Se connecterTepat jam sembilan malam, Restoran tutup. Rasa lelah yang meraja membuat Rania terduduk pasrah bersandar di kursi pelanggan. Matanya menyisir ke setiap sudut restoran. Ia tidak menyangka, Restoran peninggalan ayahnya yang sudah ada sejak lebih dari tiga puluh tahun masih berdiri kokoh. Semula, ada rasa khawatir dalam diri Rania jika restorannya ditinggal pelanggan, karena Restoran yang berada di kawasan Menteng Jakarta Pusat itu sempat tutup beberapa tahun. Nyatanya, restorannya kembali ramai. Ada pelanggan lama, banyak pula pelanggan baru.
"Mau menginap di sini?" tanya Dareen yang berhasil mengagetkan Rania. "Eh, Ken, kenapa belum pulang?" "Baru selesai input data. Dan untuk surat mutasi, saya sudah simpan di atas meja, ya, Mbak." "Iya, Ken." Rania berdiri, "dan untuk besok, tolong pastikan lagi sama supplier barang yang tadi belum sempat kirim." Dareen mengangguk. "Iya." "Kalo misalnya tidak bisa kirim, terpaksa besok pagi saya ke supermarket dulu. Sana duluan pulang, sana nunggu Reza." Sejenak Dareen terdiam, lalu pergi. Rania bergegas ke ruangannya untuk mengambil tas. Tidak berselang lama, Reza menghampiri dan keduanya pulang bersama. "Rumahmu masih yang dulu?" tanya Reza. "Iya. Mau ke mana lagi?" Reza dan Rania saling melempar senyum. Rupa-rupanya, Reza meminjam mobil Rania karena ban motornya pecah. Jadi, Reza yang mengantar Rania pulang, dan Reza yang akan menjemputnya besok. *** Mobil Rania sudah terparkir di luar gerbang. "Sampai ketemu besok!" ucap Rania. "Tentu," kata Reza, "gak sabar pengen ketemu Bunda." Rania tersenyum. "Hati-hati, ya, Za." Rania bergegas turun. Reza pun melanjutkan perjalanan. Rania membuka pintu gerbang. Namun, saat hendak masuk dirinya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang berada di bawah pohon. Entah siapa. Pakaian serba hitam, topi hitam, mengenakan masker hitam, yang melihat ke arah dirinya. Cepat-cepat ia masuk dan mengunci pintu gerbang. Rania berlari kecil menuju pintu utama, dan segera masuk. "Loh, Bunda belum tidur?" tanya Rania saat tiba di ruang tamu. Bukannya menjawab, Husna malah tersenyum. "Ada apa, sih?" "Sini duduk!" Husna menepuk sofa di sampingnya. Rania menyimpan tas, ponsel, serta kunci mobil di meja, lalu duduk. Rupanya Husna sengaja menunggu Rania pulang karena sedari tadi ponsel Rania tidak bisa dihubungi. Bukan tanpa alasan, Husna hanya ingin memberi tahu jika Ferdy akan berkunjung esok. "Loh, bukannya minggu depan?" Rania menghela napas berat. "Ibunya Ferdy minta dipercepat, karena minggu depan mereka akan berangkat umroh." "Jadi, Bunda mohon sama kamu, besok jam sepuluh luangkan waktu dan kamu harus tampil cantik," lanjutnya. "Kenapa mendadak, sih, Bun?" "Suruh siapa ponselmu mati, Ran?" "Tadi restoran rame, Bun, ponselku gak sempet aku charge." Rania menggenggam tangan Husna. "Baik, aku akan temui Ferdy dan keluarganya. Tapi, dengan syarat ...." Husna mengesah panjang. "Apa?" "Aku tidak mau cepat-cepat nikah." Husna menarik tangannya. "Tidak bisa, Nak. Umur kalian sudah waktunya untuk menikah." Rania berdiri. Semua barang yang ia simpan di meja pun diraihnya. "Aku istirahat dulu, ya, Bun. Bunda juga cepet tidur. Jaga kesehatan." Husna hanya bisa menatap kepergian putrinya sambil menggeleng. Di kamar, Rania merebahkan diri di kasur. