Partager

6. Casting Film

Auteur: Fadiyah NK
last update Date de publication: 2026-02-15 15:18:49

"Ngapain terus berdiri di sana? Mau diobati nggak nih?" panggil Lucia sebal melihat Arthen yang masih berdiri di tempatnya.

Lucia sendiri sudah duduk di sofa dan memegang kotak P3K. Arthen memang sempat melamun memikirkan sesuatu. Kabar yang ia terima lewat telepon tadi benar-benar mengganggu konsentrasinya. Begitu Lucia memanggilnya, Arthen lantas mengulas senyum tipisnya dan kemudian menghampirinya, mengambil posisi duduk tepat di samping wanita itu.

"Aku lapar, makanya begitu," jelas Arthen mencari alasan atas keterdiamannya.

"Hm," gumam Lucia pendek. Kini Lucia fokus memberikan salep ke bibir Arthen. Wajahnya terlihat sangat serius, menampilkan rasa perih seolah-olah yang terluka itu adalah dirinya sendiri. Arthen melihatnya dengan heran. Ekspresi wajah yang Lucia tunjukkan saat ini... bagaimana bisa wanita ini menunjukkan simpati seperti itu padanya di saat ia sendiri sedang dalam masalah besar?

"Hais, aku bingung apa ini kebiasaan laki-laki kalau berciuman seperti ini? Apa tidak bisa tanpa melukai bibir sendiri?" Lucia menggelengkan kepalanya dengan desahan pelan, menyangka luka itu akibat aktivitas asmara Arthen.

Mata Arthen seketika menajam. Sebelumnya ia ingin membantah tuduhan tak berdasar itu, tapi sesaat sebuah ide licik muncul di pikirannya. Ia justru mendekatkan bibirnya ke telinga Lucia, membisikkan sesuatu dengan suara rendah yang menggetarkan. "Mau coba?"

Sontak saja Lucia mendorong dada Arthen dengan tenaga penuh, membuatnya menjauh. "Kau tidak waras ya, Arthen?!" Matanya berkilat tajam. "Jangan pikir kau bisa bertindak seenaknya hanya karena aku membantumu mengobati lukamu."

"Ck, kau tidak seru." Arthen memutar bola matanya malas sambil bersandar di sofa dan melipat kedua tangannya di dada.

"Tidak seru?! Apa maksudmu tidak seru? Jadi kau anggap aku mainan, gitu?!" Lucia mengeratkan giginya. Kilatan marah terpancar di matanya. Mungkin kalau ia tidak menahan diri, tangannya yang sudah terkepal kuat itu sudah melayang ke wajah Arthen yang tampak songong itu.

Arthen menoleh santai. "Dari segi mananya aku anggap kamu begitu?"

"Pikir saja sendiri! Aku mau makan," putus Lucia sembari bangkit dan berjalan menuju dapur dengan langkah menghentak.

Arthen tak diam saja. Dia pun mengikuti Lucia, bahkan lebih dulu mengambil posisi duduk di meja makan dan menunjukkan senyum tanpa dosa. "Sini duduk," katanya sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Lucia mendengus, memilih mengambil duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Arthen ketimbang di sampingnya. Meski secara teknis ia tetap harus melihat wajah pria itu, setidaknya ada jarak di antara mereka. Rasanya tetap menjengkelkan.

Karena makanan sudah ada dan disusun di meja oleh asisten sebelumnya dan tinggal dimakan saja, mereka hanya perlu mulai menyantapnya.

"Kelihatannya enak, semoga saja rasanya sesuai penampilannya." Terselip nada sindiran di balik perkataan takjub Arthen.

"Tinggal makan saja susah," cetusnya tegas. Lucia meliriknya sinis, menghela napas lalu menggeleng pelan sebelum menyendokkan makanan ke mulutnya sendiri.

Arthen tersenyum tipis. Ia pun menyuapkan makanan ke mulutnya. "Nyam~ good. Aku jadi berpikir ide kau ikut variety show memasak berpasangan denganku."

