MasukPlak!
Lucia menampar wajahnya berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanya sekedar mimpi buruknya saja. Tapi ... kenapa pipinya terasa sakit?
"Jadi ini benar-benar bukan mimpi," gumamnya lirih.
Kepala Lucia berdenyut hebat. Rasa lelah dan stres yang bertumpuk membuat kesadarannya mulai goyah.
Langkahnya terhuyung-huyung di pinggir jalan. Pikirannya begitu kacau hingga ia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas tepat di depannya.
Tinnn!
Suara klakson mobil memekakkan telinga, namun Lucia hanya terpaku melihat mobil itu tanpa bergerak sedikit pun untuk menyingkir.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengan Lucia dengan sentakan kuat. Tubuh Lucia tertarik ke samping tepat sebelum mobil itu melintas, membuatnya limbung dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?!" bentak pria itu memarahinya.
Lucia tak punya tenaga lagi membalas pria itu. Pandangannya menggelap, kakinya melemas, dan dalam sekejap ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan, beruntung Arthen—pria itu dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum menyentuh aspal.
Arthen menghela napasnya melihat bagaimana kondisi wanita yang dipelukannya sekarang begitu menyedihkan. Tangannya bergerak merogoh saku celananya dan segera menelepon seseorang.
"Bawa mobilku ke alamat yang kukirim sekarang!" perintahnya tegas pada seseorang di balik telepon.
Tak lama kemudian mobil sedan mewah mendekat ke arah mereka. Arthen segera menggendong Lucia masuk ke dalam.
Arthen mengarahkan sopirnya untuk ke rumah sakit. Dan ia langsung memesan kamar VIP dengan tingkat privasinya yang tinggi, karena Arthen tidak suka bahwa ada rumor menyebar tentangnya dan apalagi Lucia yang saat ini dalam kondisi tidak cukup baik.
"Tuan muda, apa Anda tidak akan datang ke acara ulang tahun aktris Jasmin hari ini?" Franz, sopir sekaligus pengawal pribadinya.
Arthen masih duduk di sofa, matanya tidak lepas dari sosok Lucia yang sedang diperiksa dokter. "Tidak, sekarang bukan itu yang penting bagiku."
Setelah pemeriksaan selesai, dokter menghampiri Arthen. "Nona Lucia mengalami kelelahan hebat, asam lambungnya naik, dan stres berat. Hal itu memicu penurunan kesadarannya. Saya sudah memberikan obat, jadi Anda tidak perlu khawatir. Besok ia pasti sudah sadar."
Arthen mengangguk pelan. "Baiklah, Anda bisa pergi sekarang."
Setelah dokter dan perawat keluar, Franz kembali mendekat. "Tuan muda, manajer Anda menelepon ke ponsel saya karena ponsel Anda tidak dapat dihubungi. Sepertinya ada hal penting."
"Berikan." Arthen mengulurkan tangan.
Franz memberikan ponsel miliknya kepada Arthen dengan sedikit membungkuk.
Setelah menerima ponsel itu, ia berjalan mendekati ranjang Lucia, merapikan selimut dan helai rambut wanita itu yang berantakan dengan gerakan lembut.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanyanya dengan suara pelan karena ia tak ingin sampai Lucia terbangun karena suaranya.
"Arthen, kita tidak bisa menunda waktu syuting film ini lagi. Meski sekalipun kamu pemegang sahamnya. Rumah produksi M.G sudah mendesak agar film ini segera dikerjakan. Karena film yang akan dibintangi aktor Oliver yang diproduksi oleh rumah produksi REIN V sudah mulai proses pengerjaannya. Mereka bahkan sudah mulai mempromosikan film itu dan akhir tahun ini kemungkinan mereka akan menayangkannya. Jika kita lambat selangkah saja, mungkin kita bisa tertinggal jauh dari mereka."
Arthen mendorong rambutnya ke belakang sembari memandang hangat wajah tenang Lucia. "Kita harus menunggu sebentar lagi. Aku sudah menyiapkan kejutan yang akan menggemparkan dunia hiburan."
"Haah~ baiklah, aku sudah menyampaikan semuanya. Selanjutnya terserah padamu seperti apa," sahut sang manajer pasrah.
"Suruh mereka agar menunggu. Karena aku akan memberikan kabar baik dalam waktu dekat ini," ujar Arthen dengan seringai tipis sebelum mengakhiri panggilan.