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar Husna tidak terus memaksanya untuk segera menikah. Bukannya ide yang datang, justru kepala yang berdenyut yang ia dapati. Mata pun terpejam. *** Hari berganti. Suasana di ruang makan pagi itu terasa dingin. Dimana ketiga penghuninya sama-sama menyuap nasi, tetapi kepala sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Husna berpikir menu apa kiranya yang cocok disuguhkan untuk Ferdy dan keluarganya, Rania berpikir kalimat apa yang pantas ia sampaikan kepada Husna, dan ada si bontot Vino yang bingung bagaimana caranya meminta izin untuk menagih janji Husna. "Bunda," ucap Rania dan Vino bersamaan. Husna menatap Rania dan Vino bergantian. "Satu-satu," katanya. "Mbak dulu aja," ucap Vino. "Kamu aja, Dek!" ucap Rania. Husna menggeleng. "Kalian ini kenapa, sih?" Rania menyimpan sendok dan garpunya, lalu mentap Husna. "Kalo aku punya pacar, apa Bunda akan tetap memaksa aku untuk menikah dengan Ferdy?" "Tentu saja tidak!" Husna tersenyum tipis, lalu lanjut bertanya. "Kamu sudah ada pacar memangnya?" Rania mengangguk cepat. "Su-sudah!" "Sejak kapan? Kok, kamu gak kasih tau Bunda, sih?" Rania tersenyum canggung "Belum lama, sih, Bun. Ya ... kita masih sama-sama saling mengenal." Husna menatap Rania penuh curiga. "Kamu tidak lagi bohongin Bunda, kan? Kamu gak cari alasan untuk menolak Ferdy, kan, Ran?" Rania mengibaskan kedua tangannya. "Enggak, Bun! Beneran, kok, aku sudah punya pacar." "Kalian saling mencintai?" Rania tersenyum. "Tentu saja, Bun. Kalo tidak cinta, mana mungkin kita pacaran." Husna menghela napas lega. "Syukurlah. Bunda sangat senang mendengarnya. Bunda sempat khawatir kalau kamu tidak bisa membuka hati untuk pria lain. Padahal yang rugi kamu sendiri. Ardi bahagia sama yang lain, masa kamu masih nangisin nasib? Bagus kalau kamu sudah bangkit. Kamu juga berhak bahagia, Nak." 'He'em. Tapi, Ferdy gimana, Bunda?" "Itu urusan, Bunda. Kalau begitu, hari ini ajak calon mantu Bunda ke rumah. "O-oh, tentu saja, Bunda. Nanti aku bawa dia ke sini, kok." "Ya sudah, lanjutkan sarapanmu!" Kini, perhatian Husna beralih kepada Vino. Rupa-rupanya, putra bungsunya meminta segera dibelikan motor sport. Alih-alih menjawab, Vino malah berhadapan dengan Rania. "Sekali enggak, tetep enggak, Vin!" tegas Rania. "Vino janji gak bakal ikut balapan, gak akan kebut-kebutan, kok." Rania tersenyum sarkas sambil memiringkan kepala menatap Vino. "Padahal Mbak gak kepikiran sampe situ, Dek. Untung saja kamu ngomong." "Jadi?" "Tidak boleh!" Rania melotot. "Bunda ...." Vino memelas, meminta pembelaan. Husna hanya bisa mengangkat kedua pundaknya. "Mbakmu tidak mengizinkan. Maaf." "Daripada beli motor, mending kamu bantu Mbak di restoran, Vin." Vino mengangkat kedua pundaknya sambil cemberut. "Ya udah, ah ... Mbak mau berangkat kalo gitu." Rania menyalami tangan Husna. "Aku pamit, ya, Bun." "Iya, hati-hati. Tapi, ingat,ya, Ran. Kamu jangan sampe bohongin Bunda. Kalo sampe kamu bohong perihal pacarmu itu, Bunda tidak akan pernah memaafkanmu!" Degh! Ucapan Husna seperti sebuah palu godam yang siap menghantam dirinya. Rania tersenyum. "Bunda gak percaya sama aku?" "Tentu saja Bunda percaya dan sangat yakin kamu tidak akan mengecewakan Bunda." Rania berdiri tegap, seperti seorang prajurit yang melapor kepada komandannya. "Aku Rania Sekar Galuh, berjanji tidak akan mengecewakan