Lucia menghentikan suapan ke mulutnya. Dia menatap Arthen bingung. "Bukannya dari agensi V-ACE sudah mengirimkanmu dengan aktris Jasmin ke variety show itu?"

"Tahu darimana? Variety show itu... sepertinya masih merahasiakan informasi artisnya." Arthen menopang dagunya dan menaikkan-turunkan sebelah alisnya dengan gaya menggoda.

"Berarti memang kau akan bersama aktris Jasmin," ujar Lucia tanpa menjawab pertanyaan Arthen. Ia meletakkan sendoknya di piring, selera makannya sedikit terganggu. "Lalu untuk apa menawariku? Toh yang dipilih tampil dalam acara tersebut hanya dua perwakilan dari setiap agensi."

"Aku tidak mengatakan akan tampil bersama aktris Jasmin," sahut Arthen. Senyuman penuh arti itu tersungging di bibirnya yang terluka. "Jangan asal mengambil kesimpulan, karena yang memutuskan itu aku."

Suasana seketika terasa menegangkan. Entah tanpa sadar atau tidak, Arthen secara langsung membuat tekanan tak biasa yang membuat Lucia hanya bisa menatapnya tanpa bisa membalas ucapannya. Dari perkataan Arthen sudah jelas bahwa Lucia harus patuh dan menurutinya. Apa yang bisa Lucia lakukan? Sekarang, ia bekerja di bawahnya.

Sedetik kemudian Lucia berkata dengan suara yang sedikit bergetar, "Sebelumnya aku mendapat telepon dari agensi lamaku soal pemutusan kontrak hari ini."

"Bukannya itu bagus? Kau hanya tinggal tanda tangani dan pergi. Setelah itu kau bebas dari mereka."

"Bagus bagaimana? Mereka hanya bertindak seenaknya memutuskan kontrak sepihak yang padahal masih jauh dari tanggal kontrak berakhir. Mereka juga tidak memberikanku bonus akhir. Sementara selama ini aku telah bekerja keras sendiri mencari film dan drama yang bisa kubintangi. Sekalipun itu figuran." Mata Lucia sampai memerah, ia menahan tangisnya agar tak tumpah.

Mengungkapkan kenyataan pahit dunia kerjanya sendiri membuatnya merasa sakit hati yang mendalam.

"Biar aku yang mengurusnya. Kamu tidak perlu datang ke sana," kata Arthen tiba-kira berubah menjadi sangat serius. Tatapannya mengunci mata Lucia. "Kau sekarang tanggung jawabku."

Kalimat itu, 'kau sekarang tanggung jawabku.' Terus berputar di kepala Lucia sepanjang malam. Meskipun ia merasa terlindungi, rasa trauma akibat pengkhianatan David dan perlakuan semena-mena agensi lamanya membuat Lucia tidak bisa begitu saja merasa tenang. Ia terus berlatih naskah The Criminal Family hingga larut, meresapi karakter Elena dengan penuh keraguan namun juga tekad yang kuat.

Esok paginya, bel apartemen berbunyi tepat pukul tujuh. Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda dan senyum sangat lebar berdiri di sana.

"Halo, Nona Lucia! Saya Hana, asisten pribadi Anda mulai hari ini!" serunya ceria. Pembawaannya yang santai dan penuh energi seketika mencairkan sedikit ketegangan Lucia.

Hana adalah asisten yang baru saja lolos seleksi ketat di agensi V-ACE kemarin. Arthen sendiri yang turun tangan langsung untuk mewawancarainya di tengah jadwalnya yang sangat padat semalam, demi memastikan Lucia mendapatkan pendamping yang jujur dan suportif.

Lucia tersenyum tipis, merasa sedikit sungkan. "Hana, panggil saja aku 'Kakak'. Panggilan 'Nona' terdengar sangat asing dan membuatku tidak nyaman. Kita akan sering bersama, kan?"

Hana mengerjapkan matanya, lalu nyengir lebar hingga matanya menyipit. "Siap, Kak Lucia! Wah, Kakak baik sekali, pantas saja Tuan Arthen sampai begadang semalam hanya untuk menyeleksi saya demi Kakak!"

