Share

3. Gagal Menipu

Penulis: Fadiyah NK
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 01:30:02

"Tentu saja. Karena aku mempercayainya."

Tawa manajer Rey menjadi hilang ketika mendengar Arthen mengatakan itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Wah, apa nih. Sejak kapan kau sepercaya itu dengan seseorang? Bahkan seorang wanita pula."

Arthen hanya diam. Ia lebih memilih berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengenakan masker yang ia ambil dari saku hoodie miliknya. Tak lupa, ia menarik tudung hoodie itu menutupi kepala agar tidak ada orang yang mengenalinya.

Manajer Rey pun segera mengenakan topi begitu mereka melangkah ke area terbuka. Mereka harus tetap waspada agar tidak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali mereka sebagai aktor papan atas dan manajernya.

---

Di dalam ruang rawat, Lucia sedang membaca teliti kontrak yang diberikan Arthen. Ia melihat tidak ada yang mencurigakan. Malahan, poin-poin dalam kontrak itu justru jauh lebih menguntungkannya dibandingkan kontrak di agensi lamanya.

Memang agensi V-ACE itu termasuk agensi besar di Negara Avantia. 

Tapi, menawarkan kontrak seperti itu kepada aktris tak terkenal sepertinya, apa mereka tidak rugi?

Lucia jadi teringat perkataan Arthen sebelumnya, 'Kamu tahu bahwa kamu itu tidak terlalu percaya diri pada potensimu sendiri, Lucia.'

"Potensi. Sudah berapa lama aku tidak mendengar kata itu?" gumam Lucia lirih. "Aneh rasanya mendengar itu dari orang sepertimu, Arthen."

Saat ia sedang melamun, ponsel di atas nakas mendadak menyala karena panggilan masuk.

Lucia berusaha menjangkaunya meski tubuhnya masih terasa lemas dan kaku.

Di luar ruangan, Franz masih berjaga dengan sigap. Namun, ia seketika terkejut melihat Lucia tiba-tiba berlari keluar dengan masih mengenakan pakaian rumah sakit dan tanpa alas kaki.

Franz segera mengejar sambil memanggilnya. "Nona Lucia, tolong jangan berlari! Anda belum pulih!"

Suara panggilan Franz itu tak didengarkan Lucia. Karena sekarang itu tidak penting dibandingkan dengan kondisi ibunya.

"Ibu, kumohon bertahanlah," bisiknya dalam hati.

Lucia terus berlari keluar untuk mencari ruangan operasi ibunya, yang untungnya saja ibunya berada di rumah sakit yang sama dengannya. Jadi, ia tak perlu lagi harus jauh-jauh keluar dari rumah sakit ini.

Lucia menuju ke lobi untuk bertanya pada resepsionis. Untung ia diberikan arahan yang jelas sehingga Lucia bisa dapat menemukan ruangan operasi di mana ibunya kini terpaksa harus menjalani operasi lagi karena kondisinya yang mengharuskannya melakukan itu.

Begitu sampai di depan ruang tunggu operasi, Lucia melihat kedua adiknya, Sean dan Mika. Namun, di sana juga berdiri dua sosok pengkhianat yang telah menodai kepercayaannya, itu David dan Navy.

Hati Lucia berdenyut nyeri. Apa mereka masih belum cukup menyakitinya hingga harus datang ke sini juga?

"Kak Lucia, kakak kenapa mengenakan pakaian rumah sakit?" tanya Mika, adik perempuannya yang masih SMA, terlihat masih mengenakan seragam SMA-Nya, menghampiri Lucia dengan penuh kekhawatiran.

Sean, adik laki-lakinya yang merupakan mahasiswa kedokteran semester akhir, ikut mendekat. Wajahnya tampak cemas melihat kakaknya berlari tanpa alas kaki dengan wajah sepucat kertas. "Apa yang terjadi padamu, Kak?"

Begitu melihat Lucia, Navy dan David menjadi penasaran juga. Namun mereka hanya berdiri di tempat. Sebenarnya David ingin menghampiri, namun tangan Navy menahannya, sehingga tak ada yang bisa diperbuatnya.

Lucia mencoba tersenyum tipis. Ia baru sadar bahwa karena terlalu panik memikirkan ibunya, ia lupa mengganti pakaian dan tidak memakai sandal.

"Aku hanya kurang sehat sedikit, jangan khawatir," jawab Lucia menenangkan.