Bunda dan benar adanya jika aku sudah punya pacar." Husna terkekeh-kekeh. Rania pun pergi. Kaki memanglah melangkah, tetapi dalam hati, sungguh Rania tidak tenang. "Maafkan aku, Bunda. Aku terpaksa berbohong." * Di luar, Rania segera merogoh ponselnya di dalam tas. Dihubunginya nomor seseorang. "Halo, bisa kita ketemu di Cafe Sapa Pagi sekarang? Ada hal penting. Mau tidak, kamu jadi pacar pura-pura?" "Rania!" Rania terkejut sampai-sampai ponsel di tangannya hampir jatuh. Ia meringis takut dan merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa sampai dirinya tidak menyadari kehadiran Husna? Apa kiranya yang akan ia katakan kepada Husna?Setelah istirahat, tes dilanjutkan dengan kemampuan bahasa dan komputer.Untuk bahasa Inggris, peserta diminta menerjemahkan sebuah surat bisnis, menyusun balasan email formal, dan memperbaiki beberapa kalimat yang tidak sesuai konteks. Rania mengerjakannya perlahan. Ia tidak menguasai semua istilah bisnis, tetapi cukup memahami struktur kalimat dan maksud surat yang diberikan.Di bagian komputer, setiap kandidat mendapat perangkat masing-masing. Mereka harus membuat tabel jadwal rapat, mengolah data sederhana menggunakan spreadsheet, menyusun surat resmi, lalu menyimpan dokumen sesuai format yang ditentukan.Rania sempat menghela napas ketika melihat instruksi spreadsheet yang cukup panjang. Dia memang biasa mengurus catatan dan laporan restoran, tetapi tidak semua fitur yang diminta pernah digunakannya.Ia mencoba mengingat apa yang pernah dipelajari, lalu menyelesaikan tugas secara bertahap. Ketika satu rumus tidak menghasilkan angka yang tepat, dia memeriksa kembali sel yang digun
Reuni berlalu. Pagi itu Rania bersiap memenuhi janjinya kepada Lim untuk mengikuti tes. Walaupun rasa kesal masih menggerogoti karena kemarin di penghujung acara Reuni, Kenan benar-benar kehilangan kesabarannya karena perkara foto bersama. Rania berfoto bersama teman-teman sekelasnya. Tepat di samping Rania berdiri seorang pria sambil merangkul pundaknya. Kenan cemburu setengah mati sampai-sampai menyeret Rania pulang. Sikap Kenan tentu saja membuat Rania malu dan tak enak hati kepada teman-temannya. "Udah siap?" tanya Kenan. Rania yang sedang memasang anting menoleh. "Sebentar lagi.""Tidak usah diikat!" protes Kenan saat melihat rambut Rania yang di ikat bak ekor kuda. "Ini sudah gaya seorang pelamar. Rapi dan sopan.""Aku tidak suka kalau lehermu--""Jangan mulai!" potong Rania cepat. Rania memutar badannya di depan cermin memastikan kemeja putihnya terselip rapi pada celana hitamnya. "Aku berangkat sendiri saja," sambungnya sambil memakai sepatu high heel warna hitam. "Aku
"Biasa aja, dong, Ken!"Kenan mendelik. Sementara Rania terkekeh-kekeh.Pria itu ternyata Chico. Sedari tadi ia memperhatikan Kenan yang terlihat menahan cemburu. Oleh karena itu, Chico ingin mengerjai temannya itu. "Maaf, Kak Ran. Malah panggil nama. Aku hanya ingin buat Kenan kesal.""Tidak masalah. Oh, iya, mana baby?" "Aku titipin sama neneknya."Rania mengangguk. "He'em. Kasian kalau dibawa juga.""Bukan hanya kasihan, tapi aku yang tidak leluasa, Kak. Apalagi Dona jadi panitia."Rania terkekeh-kekeh. Chico akhirnya bergabung dengan mereka. Obrolan demi obrolan tercipta sampai akhirnya acara dimulai. Rangkaian demi rangkaian acara mereka saksikan sampai akhirnya dilanjutkan dengan pemutaran video dokumentasi sekolah.Foto-foto lama bermunculan. Lapangan sekolah, kelas, kegiatan olahraga, acara perpisahan dan toto-foto tiap angkatan.Rania yang awalnya hanya tersenyum perlahan terdiam ketika melihat foto kelasnya sendiri.Ada dirinya di sana, tentu saja dengan wajah jauh lebih
