LOGINLucia dan Arthen bersamaan menoleh ke arah Manajer Rey. Dengan cepat, Lucia mendorong tubuh Arthen agar menjauh dan segera menjelaskan situasinya, "Jangan salah paham, Arthen hanya mencoba menolongku. Aku tadi hampir jatuh."
Arthen turut menganggukkan kepalanya dengan santai. Selanjutkan kemudian dia berkata kepada manajernya itu sambil menyodorkan tangannya, "Mana naskahnya? Sini berikan."
Manajer Rey menghela napas panjang. Lalu kemudian melangkah mendekatinya dan memberikan setumpuk kertas sambil sedikit membenahi kacamata. "Naskah yang kudapatkan bukan hanya satu peran saja. Aku mendapatkannya lengkap dengan peran lainnya, lebih dari yang kamu minta."
"Itu lebih bagus, seperti dirimu biasanya manajer Rey. Tidak pernah mengecewakan." Arthen memberikan pujian padanya dengan mata memandang naskahnya. Ia membolak-balik naskah itu sejenak sebelum mengalihkannya kepada Lucia.
"Ini naskahnya, ambilah."
Lucia menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa gugup memegang benda yang akan menjadi penentu masa depannya itu.
"Karena sekarang naskahnya sudah ada di tanganmu, kamu sekarang bisa mulai berlatih."
Lupakan kegugupan itu. Lucia membuang napas perlahan, mencoba fokus. "Baiklah, akan kulakukan sambil membereskan barang-barangku."
"Lakukan sesukamu. Aku hanya bisa membantu sampai di sini. Selanjutnya, semua tergantung pada kemampuanmu sendiri," ujar Arthen dingin namun bermakna dalam.
Manajer Rey ikut menyemangati Lucia dengan senyum ramah. "Nona Lucia, jangan terlalu khawatir. Anda pasti bisa melakukannya. Semangat!"
"Ya, terima kasih banyak," jawab Lucia tulus.
"Kalau aku?" Arthen menunjuk dirinya sendiri.
"Hah? Apanya?" tanya Lucia bingung.
Melihat ekspresi polos Lucia, Arthen mendengus kesal dan membuang muka. "Huh!"
Arthen langsung melangkah pergi begitu saja. Di tengah kebingungan Lucia, Manajer Rey mendekat dan berbisik, "Sepertinya Anda harus mengucapkan terima kasih padanya juga, Nona Lucia. Tidak mudah menghadapinya jika dia sedang merajuk seperti itu."
Manajer Rey mengulas senyum manis sebelum bergegas mengejar Arthen yang sudah keluar lebih dulu.
Lucia masih terpaku di tempatnya. "Ternyata selain menjengkelkan, dia juga kekanak-kanakan, ya? Masa aku perlu berterima kasih lagi? Bukannya tadi sudah? Mau berapa kali aku harus mengatakannya? Menyebalkan sekali kalau diingat-ingat, sekalipun dia sudah banyak membantuku... "
"Nona... karena semua barang sudah kami masukkan, kami pamit dulu." Salah seorang petugas pengangkut barang membuyarkan lamunan Lucia.
"Baiklah, terima kasih atas kerja keras kalian."
"Sama-sama, Nona," jawab mereka dengan ramah sebelum meninggalkan apartemen.
Kini, Lucia tinggal sendirian di tempat mewah itu bersama kardus-kardus barangnya dan naskah di tangan. Ia menatap naskah itu dengan tatapan serius. "Sekarang aku akan menguasaimu. Kau akan menjadi bagian dari diriku."
Lucia mulai menyingsingkan lengan bajunya, sebuah kebiasaan sebelum ia mulai bekerja serius. Ia membereskan barang-barang ke dalam kamar—mulai dari pakaian, buku, hingga pernak-pernik lainnya—sambil terus menghafal naskah.
Ia melatih emosinya, mempraktikkan tokoh dalam naskah itu berulang kali hingga seluruh barangnya selesai tertata rapi.