Lucia tertegun. Arthen melakukan itu? Ia segera menggelengkan kepala, mencoba menepis rasa haru yang muncul.

Saat membantu Lucia bersiap menuju lokasi audisi, Hana memperhatikan jemari Lucia yang terus meremas ujung gaunnya. Wajah Lucia memang tampak tenang dan tegar, namun guratan ketegangan di dahinya tidak bisa berbohong.

"Tolong percaya pada diri Anda, Kak," bisik Hana sambil merapikan kerah baju Lucia. "Kakak tidak perlu menahan diri saat berakting nanti, anggap saja seperti biasa saat Kakak sedang berada di lokasi syuting biasanya. Kakak hanya melihat sorot kamera dan membayangkan seolah-olah Kakak berada di dalam kejadian yang sebenarnya dari tokoh Elena. Tunjukkan pada mereka bahwa Kakak adalah Elena."

Lucia menarik napas dalam, mencoba menanamkan kata-kata Hana ke dalam benaknya. "Terima kasih, Hana. Aku akan mencoba."

Setibanya di lokasi casting film The Criminal Family, suasana terasa sangat mengintimidasi. Puluhan aktris cantik dan berbakat berkumpul di lorong. Di antara kerumunan itu, Lucia melihat Navy. Navy tetap tampil angkuh.

Begitu melihat Lucia masuk bersama Hana, Navy segera menghampiri dengan wajah sinis. "Masih punya muka untuk datang ke sini, Lucia? Kau pikir dengan agensi baru, kemampuan figurannmu bisa berubah menjadi pemeran utama?"

Lucia menghentikan langkahnya. Ia menatap Navy dengan tatapan tenang namun mengandung luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia tidak membalas dengan kesombongan, melainkan dengan suara yang lembut namun tegas.

"Aku datang ke sini untuk bekerja secara profesional, Navy. Aku harap kau juga begitu," ucap Lucia dengan suara yang lembut, lalu berjalan melewati Navy tanpa menoleh lagi.

"Ck, kau pikir kau hebat gitu," cibir Navy sinis.

"Nomor urut 027, Lucia!" suara petugas memanggil.

Lucia melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas itu. Di sana, duduk lima orang pihak produksi film. Penulis Sera, Produser Daniel, Sutradara Bram, dan tepat di tengah-tengah... Arthen. Pria itu mengenakan kacamata hitam, tampak dingin dan tidak mengenal Lucia sama sekali. Ia benar-benar menjalankan perannya sebagai dewan juri yang berwibawa.

"Silakan," perintah Sutradara Bram singkat.

Lucia berdiri di bawah lampu sorot. Ia memejamkan mata, mematuhui saran Hana. Ia membayangkan rasa sakit saat dibuang agensinya, rasa perih saat dikhianati orang tersayang, dan mengubahnya menjadi emosi Elena, seorang putri keluarga kriminal yang dikhianati oleh keluarganya sendiri.

"Jadi... ini akhirnya, Kak?" Lucia memulai dialognya dengan suara rendah yang bergetar hebat. Matanya menatap tajam ke arah Arthen, seolah-olah pria itu adalah kakak yang mengkhianatinya di dalam naskah.

"Sepuluh tahun aku mengabdi pada keluarga ini... hanya untuk dibuang seperti sampah demi kepentingan bisnis kalian?" Lucia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang sangat menyayat hati hingga membuat ruangan sunyi senyap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Jangan menatapku seperti itu!" teriaknya tiba-tiba, sebuah ledakan emosi yang membuat juri tersentak. "Jangan gunakan wajah kasihan itu padaku setelah kalian menghancurkan satu-satunya tempat yang kusebut rumah!"

Lucia jatuh terduduk di lantai, bahunya gemetar karena isakan tertahan yang begitu nyata. Emosinya begitu mentah hingga Penulis Sera tampak tertegun dan Sutradara Bram menghentikan catatannya. Setelah adegan berakhir, Lucia segera berdiri dan membungkuk sangat dalam.