Sean menatap lekat wajah Lucia. Mengamati wanita itu. Ia sudah menebak apa yang terjadi pada Lucia, melihat bagaimana wajah Lucia yang pucat. Tapi dia tak ingin mengungkapkannya karena mengenal bagaimana kakaknya, sehingga ia hanya bisa mengatakan, "Seharusnya kakak istirahat saja kalau kakak sedang sakit begini."

Mika menimpali, "Iya, kak Sean benar. Kan ada kami berdua yang menjaga ibu."

"Maaf ya, jadi selalu merepotkan kalian. Bahkan kakak jarang mengunjungi ibu karena sibuk bekerja." 

"Tidak apa-apa kak. Lagian juga kak Navy dan kak David juga sering mengunjungi Ibu. Bahkan kak Navy tadi bilang dia akan membantu biaya operasi Ibu. Kami senang karena ada kak Navy yang sangat baik membantu kita," tutur Mika polos memberitahukan semuanya.

Lucia tercengang. Darahnya seolah mendidih. Ia melangkah mendekati Navy dan David yang sejak tadi hanya berdiri mematung.

Saat sudah berhadapan, Navy mengernyitkan dahi dan tersenyum hambar.

Lucia berkata, "Apa kalian pikir aku sehina itu sampai aku dengan sukarela menerima bantuan dari kalian berdua?"

"Kenapa rupanya? Bukankah kau harusnya bersyukur kami membantumu. Cobalah siapa lagi yang akan membantumu membiayain biaya operasi ibumu yang tidak murah ini? Jika tadi aku tidak langsung membayarkannya, kau pikirkan bagaimana nasib ibumu, Lucia? Kau ini masih saja keras kepala," kata Navy menjawab dengan angkuhnya.

David menimpali, "Lucia sudahlah jangan keras kepala lagi. Lagian juga niatan Navy baik. Toh bibi jadi bisa diopersi berkatnya."

'Jadi kak David sudah memanggil ibu dengan bibi, ya. Semudah ini ternyata kamu berpaling.' Lucia sampai menggertakkan giginya bahkan kedua tangannya mengepal erat. "Aku tidak berharap bantuan kalian."

"Wah, jadi sia-sia dong aku membantumu. Terus sekarang, kau harus bagaimana jika aku menagih uangku?" Navy berucap dengan agak keras bahkan sampai bersedekap dada dan sedikit membusungkan dadanya menunjukkan keangkuhan dirinya.

Saat itu adik-adiknya Lucia mendengarnya sampai bingung dan tak percaya, apalagi Sean yang tentu langsung menangkap inti pembicaraan mereka.

Dia bahkan sampai akan menghampiri mereka. Tapi pada saat itu ada seorang pria tegap berwajah dingin yang memegang bahunya.

Pria itu menyuruh agar Sean tetap pada tempatnya. Sementara pria tersebut menghampiri Lucia dan mendekat padanya.

"Mohon maaf menyela pembicaraan kalian. Nona Lucia, sepertinya Anda harus kembali ke ruangan rawat Anda. Saya tidak bisa melanggar perintah atasan saya dengan membiarkan Anda di luar, mohon pengertiannya."

Lucia tahu jika itu bodyguardnya Arthen. Namun, rasanya ia tidak bisa menurutinya sekarang.

Mengetahui wajah Lucia yang enggan pergi. Pria itu kembali berkata, "Anda tidak perlu khawatir dengan biaya operasi ibu Anda. Saya sudah menelepon tuan muda, dia mengatakan sudah melunasi semua biaya rumah sakit ibu Anda maupun itu biaya operasinya. Dan mereka berdua, hanya mengatakan omong kosong saja padahal tidak membayarkannya sepeserpun." 

Navy menjadi keringat dingin mendengarnya. David sendiri bahkan sampai menatap Navy.

"Katamu tadi sudah dibayar?"

"Ah i-itu, a-aku bilang akan membayarnya nanti," jawabnya gugup.

Franz menjawab lagi, "Tuan muda memberitahukan saya bahwa direktur rumah sakit yang langsung mengabari perihal ibu nona Lucia yang akan dioperasi dan begitu dikabari tuan muda saya langsung membayarnya."

"Ka-kau! Tahu apa kau?!" Navy menunjuk wajah Franz dengan geram karena terlalu ikut campur urusannya.