Hari yang ditunggu-tunggu Rania akhirnya datang juga. Reuni. Pagi-pagi sekali Rania sudah bagun menyiapkan sarapan. Tidak ada yang istimewa, hanya omelet saja. Baju tidur pun masih melekat, ditambah gulungan handuk di atas kepala yang menutupi rambutnya yang masih basah. Sesekali ia menguap. Maklum saja, malam itu Kenan benar-benar tidak membiarkannya tidur nyenyak. Omelet sudah ditata cantik di atas piring. Rania segera menyimpannya di meja makan. Sendok, garpu, serta dua gelas turut ia siapkan. Rania segera kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian Kenan dan mempercantik diri.Tiba di kamar, Rania tidak menemukan sosok Kenan. Aroma parfum yang menguar dari arah walk-in closet membuat Rania melangkah ke sana. Kenan di sana. "Wah, sudah siap ternyata.""Tentu saja. Seorang Kenan tidak akan ingkar."Rania tersenyum miring. Semalam, pria itu berjanji, jika saja Rania bisa melayaninya beberapa ronde, maka dirinya tidak akan sulit dibangunkan. Bahkan Kenan berkata, dirinya akan
Malam harinya, Kenan sudah menerima kabar jikalau test akan dilaksanakan senin depan. Lim tidak mengatakan bagaimana test akan diberikan karena ia yakin Rania bisa melaluinya."Ken, ayo, jawab!""Apa?""Yang tadi siang aku tanya."Kenan mengacak pucuk kepala Rania. "Sudah aku bilang, aku akan pertahanan kamu. Aku tidak peduli Arkana hancur, Sayang.""Arkana hancur, papimu juga hancur. Nah, kalau mami dan papi yang meminta. Kamu mau apa?"Tuk! Kenan menyentil dahi Rania. "Jangan pikirkan apa yang belum terjadi. Dan aku pastikan tidak akan pernah terjadi!""Aku hanya takut, Ay.""Sekali lagi, jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu takut!""Haaaah!" Rania mengembuskan napas kasar. "Baiklah"Hening sesaat. "Belum apa-apa aku sudah merasa stres, Ay," kata Rania memecah keheningan."Tentang?""Test nanti.""Jangan dipikirin, Sayang.""Ya wajar, dong. Ini baru pertama kali aku masuk dunia kerja kantoran.""Ya, wajar. Tapi, jangan dijadikan beban juga, Sayang."Rania terkekeh-kekeh."Ngomo
Lim mengajak putra dan menantunya duduk bersama. "Kebetulan kamu ke sini, Nak," kata Lim sambil menatap Rania. "Ada hal penting yang ingin Papi sampaikan."Rania menatap Kenan, lalu kembali menatap Lim. Wanita itu tersenyum canggung. "Kok, aku jadi deg-deg'an, ya, Pi." Ia lalu terkekeh-kekeh. Lim mengutarakan keinginannya. Ia benar-benar menginginkan Rania menjadi sekretaris Kenan. Bukan sekadar membantu pekerjaan Kenan, tetapi Lim juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap Reymond. Rania kembali menatap Kenan. "Maksud Papi, curiga bagaimana?" tanya Kenan. "Papi khawatir ada pihak yang yang mencoba memanfaatkan keadaan di Arkana untuk mendapatkan pengaruh lebih besar." Lim menarik napas dalam-dalam. Lim melanjutkan. "Sebetulnya, Papi tidak ingin berprasangka buruk kepada pamanmu. Tapi, Papi juga tidak mau mengabaikan kemungkinan bahwa suatu hari nanti dia mencari jalan untuk memperkuat posisinya di perusahaan. Apalagi ada Jiawen."Rania semakin tidak mengerti. "Memangnya kenapa