"Fyuuh... akhirnya selesai juga." Lucia terduduk lemas di lantai, bersandar pada ranjangnya.
Kruyukk!
"Ugh, sekarang aku malah lapar. Aku harus makan dulu."
Lucia melirik jam dinding. Sudah pukul satu lewat lima belas menit siang. Pantas saja, ini sudah waktunya makan siang.
Ia beranjak menuju dapur dan mengikat rambutnya yang tadi tergerai berantakan.
Ekspektasinya hanya menemukan bahan makanan seadanya di lemari es. Namun, saat membukanya, Lucia hampir menjatuhkan rahangnya. Lemari es dua pintu itu terisi penuh dengan sayuran segar, buah-buahan, telur, ikan laut, hingga daging berkualitas tinggi.
"Wah, aku bahkan tidak pernah membayangkan lemari esku bisa sepadat ini. Ini... benar-benar luar biasa," gumamnya tak percaya.
Semangatnya memasak langsung berkobar. Dengan bahan selengkap ini, ia harus memasak menu yang spesial.
---
"Apa kau akan terus melamun saja? Hei, tolong bicaralah. Bagaimana tindakanmu selanjutnya?"
Manajer Rey berbisik dan menyenggol bahu Arthen yang duduk di sebelahnya sejak tadi hanya diam dan tampak melamun padahal sekarang mereka sedang ada pembicaraan penting dengan pihak produksi film, mulai dari penulis, produser maupun sutradara.
Arthen langsung sadar seketika begitu manajer Rey menyenggol bahunya. Dan Arthen lantas berbicara dengan sikap tenangnya, "Saya setuju dengan ide penulis Sera. Lebih baik dalam pemilihan pemain, kita melakukan proses casting terbuka. Dan saya akan menambahkan saran, bahwa dalam proses casting itu saya sendiri akan ikut menjadi dewan juri."
"Jadi, Anda sudah menemukan talenta baru sehingga Aktor Arthen yang biasanya tidak mau ikut campur, kini memilih bertindak sendiri?" goda Produser Daniel dengan seringai tipis
"Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Saya hanya memikirkan keuntungan dari keputusan saya ini. Karena semuanya sudah diputuskan, saya permisi dulu."
Arthen bangkit, mendorong kursinya, lalu melangkah pergi diikuti Manajer Rey.
"Sekarang jadwalku di luar sudah selesai, kan?" tanya Arthen pada manajer Rey sambil terus berjalan.
"Sudah. Kamu bisa istirahat dulu atau makan siang," saran manajer Rey.
"Sepertinya aku ingin makan siang. Tapi, aku akan pergi sendiri. Kau tidak perlu menemaniku manajer Rey."
"Tidak bisa, pergilah bersama dengan bodyguardmu Franz, Arthen," bantah manajer Rey.
"Aku akan pergi sendiri. Aku sedang stres, aku hanya butuh sendiri sekarang."
Arthen langsung masuk ke mobilnya dan menutup pintu dengan keras, meninggalkan manajernya yang hanya bisa menatap tak berdaya.
Arthen mengendarai mobilnya menuju apartemen Lucia. Entah mengapa, pikirannya terus tertuju pada wanita itu hingga ia tidak bisa fokus di rapat tadi.
Saat baru saja sampai di depan pintu apartemen Lucia dan hendak menekan bel, ponselnya berdering. Arthen menerima kabar yang sangat mengejutkan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras hingga berdarah untuk menahan emosi.
"Tolong suruh kedua adiknya menyembunyikan kabar ini sementara. Bungkam mulut siapa pun, jangan sampai kabar ini sampai ke telinga Lucia," perintah Arthen dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Tepat saat itu, pintu terbuka.
"Arthen, sedang apa kau—astaga! Ada apa dengan bibirmu? Kau seperti vampir habis mengisap darah manusia saja," seru Lucia terkejut melihat bibir pria itu yang terluka.