"Terima kasih banyak atas waktunya," ucap Lucia kembali menjadi sosok yang lembut dan rendah hati.

Sutradara Bram menurunkan kacamatanya dengan takjub. "Emosinya sangat dalam. Luar biasa," gumamnya pelan.

Penulis Sera ikut mengangguk setuju, "Kau memberikan nyawa pada tokoh Elena."

Arthen perlahan melepas kacamata hitamnya. Ia menatap Lucia dengan intensitas yang dalam, ada binar kebanggaan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya meski suaranya tetap profesional. "Kerja bagus. Silakan tunggu di luar."

Lucia keluar dari ruangan dengan perasaan lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hana langsung menyambutnya dengan botol air dan senyum lebar. "Kakak hebat sekali! Tadi itu sangat luar biasa!"

Lucia hanya tersenyum kecil, merasa bebannya sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, ia memang memiliki kesempatan untuk bersinar.

Bersambung...

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   Epilog Penutup

    Pesta pernikahan megah berkonsep outdoor di tepi pantai Elysia berlangsung sangat anggun. Di hadapan keluarga, sahabat dekat, dan pendar lampu romantis, Arthen dan Lucia mengikat janji suci. Lucia tampil memukau dengan gaun putih yang merekah, sementara Arthen tak henti-hentinya menatap sang istri dengan binar mata penuh kebahagiaan. Malam itu, janji untuk saling melindungi dan mencintai sampai akhir hayat resmi terpatri.Beberapa bulan berselang, momen yang ditunggu-tunggu sekaligus menegangkan pun tiba. Di suatu dini hari di apartemen mereka, air ketuban Lucia mendadak pecah. Suasana tenang seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa.Arthen yang biasanya selalu tenang memimpin ribuan karyawan di V-ACE, kini bertindak sangat panik. Pria tegap itu berlari kesana-kemari mengambil tas perlengkapan bayi, hampir menabrak pintu kamar, hingga memapah Lucia masuk ke dalam mobil dengan tangan yang gemetaran hebat.Di dalam ruang persalinan rumah sakit, ruang operasi riuh oleh suara rintihan

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   Tamat

    Kehidupan di apartemen Elysia berjalan sangat tenang dan hangat. Tanpa kilatan kamera jurnalis atau jadwal syuting yang memburu, Lucia menikmati hari-harinya dengan penuh kedamaian. Namun, kedamaian itu perlahan berubah menjadi kekacauan manis sejak suatu pagi ketika Lucia merasa mual luar biasa dan tubuhnya mendadak sangat lemas.Atas saran Sean—adiknya yang seorang dokter—melalui panggilan video, Lucia akhirnya melakukan tes kehamilan secara privat.Ketika dua garis merah tegas muncul di atas alat tes tersebut, Arthen Valerius—pria yang paling disegani di dunia bisnis Avantia—seketika membeku. Pria tegap itu berlutut di depan Lucia, menggenggam erat tangan istrinya dengan tubuh bergetar. Untuk pertama kalinya, mata elang Arthen yang biasanya dingin meneteskan air mata bahagia. Ia memeluk pinggang Lucia hangat, menyandarkan wajahnya di perut datar sang istri seraya berbisik penuh pengabdian dan rasa syukur.Namun, rasa haru itu hanya bertahan di minggu pertama. Begitu memasuki usia k

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   137. Pernyataan Resmi

    Gedung utama V-ACE Entertainment dipadati oleh ratusan wartawan dari berbagai media nasional dan internasional. Suasana ruang konferensi pers bergemuruh oleh bisik-bisik penasaran. Di atas panggung, Arthen Valerius berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam elegan, berdampingan dengan manajer Lucia serta jajaran direksi agensi.Begitu Arthen melangkah mendekati mimbar dan menyesuaikan posisi mikrofoni, seluruh kilatan lampu kamera mendadak menyambar tanpa henti."Selamat siang semuanya," suara Arthen mengudara, berat, tenang, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi. "Saya berterima kasih atas kehadiran rekan-rekan media hari ini. Tanpa berbelit-belit, ada dua pengumuman resmi yang ingin saya sampaikan secara pribadi mewakili diri saya dan pihak agensi V-ACE."Arthen jeda sejenak, menatap lurus ke arah puluhan kamera yang menyorotnya."Yang pertama, mengenai rumor kehidupan pribadi aktris Lucia," ujar Arthen tegas. "Saya mengonfirmasi secara resmi bahwa Lucia telah sah menjadi istr

