MasukSelepas Lucia meminta adik-adiknya untuk memantau kondisi ibunya karena Lucia sendiri tidak bisa melakukannya lagi. Lucia kemudian memutuskan pergi.
Meski sempat ada ketegangan, Navy yang penuh rasa iri itu sempat membuat keributan. Dengan lantang di depan Sean dan Mika, wanita itu menuduh Lucia yang tidak-tidak.
"Kau pasti menjual dirimu pada pria kaya, kan?! Menuduhku jalang padahal kau sendiri sama saja jalang," maki Navy saat itu.
Tapi berkat adanya Franz, ia jadi tidak terlalu membuang energinya. Franz mengecam Navy karena apa yang dikatakannya bisa mencemar nama baik Lucia dan dia bisa meminta tuan mudanya membawa Navy ke jalur hukum. Sehingga Navy menjadi diam tak berkutik.
David sendiri sampai meminta Navy untuk tenang dan lebih baik pergi karena sepertinya dia tak ingin berurusan dengan mereka lebih lanjut.
Dan sekarang Lucia bisa bernapas lega karena saat di ruangan rawatnya, ia juga menerima panggilan telepon adiknya Sean jika operasi ginjal ibunya berhasil.
Tak lama setelah itu. Arthen nyatanya datang kembali dan datang-datang langsung meminta kertas kontrak itu kembali. "Sudah kamu tanda tangani, kan?"
Lucia memberikannya sembari berkata, "Kamu mengatakan, aku tidak sadar dengan potensiku. Kamu salah, aku bukannya tidak menyadarinya. Hanya saja, aku tidak bisa menunjukkannya karena aku merasa tidak mampu melakukannya."
Lucia menatap jendela, mengenang masa lalunya. "Dunia hiburan yang selama ini kujalani begitu keras di luar bayanganku saat masih remaja, aku tidak bisa menonjol dengan seenaknya. Jika aku melakukannya, banyak orang yang tidak senang padaku akan dengan mudahnya menyingkirkanku. Bahkan sekarang pun, dengan kemampuan yang tidak menonjol ini. Masih saja ada yang mengkhinatiku."
"Itu karena mereka takut padamu," sahut Arthen santai. "Kalau mereka tidak takut, buat apa mereka repot-repot melakukan itu? Jangan biarkan orang-orang menyedihkan seperti mereka membuatmu merasa rendah. Jika kau menyerah, mereka akan merasa menang."
Kata-kata Arthen berhasil membuat hati Lucia menghangat. Rasa gundah yang sempat menyelimutinya perlahan memudar. Tanpa sadar, Lucia mengulas senyum tipis.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat sebelum Arthen kembali ke mode seriusnya.
"Besok kamu akan ikut casting film The Criminal Family, jadi persiapkan dirimu mulai sekarang."
"Naskahnya?" tanya Lucia menjulurkan satu tangannya.
"Nanti akan kuberikan naskahnya, sabar dulu. Akan kuberikan setelah aku mengantarkanmu ke tempat tinggal yang layak. Dan untuk peran kamu sendiri sebagai salah satu anak keluarga penjahat itu. Karena film ini akan menjadi awal penentu masa depanmu." Arthen menatap Lucia lekat-lekat. "Tapi sebelum itu, kamu harus bisa lolos dulu dalam persaingan ketat pemilihan peran tersebut. Karena casting akan dilakukan secara adil tanpa memandang kamu berasal dari agensi mana. Jika kamu ingin terpilih, maka tonjolkan dirimu seperti yang kamu katakan bahwa kamu sebenarnya menyadari potensimu itu. Tunjukkanlah padaku bahwa kamu bisa melakukannya."
Lucia mengangguk mantap. Arthen bisa melihat binar semangat yang membara di mata wanita itu. Persis seperti yang ia harapkan.
'Itulah yang kusuka darimu,' batin Arthen.
"Karena sepertinya kondisimu sudah cukup baik. Sekarang ikut denganku ke apartemen yang akan kamu tinggali mulai sekarang."