Kemudian, Arthen memgembalikan ponselnya ke tangan Franz. Ia berjalan untuk mengambil duduk di sofa dan sembari itu mengatakan agar Franz berjaga di luar ruangan. Karena ia tak ingin ada orang yang berani masuk ke dalam ruangan ini tanpa seizinnya.
Pagi harinya. Wanita yang sejak semalaman pingsan sekarang ini sudah jauh lebih segar. Namun, hal pertama yang ia lakukan justru beradu mulut dengan Arthen. Terlihat saat ini dengan Lucia yang marah-marah kepada Arthen yang di mana pria itu sudah mengajaknya ribut saat ia baru terbangun dari pingsannya.
"Aku tidak salah, kau memang sepertinya ingin mati. Kalau merasa ingin pingsan, buat apa memaksakan diri berjalan sampai tidak melihat ada mobil lewat? Aku justru kasihan pada pengemudi yang menabrakmu, mereka pasti akan rugi besar," celetuk Arthen dengan pedas.
Wajah Lucia sampai merah padam karena emosi mendengar Arthen berkata seperti itu. Padahal dia sendiri tak tahu apa-apa.
"Aku tidak peduli kau mau bicara apa. Tapi kuberitahu ya, saat itu aku benar-benar tidak ingin mati! Jangan asal bicara padahal tidak tahu gimana rasanya hampir pingsan di jalan!"
"Pfttt ... " Arthen membuang mukanya segera, mencoba menahan tawa melihat wajah lucu Lucia saat marah.
"Hei, aku tidak sedang bercanda ya." Lucia memicingkan matanya dengan penuh kekesalan. Dipikirnya lucu kali.
Arthen berdeham kecil untuk menetralkan suaranya. "Ekhem! Baiklah, karena aku sibuk. Waktuku tidak banyak lagi untuk basa-basi denganmu. Terus terang saja, aku menolongmu itu tidak gratis."
"Cih, kau pikir aku tidak tahu betapa perhitungannya dirimu." Lucia bersedekap dada dan membuang muka dengan jengkel.
"Baguslah karena kamu sudah tahu," sahut Arthen dengan tersenyum menjengkelkan.
"Sudah jangan bicara lagi. Apa yang kau inginkan? Aku yakin kau tidak butuh uang, karena kau sendiri sudah kebanyakan uang."
"Haha." Arthen tertawa singkat lalu wajahnya berubah serius. "jadi mudah ditebak ya?"
Sudut bibir Lucia berkedut sendiri melihatnya. "Ishh ... cepatlah! Aku juga muak terus melihat wajahmu."
"Sangat disayangkan, padahal banyak wanita tergila-gila dengan wajah tampanku."
"Huek! Aduh... udah deh Arthen. Perutku makin mual gara-gara kamu."
Arthen terdiam sejenak, menatap Lucia dengan pandangan yang dalam hingga membuat wanita itu merasa tegang.
'Apa dia marah ya?' batinnya.
"Baiklah, jadi aku ingin kamu masuk ke agensiku dan bekerjalah bersamaku mulai sekarang."
"Jangan sembarangan meminta itu!" bantah Lucia seketika.
"Kau tidak seharusnya menolak, Lucia. Aku tahu masa kontrakmu dengan agensi lamamu sudah habis. Dan aku tahu saat ini kau sedang kesulitan, kan?"
Lucia tersenyum getir. "Kau sudah mencari tahu semuanya ya. Licik sekali."
"Yaah, itulah kehebatanku. Bukannya kau sendiri bilang padaku aku penguntitmu?"
"Arthen, kau benar-benar ya ... " Lucia sampai kehilangan kata-katanya mendengar ucapan tanpa rasa tahu malu itu dari pria yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana? Setelah kamu terima tawaran ini. Kamu tidak perlu memikirkan utang lagi dan akan kupastikan hidupmu dan hidup keluargamu akan terjamin."
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja?"
"Kau harus percaya. Karena ini bukan pilihan lagi."
Lucia sampai termenung. Arthen benar-benar menyerang kelemahannya. Ia bahkan tak bisa harus berkata apalagi setelah ini.
"Aku sudah membawa surat kontrak. Kamu hanya perlu menandatanginya saja. Oh, kalau kau ingin baca sih tidak masalah. Karena sepertinya tanpa kamu baca pun tawarannya sudah menarik. Jangan coba-coba untuk berpikir menolaknya, karena siapa lagi yang akan menerima aktris tidak terkenal sepertimu?"