"Jika kalian tidak percaya. Tanyakan saja buktinya pada resepsionis," kata Franz tanpa sedikit pun menunjukkan emosi dan tetap tenang meladeni wanita yang sudah menahan malu karenanya.

"Baiklah, kamu tidak usah meladeninya lagi. Sekarang mari temani aku ke ruangan rawatku," ajak Lucia pada Franz meski membuat Navy di situ memandangnya tak senang dan David tampak membuang muka, seolah malu padanya.

Franz menurut patuh mengikutinya. 

"Kakak~ " Mika memegang tangan Lucia. "kakak tidak terlibat dengan orang jahat, kan?" Ia khawatir jika demi membiayai ibunya, kakaknya sampai mengorbankan dirinya sendiri.

Sean juga menatapnya dengan khawatir.

Lucia mengelus kepala mereka berdua. "Tidak, walau dia agak kasar. Dia bukan orang jahat."

Franz mendengarnya sampai tertegun. Jika tuan mudanya sampai mendengar kira-kira apa reaksinya ya?

Di waktu yang sama, Arthen yang sedang duduk tenang di dalam mobil tiba-tiba saja bersin. "Hachim! Aduh~ kenapa hidungku jadi gatal sekali? Manajer Rey, apa kau tidak membersihkan mobilmu?" 

"Mobilku sangat bersih. Jangan pikir ada setitik debu pun di sini. Aku sendiri alergi debu, kau tahu itu," sahut Manajer Rey ketus.

Arthen terdiam. Benar juga, manajernya ini sangat gila kebersihan. Lalu, kenapa tiba-tiba ia bersin? Apa ada seseorang yang sedang membicarakannya?

Bersambung ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   6. Casting Film

    "Ngapain terus berdiri di sana? Mau diobati nggak nih?" panggil Lucia sebal melihat Arthen yang masih berdiri di tempatnya.Lucia sendiri sudah duduk di sofa dan memegang kotak P3K. Arthen memang sempat melamun memikirkan sesuatu. Kabar yang ia terima lewat telepon tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya. Begitu Lucia memanggilnya, Arthen lantas mengulas senyum tipisnya dan kemudian menghampirinya, mengambil posisi duduk tepat di samping wanita itu."Aku lapar, makanya begitu," jelas Arthen mencari alasan atas keterdiamannya."Hm," gumam Lucia pendek. Kini Lucia fokus memberikan salep ke bibir Arthen. Wajahnya terlihat sangat serius, menampilkan rasa perih seolah-olah yang terluka itu adalah dirinya sendiri. Arthen melihatnya dengan heran. Ekspresi wajah yang Lucia tunjukkan saat ini... bagaimana bisa wanita ini menunjukkan simpati seperti itu padanya di saat ia sendiri sedang dalam masalah besar?"Hais, aku bingung apa ini kebiasaan laki-laki kalau berciuman seperti ini? Apa tidak

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   5. Menemui Kembali

    Lucia dan Arthen bersamaan menoleh ke arah Manajer Rey. Dengan cepat, Lucia mendorong tubuh Arthen agar menjauh dan segera menjelaskan situasinya, "Jangan salah paham, Arthen hanya mencoba menolongku. Aku tadi hampir jatuh." Arthen turut menganggukkan kepalanya dengan santai. Selanjutkan kemudian dia berkata kepada manajernya itu sambil menyodorkan tangannya, "Mana naskahnya? Sini berikan."Manajer Rey menghela napas panjang. Lalu kemudian melangkah mendekatinya dan memberikan setumpuk kertas sambil sedikit membenahi kacamata. "Naskah yang kudapatkan bukan hanya satu peran saja. Aku mendapatkannya lengkap dengan peran lainnya, lebih dari yang kamu minta.""Itu lebih bagus, seperti dirimu biasanya manajer Rey. Tidak pernah mengecewakan." Arthen memberikan pujian padanya dengan mata memandang naskahnya. Ia membolak-balik naskah itu sejenak sebelum mengalihkannya kepada Lucia. "Ini naskahnya, ambilah."Lucia menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia merasa gugup memeg