"Barang-barangku bagaimana?" tanya Lucia, karena ia tak ingin barang-barangnya yang berada di kosannya ditinggalkan begitu saja. Gimana pun, itu semua barang yang masih berharga.
"Aku sudah menyuruh orang membawanya. Sekarang kamu ikut saja denganku, jangan banyak tanya lagi karena aku ini cukup sibuk."
"Kau tidak perlu menemaniku. Akukan bisa pergi bersama bodyguardmu," ujar Lucia memberi usul karena ia pun tahu bahwa Arthen pasti sibuk. Meski terkadang ia sulit percaya karena pria itu sering sekali mengganggunya layaknya penguntit.
"Terus jika dia bersamamu, siapa yang mengawalku? Jangan asal memutuskan bodyguard orang lain untuk mengawalmu karena dia sempat menjagamu. Aku akan berikan bodyguard sendiri untukmu. Dan itu perempuan," ujar Arthen dengan di akhir kalimatnya suaranya cukup pelan sampai hampir tak terdengar.
Lucia sendiri tak mendengarnya hanya berdahem. Karena ia tak ingin ribut dengan Arthen hanya karena hal sepele seperti itu, ia pun hanya menurut saja.
---
Lucia tak menyangka Arthen akan membawanya ke sebuah kompleks apartemen mewah yang ia yakini hanya bisa dihuni oleh kalangan atas. Tempat ini jauh lebih mewah dibandingkan apartemen milik David.
"Kau yakin ini tempat tinggalku?" Lucia menatap Arthen tak percaya.
Arthen menaikkan sebelah alis tebalnya. "Kenapa? Kamu kurang puas?"
"E-eh, mana mungkin! Malahan aku merasa ini berlebihan."
"Oh. Kamu tidak perlu merasa begitu, karena ini masih belum seberapa," sahut Arthen santai.
Sudut bibir Lucia sampai terangkat. 'Ya, orang kaya memang beda. Hal seperti ini saja dikatakan belum seberapa. Aku jadi tidak bisa membayangkan gimana jadinya aku tidak menandatangi kontraknya, sepertinya utangku akan menumpuk karena berurusan dengan pria kaya ini.'
"Kedepannya kamu akan merasakan lebih dari ini. Anggap saja ini hadiah kecil dariku sebagai penyambutan artis baru agensiku," tambah Arthen dengan tenang.
Lucia tidak bisa menahan rasa syukurnya. "Terima kasih," ucapnya tulus. Lalu ia menambahkan dengan suara lantang, "Aku berjanji akan terus bekerja keras sebagai balas budiku!"
"Ya ya, tidak perlu berteriak, tanpa berjanji pun memang keharusanmu bekerja keras untuk memenuhi kontrak yang sudah kamu tanda tangani."
"Kau tidak bisa ya membuatku senang," gerutu Lucia.
"Daripada terbuai dengan kesenangan. Lebih baik kamu mulai pikirkan cara lolos casting dulu. Karena jika kamu gagal, aku akan membuatmu bekerja bagai kuda." Arthen menyeringai lebar menunjukkan ancaman nyatanya.
Lucia sampai buang muka tak ingin menatap wajah Arthen yang berubah kembali menjengkelkan. "Makanya kamu cepat bawakan naskahnya. Gimana aku memikirkannya dan mulai latihan kalau naskahnya saja tidak ada," celetuk Lucia.
"Nanti aku suruh orang membawakannya. Sekarang mending kamu lihat-lihat dulu apartemen ini."
"Ya." Hanya itu balasan Lucia, seakan tak niat. Walaupun kelihatannya wajahnya berseri-seri menelusuri apartemen dengan tiga kamar yang semuanya sangat luas. Bahkan setiap kamarnya sudah terisi barang perabotan.
Lucia juga melihat ke arah dapur. Dia sampai tersipu sendiri membayangkan dirinya yang memasak menggunakan dapur itu.
Benar-benar seperti tempat tinggal impiannya.
