapa terkejutnya ia mendapati Vino dengan luka lebam di wajah dan sudut bibir dengan luka lecet. "Ya Allah, Dek, apa yang terjadi?" tanya Rania dengan cemas, bahkan tangannya bergetar saat menyentuh pipi Vino. Vino tidak menjawab. "Vino ... tadi berkelahi." Kanaya membantu menjawab. Kedua mata Rania membulat sempurna. "Kamu berkelahi? Di mana? Dengan siapa?"Lagi, Vino

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status