"Ini luka. Jangan bicara seolah-olah aku ini bajingan," sahut Arthen ketus.
Lucia menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu dengan tangan terlipat di dada. "Bukannya memang begitu? Lalu kenapa kau datang ke sini dengan bibir terluka seperti itu?"
"Tolong obati aku... dan, aku belum makan siang," ujar Arthen sambil mengelus perutnya, lengkap dengan senyum yang membuat Lucia merasa muak.
"Wah, wah, lihatlah kau sekarang. Lama-lama kau pasti akan menjadikanku babumu," gerutu Lucia.
Meski mengomel, Lucia tetap mempersilakan Arthen masuk. Ia segera mengambil kotak P3K.
Arthen sendiri merasa sedikit lega karena ia pikir tadi Lucia sempat mendengar pembicaraannya. Tapi sepertinya itu tidak.
Arthen segera mematikan panggilan telepon itu yang masih menyala dan ia pun langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
'Maaf, aku harus menyembunyikan ini demi kebaikanmu,' batin Arthen sambil menatap punggung Lucia.
Bersambung ...
"Ngapain terus berdiri di sana? Mau diobati nggak nih?" panggil Lucia sebal melihat Arthen yang masih berdiri di tempatnya.Lucia sendiri sudah duduk di sofa dan memegang kotak P3K. Arthen memang sempat melamun memikirkan sesuatu. Kabar yang ia terima lewat telepon tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya. Begitu Lucia memanggilnya, Arthen lantas mengulas senyum tipisnya dan kemudian menghampirinya, mengambil posisi duduk tepat di samping wanita itu."Aku lapar, makanya begitu," jelas Arthen mencari alasan atas keterdiamannya."Hm," gumam Lucia pendek. Kini Lucia fokus memberikan salep ke bibir Arthen. Wajahnya terlihat sangat serius, menampilkan rasa perih seolah-olah yang terluka itu adalah dirinya sendiri. Arthen melihatnya dengan heran. Ekspresi wajah yang Lucia tunjukkan saat ini... bagaimana bisa wanita ini menunjukkan simpati seperti itu padanya di saat ia sendiri sedang dalam masalah besar?"Hais, aku bingung apa ini kebiasaan laki-laki kalau berciuman seperti ini? Apa tidak
Lucia dan Arthen bersamaan menoleh ke arah Manajer Rey. Dengan cepat, Lucia mendorong tubuh Arthen agar menjauh dan segera menjelaskan situasinya, "Jangan salah paham, Arthen hanya mencoba menolongku. Aku tadi hampir jatuh." Arthen turut menganggukkan kepalanya dengan santai. Selanjutkan kemudian dia berkata kepada manajernya itu sambil menyodorkan tangannya, "Mana naskahnya? Sini berikan."Manajer Rey menghela napas panjang. Lalu kemudian melangkah mendekatinya dan memberikan setumpuk kertas sambil sedikit membenahi kacamata. "Naskah yang kudapatkan bukan hanya satu peran saja. Aku mendapatkannya lengkap dengan peran lainnya, lebih dari yang kamu minta.""Itu lebih bagus, seperti dirimu biasanya manajer Rey. Tidak pernah mengecewakan." Arthen memberikan pujian padanya dengan mata memandang naskahnya. Ia membolak-balik naskah itu sejenak sebelum mengalihkannya kepada Lucia. "Ini naskahnya, ambilah."Lucia menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa gugup memeg
Selepas Lucia meminta adik-adiknya untuk memantau kondisi ibunya karena Lucia sendiri tidak bisa melakukannya lagi. Lucia kemudian memutuskan pergi.Meski sempat ada ketegangan, Navy yang penuh rasa iri itu sempat membuat keributan. Dengan lantang di depan Sean dan Mika, wanita itu menuduh Lucia yang tidak-tidak."Kau pasti menjual dirimu pada pria kaya, kan?! Menuduhku jalang padahal kau sendiri sama saja jalang," maki Navy saat itu.Tapi berkat adanya Franz, ia jadi tidak terlalu membuang energinya. Franz mengecam Navy karena apa yang dikatakannya bisa mencemar nama baik Lucia dan dia bisa meminta tuan mudanya membawa Navy ke jalur hukum. Sehingga Navy menjadi diam tak berkutik. David sendiri sampai meminta Navy untuk tenang dan lebih baik pergi karena sepertinya dia tak ingin berurusan dengan mereka lebih lanjut. Dan sekarang Lucia bisa bernapas lega karena saat di ruangan rawatnya, ia juga menerima panggilan telepon adiknya Sean jika operasi ginjal ibunya berhasil.Tak lama sete