Kalimat terakhir yang diucapkan Arthen menohok Lucia dengan telak.
"Apa aku tampak serendah itu di matamu?" ucap Lucia dengan bibir bergetar.
Arthen menggeleng. "Tidak. Kau tahu sendiri seberapa besar agensiku dan hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalam situ. Lalu bagaimana bisa aku menawarkan kontrak padamu? Apa kamu tidak memikirkan itu?"
"Tidak ada yang spesial dari diriku," gumam Lucia lirih.
"Itu yang kau pikirkan, tapi tidak denganku. Aku mengenalmu lebih baik dari yang kau duga. Kau hanya tidak percaya diri pada potensimu sendiri, Lucia. Padahal jika kau menyadarinya, bakatmu bisa melampaui banyak orang... bahkan mungkin termasuk diriku."
Lucia tercengang mendengar ucapan Arthen. Potensi besar dalam dirinya? Ia jadi terdiam. Lidahnya kelu.
"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Aku harus pergi sekarang karena ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," ujar Arthen sambil beranjak berdiri.
Di luar ternyata sudah ada manajernya yang menunggu Arthen. Pria dewasa berpenampilan cukup rapi dan berwajah lumayan menawan meski sekarang kelihatan tak enak dipandang karena wajah suram dan lelahnya yang kelihatan jelas sekali dari lingkaran hitam di matanya.
"Bukankah kamu terlalu gegabah mengatakannya itu sekarang, Arthen? Bagaimana jika Nona Lucia menolaknya?"
"Kamu benar manajer Rey. Aku sudah tidak sabaran meladeni wanita keras kepala sepertinya. Dan kuyakin dia tidak akan menolaknya."
"Kau cukup percaya diri." Manajer Rey yang biasa pembawaan serius itu terkekeh pelan mendengar ucapan Arthen.
"Tentu saja," jawab Arthen mantap. "karena aku mempercayainya."
Bersambung ...
"Ngapain terus berdiri di sana? Mau diobati nggak nih?" panggil Lucia sebal melihat Arthen yang masih berdiri di tempatnya.Lucia sendiri sudah duduk di sofa dan memegang kotak P3K. Arthen memang sempat melamun memikirkan sesuatu. Kabar yang ia terima lewat telepon tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya. Begitu Lucia memanggilnya, Arthen lantas mengulas senyum tipisnya dan kemudian menghampirinya, mengambil posisi duduk tepat di samping wanita itu."Aku lapar, makanya begitu," jelas Arthen mencari alasan atas keterdiamannya."Hm," gumam Lucia pendek. Kini Lucia fokus memberikan salep ke bibir Arthen. Wajahnya terlihat sangat serius, menampilkan rasa perih seolah-olah yang terluka itu adalah dirinya sendiri. Arthen melihatnya dengan heran. Ekspresi wajah yang Lucia tunjukkan saat ini... bagaimana bisa wanita ini menunjukkan simpati seperti itu padanya di saat ia sendiri sedang dalam masalah besar?"Hais, aku bingung apa ini kebiasaan laki-laki kalau berciuman seperti ini? Apa tidak
Lucia dan Arthen bersamaan menoleh ke arah Manajer Rey. Dengan cepat, Lucia mendorong tubuh Arthen agar menjauh dan segera menjelaskan situasinya, "Jangan salah paham, Arthen hanya mencoba menolongku. Aku tadi hampir jatuh." Arthen turut menganggukkan kepalanya dengan santai. Selanjutkan kemudian dia berkata kepada manajernya itu sambil menyodorkan tangannya, "Mana naskahnya? Sini berikan."Manajer Rey menghela napas panjang. Lalu kemudian melangkah mendekatinya dan memberikan setumpuk kertas sambil sedikit membenahi kacamata. "Naskah yang kudapatkan bukan hanya satu peran saja. Aku mendapatkannya lengkap dengan peran lainnya, lebih dari yang kamu minta.""Itu lebih bagus, seperti dirimu biasanya manajer Rey. Tidak pernah mengecewakan." Arthen memberikan pujian padanya dengan mata memandang naskahnya. Ia membolak-balik naskah itu sejenak sebelum mengalihkannya kepada Lucia. "Ini naskahnya, ambilah."Lucia menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa gugup memeg