Di tengah lamunannya. Pada saat itu terdengar suara bel dari pintu apartemennya.
Arthen yang bergerak untuk memastikannya. Begitu mengetahui siapa mereka, Arthen pun membuka pintunya.
"Sepertinya mereka membawa barang-barangmu."
Lucia langsung bergegas melihatnya sampai tak sadar langkahnya itu membuatnya hampir terjungkal ke depan.
Dengan sigap, Arthen menarik lengan dan pinggang Lucia secara bersamaan, mencegah wanita itu jatuh mencium lantai. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, membuat Lucia terkejut dan mematung di pelukan Arthen.
Bukan hanya Lucia yang terkejut. Para petugas yang membawa kardus barang-barang Lucia pun terpaku dengan mata membelalak. Kardus di tangan mereka hampir saja jatuh menyaksikan pemandangan mesra itu.
'Sial! Apa mereka sengaja memamerkan kemesraan di depan kami?!'
Pada saat itu manajer Rey kebetulan datang. Tentu secara tak langsung dia melihatnya. Matanya sampai hampir mencelos keluar dan mulutnya menganga lebar. "Apa yang kalian lakukan?!" serunya kaget.
Bersambung ...
"Ngapain terus berdiri di sana? Mau diobati nggak nih?" panggil Lucia sebal melihat Arthen yang masih berdiri di tempatnya.Lucia sendiri sudah duduk di sofa dan memegang kotak P3K. Arthen memang sempat melamun memikirkan sesuatu. Kabar yang ia terima lewat telepon tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya. Begitu Lucia memanggilnya, Arthen lantas mengulas senyum tipisnya dan kemudian menghampirinya, mengambil posisi duduk tepat di samping wanita itu."Aku lapar, makanya begitu," jelas Arthen mencari alasan atas keterdiamannya."Hm," gumam Lucia pendek. Kini Lucia fokus memberikan salep ke bibir Arthen. Wajahnya terlihat sangat serius, menampilkan rasa perih seolah-olah yang terluka itu adalah dirinya sendiri. Arthen melihatnya dengan heran. Ekspresi wajah yang Lucia tunjukkan saat ini... bagaimana bisa wanita ini menunjukkan simpati seperti itu padanya di saat ia sendiri sedang dalam masalah besar?"Hais, aku bingung apa ini kebiasaan laki-laki kalau berciuman seperti ini? Apa tidak
Lucia dan Arthen bersamaan menoleh ke arah Manajer Rey. Dengan cepat, Lucia mendorong tubuh Arthen agar menjauh dan segera menjelaskan situasinya, "Jangan salah paham, Arthen hanya mencoba menolongku. Aku tadi hampir jatuh." Arthen turut menganggukkan kepalanya dengan santai. Selanjutkan kemudian dia berkata kepada manajernya itu sambil menyodorkan tangannya, "Mana naskahnya? Sini berikan."Manajer Rey menghela napas panjang. Lalu kemudian melangkah mendekatinya dan memberikan setumpuk kertas sambil sedikit membenahi kacamata. "Naskah yang kudapatkan bukan hanya satu peran saja. Aku mendapatkannya lengkap dengan peran lainnya, lebih dari yang kamu minta.""Itu lebih bagus, seperti dirimu biasanya manajer Rey. Tidak pernah mengecewakan." Arthen memberikan pujian padanya dengan mata memandang naskahnya. Ia membolak-balik naskah itu sejenak sebelum mengalihkannya kepada Lucia. "Ini naskahnya, ambilah."Lucia menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa gugup memeg
Selepas Lucia meminta adik-adiknya untuk memantau kondisi ibunya karena Lucia sendiri tidak bisa melakukannya lagi. Lucia kemudian memutuskan pergi.Meski sempat ada ketegangan, Navy yang penuh rasa iri itu sempat membuat keributan. Dengan lantang di depan Sean dan Mika, wanita itu menuduh Lucia yang tidak-tidak."Kau pasti menjual dirimu pada pria kaya, kan?! Menuduhku jalang padahal kau sendiri sama saja jalang," maki Navy saat itu.Tapi berkat adanya Franz, ia jadi tidak terlalu membuang energinya. Franz mengecam Navy karena apa yang dikatakannya bisa mencemar nama baik Lucia dan dia bisa meminta tuan mudanya membawa Navy ke jalur hukum. Sehingga Navy menjadi diam tak berkutik. David sendiri sampai meminta Navy untuk tenang dan lebih baik pergi karena sepertinya dia tak ingin berurusan dengan mereka lebih lanjut. Dan sekarang Lucia bisa bernapas lega karena saat di ruangan rawatnya, ia juga menerima panggilan telepon adiknya Sean jika operasi ginjal ibunya berhasil.Tak lama sete