"Tentu saja. Karena aku mempercayainya."Tawa manajer Rey menjadi hilang ketika mendengar Arthen mengatakan itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Wah, apa nih. Sejak kapan kau sepercaya itu dengan seseorang? Bahkan seorang wanita pula."Arthen hanya diam. Ia lebih memilih berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengenakan masker yang ia ambil dari saku hoodie miliknya. Tak lupa, ia menarik tudung hoodie itu menutupi kepala agar tidak ada orang yang mengenalinya.Manajer Rey pun segera mengenakan topi begitu mereka melangkah ke area terbuka. Mereka harus tetap waspada agar tidak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali mereka sebagai aktor papan atas dan manajernya.---Di dalam ruang rawat, Lucia sedang membaca teliti kontrak yang diberikan Arthen. Ia melihat tidak ada yang mencurigakan. Malahan, poin-poin dalam kontrak itu justru jauh lebih menguntungkannya dibandingkan kontrak di agensi lamanya.Memang agensi V-ACE itu termasuk agensi besar di Negara Avantia. Tapi,
Plak!Lucia menampar wajahnya berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanya sekedar mimpi buruknya saja. Tapi ... kenapa pipinya terasa sakit? "Jadi ini benar-benar bukan mimpi," gumamnya lirih.Kepala Lucia berdenyut hebat. Rasa lelah dan stres yang bertumpuk membuat kesadarannya mulai goyah.Langkahnya terhuyung-huyung di pinggir jalan. Pikirannya begitu kacau hingga ia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas tepat di depannya.Tinnn!Suara klakson mobil memekakkan telinga, namun Lucia hanya terpaku melihat mobil itu tanpa bergerak sedikit pun untuk menyingkir.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengan Lucia dengan sentakan kuat. Tubuh Lucia tertarik ke samping tepat sebelum mobil itu melintas, membuatnya limbung dan hampir kehilangan keseimbangan."Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?!" bentak pria itu memarahinya.Lucia tak punya tenaga lagi membalas pria itu. Pandangannya menggelap, kakinya melemas, dan dalam sekejap ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan, b
Hari ini terasa begitu melelahkan. Entah mengapa, setiap langkah yang ia ambil Lucia rasanya selalu berujung salah.Semuanya dimulai dari lokasi syuting. Proses syuting yang seharusnya selesai cepat, malah berakhir berantakan karena harus terus-menerus di-take ulang.Sutradara itu seolah sengaja mencari celah untuk menyiksanya, memberinya tatapan rendah yang tidak pernah disembunyikan. Seakan belum cukup sampai di situ, kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya datang kembali menghantamnya.Tunggu, penderitaannya bahkan belum usai. Lucia bahkan menerima telepon dari agen pinjaman yang menagih utang yang belum terbayar, tanpa mau tahu bahwa Lucia sedang berada di titik terendahnya saat ini.Dengan tangan gemetar, Lucia mentransfer hampir seluruh uang hasil kerja kerasnya untuk biaya rumah sakit ibu dan melunasi utangnya. Ia menatap layar ponselnya lama. Sisa saldo di akunnya kini hanya tersisa sedikit sekali. Lucia meringis melihatnya. Mana dari pagi sampai malam ini, ia sama sek