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   4. Tidak Bisa Kesal

    Selepas Lucia meminta adik-adiknya untuk memantau kondisi ibunya karena Lucia sendiri tidak bisa melakukannya lagi. Lucia kemudian memutuskan pergi.Meski sempat ada ketegangan, Navy yang penuh rasa iri itu sempat membuat keributan. Dengan lantang di depan Sean dan Mika, wanita itu menuduh Lucia yang tidak-tidak."Kau pasti menjual dirimu pada pria kaya, kan?! Menuduhku jalang padahal kau sendiri sama saja jalang," maki Navy saat itu.Tapi berkat adanya Franz, ia jadi tidak terlalu membuang energinya. Franz mengecam Navy karena apa yang dikatakannya bisa mencemar nama baik Lucia dan dia bisa meminta tuan mudanya membawa Navy ke jalur hukum. Sehingga Navy menjadi diam tak berkutik. David sendiri sampai meminta Navy untuk tenang dan lebih baik pergi karena sepertinya dia tak ingin berurusan dengan mereka lebih lanjut. Dan sekarang Lucia bisa bernapas lega karena saat di ruangan rawatnya, ia juga menerima panggilan telepon adiknya Sean jika operasi ginjal ibunya berhasil.Tak lama sete

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   3. Gagal Menipu

    "Tentu saja. Karena aku mempercayainya."Tawa manajer Rey menjadi hilang ketika mendengar Arthen mengatakan itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. "Wah, apa nih. Sejak kapan kau sepercaya itu dengan seseorang? Bahkan seorang wanita pula."Arthen hanya diam. Ia lebih memilih berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengenakan masker yang ia ambil dari saku hoodie miliknya. Tak lupa, ia menarik tudung hoodie itu menutupi kepala agar tidak ada orang yang mengenalinya.Manajer Rey pun segera mengenakan topi begitu mereka melangkah ke area terbuka. Mereka harus tetap waspada agar tidak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali mereka sebagai aktor papan atas dan manajernya.---Di dalam ruang rawat, Lucia sedang membaca teliti kontrak yang diberikan Arthen. Ia melihat tidak ada yang mencurigakan. Malahan, poin-poin dalam kontrak itu justru jauh lebih menguntungkannya dibandingkan kontrak di agensi lamanya.Memang agensi V-ACE itu termasuk agensi besar di Negara Avantia. Tapi,

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   2. Tawaran Kontrak

    Plak!Lucia menampar wajahnya berharap bahwa apa yang ia alami saat ini hanya sekedar mimpi buruknya saja. Tapi ... kenapa pipinya terasa sakit? "Jadi ini benar-benar bukan mimpi," gumamnya lirih.Kepala Lucia berdenyut hebat. Rasa lelah dan stres yang bertumpuk membuat kesadarannya mulai goyah.Langkahnya terhuyung-huyung di pinggir jalan. Pikirannya begitu kacau hingga ia tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas tepat di depannya.Tinnn!Suara klakson mobil memekakkan telinga, namun Lucia hanya terpaku melihat mobil itu tanpa bergerak sedikit pun untuk menyingkir.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengan Lucia dengan sentakan kuat. Tubuh Lucia tertarik ke samping tepat sebelum mobil itu melintas, membuatnya limbung dan hampir kehilangan keseimbangan."Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati?!" bentak pria itu memarahinya.Lucia tak punya tenaga lagi membalas pria itu. Pandangannya menggelap, kakinya melemas, dan dalam sekejap ia kehilangan kesadaran. Ia jatuh pingsan, b

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   1. Kenyataan Menampar Wajah

    Hari ini terasa begitu melelahkan. Entah mengapa, setiap langkah yang ia ambil Lucia rasanya selalu berujung salah.Semuanya dimulai dari lokasi syuting. Proses syuting yang seharusnya selesai cepat, malah berakhir berantakan karena harus terus-menerus di-take ulang.Sutradara itu seolah sengaja mencari celah untuk menyiksanya, memberinya tatapan rendah yang tidak pernah disembunyikan. Seakan belum cukup sampai di situ, kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya datang kembali menghantamnya.Tunggu, penderitaannya bahkan belum usai. Lucia bahkan menerima telepon dari agen pinjaman yang menagih utang yang belum terbayar, tanpa mau tahu bahwa Lucia sedang berada di titik terendahnya saat ini.Dengan tangan gemetar, Lucia mentransfer hampir seluruh uang hasil kerja kerasnya untuk biaya rumah sakit ibu dan melunasi utangnya. Ia menatap layar ponselnya lama. Sisa saldo di akunnya kini hanya tersisa sedikit sekali. Lucia meringis melihatnya. Mana dari pagi sampai malam ini, ia sama sek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status