"Tentu saja. Karena aku mempercayainya."Tawa manajer Rey menjadi hilang ketika mendengar Arthen mengatakan itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Wah, apa nih. Sejak kapan kau sepercaya itu dengan seseorang? Bahkan seorang wanita pula."Arthen hanya diam. Ia lebih memilih berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengenakan masker yang ia ambil dari saku hoodie miliknya. Tak lupa, ia menarik tudung hoodie itu menutupi kepala agar tidak ada orang yang mengenalinya.Manajer Rey pun segera mengenakan topi begitu mereka melangkah ke area terbuka. Mereka harus tetap waspada agar tidak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali mereka sebagai aktor papan atas dan manajernya.---Di dalam ruang rawat, Lucia sedang membaca teliti kontrak yang diberikan Arthen. Ia melihat tidak ada yang mencurigakan. Malahan, poin-poin dalam kontrak itu justru jauh lebih menguntungkannya dibandingkan kontrak di agensi lamanya.Memang agensi V-ACE itu termasuk agensi besar di Negara Avantia. Tapi,
Plak!Lucia menampar wajahnya berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanya sekedar mimpi buruknya saja. Tapi ... kenapa pipinya terasa sakit? "Jadi ini benar-benar bukan mimpi," gumamnya lirih.Kepala Lucia berdenyut hebat. Rasa lelah dan stres yang bertumpuk membuat kesadarannya mulai goyah.Langkahnya terhuyung-huyung di pinggir jalan. Pikirannya begitu kacau hingga ia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas tepat di depannya.Tinnn!Suara klakson mobil memekakkan telinga, namun Lucia hanya terpaku melihat mobil itu tanpa bergerak sedikit pun untuk menyingkir.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengan Lucia dengan sentakan kuat. Tubuh Lucia tertarik ke samping tepat sebelum mobil itu melintas, membuatnya limbung dan hampir kehilangan keseimbangan."Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?!" bentak pria itu memarahinya.Lucia tak punya tenaga lagi membalas pria itu. Pandangannya menggelap, kakinya melemas, dan dalam sekejap ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan, b
Hari ini terasa begitu melelahkan. Entah mengapa, setiap langkah yang ia ambil Lucia rasanya selalu berujung salah.Semuanya dimulai dari lokasi syuting. Proses syuting yang seharusnya selesai cepat, malah berakhir berantakan karena harus terus-menerus di-take ulang.Sutradara itu seolah sengaja mencari celah untuk menyiksanya, memberinya tatapan rendah yang tidak pernah disembunyikan. Seakan belum cukup sampai di situ, kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya datang kembali menghantamnya.Tunggu, penderitaannya bahkan belum usai. Lucia bahkan menerima telepon dari agen pinjaman yang menagih utang yang belum terbayar, tanpa mau tahu bahwa Lucia sedang berada di titik terendahnya saat ini.Dengan tangan gemetar, Lucia mentransfer hampir seluruh uang hasil kerja kerasnya untuk biaya rumah sakit ibu dan melunasi utangnya. Ia menatap layar ponselnya lama. Sisa saldo di akunnya kini hanya tersisa sedikit sekali. Lucia meringis melihatnya. Mana dari pagi sampai malam ini, ia sama sek