Selepas Lucia meminta adik-adiknya untuk memantau kondisi ibunya karena Lucia sendiri tidak bisa melakukannya lagi. Lucia kemudian memutuskan pergi.Meski sempat ada ketegangan, Navy yang penuh rasa iri itu sempat membuat keributan. Dengan lantang di depan Sean dan Mika, wanita itu menuduh Lucia yang tidak-tidak."Kau pasti menjual dirimu pada pria kaya, kan?! Menuduhku jalang padahal kau sendiri sama saja jalang," maki Navy saat itu.Tapi berkat adanya Franz, ia jadi tidak terlalu membuang energinya. Franz mengecam Navy karena apa yang dikatakannya bisa mencemar nama baik Lucia dan dia bisa meminta tuan mudanya membawa Navy ke jalur hukum. Sehingga Navy menjadi diam tak berkutik. David sendiri sampai meminta Navy untuk tenang dan lebih baik pergi karena sepertinya dia tak ingin berurusan dengan mereka lebih lanjut. Dan sekarang Lucia bisa bernapas lega karena saat di ruangan rawatnya, ia juga menerima panggilan telepon adiknya Sean jika operasi ginjal ibunya berhasil.Tak lama sete
"Tentu saja. Karena aku mempercayainya."Tawa manajer Rey menjadi hilang ketika mendengar Arthen mengatakan itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Wah, apa nih. Sejak kapan kau sepercaya itu dengan seseorang? Bahkan seorang wanita pula."Arthen hanya diam. Ia lebih memilih berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengenakan masker yang ia ambil dari saku hoodie miliknya. Tak lupa, ia menarik tudung hoodie itu menutupi kepala agar tidak ada orang yang mengenalinya.Manajer Rey pun segera mengenakan topi begitu mereka melangkah ke area terbuka. Mereka harus tetap waspada agar tidak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali mereka sebagai aktor papan atas dan manajernya.---Di dalam ruang rawat, Lucia sedang membaca teliti kontrak yang diberikan Arthen. Ia melihat tidak ada yang mencurigakan. Malahan, poin-poin dalam kontrak itu justru jauh lebih menguntungkannya dibandingkan kontrak di agensi lamanya.Memang agensi V-ACE itu termasuk agensi besar di Negara Avantia. Tapi,
Plak!Lucia menampar wajahnya berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanya sekedar mimpi buruknya saja. Tapi ... kenapa pipinya terasa sakit? "Jadi ini benar-benar bukan mimpi," gumamnya lirih.Kepala Lucia berdenyut hebat. Rasa lelah dan stres yang bertumpuk membuat kesadarannya mulai goyah.Langkahnya terhuyung-huyung di pinggir jalan. Pikirannya begitu kacau hingga ia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas tepat di depannya.Tinnn!Suara klakson mobil memekakkan telinga, namun Lucia hanya terpaku melihat mobil itu tanpa bergerak sedikit pun untuk menyingkir.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengan Lucia dengan sentakan kuat. Tubuh Lucia tertarik ke samping tepat sebelum mobil itu melintas, membuatnya limbung dan hampir kehilangan keseimbangan."Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?!" bentak pria itu memarahinya.Lucia tak punya tenaga lagi membalas pria itu. Pandangannya menggelap, kakinya melemas, dan dalam sekejap ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan, b
Hari ini terasa begitu melelahkan. Entah mengapa, setiap langkah yang ia ambil Lucia rasanya selalu berujung salah.Semuanya dimulai dari lokasi syuting. Proses syuting yang seharusnya selesai cepat, malah berakhir berantakan karena harus terus-menerus di-take ulang.Sutradara itu seolah sengaja mencari celah untuk menyiksanya, memberinya tatapan rendah yang tidak pernah disembunyikan. Seakan belum cukup sampai di situ, kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya datang kembali menghantamnya.Tunggu, penderitaannya bahkan belum usai. Lucia bahkan menerima telepon dari agen pinjaman yang menagih utang yang belum terbayar, tanpa mau tahu bahwa Lucia sedang berada di titik terendahnya saat ini.Dengan tangan gemetar, Lucia mentransfer hampir seluruh uang hasil kerja kerasnya untuk biaya rumah sakit ibu dan melunasi utangnya. Ia menatap layar ponselnya lama. Sisa saldo di akunnya kini hanya tersisa sedikit sekali. Lucia meringis melihatnya. Mana dari pagi sampai malam ini, ia sama sek