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   136. Cahaya Itu Sendiri

    Malam Penganugerahan Avantia Film & Drama Awards berlangsung dengan amat megah. Gedung pertunjukan utama Avantia dipenuhi kilatan lampu kilat wartawan, karpet merah yang membentang luas, serta jajaran selebriti papan atas yang mengenakan gaun dan setelan terbaik mereka.Di kursi barisan paling depan, Lucia duduk anggun mengenakan gaun malam berwarna perak yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu. Di sampingnya, Arthen Valerius—dengan setelan tuksedo hitam yang presisi—memegang jemari Lucia dengan hangat, memberikan genggaman erat yang menyalurkan ketenangan."Gugup, hm?" bisik Arthen lembut tepat di samping telinganya.Lucia menoleh, mengulas senyum tipis. "Sedikit. Bukan karena takut tidak menang, tapi karena mengingat seberapa jauh aku sudah berjalan sampai bisa duduk di kursi ini."Arthen tersenyum bangga, mengecup punggung tangan istrinya pelan. "Kamu sudah menang sejak kamu memutuskan untuk tidak menyerah, Lucia."Di atas panggung, dua pembawa acara legendaris Avantia membacakan

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   135. Bayangan Penyesalan

    Perjalanan menuju desa tempat tinggal sang ibu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Di dalam mobil mewah yang dikendarai oleh Sean, suasana riuh oleh tawa Mika—adik bungsu mereka yang kini tumbuh menjadi gadis remaja cantik nan berbakat di sekolah musik Avantia. Namun, kejutan terbesar hari itu adalah ketika Sean memperkenalkan sosok wanita anggun yang duduk di kursi penumpang depan.Lucia sampai dibuat melongo ketika menyadari siapa kekasih adiknya. Maya Clarissa—sang pembawa berita papan atas yang wajahnya saban hari menghiasi televisi nasional."Astaga, Sean! Kamu benar-benar luar biasa," goda Lucia dari kursi belakang sembari menepuk bahu adiknya. "Jadi wanita beruntung yang kamu sembunyikan selama ini adalah Maya? Pembawa berita kesayangan publik?"Maya yang duduk di sebelah Sean menyunggingkan senyum anggun, sedikit rona merah merayap di pipinya. "Halo, Kak Lucia. Maaf ya baru bisa berkenalan langsung secara pribadi. Sean selalu menceritakan hal-hal hebat tentang Kakak.""Just

  • Bersinar setelah Diselingkuhi   134. Ajakan Pulang Bersama

    Sinar matahari baru saja merayap di sela-sela tirai penthouse. Lucia duduk di tepi ranjang sembari memegang ponselnya, menempelkan benda tipis itu ke telinga. Suara nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat khas bangun tidur di ujung telepon."Halo, Kak..." suara Sean terdengar samar, diiringi helaan napas lelah.Lucia tersenyum tipis, mengetuk-etuk jemarinya di atas paha. "Sean? Kamu baru bangun? Maaf ya kalau Kakak mengganggu waktu istirahatmu.""Ngg... tidak apa-apa, Kak. Aku baru saja memejamkan mata sejam yang lalu setelah keluar dari ruang operasi. Ada apa, Kak?" tanya Sean, suaranya perlahan mulai lebih jernih."Begini, lusa Kakak ada libur dua hari sebelum jadwal pemotretan berikutnya. Kakak rencananya mau pulang ke desa, mengunjungi Ibu di rumah Bibi," ujar Lucia lembut. "Kakak mau mengajakmu pergi bersama. Sudah lama sekali kan kita bertiga tidak berkumpul?"Di ujung telepon, Sean terdengar menggeser posisinya dari atas kasur asrama rumah sa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status